Happy Reading
.......
Selama dalam perjalanan menuju tempat kerja Ayana maupun James hanya diam sesekali James melirik ke arah gadis tersebut dia hanya diam sembari memegang erat tas nya saja. Hal itu membuat kebingungan James semakin menjadi. Apakah dia berbuat kesalahan sehingga Ayana berubah menjadi dingin seperti ini?
"Dimana alamat tempat mu bekerja?" Tanya James memecah keheningan yang ada di dalam mobil, Roni hanya fokus menyetir sembari mendengar percakapan antara bos dan juga wanita yang belum ia ketahui namanya tersebut.
"Sedikit lagi sampai, di cafe sebelah kanan itu." Tunjuk Ayana, James dan juga Roni terkejut karena mereka tahu siapa pemilik cafe itu.
"Jadi kamu bekerja di sana? Sebagai apa?" Tanya James lagi, mobil sudah berhenti di depan cafe. Adam yang mengenali mobil tersebut langsung menghampiri nya.
"Sebagai waiters pak."
"Pak?!" Tanya James tidak habis pikir bukan kah kemarin Ayana memanggil namanya lalu kenapa sekarang begitu formal terhadap nya.
"JAMES!" Teriak Adam membuat Ayana terkejut, James memutar bola matanya malas kemudian dia turun dari mobil begitupun dengan Ayana. Ayana terkejut saat melihat bos nya berada tepat di hadapan nya.
"Ayana?" Tanya Adam dengan heran sambil menatap keduanya. James berjalan untuk menghampiri Ayana.
"Saya hanya kebetulan bertemu dengan Pak James di jalan tadi dan dia memberikan saya tumpangan Pak." Jelas Ayana dengan cepat.
"Lagi? Kamu memanggil saya Pak?!" Protes James namun Ayana memilih untuk mengabaikan nya.
"Kalau begitu saya permisi Pak. Dan Pak James Terima kasih untuk tumpangan nya!"
Bukan hanya Adam yang terbengong namun James juga. Adam terbengong karena melihat James begitu tidak sukanya saat Ayana salah satu karyawan nya memanggil James dengan sebutan Pak. Sedangkan James terbengong karena perubahan Ayana terhadap dirinya.
"Bisa kamu jelaskan sekarang?"
"Apa!!" Ucap James dengan tatapan tajam ke arah Adam.
"Apa, kamu masih bisa mengatakan kata Apa setelah kamu tidak ada kabar seharian kemarin?!" Ucap Adam dengan tidak habis pikir.
"Maaf aku hanya sibuk, dan ponsel ku ketinggalan!" Ucap James lagi dia sadar atas kesalahannya karena telah membuat kedua sahabatnya itu menunggu dirinya.
"It's okay tapi bisa kamu jelaskan tentang wanita itu?!" Adam dengan penasaran.
"Kepo!" Kata James membuat Adam menganga, sejak kapan James bisa mengatakan hal tersebut ini bahkan membuat Adam tidak mengerti lagi dengan sahabat nya tersebut.
"Pak Adam tidak perlu bingung seperti itu, Pak James seperti nya sedang kasmaran." Ucap Roni membuat Adam tambah bingung. Apakah saat ini James menyukai Karyawan nya yang baru?
Jika sudah begini Adam tidak bisa berbuat apa-apa dia hanya bisa memantau dari kejauhan saja. Ini di luar dugaan nya.
James duduk di meja dekat jendela sembari melihat ke arah Ayana selama tiga jam dia berada di sini dan tidak pernah ada kata bosan untuk nya. Adam pun begitu dia juga ikut duduk di hadapan James sembari melihat tingkah laku pria tersebut. Bahkan kopi yang James pesan sudah tiga gelas ini dan pria itu menyuruh Ayana membawakan kopi itu untuk nya.
"Apa James Edward Smith apa kau sudah gila?! Berapa gelas lagi kopi yang akan kamu pesan hah?!" Akhirnya setelah sekian lama Adam mengeluarkan suaranya untuk menegur James yang sangat berlebihan ketika sedang menyukai seorang wanita.
"Kenapa?! Apa kau takut aku tidak membayar huh?!! Jangan pelit Adam aku akan menggantinya dengan saham jika kamu mau!" Ucap James membuat Adam tidak habis pikir dengan pria gila ini.
"Kau membuatnya tidak nyaman James!" Mendengar perkataan Adam membuat James mengalihkan pandangannya dari Ayana.
"Kamu tidak sadar? Coba lihat dengan seksama wanita yang sejak tadi kamu perhatian, dia terlihat gelisah dan ketakutan." Jelas Adam agar James lebih mengerti. Inilah akibatnya jika tidak pernah berkencan dengan wanita sebelum nya.
James terdiam dia memang menyadari tingkah Ayana, namun dia sangat penasaran kenapa sejak pagi gadis itu berubah bahkan memanggil dirinya dengan sebutan Pak.
"Bagaimana pun wanita pasti menginginkan pendekatan yang romantis, buka malah seperti penguntit seperti ini!" Sindir Adam yang membuat James tersadar, Apa mungkin Ayana menginginkan hal tersebut? Jika begitu kenapa tidak mengatakan nya secara langsung agar dia tidak seperti ini yang terus membuntuti wanita cantik ini.
"Lihat wajah mu itu menunjukkan bahwa kamu tidak mengerti sama sekali tentang perempuan!" Lagi-lagi Adam membuat James kepikiran dengar kata-kata yang Adam keluarkan dari mulut seksinya itu.
"Sudahlah, siapkan diri kalian berdua kita akan ke Bali sore ini!" Selesai mengatakan itu James langsung keluar dari cafe tanpa melihat ke arah Ayana sama sekali. Sedangkan Ayana bernafas lega ketika melihat James pergi.
Adam bergegas pergi ke ruangannya untuk mengambil jas dan juga dompet nya sebelum ia meninggalkan cafe Adam terlebih dahulu menelpon Brayen untuk bersiap-siap kemudian Adam melihat ke arah Ayana lalu tersenyum misterius ke arah perempuan tersebut membuat Ayana terheran-heran namun lebih mengabaikan Adam dan fokus untuk bekerja.
........
Di kediaman Roy Alexander Smith sungguh sangat heboh karena pertengkaran kecil di akibat oleh Damian yang merebut sebuah novel yang sedang Bella baca membuat seisi mansion heboh.
"Damian sudah berikan adik mu itu. Kenapa kamu suka sekali hah membuat adik mu marah?!" Tanya Inez, selama satu harian ini entah berapa kali Damian membuat Bella berteriak kencang membuat orang tua Roy yang ada di mansion tersebut menggelengkan kepalanya,
"Ini untuk melatih mental Bella, Mom. Bagaimana bisa dia sangat cengeng seperti ini!" Elak Damian membuat Inez menggeleng mendengar jawaban putra nya tersebut.
"Damian!! Berikan buku milik ku." Teriak Bella sembari mengejar Damian ke arah luar dan hal itu membuat Bella tanpa sengaja menyenggol pot bunga kesayangan ibunya hingga terjatuh dan pecah.
PRAK!
"Bella, Damian apa yang terjatuh?!!" Teriak Inez dari dalam mansion sembari berlari ke arah sumber suara. Matanya langsung melebar ketika melihat bunga miliknya berceceran di lantai marmer mewah itu. Bunga kesayangan nya yang Roy beli langsung dari eropa bunga termahal yang bahkan Inez mengomeli Roy karena membeli bunga tersebut namun Inez menyukai nya.
"Apa yang kalian berdua lakukan hah?! Mommy sudah memperingatkan kamu Damian agar tidak lagi menganggu adik mu!"
"Dan kamu Bella, kenapa harus lari-lari seperti itu lihat ini!" Tunjuk Inez ke arah bunga miliknya, matanya berkaca-kaca.
Bella dan Damian terdiam mereka sangat merasa bersalah dengan ibu nya, mereka sangat tahu jika Inez menyukai bunga namun mereka tidak tahu bahwa bunga yang mereka jatuhkan itu senilai tiga juta poundsterling atau setara dengan lima puluh tujuh miliar, ini adalah bunga Juliet Rose yang mejadi bunga kesayangan Inez.
"Mommy, maafin Bella. Bella tidak sengaja." Rengek gadis itu air matanya hampir mengalir, namun Inez mengabaikan nya. Dia memanggil pembantu agar membersihkan puing-puing dari pot bunga yang terjatuh. Inez berusaha untuk menanam kembali bungan tersebut.
Bella menatap sang kakak meminta bantuan, namun Damian menunjukkan wajah putus asa nya. Dia merasa bersalah jika saja sejak tadi dia menyerahkan novel milik adik nya pasti kejadian ini tidak akan terjadi akan tetapi Damian penasaran dengan novel ini karena adiknya sangat marah ketika Damian mengambil nya.
"Kalian berdua Mommy hukum, selama satu minggu tidak ada uang jajan, tidak ada makanan kesukaan kalian di atas meja dan satu lagi tidak ada liburan sama sekali!" Selesai mengatakan hal tersebut Inez langsung masuk ke dalam rumah.
"MOMMY!"
"MOMMY!"
Teriak Damian dan Bella secara bersamaan, tidak terima dengan hukuman yang ibu mereka berikan. Bagaimana tidak ada uang jajan selama satu minggu. Memikirkannya saja membuat Bella menangis. Tidak lama mobil mewah memasuki pekarangan mansion, itu adalah mobil Roy pria itu baru saja pulang dari kantor untuk mengejek beberapa dokumen selama anak sulungnya tidak ada di Bali.
Roy menghampiri anak bungsunya, anak kesayangan nya itu menangis dan dia menatap Damian yang ada di samping sang adik.
"Damian kali ini apa lagi yang kamu lakukan huh?!" Tanya Roy dengan suara maskulin miliknya walaupun usianya tidak muda lagi namun tetap saja ketampanan dan wibawa Roy tidak pudar sama sekali.
"Ini bukan salah Damian! Ini salah Bella, dia menyenggol bunga milik Mom sehingga bunga itu jatuh dan Mom memarahi nya!" Jelas Damian, dia tidak ingin di salahi sudah sangat jelas bahwa itu adalah kecerobohan Bella. Roy berjalan ke arah putrinya lalu memeluk gadis tersebut.
"Sudah meminta maaf kepada Mom?" Tanya Roy dengan lembut kepada sang putri, Bella mengangguk.
"Bunga apa yang jatuh?" Tanya Roy lagi dan Damian menunjukkan Bunga yang sudah rapi di bersihkan oleh pembantu tadi. Roy terkejut dia menghela nafas kasar."Sayang lain kali hati-hati, kamu tahu bunga itu senilai 57 miliar yang Dad beli dari Eropa untuk Mom. Damian dan Bella terkejut pantas saja sang Mommy memberikan hukuman yang seperti itu.
..........