bc

Tawanan Kesayangan Tuan Gabriel

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
family
HE
age gap
badboy
goodgirl
mafia
gangster
drama
sweet
bxg
city
childhood crush
like
intro-logo
Uraian

Alia terjebak di dunia mafia, menyaksikan pembunuhan & jadi target Gabriel. Antara hidup & maut, ia harus bertahan dari neraka nyata. #Alia #Gabriel #MafiaStory #Tawanan 💀🔥🖤

chap-preview
Pratinjau gratis
Di Ambang Maut dan Sang Penguasa
"Halo, selamat datang." Alia segera menyambut kedatangan beberapa pria berjas hitam. Iris matanya yang berwarna cokelat jernih menangkap jelas aura yang memancar dari tubuh mereka—dingin, mengintimidasi, dan seolah menekan seluruh ruangan. Hanya untuk sekadar menghirup napas pun, rasanya ia harus berjuang mati-matian. Dengan sisa ketenangan yang ia kumpulkan, Alia memaksakan senyum, menampilkan ekspresi terbaiknya agar tidak terlihat lemah. Drrrt... Drrrt... Ponsel di dalam sakunya bergetar hebat, memecah konsentrasinya. Segera Alia meraih benda pipih itu. Sebuah pesan masuk, dikirimkan oleh adiknya. [Rafa: Alia, aku harus segera melunasi biaya kuliah. Kapan kau akan mengirimkan uangnya?] Rasanya kepala Alia serasa ingin meledak begitu membaca kalimat itu. Karena saat ini tidak ada tamu lain yang perlu dilayani, ia segera menghampiri rekannya. "Euhm... Li Hua?" bisiknya memanggil pelan. Li Hua, wanita berdarah Tionghoa yang memiliki mata indah yang menyipit itu, tersenyum ramah menoleh. "Ada apa, Alia?" "Aku ingin menelepon adikku sebentar saja. Bisakah kau menjaga tempat ini sebentar?" Senyum Li Hua seketika luntur, digantikan ekspresi kesal. "Apa dia kembali meminta uang padamu?" Alia hanya bisa meringis, tak sanggup menjawab. Dari raut wajah yang pucat pasi itu, Li Hua sudah paham betul apa yang terjadi. Li Hua mengibaskan tangannya dengan kesal. "Pergilah sana! Tapi katakan padanya, berhentilah menjadi beban bagimu. Dia itu laki-laki, sudah dewasa, seharusnya sudah pandai mencari nafkah sendiri!" gerutunya tak habis pikir. Alia mengangguk lemah lalu segera beranjak. Kakinya melangkah tergesa menuju pintu darurat di ujung lorong yang sepi. Tut... Tut... Klik! Panggilan tersambung. "Kapan kau bisa mengirim uangnya, Alia?" Suara Rafa terdengar mendesak di ujung sana, tanpa basa-basi sedikit pun. Alia menghela napas panjang dan berat. "Tidak bisakah kau mencoba mencari pinjaman dulu? Aku belum menerima gajiku bulan ini. Dan sisa gaji kemarin? Sudah habis untuk kebutuhan sehari-hari dan uang saku yang rutin kuberikan padamu, Rafa." Terdengar suara decakan lidah yang penuh ketidaksukaan dari seberang sana. Alia tahu betul, adiknya pasti merasa kecewa. "Aku tidak punya orang lain selain kau! Kaulah kakakku satu-satunya, Alia. Aku pun sebenarnya enggan terus meminta, tapi apa daya? Ah... andai saja aku dulu ikut mati bersama Ayah dan Ibu, pasti hidupku tidak sesulit ini." Deg! Jantung Alia serasa berhenti berdetak seketika. Ia meremas ponsel itu kuat-kuat seolah ingin menghancurkannya. Matanya terpejam rapat, menahan perih yang tiba-tiba menyergap. Bayangan masa lalu kembali menghantui—saat ia terpaksa menyaksikan kedua orang tuanya dimakamkan di dalam tanah, seraya memeluk erat tubuh kecil Rafa yang gemetar ketakutan. Kenangan itu mencengkeram hatinya dengan begitu kejam. Menarik napas sedalam mungkin untuk menahan isak tangisnya, Alia akhirnya berbicara dengan suara yang bergetar namun lembut. "Baiklah... akan aku usahakan. Kau tenang saja dan belajar yang rajin, ya, Rafa." Hanya kalimat itulah