CERITA RAKYAT ASAL USUL REMBANG

1608 Kata
LEGENDA SUNAN BONANG DAN DAMPO AWANG SEJARAH REMBANG By Rinduwan. PENGANTAR Cerita tentang asal - muasal kota Rembang, sebenarnya telah banyak terabadikan. Begitu juga cendikiawan sejarah banyak yang telah menulis tentang cerita tersebut. Namun di kesempatan ini, saya mencoba menulis dan mengangkat kembali sejarah itersebut melalui akun pribadi saya di media sosial, tentunya setelah membaca dari berbagai sumber terpercaya . Dalam versi ini saya mencoba ceritakan bahwa konon dulunya Tiongkok /Cina dikenal sebagai negrinya pedagang dan pelaut yang ulung, hingga para utusan kerajaan maupun pedagangnya menyebar ke seluruh penjuru dunia. Termasuk ke Nusantara , maksud kedatangan mereka awalnya dalam rangka pencarian rempah-rempah serta memasarkan hasil kerajinannya seperti Emas, Kain Sutera, Keramik, Lukisan dan sebagainya. Singkat cerita akhirnya datanglah seorang pelaut yang juga dikenal sebagai pedagang kondang , dia bernama Dampo Awang di Lasem pada tahun 1405 M . Dampo Awang beserta serombongan kapalnya yang sebagian besar para prajurit kerajaan dari negri China. Dampo Awang sendiri awalnya hanyalah seorang kasim biasa namun karena kepandaiannya akhirnya ia diangkat oleh raja Zhu Di menjadi seorang duta atau utusan kerajaan. Lantas bagaimana kiprah Dampo Awang selanjutnya ? Simak cerita berikut ini. KRONOLOGI CERITA Berawal dari al-kisah sosok manusia yang dikenal dengan sebutan Dampo Awang. Pria asal Tiongkok tersebut , bukan saja terkenal sebagai pelaut namun juga seorang pedagang yang ulung, iapun akhirnya datang dan berniaga di Rembang, melaluu Pelabuhan Lasem kala itu , tepatnya di sebuah tempat yang sekarang di kenal sebagai desa Ndasun . Konon kedatangan mereka menggunakan jalur sungai , dan memanfaatkan sungai Babagan sebagai jalur transportasinya. Hal ini berpengaruh Hingga di sekitar sungai Babagan menjadi sebuah perkampungan Pecinan dan banyak berdiri Klenteng-klenteng. Salah seorang tokoh ternama saat itu bernama Cheng Ho Sang Laksamana laut dari daratan Tiongkok ini , mulanya hanya bermaksud tinggal sementara di Lasem Namun karena keberhasilanya menguasai perdagangan di Pesisir Rembang, ia semakin betah dan enggan meninggalkan wilayah tersebut . Wajar saja kalau rumah tempat tinggalnya konon di bikin cukup besar dan di jaga ketat oleh pasukan dari Tiongkok. Namun demikian, Semula masyarakat pribumi bisa menerima keberadaan Dampo Awang dan kawan-kawan dengan baik, apalagi awalnya mereka bertabiat ramah juga santun , namun tak disangka pribadi yang baik tersebut seakan hilang dari diri Dampo Awang dan kawan - kawanya seiring dengan kesuksesan niaga yang mereka capai , Dampo Awang kian berubah menjadi sosok manusia yang sombong dan congkak. Tak pelak hal tersebut menyulut kebencian masyarakat pada Dampo Awang, yang berbuntut perseteruanya dengan Sunan Bonang hingga harus berakhir dengan peperangan. Mendengar kondisi demikian, Sunan Bonang selaku sesepuh , berniat menjernihkan persoalan dengan mengunnjungi kediaman Dampo Awang. Beliau datang bersama kedua santrinya saat itu. Singkat cerita akhirnya sampailah Sunan Bonang dengan kedua santri tersebut di kediaman Dampo Awang. Mereka sekejap tertegun melihat sebuah tempat yang sangat megah di kelilingi tembok yang tebal dan tinggi, Dan lengkap dengan penjagaan. Tiba - tiba “Hai siapa kalian, berani-beraninya datang ke kediaman Lakmana Agung dari Tiongkok!” bentak seorang penjaga pada Sunan Bonang dan Santrinya. “Kami dari Bonang saya dan Sunan (Bonang) ingin bertemu sebentar dengan Tuanmu" jawab Sunan Bonang menjelaskan maksud kedatangan ya. Dampo Awang” begitu salah seorang santri menambahkan melengkapi jawaban gurunya. “Hahahaha... seenaknya kalian ingin bertemu dengan Tuanku, kalian hanya rakyat jelata kalian tidak kami ijinkan!” kata penjaga itu kembali sambil memperlihatkan sikapnya yang congkak. "hei jaga bicaramu penjaga...kalian tidak tau kalau beliau ini adalah Kyai dan Ulama’ Besar di Lasem ini.. " Sahut santri kembali yang seakan jengkel . "sudah..sudah cukup tidak usah berseteru lagi..baiklah, kalau kami tidak diijinkan masuk sampaikan sekarang juga pada Tuanmu, Sunan Bonang ingin bertemu” sahut Sunan Bonang seraya memotong ucapan santrinya untuk menjernihkan suasana dan menyuruh penjaga tersebut menyampaikan pada tuannya. “Baiklah..” jawab seorang penjaga yang Kemudian menemui Dampo Awang yang nampak sibuk menghitung hasil perniagaannya. “Ampun Tuanku, Ada 3 Orang ingin bertemu Tuan...salah satunya adalah Sunan Bonang” begitu penjaga itu menyampaikannya pada Dampo Awang. “Sunan Bonang? (Jawab Dampo Awang seakan terkejut,) baiklah suruh mereka masuk” Bergegas sang penjaga kembali dan mempersilahkan Sunan Bonang untuk masuk. “Selamat datang saudaraku, lama tidak bercengkarama denganmu..silakan duduk..silahkan..dan nikmati hidangan yang ada di meja...” seraya Dampo Awang menyambut kedatangan Sunan Bonang dan muridnya. “Terimakasih Dampo Awang...bagaimana kegiatan perniagaanmu?” sahut Sunan Bonang. “hahaha...angin barat tahun ini agaknya sedikit menghambat kegiatanku berlayar dan berdagang” jawab Dampo Awang. “Tak apalah Dampo Awang kiranya Laksamana Sebesar anda sudah terbiasa dengan kondisi alam seperti ini” sahut Sunan Bonang kembali seakan menghibur. “hahaha...emm sebenarnya ada apa Sunan dan santri sunan bersedia berkunjung ke kediamanku, sepertinya ada hal penting?” Jawab Dampo Awang seraya menanyakan tujuan kedatangan Sunan Bonang: “Saudaraku...sebelumnya saya minta maaf atas kedatanganku ini..bukan bermaksud apa-apa Cuma saya mendapat banyak keluhan dari warga Lasem tentang anda, sikap anda kepada pedagang kecil dan penduduk sekitar” jelas Sunan Bonang pada Dampo Awang: “sikapku yang mana Sunan?” sahut Dampo Awang kembali. “Mohon maaf sekali lagi, bukan maksud saya memfitnah anda..mereka bercerita tentang sikap sombong anda serta kesewang-wenangan anda kepada pedagang kecil di sekitar Pelabuhan Lasem” Mendengar ucapan Sunan Bonang itu Dampo Awang mulai naik pitam...ia marah dan tersinggung dengan ucapan Sunan Bonang “ Sunan Bonang...aku teringgung dengan ucapanmu itu..pengawal usir mereka dari sini...” Dampo Awang sambil marah memerintahkan sejumlah pengawalnya untuk mengusir Sunan Bonang. “Dampo Awang kamu telah bersikap tidak sopan dengan sesepuh Lasem..keterlaluan kamu...ingatlah kamu hanya seorang pendatang kami bisa saja mengusirmu dari Lasem!!” seorang santri balas membentak karena merasa tidak terima atas perlakuan Dampo Awang pada Sunan Bonang. Mendengar ucapan itu Dampo Awang semakin marah besar kemudian ia berkata “ Baiklah kalau begitu aku juga tidak pernah takut dengan kalian...hei Sunan Bonang..besok pagi datanglah bersama santri-santrimu hadapi aku dan pasukanku siapa yang paling hebat disini dan siapa yang berhak di usir dari Tanah Lasem ini!!...” Sunan Bonang pun akhirnya bicara sebelum Beliau meninggalkan tempat itu “Aku tidak pernah menginginkan semua ini diselasaikan dengan kekerasan..tapi kalau itu maumu baiklah...” Sore harinya Sunan Bonang menyampaikan kejadian tersebut kepada santri-santrinya yang akhirnya api semangatnya tersulut hingga semua santri bersedia ikut berperang demi mengusir kesombongan sang Dampo Awang beserta pasukannya. (Pondok pesantren Sunan Bonang di yakini berada di sekitar Pasujudan Sunan Bonang yang sampai sekarang banyak dikunjungi peziarah). Pagi itu, tampak kapal-kapal besar berlabuh di Pantai Bonang . Dampo Awang beserta bala tentaranya rupanya tidaklah main - main, mereka menantang perang Sunan Bonang. Peristiwa itu terlihat pula dari Pondok Sunan Bonang yang tak jauh dari pantai, Sunan Bonang pun telah mempersiapkan sambutan sedemikian rupa. Dengan dukungan para santri, bersiaga menghadapi serangan Dampo Awang dan bala tentaranya. Tampak barisan para santri yang di pimpin langsung oleh Sunan Bonang mengenakan jubah - jubah putih serta surban yang berwarna putih pula. Hingga sekejab pantaipun memutih. Sambil memegang tasbih seraya berdzikir kepada Allah. Melihat itu semua, Dampo Awang langsung menabuh genderang perang, hingga akhirnya perangpun dimulai. Pasukan Dampo Awang dari atas kapal menembakkan peluru-peluru meriam membuat banyak santri yang gugur dimedan laga.. Namun ahirnya para santri berhasil naik ke atas kapal hingga terjadilah pertempuran di sana. Tak pelak korban pun berjatuhan di kedua belah pihak. Di sisi lain tampak Dampo Awang yang bertarung melawan Sunan Bonang . Mereka saling serang dengan mengandalkan ilmu kanuragannya masing-masing. Peperangan di udara pun terjadi antara keduanya. Mereka terlihat imbang karena sama-sama sakti mandra guna, Tampak Dampo Awang kembali turun ke kapalnya, sedangkan Sunan Bonang terbang ke atas bukit , kemudian dari atas bukit inilah sebuah serangan dahsyat Sunan Bonang berhasil menghantam tepat mengenai kapal Dampo Awang hingga hancur. kapal yang sangat besar itu pecah, seluruh isinya berhamburan terpental hingga jarak yang jauh. hingga ke Rembang, Layarnya membatu dan menjadi Bukit yang sekarang disebut watu Layar yang ada di desa Bonang Kecamatan Lasem, Jangkarnya yang besar terpental jauh ke arah barat. Yang sekarang ada di Pantai Kartini Rembang. Tiang kapalnya menancap dekat pasujudan Sunan Bonang di desa Bonang, Lambung kapalnya tengkurap dan membatu yang kini menjadi Gunung Bugel (lereng Gunung Lasem) antara Lasem dan kecamatan Pancur. Karena dalam pertarungan itu tidak ada yang kalah dan menang ahirnya Sunan Bonang menghenntikan duel udara itu yang hingga sampai di pesisir desa Pandean Rembang itu. “Dampo Awang ilmu kita sepertinya imbang, bagaimana kalau kita bertarung dengan cara lain..” begitu kata Sunan Bonang. Dampo Awang punenjawab “hahahaha..Sunan Bonang mau melawan aku dengan cara apa lagi kamu?!” Sunan Bonag: “Lihatlah Jangkar kapalmu itu, tebaklah apakah jangkar itu akan Kerem (tenggelam) atau Kemambang (terapung)?” Dampo Awang: “hei kalau Cuma menebak seperti itu anak kecil juga bisa..jelas jangkar besi itu akan Kerem (tenggelam)” Sunan Bonang: “kamu salah Dampo Awang jangkar itu akan Kemambang (terapung)” Karena mereka sama-sama sakti ketika mereka mengucap Kerem jangkar itu akan tenggelam dan Kemambang jangkar itu akan terapung Kedua Kata KEREM dan KEMAMBANG saling terucap dari mereka dan jangkarpun menjadi tenggelam dan terapung (Kerem dan Kemambang). Ahirnya Jangkar besi besar itu Kemambang dengan demikian Sunan Bonang memenangkan pertarungan itu, maka Dampo Awang beserta pasukannya bersedia pergi dari Lasem dan pindah ke Semarang. Dalam Hati Sunan Bonang Berkata dalam Bahasa Jawa “Wewengkon kang jembar pinggir segoro nanging isih kebak alas iki tak wenehi aran REMBANG supoyo ing reja-rejaning jaman wong biso reti lan iling ono prastawa kang gedhe ing jamanku iki”. (wilayah yang luas pinggir laut namun masih berhutan lebat ini saya beri nama REMBANG agar saat peradaban mulai ramai orang bisa tau dan ingat pernah ada peristiwa yang besar di jamanku ini). PENUTUP Wallahu alam bishshawab Kabupaten Rembang, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Rembang. Lebih lengkap dengan berbagai versi cerita kunjungi h***:/induan090.blogspot.com atau halaman sss by Rinduwan Pancur Terima kasih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN