2. Penampakan Kematian

1085 Kata
Pandangan gadis itu mulai jelas terlihat. Ia menangkup wajah sang nenek dan menelisiknya. Meskipun terdapat gurat kerutan dan terlihat renta, Nenek Ratih masih tampak cantik untuk wanita seusianya. "Nenek masih cantik ya, seperti dulu." "Ah kamu bisa aja." Tak lama kemudian, seorang suster datang membawakan obat tetes mata untuk Amanda. "Sus, nanti tolong urus obat yang harus dibawa pulang Amanda, ya. Ini copy resepnya." Dokter Wira menyerahkan secarik kertas pada suster tersebut. "Baik, Dok." Pria itu lalu menghampiri Amanda yang sudah turun dari ranjang. "Amanda, kamu boleh pulang. Tapi saya sarankan sebaiknya istirahat di rumah dan jangan kemana-mana dulu, ya. Nanti ada vitamin yang harus kamu minum rutin, sama tetes mata tambahan yang bisa kamu pakai kalau kamu merasa pedih, gatal dan semacamnya." Amanda tak merespon perkataan pria di hadapannya itu. Ia masih terpana menatap sang dokter. Wajah pria berusia hampir 50 tahun dengan dagu terbelah itu tampak masih tampan di matanya. "Jadi, ini Dokter Wira?" tanya gadis itu menatap penuh kekaguman. "Hai, Amanda. Kamu pasti kenal sama suara saya, kan?" "Kenal banget, Dok. Terima kasih setelah membantu saya dan Nenek selama ini," ucap gadis itu menunjukkan senyum manisnya. "Terima kasih kembali, saya senang kok membantu kalian, apalagi kamu sudah saya anggap putri saya sendiri." Amanda dan Nenek Ratih akhirnya pamit. Dokter Wira memesankan taxi online untuk kedua wanita itu. "Gimana, kamu seneng nggak bisa melihat lagi?" tanya Nenek Ratih. Ia sampai terharu kala melihat sang cucu begitu bahagia memandangi hiruk pikuk ibukota dari jendela taxi online tersebut. "Seneng banget, Nek. Aku bisa lihat matahari, pohon, mobil, motor, manusia dan semua ciptaan Allah." "Alhamdulillah ... Nenek juga seneng banget lihat kamu yang seperti ini." "Nek, nanti kita ke makam kakek sama mama, ya? Sekarang kan aku bisa lihat makam mereka dengan jelas." "Iya Sayang, nanti kita ke makam mereka. Tapi kamu istirahat dulu, paling minggu depan kita baru ke makam." "Iya, Nek." Amanda menatap ke arah kaca spion dalam mobil. Ia dapat melihat dirinya di cermin tersebut. Begitu juga dengan sang nenek. Namun, ada keanehan yang terjadi. Ia merasa tak dapat melihat sang sopir. "Nek, punya cermin?" bisik Amanda. "Buat apa?" "Buat lihat wajah aku," ucap Amanda mencoba memberi alasan palsu. Sang nenek merogoh dalam tas yang ia letakkan du atas kedua pahanya. Kebetulan ia selalu membawa bedak dan lipstik saat berpergian. "Nih, kalau mau ngaca, pandangi wajahmu sampai puas." Nenek Ratih menyerahkan compact powder warna merah seraya terkekeh. Amanda mencoba mengamati wajahnya, bayangannya ada di cermin tersebut. Gadis itu lalu mengarahkan ke arah sang nenek yang bayangannya juga ada di cermin itu. Akan tetapi, saat ia mencoba mengalihkan cermin tersebut ke arah sopir taxi online itu, ia tak mendapatkan bayangan pria yang rambutnya di cat warna cokelat itu. "Kok, aku nggak bisa lihat bayangan bapak itu, ya?" tanyanya dalam hati. Namun, sosok seseorang yang menggunakan jubah hitam dengan tudung menutupi kepalanya terlihat. Sosok itu duduk di kursi depan samping pak sopir. Amanda menutup cermin di tempat bedak itu. Ia tak mendapati siapapun duduk di depannya. Ia coba buka lagi tempat bedak itu dan mengarahkan cermin ke kursi tadi. Ia masih menemukan sosok itu duduk di sana. "Astagfirullah!" pekik Amanda. "Kamu kenapa, Nak?" tanya sang nenek dengan wajah panik. "A-aku, aku lihat—" "Sudah sampai, Bu, sesuai aplikasi ya. Tapi maaf cuma bisa sampai depan jembatan kecil ini saja," ucap sang sopir tersebut. "Iya, Pak, nggak apa-apa, kita turun sini saja. Rumahnya kebetulan di seberang kali ini, lewat jembatan sini." Nenek Ratih lantas membuka pintu mobil dan menyentak Amanda yang masih menatap ke arah sang sopir tersebut. "Amanda, ayo turun!" "I-iya, Nek." Sopir taxi online itu lalu pamit. Mobilnya melaju lurus menuju perempatan jalan raya. Amanda masih melihat sosok berjubah hitam itu ada di dalam mobil. "Nek, apa Nenek lihat orang pakai baju jubah hitam di dalam mobil?" tanya Amanda. "Apa sih, ngaco kamu!" Brak! Suara mobil yang saling beradu terdengar tak jauh dari posisi Amanda dan neneknya berdiri. Ternyata mobil taxi online yang mereka tumpangi tadi tertabrak truk besar dari arah sebelah kanannya. "Nek, itu kan mobil yang kita tumpangi tadi," ucap Amanda. "Iya ya." Nenek Ratih yang penasaran sampai menghadang salah satu warga yang baru saja menonton kecelakan tersebut. "Mas, itu ada kecelakaan ya?" "Iya, Bu, masa ada topeng monyet." "Mas, saya serius lho tanya," sahut Nenek Ratih. "Iya, Bu, ada kecelakaan sopir avanza sampai meninggal di tempat tertabrak truk. Katanya rem truk besar itu blong." "Oh, makasih informasinya." Pria yang dihadang Nenek Ratih tadi langsung pergi. "Kita pulang aja, Nenek mau istirahat," ajak wanita itu melangkah menuju jembatan kecil menyeberangi kali. Gadis itu masih saja memikirkan kecelakaan sopir taksi online tadi. Dia yakin sekali jika ada sosok berjubah hitam di dalam mobil tersebut. "Heh, kok malah bengong! Ayo, pulang!" Nenek Ratih menarik tangan Amanda dengan segera. * Malam itu, tepat pukul sembilan malam. Amanda masih mendengar para bocah yang bermain seraya tertawa di dekat bantaran kali. Gadis itu tersenyum ia sangat bersyukur karena akhirnya ia dapat melihat langit malam penuh bintang dan bulan purnama. "Amanda, sudah malam, tutup jendelanya terus tidur!" ucap sang nenek menghampiri gadis itu seraya mengusap rambut halus nan lembut milik Amanda. "Iya, Nek." Nenek Ratih lalu ke luar dari kamar Amanda. Tak ada daun pintu di kamar tersebut hanya tirai hijau yang menjadi penutup kusen pintu. Namun, saat tangan gadis itu hendak menutup jendela kamarnya, ia melihat seorang anak kecil basah kuyup menuju gang kecil di samping rumahnya. Rasa penasaran gadis itu menyeruak. Ia menuju pintu belakang rumahnya untuk menghampiri anak tadi. "Dek, mau ke mana? Itu kan tembok dan buntu," ucap Amanda. Anak laki-laki yang basah kuyup itu berhenti membelakangi Amanda. Kepalanya menunduk lalu menangis. "Dingin, Kak, hiks hiks." "Terus kenapa belum pulang? Kamu habis main di kali, ya? Ini udah malam, lho," ucap Amanda. "Amanda, kamu ngapain di belakang rumah, mau buang sampah?" tanya Nenek mengejutkan gadis itu. Amanda langsung menoleh pada wanita paruh baya dengan daster itu. "Ini, Nek, ada anak—" Amanda menoleh kembali ke arah anak laki-laki yang basah kuyup tadi, tapi tak ada siapapun di sana. "Anak siapa? Anak yang mana?" Nenek Ratih menghampiri cucunya dan ikut menoleh ke luar pintu belakang tersebut. "Tadi aku lihat anak kecil nangis, terus basah kuyup di dekat tembok itu, Nek!" tunjuk Amanda. "Ngaco kamu, nggak ada siapa-siapa di sana." "Tapi tadi aku—" "Hmm... mungkin anaknya udah lari pulang. Sudah malam tutup pintunya, dikunci, dan lekas tidur." "Baik, Nek." Gadis itu masih menelisik tempat anak tadi menangis. Benar tak ada siapapun di sana. Setelah menghela napas berat, gadis itu pergi untuk beristirahat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN