1. Amanda

1052 Kata
Seorang wanita paruh baya bernama Ratih yang menggunakan hijab berwarna hitam itu terdengar. Suaranya memenuhi rumah mungil yang berada di pinggiran kota. "Ya, Nek." Gadis berkulit kuning langsat dengan rambut hitam lurus sepunggung, berusaha meraba meraih tongkat tunanetra atau yang disebut The White Cane. "Amanda, kita harus ke rumah sakit sekarang!" ujar sang Nenek. Nada suara itu terdengar sangat bahagia dan antusias. "Sekarang? Memangnya ada apa, Nek?" "Hari ini Dokter Wira akan melakukan operasi mata sama kamu." "Memangnya jatah kornea mata untukku sudah ada?" "Ya tentu dong, sayang. Makanya Dokter Wira bergegas menyuruh kita untuk segera ke rumah sakit." “Alhamdulillah.” Amanda langsung melakukan sujud sukur saat itu juga. * Di Rumah Sakit Abdi Kesehatan. “Yang diambil dari pendonor mata hanya korneanya saja dan tidak seluruh bola matanya," ujar Wira, yang juga menjabat sebagai direktur Eye Center di Rumah Sakit tersebut. "Jadi, berapa lama kira-kira operasinya, Dok?" tanya Nenek Ratih. "Untuk mendapatkan penglihatan baru yang lebih baik dan lebih terang, seorang pasien tidak perlu menjalani operasi berjam-jam ketika kornea mata hasil donor dicangkokkan di matanya karena operasi pencangkokan hanya memerlukan waktu satu jam," ujarnya. "Oh begitu, lalu siapakah orang baik yang mau mendonorkan matanya ini, apa organ mata ini dari bank mata, Dok?" "Ini bukan dari bank mata. Begini, Bu, sebelumnya saya mohon maaf untuk merahasiakan pendonor ini, beliau sudah meninggal dan memberi wasiat untuk menjadi organ mata. Saya rasa kornea mata milik beliau cocok untuk Amanda. Berhubung kornea mata ini didapat dari yang orang yang sudah meninggal, maka harus segera diambil dalam waktu delapan hingga 12 jam sejak waktu kematian dan harus segera dicangkokkan kepada pasien. Untuk itulah Amanda saya minta segera ke rumah sakit. Sesudah operasi, Dokter Wira mengatakan bahwa Amanda tidak perlu menjalani rawat inap, walau ada beberapa kasus yang memerlukan rawat inap selama beberapa hari. Setelah operasi selesai, Amanda bisa pulang dan melakukan perjalanan dalam waktu lima hari setelah operasi. "Transplantasi kornea memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi, mencapai 90 persen dari operasi pasien mendapatkan penglihatannya kembali,” ujar Dokter Wira. Dia juga menegaskan mengenai biaya operasi tersebut sudah dibiayai oleh donatur yang kerap memberi sumbangan pada program bantuan sosial untuk pasien tidak mampu dari rumah sakit tersebut. Nenek Ratih tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Tuhan. Ternyata di dunia ini masih ada orang-orang yang berhati mulia. Begitu juga dengan Dokter Wira yang baik hati. Pria itu selalu membantu kondisi keuangan wanita itu dan Amanda. Di depan ruang operasi. Nenek Ratih memandang sesaat ke tubuh sang cucu yang sudah terbaring di atas ranjang mengenakan pakaian operasi dari celah pintu. "Ibu Ratih, tunggu di ruang tunggu aja, ya. Jangan lupa berdoa semoga operasi ini berjalan lancar," ucap Dokter Wira seraya tersenyum hangat sebelum melangkah masih ke ruang operasi tersebut. "Iya, Dok, terima kasih, terima kasih banyak." Kedua kaki renta wanita itu melangkah menuju ke ruangan tempat para penunggu pasien beristirahat dan duduk menunggu. "Amanda, akhirnya sebentar lagi kamu dapat melihat juga, Nak. Nenek seneng banget." Ratih memandangi hiruk pikuk ibukota dari jendela tempat ia menunggu. Pikirannya terbawa ke 17 tahun silam saat Amanda harus kehilangan penglihatannya. Pertengkaran hebat antara putri dan menantunya itu terjadi di hadapan seorang anak perempuan berusia lima tahun. Dialah Amanda, putri satu-satunya pasangan suami istri yang sedang bertengkar itu. Tari Ningsih, ibunya Amanda yang berusia 30 tahun itu memergoki sang suami sedang berselingkuh dengan sahabatnya sendiri di sebuah hotel. Cekcok keduanya terus berlangsung sampai di rumah. Sang suami, Adrian Wiguna, bahkan berniat untuk menikahi selingkuhannya yang bernama Nada, sahabat Tari sendiri. Wanita itu tengah mengandung. Kandungannya sudah menginjak usia empat bulan. Hasil USG memprediksi janin tersebut berjenis kelamin laki-laki. Adrian yang sangat ingin memiliki anak laki-laki akhirnya memilih meninggalkan Tari malam itu. Amanda berusaha menahan sang ayah agar tidak pergi, tetapi usahanya sia-sia. Pria itu tetap pergi meninggalkan ibunya. Dirundung kesedihan dan tak memiliki iman yang kuat, Tari memutuskan untuk bunuh diri dengan meminum cairan pembersih kamar mandi. Amanda yang panik langsung berlari ke rumah sang nenek yang tidak jauh dari rumahnya. Kedua kaki mungilnya berlari sekuat tenaga. Namun sayangnya, anak perempuan itu tertabrak sebuah mobil civic hitam. Pengendara mobil tersebut melarikan diri dan meninggalkan gadis kecil yang terkapar itu begitu saja. Semenjak saat itu, Amanda mengalami kebutaan. * Operasi telah selesai, perban di mata Amanda sudah dibuka. Nenek Ratih menyambut gadis yang kini berusia 25 tahun itu dengan senyum mengembang. "Amanda." lirihnya. Kedua mata lentik gadis itu mengerjap-ngerjap berusaha untuk menetralkan sinar-sinar yang menyilaukan baginya. Sampai akhirnya ia dapat melihat lagi wajah wanita renta yang sangat ia sayang itu meskipun masih terlihat samar-samar. "Nenek." Wanita paruh baya itu langsung menghamburkan diri memeluk cucu cantiknya. Gadis berlesung pipi itu tersenyum merekah. Keharuan tercipta di antara keduanya. Dokter Wira sampai menyeka bulir bening yang tak sengaja bergulir di bawah sudut matanya. "Nek, wanita itu siapa ya?" tanya Amanda. Gadis itu menunjuk sosok wanita yang berdiri di sudut dekat pintu. Wanita yang dilihat Amanda memakai dress warna merah selutut tanpa menggunakan alas kaki. Namun, saat Amanda mencoba untuk mempertajam penglihatannya, ia masih tak bisa menangkap jelas wajah wanita itu. "Wanita yang mana?" Nenek Ratih gantian bertanya dengan raut wajah kebingungan. Gadis itu menunjuk sosok wanita yang berdiri di sudut dekat pintu. Wanita yang dilihat Amanda memakai dress warna merah selutut tanpa menggunakan alas kaki. Namun, saat Amanda mencoba untuk mempertajam penglihatannya, ia masih tak bisa menangkap jelas wajah wanita itu. "Wanita yang mana?" Nenek Ratih gantian bertanya dengan raut wajah kebingungan. "Itu, Mbak yang di situ, memangnya Nenek bawa temen dari rumah?" tanya Amanda. Dokter Wira dan Nenek Ratih saling tatap satu sama lain dengan raut wajah kebingungan. "Amanda, nggak ada siapa-siapa di sini selain Nenek dan Dokter Wira." "Iya, Amanda, perempuan mana yang kamu lihat?" Dokter Wira memastikan lagi apa yang dikatakan gadis itu. Amanda berusaha mengucek kedua matanya yang terasa gatal dan perih. "Jangan sentuh dulu, tangan kamu belum steril!" Dokter Wira berusaha mencegah. . "Tapi, ini gatel banget, Dok." "Memang begitu reaksinya sebentar saya panggil suster buat bawain kamu obat tetes mata." Dokter Wira lantas menghubungi suster dari pesawat telepon yang ada di atas mejanya. "Mana wanita tadi, Nek?" tanya Amanda. "Wanita yang mana, Amanda? Dari tadi nggak ada siapa-siapa di sini selain kita bertiga." Amanda berusaha mencerna dengan logis. Mungkin saja wanita yang tadi ia lihat hanya pengunjung rumah sakit yang tak sengaja masuk ruangan itu lalu pergi. "Mungkin aku salah lihat, Nek."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN