THE BEGINNING

1608 Kata
“Claudya Cindy Levina, 17 tahun. Panggil saja Claudya” sahut ku memperkenalkan diri. Ya hari ini tepat dimana aku resmi menjadi seorang mahasiwa di salah satu kampus swasta paling bergengsi di kota Jakarta, Universitas Bina Rajawali. Perasaan deg – deg an menyelimuti diri ku. Maklum saja aku belum punya kawan sama sekali untuk berbicara. Teman – teman sebaya ku semasa SMA sangat banyak terpisah dari  ku. Mereka lebih memilih mengenyam pendidikan di Universitas Negeri di berbagai wilayah. “Hai gue Rachel” terdengar suara seseorang dari sebelah ku “Hai gue Claudya, salam kenal” balas ku Itulah pertemuan pertama ku dengan sahabatku Rachel Nicole Maryam (18 tahun). Dia sangat baik dan juga sangat cantik. Sejak awal dia terkenal akan fashion moodist nya. Dia sangat cekatan dalam mempersolek wajahnya dan setiap inci dari tubuhnya, hasilnya selalu sempurnya. Dia adalah wujud barbie hidup di kampus kami.  Cara ber-make up nya sangat update mengikuti Trend Make-up setiap tahunnya. Selain itu dia juga sangat kaya. Apa saja yang dia inginkan bisa dia dapatkan dalam sekejap. Untuk hal berbelanja pun sebenarnya dia sangat prefer to Singapore. Namun seiring waktu brand ternama dunia pun sudah merambah masuk ke Indonesia, jadi Rachel tidak lagi sesering dulu ke Singapore hanya untuk perkara belanja. Kylie Jenner adalah kiblatnya. Selang beberapa hari di kampus, kami kemudian berkenalan dengan dua sahabat kami lainnya Indy dan Nita. Dimulai dengan Anita Anggraeni Pratiwi (18 tahun) dia adalah gadis rupawan baik dan sangat care dengan semua orang. Tubuhnya yang ideal, bak Kendall jenner membuatnya selalu tampil all out di setiap penampilannya walaupun dengan fashion simple nya. Nita dia adalah tipe perempuan setia. Buktinya dari awal perkuliahan hingga menjelang Wisuda dia hanya menjalin hubungan dengan Oman seorang. Laki – laki cuek dan berpenampilan bak oppa korea BTS. Yang menurutku kesetiaannya belum teruji seperti Nita. Nita pun berasal dari golongan tajir melintir. Ayah dan Ibu nya adalah pengcara kondang dan sangat terkenal di negeri ini. Nita orangnya juga sangat terbuka tetapi perihal romansanya dengan Oman, tetapi aku yakin dia masih menyaring apa yang bisa dan tidak bisa ia ceritakan kepada kami. Kemudian Rindy Andanda Putri (18 tahun). Dengan wajah orientalnya yang khas, Indy selau sukses menjadi perempuan misterius di mata kaum adam. Mimik juteknya namun tetap terlihat cantik selalu membuat para lelaki penasaran dan ingin mengejar. Tapi Indy cukup hebat dalam mengendalikan diri, dia hanya berfokus kepada satu tujuan yaitu ingin melanjutkan magisternya keluar negeri, tepatnya Sydney, Australia. Untuk Indy sendiri orang tuanya adalah dokter yang sangat terkenal. Mereka sangat menyayangi Indy karena Indy adalah anak mereka satu – satunya. Indy belum begitu tertarik untuk memiliki pacar. Yap dia adalah seorang jomblowati potensial. Dia sangat ingin membuat kedua orang tuanya bangga dan bahagia. Tetapi hal ini mungkin juga karena Indy menyukai teman semasa SMA nya yang kini sekolah di luar negeri. Mungkin saja Indy sudah mengikrarkan hatinya hanya untuk dia yang kini berada di Sydney, Australia. Dan bagaimana dengan aku? By the way, Nama ku Claudya Cindy Levina. Aku tipikal orang pemikir dan tertutup. Secara fisik, aku tidak seperti ketiga sahabat ku lainnya yang nampak seperti Indo (blasteran). Aku dengan kulit kuning langsat, rambut hitam dengan model layer sedada, pesona ku tidak kalah dari ketiga sahabat ku. Paras ku seperti Dian Sastrowardoyo, sangat khas Indonesia. Body ku yang ideal, kaki jenjang, perut rata dan d**a yang membusung sempurna menjadi daya tarik tersendiri untukku. Lekukan di setiap tubuhku ditempatkan dengan begitu sempurna. Aku bukan bak Super Model berjalan atau pun Berbie hidup, aku berada di level berbeda, lebih dari itu. Aku menawan, aku  mencengkram batin setiap kaum adam yang melihat ku. Kami ber empat sangat cocok. Selera humor kami sama, hobi nge-mall untuk menghabiskan waktu luang pun sama. Kami ber-empat sangat mengerti bagaimana caranya bersenang-senang bersama. Selain itu, kami juga sama dalam hal yang tidak kami sukai. Kami sangat menjunjung tinggi kebersamaan. Kami anti-solkar alias solo karir selama kuliah.   *****    “Ngapain lo?” tanya Indy kepada ku “Lagi posting Macbook gue di lapak online, mau gue jual” jawab ku “Dijual kenapa?” Indy bertanya “Pengen jual aja, pengen ganti yang baru. Hehe...” Jawab ku meringis “Ohh.. hati – hati lo kena tipu. Jangan mau kalo gak transaksi langsung lho!” Indy memperingatkan “Iya Ndy, gue tau kok” jawab ku “Ya udah... masih lama gak? Gue Laper nih” Indy sambil mengkertukan alisnya menahan lapar “Eh lo duluan aja ke kantin, ntar gue nyusul deh. Dikit lagi kok” jawab ku mempersilahkan Indy duluan “Gak deng, gue tunggu aja. Jangan lama – lama lo” Indy menggerutu “Iya bawel, dikit lagi nih. Gue sertakan kontak info gue dulu, udah selesai deh” jawab ku Indy kemudian menarik nafas dan menyandarkan dirinya di kursi perpustakaan, sambil memainkan iphone miliknya. Beberapa saat kemudian, “Udah nih, ayook makan” sahut ku ke Indy “Finally, Let’s go !!!” Indy kegirangan Kami berdua pun menuju ke kantin. Indy yang menghubungi Rachel dan Nita sembari berjalan meminta mereka untuk segera ke kantin. Rachel dan Nita pun setuju dan segera menemui kami, jelas Indy kepada ku. Setibanya di kantin, kami memilih duduk di pojok kantin, meja yang memang menjadi favorite kami. Duduk di pojok membuat kami leluasa untuk berbicara berbagai hal tanpa takut diusik oleh siapa pun. Setelah memesan makanan, Rachel dan Nita pun tiba di kantin dan segera memesan makanan mereka. Sembari menunggu makanan kami dihidangkan, kami duduk di meja kami sambil chit chat satu sama lain. Topik utama kali ini adalah salah satu dosen muda di fakultas kami yang jadi perbincangan karena perceraiannya. Padahal umur pernikahan dengan istrinya masih seumur jagung,   “Yang gue dengar nih, Pak Joni itu KDRT. Gak nyangka banget deh” opini Rachel “Eh bukan KDRT biasa loh, dia kalo lagi pengen ML, bininya musti disiksa dulu, yang gue dengar tangan bininya diikat dulu terus muka bininya ditonjok – tonjok gitu, nah pas bininya udah kesakitan minta ampun baru deh dienakin” sambung Nita “Kalo emang bener, Ihh ngeri banget yak tu Bapak, padahal ganteng lho” opini ku “Iya ganteng, gue aja naksir” Rachel menimpali “Cowok itu aslinya ketahuan pas kita udah merried, masa pacaran mah masa pencitraan doang” Indy berpendapat “Yang gue dengar juga pernah tuh ya bininya di siksa parah. Jadi dicambuk gitu pakai belt sampai memar – memar, habis itu diajakin bikin anak, gila gak sih?” Rachel menambahkan “Tapi overall dalam hal s*x aja kali ya pak Joni gitu, ada kelainan orientasi s*x kali” sambung ku “I don’t know, tapi yang jelas mereka udah proses cerai sekarang” Nita berkata Setelah itu semua terdiam sembari menghabiskan makanan yang telah tersaji di depan kami.   Pak Joni menikahi Mahasiswi nya sendiri yang berada 4 tahun di atas kami. Mereka berbeda usia sekitar 11 tahun menurut kabar yang beredar. Pak Joni adalah tipe dosen yang galak namun diimbangi dengan ketampanan dan gayanya yang maskulin. “drrrrttt... drrrrttt” handphone berbunyi “Yes... gue udah dapat calon pembeli nih Ndy” sahut ku sembari membaca pesan yang masuk “Ohh bagus dong, awas lho tetap hati – hati” sambungnya “Apaan sih?” Nita bertanya “Gue mau jual Macbook gue Ta, ini udah ada calon pembeli” Jawab ku senang “Lho dijual kenapa Clau?” Rachel penasaran “Gak kenapa – kenapa sih, pengen ganti yang baru aja” jawab ku sambil senyum. “Pengen gue update, rencana juga pengen beli Macbook Air aja. Biar lebih santai gitu lho bawanya gak berat” sambung ku lagi Semua terdiam dan mengangguk mengerti. “Trus transaksi lo rencana kapan dan dimana?” tanya Indy kembali “Recana gue ketemu di Mall dekat sini, Ntar pas di sana aja gue tentuin cafe apa” jawab ku “Mau ditemanin gak?” Indy menyambung “Gak usah deh, biar gue sendirian aja gak apa – apa” jawab ku meyakinkan “okey...” balas Indy “Hati – hati aja pokoknya” Rachel menimpali “Cari cafe yang rame, jangan yang sepi” sambung Nita “Siap Girls” Jawab ku tersenyum Setelah menyelesaikan makan siang, kami pun bergegas masuk kelas untuk memulai perkuliahan terakhir kami hari ini. Aku dan ketiga sahabat ku, selalu duduk berdekatan, kami tidak terpisahkan. Jam menunjukkan perkulihan ini akan segera berakhir. Dan aku akan bergegas menuju Mall, bertemu dengan calon pembeli Macbook Pro ku. Aku, Rachel, Nita dan Indy memisahkan diri di area parkiran. Kami menuju mobil masing - masing.   “Hati – hati ya Clau, yakin gak mau kita temanin?” sahut Indy “Iya gak apa – apa Ndy, thank you lho perhatiannya” jawab ku sembari memberi kiss bye. Kami pun berpisah. Dan aku segera menuju Mall. Aku parkir mobil ku dengan rapih didekat salah satu pintu Mall agar tidak terlalu jauh berjalan, karena memang aku berenca pulang setelah bertransaksi. Ku persiapkan semua perangkat dan accesories macbook ku termasuk dus packingan yang sudah aku siapkan sejak tadi pagi di rumah. Aku berjalan memasuki Mall dan mencari – cari cafe yang suasanya pas. Dunkin Donat menjadi pilihan ku. Kemudian aku duduk sembari menginformasikan calon pembeli ku lewat i-message bahwa kami akan bertemu di Dunkin Donat. “Kita ketemu di Dunkin Donat di Mall Plaza Sentra aja. Gue udah di lokasi, gue tunggu. Thank you...” isi pesan ku kepadanya Kemudian ku pesan dua buah donat dengan topping coklat berbalur meises strawberry dan topping gula aren barbalur crispy crunchy, beserta satu soft drink untuk melepas dahaga ku. “drrrrttt....” beberapa saat kemudian handphone ku menerima balasan “Okey gue segera tiba, by the way gue David” balasnya        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN