Sembari menghabiskan cemilan ku, aku memainkan handphone dan membuka aplikasi f*******:. Aku mengamati update status dari semua teman – teman ku. Aku mendapati postingan Rachel, groufie kami berempat tadi siang di kantin. Aku tertawa kecil mengingat gossip kami tentang Pak Joni. Aku menekan tanda like untuk postingan Rachel tersebut.
Ku pandang i jam di pergelangan tangan ku, tidak terasa aku sudah menunggu sekitar dua puluh menit.
“Mana sih orangnya” kata ku dalam hati
Sepuluh menit berlalu, dan tepat aku sudah menunggu calon pembeli ku setengah jam.
“Sial kayaknya dia PHP deh” gumam ku
Ku cek pesan singakat i-messages ku tidak ada pesan darinya
“Oke gue tunggu lima menit lagi, kalo gak nongol gue balik aja” ucap ku pasrah
Beberapa saat kemudian, seseorang memasuki area cafe, dan aku yakin dia orangnya. Aku menghampiri duluan,
“Hai... David ya?” sapa ku
Namun sialnya aku salah orang
“Eh maaf mbak, salah orang. Saya bukan David” jawabnya tersenyum kaget
“Shits...” teriakku dalam hati malu
“Eh sorry sorry, gue salah orang” dengan muka memerah aku bermaksud membalikkan badan dan kembali ke meja ku
“Hai... gue David” belum selangkah aku berjalan terdengar suara itu
Aku membalikkan badan 90 derajat, dan jreng ini dia orangnya
Sambil membuka kacamata square berwarna hitamnya, dia mengangkat tangan untuk berkenalan
“Gue David, sorry gue telat” katanya lagi
Aku menatapnya sebentar untuk melihat dirinya dibalik kacamata itu, sadar dari lamunan, aku menjawabnya sambil menjabat tangannya,
“Gue Claudya, iya gak apa – apa”
“Eh gak salah lagi kan? Lo yang mau beli Macbook gue?” tanya ku memastikan
“Iya gue orangnya” David menjawab sambil tersenyum manis
“Huft... akhirnya” lega ku dalam hati sambil menghela nafas
“Ayo meja gue di sana” kata ku sambil menunjuk arah meja
“Oh iya..” Jawab David.
Kami segera berjalan menuju meja itu. Belum sempat ku daratkan b****g ku di atas sofa,
“Eh gak pesan dulu? Minum atau apa gitu?” tanya ku ke David
“Mmmm... Bentar aja deh, gue pengen liat barangnya dulu” jawabnya
“Okey, as you wish” timpal ku. Aku segera mengambil Macbook Pro ku dan menunjukkannya ke David, ku biarkan ia mengutak – atik barang itu dengan bebas. Toh itu juga haknya sebagai pembeli untuk memastikan barangnya oke. Sesekali David melontarkan pertanyaan seputar Macbook ku, alasan jual, cacatnya apa, pemakaian berapa lama, dan lain sebagainya. Semuanya ku jawab santai dan jujur. Toh dia juga bisa mengecek langsung kebenarannya dari Macbook itu sendiri.
“Oke gue ambil, pasnya berapa nih Claudya?” tanya David menawar harga
“Udah pas kak, delapan juta” jawab ku memanggilnya kak karena memang ia lebih tua dari ku
“Kurang dikitlah Claudya 7,5 juta ya” David memasang harga
“Gak bisa, sorry...” Jawab ku senyum dan mulai kesal
Beberapa lama tawar menawar harga terjadi, akhirnya aku pun sedikit mengalah
“Pasnya 7,8 aja ya, udah pas. Gak bisa kurang lagi” jawab ku menahan emosi
“Cemberut gitu, jadi makin manis kamu” ucap David tertawa yang membuat keningku mengkerut. “Oke gue angkut 7,8 juta ya. Mana nomor rekening nya?” lanjut David.
Kemudian ku sebutkan nomor rekening ku perlahan agar tidak salah,
“Atas nama Claudya Cindy Levina” tutup ku
David segera memproses pembayarannya.
Notifikasi yang masuk ke handphone ku menandakan transaksi berhasil dan sudah selesai.
“Oke kak David, thank you very much. Transferannya masuk kok” kata ku sambil mengulurkan tangan sebelum berdiri
“Iya sama – sama Claudya...” jawab David
Aku berdiri dan beranjak pergi, memeriksa semua barang ku dan memastikan tidak ada yang ketinggalan.
“Gue duluan ya” pamit ku sembari senyum
“Oke sip” balas David senyum
Itulah awal aku berkenalan dengan David Mahendra Putra. Dia datang ke cafe dengan paras yang begitu sempurna. Dengan rambut semi pelontosnya, bibir tipis berwarna pink ditambah dengan senyum indahnya. Kulitnya putih bersih, badan tegap, kekar dan tinggi. Stelan batik membuat tubuhnya nampak sangat sempurna. Aku sempat termenung dan merasa senang bisa berkenalan dengannya. Ada sedikit debaran di dalam jantung ku saat berjabat tangan dengan dia.
David Point Of View
“Duh.. telat lagi” ucap ku seraya melewati pintu masuk cafe Dunkin Donat.
“Maaf mbak saya bukan David..” ucap seseorang pria di dekat dekat ku
“Oh sorry sorry, gue salah orang” aku yakin aku lah David yang dimaksud oleh gadis ini. “Hai.. gue David” ucap ku menyapa gadis itu pertama.
Gadis itu membalikkan badannya, dan kulihat wajahnya yang cantik dibalik kacamata hitam ku. Ku buka kacamata ku untuk melihat wajahnya jelas, dan ya dia sangat cantik.
Claudya Cindy Levina namanya secantik empunya. Dia berjalan tepat di depan ku menuju ke meja tempat ia duduk, ku perhatikan kemolekan tubuhnya dari belakang. Dadanya membusung sempurna, kakinya begitu jenjang, rambutnya begitu lembut dengan gampang ia geraikan. Senyumannya sangat manis. Kulitnya putih bersih dan wangi, aku bisa mencium aroma parfum vanillanya dari posisi ku. Aku suka pembawaan gadis ini, sangat manis dan ramah.
Tanpa basa – basi aku langsung mengecek Macbook miliknya, semua aman dan barangnya bagus. Sesekali aku meliriknya diam – diam memperhatikan wajah cantiknya. Dia sangat menggemaskan, Claudya sering menggigit bibir bawahnya yang merah merekah ketika dia bingung dengan apa yang dia baca di iphone miliknya. Ku sengaja mengulur waktu untuk bisa berlama – lama dengan gadis cantik ini.
Diakhir percakapan, dia pamit pulang. Aku sangat salah tingkah. Aku ingin memintanya untuk tinggal lebih lama tetapi ragu. Claudya melaju meninggalkan tempat kami duduk ku perhatikan ia berjalan anggun, body nya sangat sexy. Ia bahkan tidak perlu repot memakai pakaian terbuka untuk menunjukkan ke-sexy-annya.
“Ia sangat menantang” pintah ku sendiri sambil tersenyum kecil