"Nek, aku ke Taman Aksara dulu, ya," ucap Amanda setelah mengantar sang nenek ke tempat laundry.
"Kamu hati-hati, ya!" Sang Nenek tersenyum pada gadis tersayangnya itu.
Amanda mencium punggung tangan sang nenek lalu pamit pergi. Saat menyusuri jalan perkampungan di pinggiran bantaran kali, Amanda bertemu dengan Anggi, salah satu murid di Taman Aksara.
"Hai, Kak Amanda!" sapa Anggi.
"Hai, Anggi!"
"Bareng, yuk!" ajak Anggi.
"Boleh."
"Tapi, aku haus nih, jajan es kelapa dulu yuk, Kak!" ajak Anggi.
Amanda lalu menyetujui, keduanya melangkah menuju sebuah warung tenda yang menjual es kelapa muda dan aneka jajanan makanan ringan. Mereka melewati jembatan kala menuju kedai es kelapa tersebut. Anggi lalu mengeluh sakit di area perutnya.
"Kamu kenapa?" tanya Amanda seraya menyeruput segelas es kelapa di tangannya itu.
"Perut aku sakit, Kak," sahut Anggi.
Tiba-tiba, sesuatu mengejutkan indera penglihatan Amanda.
'Loh, kenapa aku tak melihat bayangan Anggi,' batin Amanda.
"Kak Amanda, kamu kenapa?" tanya Anggi.
Amanda masih fokus pada cermin di jendela kedai es kelapa. Gadis itu tak bisa melihat bayangan milik Anggi. Amanda memperlihatkan raut wajah sedih bercampur takut.
"Kenapa aku nggak bisa lihat bayangan kamu di cermin, Nggi?" tanya Amanda.
"Hahaha ... jangan bercanda deh, Kak! Kak Amanda, kamu lucu benget tau!" seru Anggi.
"Aku serius, Nggi!" ucap Amanda.
"Bayangan aku masih ada, Kak, sama seperti Kakak, tuh ada di cermin jendela situ," sahut Anggi.
Gadis muda itu lalu memberikan segelas berisi air kelapa pada Amanda.
"Nih, Kak, habisin aku yang traktir!" seru Anggi.
Gadis itu menunjuk gelas es kelapa milik Amanda yang masih terisi penuh. Amanda akhirnya mau menuruti dan duduk di samping Anggi yang tak henti-henti mengunyah. Setelah keduanya itu selesai meredakan haus dahaga, mereka berniat untuk pamit pada si ibu pemilik kedai. Namun sayangnya, sesuatu mengerikan terjadi.
Sebuah truk dengan kecepatan tinggi terlihat melaju tak terkendali. Sang sopir kehilangan kuasa saat pedal rem yang ia injak ternyata blong. Laju kencang truk tersebut langsung membuat para saksi mata panik. Parahnya, truk tersebut melaju ke arah kedai dan menabrak para pembeli di sana.
Brak!
Akhirnya laju truk berwarna kuning itu berhenti seiring dengan hancurnya kedai es kelapa. Amanda berhasil selamat dari kecelakaan saat si ibu pemilik kedai menarik kedua lengan anak itu dengan sigap. Sang sopir yang selamat hampir saja melarikan diri. Akan tetapi para warga sekitar langsung sigap menangkap pria itu.
Dua orang ditemukan terluka terhimpit badan truk. Seorang wanita paruh baya yang sedang membeli es kelapa dan juga Anggi.
"Anggi! Anggi!"
Amanda berteriak sekuat tenaga seraya menangis kala melihat teman yang baru saja mulai dekat itu. Anggi berada di bawah ban besar truk tersebut. Ibu pemilik kedai bersama para warga berusaha menahan gadis itu agar tak mendekati truk tersebut. Darah mengalir deras dari kepala Anggi. Sementara pasien yang lain dipastikan mengalami patah kaki karena kaki kanannya terjepit badan truk.
Tiba-tiba, sosok anak kecil dengan sepatu penuh darah berdiri di hadapan Amanda dan terlihat masih menangis. Anak itu menoleh ke arah wajah si empunya sandal merah muda yang berdarah itu.
"Anggi," lirih Amanda.
Sosok Anggi dengan setengah kepala hancur mendatangi Amanda. Darah mengalir deras membasahi seragam sekolah yang ia kenakan. Lelehan isi kepala bahkan terlihat menetes di telinga anak itu.
"Ka-kamu?"
"Kak Amanda tolongin aku," ucap Anggi.
Amanda sudah paham kala tau saat bertemu dengan sosok temannya dengan kondisi tersebut maka bisa dipastikan kalau Anggi yang masih tergeletak di bawah truk itu sudah tak bernyawa kala ia menoleh ke arah sahabatnya itu sekilas.
Amanda langsung berlutut dan menangis. Ia memukul-mukul tinjunya di tanah meratapi kepergian Anggi.
"Maafin aku, Nggi, maafin aku, maafin aku nggak bisa nolong kamu tadi," ucap Amanda seraya menangis.
Gadis itu merasa takdir mempermainkannya. Dia tak siap menerima sesuatu yang dia takuti. Sesuatu yang berbeda dan membuat Amanda dapat melihat kematian orang-orang jika tak melihat bayangan korban itu di cermin.
Mobil milik Adam melintas di depan kecelakaan truk yang menabrak kedai itu. Adam sangat terkejut kala dia mendapati sosok anak kecil yang sedang dipeluk oleh sosok hantu penuh darah.
"Itu si Amanda, kan!" pekik Adam.
Pemuda itu segera menghentikan laju mobilnya. Dia langsung ke luar dari dalam mobil dan menghampiri Amanda.
Adam yang melihat sosok Anggi mulai merasa gemetar ketakutan. Tubuhnya gemetar melihat keadaan tubuh Anggi yang sedang di evakuasi. Pria itu langsung memeluk Amanda.
"Amanda, kamu nggak apa-apa?" lirih Adam.
"Mas Adam, maafkan aku, aku harusnya langsung datang ke Taman Aksara, bukan nurut sama Anggi minta jajan terus sampai ke sini, maafkan aku," ucap Amanda dengan sangat memilukan.
Adam membiarkan dirinya memeluk tubuh ramping Amanda yang masih menangis pilu. Tubuh gadis itu terasa gemetar dengan tangisan terisak-isak.
"Ikhlaskan, relakan dan doakan, semoga teman kamu tenang di alam sana. Itu semua bukan salah kamu, nggak usah minta maaf," lirih Adam.
*
Keesokan harinya, Amanda bersama anak-anak didik Taman Aksara serta datang ke pemakaman Anggi. Di sana mereka juga melihat Adam yang mengenakan kemeja koko berwarna putih. Pria itu terlihat berusaha menenangkan ibunya Anggi, apalagi anak itu adalah anak satu-satunya.
Adam lalu menghampiri Amanda yang bersama Mbak Mira dan Mella. Mereka menangis bersama di samping makam.
Setelah acara pemakaman Anggi selesai dilangsungkan, Adam mengajak Amanda dan Mella untuk mampir ke toko pakaian miliknya. Hari itu akan diadakan launching model terbaru pakaian pria dan wanita untuk gaya casual.
Sesampainya di toko milik Adam, Amanda dan Mella disambut oleh dua pegawai pria. Pegawai satunya bernama Jonas, yang satunya terlihat lebih gemulai bernama Jojo.
"Siapa nih, Bos?" tanya Jojo.
"Ini Mella sama Amanda, kasih mereka satu kaos yang mereka mau," pinta Adam.
"Oke, siap!" sahut Jojo.
"Nggak usah repot, Kak," ucap Amanda.
"Idih, Kak Amanda, aku mau tau, lagian aku juga punya voucher doorprize, hehehe," ucap Mella.
"Tapi aku kan nggak punya," sahut Amanda.
"Ini perintah dari aku, Amanda!" titah Adam.
Pria itu terlihat fokus dengan layar laptop di meja kasir, tetapi masih menyimak pembicaraan Amanda dan lainnya.
Gadis itu tak mungkin lagi membantah, dia mengikuti Jojo yang mengenakan kaus warna putih dengan motif batik itu. Sementara itu, Adam masih sibuk dengan layar laptop.
Namun, saat Jonas melihat seorang wanita dari kejauhan berjalan ke arah toko itu, dia meminta Adam langsung bersembunyi.
"Ada Bu Angela," ucap Jojas.
"Aduh gawat! Aku ngumpet dulu, ya," ucap Adam.
Seorang pembeli wanita berusia empat puluh tahunan datang ke toko dengan gaya genitnya masuk menyapa Jonas dan Jojo. Tubuhnya bak toko perhiasan berjalan karena saking banyaknya aksesoris emas yang dia pakai seperti kalung, gelang, anting, dan cincin menghias tubuhnya.
"Hai, Tante Angela!" sapa Jonas.