yang sanggup ia ucapkan sebagai penutup percakapan kali ini. Baginya, Rafa adalah segalanya. Ia tidak memiliki siapa-siapa lagi selain adiknya itu—keluarga terakhir yang tersisa di dunia ini. Alia menjatuhkan dirinya di salah satu anak tangga. Dengan tangan yang gemetar, ia membuka aplikasi perbankan di layar ponselnya. Sisa saldonya hanya dua ratus dolar. Jumlah itu bahkan nyaris tak cukup untuk menutupi kebutuhan makan dan dana darurat. Perutnya pun kini terasa perih menyiksa, mengingat ia melewatkan jam makan siang demi bekerja. Namun, tak ada pilihan lain. Alia menatap tajam serangkaian nomor kontak di layarnya. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa sebelum akhirnya menekan tombol panggil. "Alia! Ke mana saja kau? Kenapa baru sekarang kau menghubungiku?" Suara di seberang sana terdengar lantang dan ceria, hingga Alia refleks menjauhkan ponselnya sedikit demi menghindari rasa nyeri di telinga. "Ah... hai, Riska," jawabnya lemah, memaksakan nada ceria. "Ya, ya! Kapan kau akan datang main ke rumah? Keponakanmu ini lho, sudah sering bertanya kapan akan bertemu bibi kesayangannya!" celoteh Riska penuh semangat. Alia terkekeh tipis seraya mengusap tengkuknya yang terasa kaku. Ia membiarkan sahabatnya itu mengoceh riang sejenak, hingga ia siap menyampaikan hal berat yang harus ia katakan. "Ehm... Riska... Maafkan aku ya mengganggumu... tapi..." Suaranya terhenti, tenggorokannya mendadak kering kerontang. Ia butuh kekuatan ekstra untuk melontarkan permintaan yang terasa begitu memalukan baginya. "Maafkan aku karena begitu tidak tahu diri... Bisakah... bisakah aku meminjam lima puluh ribu dolar?" Keheningan sejenak menyapa, sebelum Riska kembali bertanya dengan nada yang lebih serius. "Untuk apa sebanyak itu, Alia?" Alia enggan menjelaskan panjang lebar. Ia tahu betul sahabatnya pasti akan kembali menceramahinya mengenai betapa keterlaluan dan tidak bertanggung jawabnya Rafa. "Untuk adikmu, bukan?" Tebakan Riska tepat sasaran. Alia mengembuskan napas pelan, merasa semakin tak berdaya. "Aku berjanji akan segera mengembalikannya begitu gajiku cair nanti," janjinya dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Baiklah, aku harus bicara dulu dengan Leo. Tidak apa-apa, kan?" "Ya, tentu saja. Tapi... aku sangat membutuhkannya secepat mungkin—" BRAKKK! Suara dentuman keras terdengar nyaring dari lantai atas, membuat dinding di sekelilingnya sedikit bergetar. Alia segera mendongak kaget ke arah atas. "Sebentar ya, Riska..." bisiknya seraya menurunkan ponsel dari telinga. "Apa ada orang di atas sana?!" serunya memastikan, membiarkan suaranya menggema sedikit di lorong kosong itu. Tak ada jawaban. Keheningan yang mencekam justru menyambutnya. Imajinasi Alia mulai liar, dipenuhi rasa was-was. Tanpa pikir panjang, ia mulai menaiki tangga dengan terburu-buru, sembari kembali menempelkan ponsel ke telinganya. "Riska, kita sambung nanti dulu ya! Aku harus melihat ke atas—" DOR! DEG!! “Alia, apa itu?!” Suara Riska yang panik terdengar dari seberang sambungan, bersahutan dengan tubuh Alia yang seketika membeku di tempat. Suara itu asing, mengerikan, dan membuat darahnya serasa berhenti mengalir. “Arrrghhh!!!” Napas Alia terhenti total. Tubuhnya menggigil hebat, diserang rasa dingin yang menusuk tulang saat jeritan menyayat hati itu menggema nyaring. Tanpa pikir panjang, Alia kembali berlari menaiki tangga, mengabaikan rasa nyeri yang menjalar di setiap otot kakinya yang dipaksa bergerak semakin cepat. “Hei! Siapa di sana?!” teriaknya lagi, berharap—berdoa dalam hati—bahwa apa yang didengarnya hanyalah salah sangka semata. Drap! Drap! Drap! Langkah kakinya bergema kencang. Tak lama kemudian, ia sudah sampai di lantai tiga. “Apa kau—” DOR!! DEG!! “Aaaa!!!” Jeritan Alia meledak, terperangkap di tenggorokannya sendiri karena keterkejutan yang luar biasa. Suara tembakan kedua itu membelah udara, mematikan segalanya sejenak. Mata Alia membelalak nyaris keluar, napasnya tercekat mati, dan ponsel di tangannya terlepas begitu saja jatuh ke lantai. Di hadapannya, cairan merah segar menyembur deras—memercik ke mana-mana, bahkan hingga mengenai bagian depan seragamnya yang bersih. Dunia seakan berhenti berputar di detik itu juga. Beberapa pria berjas hitam seketika menoleh serempak ke arahnya. Gerakan yang begitu kompak dan dingin, persis seperti boneka yang dikendalikan. Alia terjatuh terduduk lemas di lantai, kepalanya terasa pening dan berkunang-kunang. Di sana, tepat di hadapan matanya, seorang pria dipaksa berlutut di lantai dengan luka menganga yang mengerikan di kepala dan dadanya, sementara tubuhnya dipegangi kuat oleh dua pria bertubuh raksasa yang tak memberinya ruang untuk bergerak sedikit pun. “Ka... Kalian... Apa yang kalian lakukan padanya?” Suara Alia keluar gemetar hebat, pecah oleh ketakutan yang melumpuhkan. Udara di ruangan itu terasa begitu pekat dan menyesakkan, membuatnya sulit bernapas. Rasa takutnya menjulang tinggi melampaui akal sehat saat pandangannya jatuh pada sebuah senjata laras pendek yang masih dicengkeram erat di tangan seseorang yang mengenakan sarung tangan kulit hitam. Tidak... Tuhan, tolong... Dan kemudian—tatapan mereka bertemu. Sepasang mata abu-abu gelap yang dalam itu mengunci pandangan Alia seketika. Tatapan yang datar, dingin, tanpa rasa ragu, dan tanpa jejak keterkejutan sedikit pun. Seolah sosok itu sudah tahu sejak awal bahwa ada pasang mata lain yang mengintip. Seolah kehadiran Alia di sana memang sudah diperhitungkan dalam skenarionya dari awal. Jantung Alia menghantam rongga dadanya dengan keras, seakan hendak menerobos keluar. Dengan tangan yang gemetar tak terkendali, ia mencengkeram pembatas tangga yang dingin, berusaha mengangkat tubuhnya kembali berdiri meski kakinya terasa begitu lemah lemas. Satu langkah... Dua langkah... Napasnya tercekik di tenggorokan. Tanpa berani menoleh lagi, Alia membalikkan badan dan melarikan diri menuruni tangga—gerakannya terburu-buru seperti ingin berlari, namun terasa begitu lambat bagaikan mimpi buruk yang nyata. Hosh... Hosh... Hosh! Napasnya kian memburu dan tak beraturan. Dia harus melaporkan pembunuhan keji ini! Dia harus menghubungi polisi! Namun, saat rasa takut itu mencengkeram jantungnya makin erat, Alia baru menyadari satu hal yang mengerikan: ponselnya tidak ada di tangannya! BRUG! Tubuhnya tiba-tiba terhempas keras menghantam dinding. Sesuatu yang berat dan kasar kini menindih punggungnya, membuatnya tak bisa bergerak sedikit pun. “Bos, harus kami apakan wanita ini?” Alia meringis kesakitan, sekuat tenaga mencoba memberontak namun sia-sia. Dari sudut matanya yang kabur karena air mata, dia melihat sesosok pria dengan rambut berwarna tembaga berdiri di anak tangga atas. Tangannya santai bersarang di saku celana, namun wajahnya sedingin es—tanpa ekspresi, persis seperti tatapan matanya yang tajam menusuk. “Bunuh saja.” DEG! Darah Alia serasa membeku seketika. Matanya membelalak nyaris keluar. Rasa ngeri menjalar cepat ke setiap inci pembuluh darahnya. “Tidak! Tidak, aku mohon!” rengeknya lirih di sela-sela air mata yang membanjiri wajah pucatnya. Tubuhnya gemetar hebat tak terkendali. Pria itu tak lagi menoleh, melangkah pergi seolah nyawa Alia tak lebih berharga dari debu di sepatunya. “Tidak! Aku mohon, Tuan... Ja—jangan bunuh aku!” teriaknya memohon ampunan, suaranya pecah tertahan tangis yang meledak-ledak. Tubuhnya merosot lemas ke lantai dingin. Di hadapannya, dua pria berjas hitam bertudung berdiri tegak dengan aura yang mengerikan dan garang. Salah satu dari mereka berjongkok, menatap Alia dengan tatapan yang tak bisa diartikan—sangat terang-terangan dan penuh nafsu. Saat itu juga, dia merasakan dagunya dijepit kuat hingga kepalanya terangkat paksa mendongak ke atas. Perih! Sangat perih! Alia memejamkan matanya rapat-rapat, tak sanggup lagi melihat kenyataan yang mengerikan ini. Rasa takutnya memuncak di ubun-ubun. Seseorang... Tolong datanglah! jerit hatinya berulang kali, menggantungkan harapan yang entah pada siapa. “Lucas, bawa saja dia untuk Tuan Gabriel! Tuan pasti akan sangat senang melihatnya! Lihat saja tubuhnya ini... begitu sempurna.” GASP! Mata Alia terbelalak penuh ketakutan, iris cokelatnya membulat sempurna mendengar kalimat itu. Seruan kasar pria itu membuat tubuh mungilnya gemetar hebat seketika, napasnya tercekat tertahan di pangkal tenggorokan. “Kau... Masih perawan?” DEG! Napas hangat namun terasa membeku dari pria bertudung itu menyentuh wajah Alia. Ibu jarinya yang kasar masih terus menjepit rahang kecil Alia tanpa mau melepaskan. Pandangan Alia kabur, wajahnya pucat pasi seolah tak bernyawa, bibirnya perlahan memutih kaku. Detak jantungnya mengamuk di dalam d**a saat matanya tak sengaja menatap bibir tipis yang sedang menjepit cerutu yang masih menyala. Demi Tuhan... Dia sama sekali tak sanggup mengeluarkan suara! “Hei, Nona! Pilih saja: menuruti kami dan melayani kami dengan baik... atau... kepalamu akan kami buat berlubang seperti orang itu?” DEG! Tidak! Apakah malam ini adalah malam terakhir hidupnya? Lidah Alia kelu. Suaranya hilang tertelan ketakutan yang mencekik lehernya. Seketika, pria yang menahan wajahnya itu merogoh saku jasnya, lalu mengeluarkan pisau lipat tajam yang berkilau dingin terkena cahaya remang ruangan. Mata Alia makin terbelalak ngeri saat pisau itu perlahan menempel tepat di lehernya yang lembut. “Maaf, tapi aku tak bisa membiarkan kau hidup dan bicara pada siapa pun, Nona.” “Ti-tidak! J-jangan bunuh aku! A-aku mohon... hiks... hiks...” Akhirnya, isak tangis gadis itu lolos lepas, penuh keputusasaan memohon belas kasihan. Bau amis darah yang menempel di bajunya masih sangat tercium tajam, membuat perutnya mual ingin dimuntahkan. Namun satu hal yang lebih kuat dari rasa mual itu adalah naluri untuk bertahan hidup. Dia harus tetap hidup! “Atau... bagaimana kalau kita nikmati saja dulu sebelum diserahkan pada Tuan Gabriel?” Pria yang tadi berseru itu tiba-tiba mendekat lagi, menyeringai lebar dengan tatapan yang semakin serakah dan menjijikkan. “Apa maksudmu?” tanya rekannya penasaran. “Dia cantik sekali. Kita bisa menikmati tubuhnya bersama-sama, kan?” DEG!

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.8M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
707.6K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.5M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
947.0K
bc

A Warrior's Second Chance

read
340.2K
bc

Not just, the Beta

read
338.4K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook