9. Kebaikan Adam

1010 Kata
Suara gagang pintu terdengar digerakkan berkali-kali oleh Amanda, tetapi tak ada sekarang pun yang dapat mendengarnya. Padahal dengan jelas kalau Mella masih ada di dalam kamar mandi itu. "To- to- tolong." Amanda berusaha untuk berteriak tetapi tenggorokannya terasa tercekat. Kedua kakinya terasa tak bisa lagi menopang bobot tubuhnya. Gadis itu sangat ketakutan. "Mbaknya ngapain?" tanya seorang cleaning service terheran-heran saat melihat Amanda meringkuk ketakutan pada saat dia membuka pintu. "Pintunya, pintunya tadi nggak bisa dibuka, Mbak. Terus pas saya coba buka lagi saya mental ke sini. Saya takut banget, Mbak." Amanda mencoba mencari alasan yang masuk akal. "Tapi biasanya WC yang sebelah loh yang macet makanya nggak pernah saya buka." "Masa sih, Mbak?" Amanda melirik ke arah WC tempat dia menemukan kepala perempuan tadi. "Udah istigfar aja," ucap petugas cleaning service tersebut. "Suka ada yang aneh-aneh nggak, Mbak pas kerja di sini?" tanya Amanda penasaran. "Ya, kadang-kadang sih, namanya mall bekas kebakaran pas kerusuhan waktu itu, katanya sih suka ada hantunya. Tapi jangan sampe deh saya liat yang aneh-aneh, denger suara yang aneh-aneh aja saya bisa ngibrit," celoteh wanita cleaning service itu. "Iya ya, Mbak jangan sampe liat yang aneh-aneh. Kalau begitu, saya duluan." Amanda melangkah pergi dari toilet itu segera. "Maaf, aku lama, ya?" tanyanya pada Adam dan Mella yang sudah berdiri menunggu di depan koridor toilet. Rupanya mereka sudah menyelesaikan makan dan keluar dari restoran. "Lumayan lama tau, makanya kita nyamperin ke sini. Ayo, katanya mau cari baju!" Adam mengajak keduanya. Amanda menggandeng tangan Mella karena merasa canggung kala berada di dalam mall tersebut. "Ehem ehem." Amanda dan Mella menoleh pada suara dari arah belakang mereka. "Kok, aku nggak digandeng, sih. Berduaan aja gandengannya," ucap Adam. Amanda dan Mella langsung melepas genggaman tangan mereka. "Jadi berasa kita yang pacaran, ya?" ucap Mella. "Idih, masa kamu pacaran sama saya, nggak mau ah!" sahut Amanda. Mella dan Adam langsung tertawa menghadapi perkataan Amanda. Mereka akhirnya menuju arah toko pakaian. "Pilih aja sana mau pakaian yang mana terserah kamu, tenang aja nanti aku yang bayar," ucap Adam sembari memilih kaus pria di hadapannya. "Aku bener - bener nggak enak, soalnya udah ditraktir makan terus masa mau dibeliin," ucap Amanda. "Husssttt berisik aja, udah pilih aja sana mana yang mau kamu beli, ini perintah!" Adam menunjuk arah jejeran pakaian wanita di sudut toko tersebut. Amanda akhirnya menurut dan melangkah ke arah pakaian wanita. "Mau baju yang mana?" tegur Mella sampai mengejutkan Alina. "Kalau kemeja biru bergaris yang di sana itu bagus nggak?" tanya Amanda. "Bagus," sahut Mella. Gadis itu lalu meraih kemeja itu dan melihat harga yang tertera sejumlah dua ratus lima puluh ribu rupiah. "Astagfirullah, kemeja begini doang harga segini, mahal banget ya," keluh Amanda. Seorang ibu dan anak perempuannya menoleh ke arah Amanda karena mendengar ucapan gadis tersebut dengan tatapan tajam. "Hehehe, ini loh Bu mahal banget bajunya jadi ngedumel saya," ucap Amanda dengan polos dan tersenyum pada ibu itu yang juga berlalu. Mella sampai menertawai Amanda. "Pilih yang murah aja yang lima puluh ribu, ada nggak?" tanya Amanda pada Mella. "Ada sih paling kaus dalam," sahut Mella. "Duh, harga baju di mall ternyata mahal ya, ckckck," gumam Amanda. "Kakak." Anak perempuan usia lima tahun mendadak menghampiri Amanda. "Hai, kenapa cantik?" tanya Amanda. "Kamu ngomong sama siapa?" tanya Mella. "Sama anak ini," sahut Amanda menunjuk anak perempuan di sampingnya. Mella masih menoleh ke samping Amanda tetapi tidak menemukan anak perempuan itu. "Aku nggak liat siapa-siapa, Kak," ucap Mella. "Yaya! Ayo, sini, Nak!" seru suara ibu anak perempuan ini memanggil dari seberang Amanda. Terlihat tubuh wanita itu hangus dan memperlihatkan luka bakar yang serius. "Duh, ternyata anak tadi itu hantu," gumam Amanda. Kedua tangannya mulai gemetar. "Kak Amanda, jangan bengong!" seru Mella. "I-iya," ucap Amanda. "Jangan-jangan yang kamu lihat itu hantu, hiiii." Mella bergidik ngeri dan ketakutan. "Ah, jangan menakuti aku!" pinta Amanda. "Hayo ... jadi pilih yang mana?" Adam datang dengan membawa satu kemeja dan dua kaos berkerah di tangannya. "Kaosnya lucu Kak, boleh ambil yang itu nggak?" tanya Mella menunjuk kaus di tangan Adam. "Ini size untuk cowok punya, Mel, kalau kamu mau jangan yang model ini tapi yang ada model buat cewenya gimana?" tanya Adam terlihat serius kali ini. "Tapi aku lagi pengen cari kaos cowo yang longgar buat harian dirumah gitu, Kak." "Oh, gitu. Coba di sebelah sana." Mella memberikan senyum lebarnya lalu memilih kaos yang sama dengan Adam dan celana jeans yang kira-kira muat untuknya. "Amanda, kamu mau beli model apa?" tanya Adam. "Aku bingung mau beli yang mana sama buat nenek juga habis mahal harganya," ucap Amanda. "Lho, kan nanti aku yang bayar," sahut Adam. "Tapi, aku mau beliin nenek baju juga," ucap Amanda. "Udah tenang aja, aku juga yang bayar," ucap Adam seraya menarik tangan Amanda dan mengajak gadis itu beralih ke arah kumpulan baju dress lalu meraih dress berwarna pink muda. Amanda melirik harga pakaian yang Adam pilihan untuknya. Harga yang membuatnya takjub karena seharga hampir lima ratus ribu rupiah. "Astagfirullah, mahal banget, Mas, jangan yang ini," ucap Amanda. "Udah ambil aja, aku maksa!" titah Adam. "Mahal, Mas." "Udah ambil aja, sini! Buat nenek kamu pilih yang gadis itu, bagus tuh buat pergi ngaji," ucap Adam. Amanda makin merasa malu karena harga baju gadis untuk nenek seharga tujuh ratus ribu rupiah. "Nanti akan aku ganti uangnya, tapi nyicil ya, Mas," ucap Amanda. "Kalau kamu mau nyicil aku kasih harga dua kali lipat loh!" ancam Adam. "Ya ampun, aku nggak nyangka Mas Adam kayak rentenir," gumam Amanda. "Bercanda kok, hehehe. Aku nggak minta diganti jadi kamu jangan nyicil, ya," ucap Adam. Setelah puas berbelanja, Mella meminta untuk diantar pulang oleh Adam. Dia merasa lelah sekali. Namun, saat Amanda masuk ke dalam mobil Adam, tiba-tiba seorang anak kecil tanpa tangan kiri itu menepuk kaca mobil di sampingnya. Tangan kanan hantu itu penuh luka gosong, kulit terkelupas, dan daging di tangannya terlihat mengerikan. Wajahnya yang penuh luka bakar itu dan tanpa bola mata di sebelah kirinya tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Amanda. Gadis itu mencoba bertahan tanpa menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan hanya memandang wajah Mella tanpa mau menoleh ke hantu anak kecil itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN