Author POV
Claudya dan David sama – sama tidak menyangka bahwa hubungan mereka akan berlanjut setelah transaksi Macbook tersebut. David bahkan memberikan seluruh perhatiannya kepada Claudya, tidak pernah absen untuk mengucapkan “Lagi ngapain?” siang dan malam. David tidak menyangka akan sekasmaraan itu kepada anak kuliahan itu. Sedang David saat ini adalah lelaki mapan berumur 27 tahun dan bekerja sebagai Aparatur Sipil Negera di salah satu Kementrian bergengsi. Dia adalah sosok ASN yang sempurna, tampan, cerdas dan kaya. Banyak perempuan yang menaruh hati padanya, berusaha menarik perhatian David bahkan ada yang secara langsung mengajaknya untuk kencan, perempuan tersebut berebut untuk menjadi Nyona David Mahendra Putra. Tetapi David menanggapi santai, dia belum terpikir untuk mencari perempuan yang akan dijadikannya Nyonya David.
Claudya mulai kecanduan akan perhatian David. Seluruh isi kepalanya sehari – hari hanya tentang David. Dia mulai jatuh cinta kepada pria yang 10 tahun lebih tua darinya. Tapi bagi Claudya itu tidak masalah. Cara David sangat sempurna mengambil hatinya. Mengingat usia David yang memang jauh lebih tua dan pastinya berpengalaman. Claudya menyimpan kisah ini sendiri. Belum menceritakan kepada sahabat – sahabatnya. Bukan dia tidak ingin, hanya saja David belum menyatakan cinta padanya dan belum meminta untuk menjadi pacaranya secara resmi. Claudya masih menanti saat itu, dia menanti dengan sabar dan dengan penuh kebahagiaan. Sesekali temannya bertanya kepada Claudya, mengingat Claudya sudah mulai susah untuk diajak Hang Out. Tepat saja dia selalu ingin meluangkan waktunya dengan David, penguasa hatinya saat ini.
Untuk menggambarkan situasi Claudya saat ini, dia bagaikan seekor anak itik yang tunduk kepada buaya beringas pemangsanya sendiri. David tentunya sebagai buaya beringas itu. Tetapi buaya tersebut masih ingin bermain – main dengan anak itik mangsanya yang sexy dan menggemaskan. Claudya hanya terbuai dan mengikuti permainan sang pemangsa. Tanpa dia sadari sudah masuk ke kandang binatang buas itu dengan sukarela.
Hari demi hari berganti, sudah 2 bulan mereka menjalin hubungan tanpa status. Tepatnya mereka seperti TTM. Sebagai perempuan, sesekali Claudya ingin mempertanyakan status mereka seperti apa. Tetapi rasa takutnya lebih besar. Takut jika David kesal, takut jika David pergi. Dia selalu mengurungkan niatnya untuk bertanya walaupun kesempatan sudah datang berkali – kali.
Hingga suatu hari, David mulai menunjukkan taringnya. Dia menginginkan Claudya lebih. Niat awalnya hanya bersenang – senang dengan anak kuliahan itu sudah berubah. Tubuh sexy Claudya terus saja mengganggunya dan mulai meruntuhkan pertahanannya. Dimana Claudya sendiri semakin hari semakin mencoba untuk tampil ter-cantiknya di hadapan David. Gadis itu mulai mencoba pakaian yang agak terbuka jika bertemu dengan David, semakin menampakkan kemolekan tubuhnya, sesekali memakai shirt dengan belahan d**a rendah dan memperlihatnya kedua gunung besar miliknya, David sering salah fokus akan itu, tiger miliknya sering dirasakan mengeras tidak tahu tempat akibat tubuh sexy Claudya. Ditambah lagi dengan make up tipis dan rambut indahnya, membuat dia semakin cantik setiap harinya. Percobaan pertama David gagal. Di hatinya pun dia tidak ingin Claudya curiga akan dirinya. Dia berusaha sekeras mungkin agar bagaimana Claudya menyerahkan dirinya sendiri.
Hingga suatu malam tiba dimana David mengajak Claudya untuk makan malam romantis di sebuah hotel. Claudya sangat gembira, dia yakin inilah saat yang paling dia nantikan. David akan meminta dirinya untuk menjadi pacarnya secara resmi. Claudya berusaha memberikan penampilan terbaiknya. Untuk persiapannya saja dia berani bolos kuliah. Kuliah terakhir di minggu ini karena hari itu adalah hari jumat. Dia malah pergi ke Mall untuk memanjakan seluruh tubuhnya agar terlihat kinclong head to toe. Dia membeli dress putih yang sangat cantik. Dia mencoba dress putih pilihannya itu di fitting room. Sentuhan akhir dirinya oleh Hair stylist menyempurnakan penampilan Claudya, dia memilih dry blow gantung yang menampilkan dirinya agak sedikit dewasa dan menawan. Seluruh pegawai salon sangat takjub melihat dirinya. Waktunya telah tiba, Claudya memesan taksi untuk segera ke hotel. Dia memang menolak untuk dijemput David karena ingin mempersiapkan dirinya ekstra.
Di lobi hotel, Claudya langsung menuju ke lantai 11 menggunakan lift. Pintu lift manampilkan pantulan dirinya. Dia takjub atas dirinya sendiri. Dia sangat bahagia karena David pasti akan sangat senang melihat penampilannya itu.
Setibanya di lantai 11, dia langsung menuju ke meja yang diberitahukan oleh David melalui telfon sesaat sewaktu Claudya berada di lobi hotel. Betapa takjub David melihat mangsanya sangat cantik malam itu. Dengan dress brukat putih selutut dan belahan d**a yang rendah menampilkan dua benda kenyal milik Claudya dengan sangat sempurna dan menggoda, hal itu sukses membuat David terdiam kagum untuk beberapa saat. Di tengah lamunan David tersadar dia langsung mengambil tangan Claudya dan mengajaknya duduk, sembari membuka kursi untuk Claudya.
Iringan musik menambah suasana keromantisan candle light dinner mereka malam itu. David tidak sedikit pun memalingkan pandangannya dari Claudya. Dia tidak hentinya memuji Claudya, yang membuat pipi gadis itu terus merona. David sesekali terus memandang d**a milik Claudya yang begitu sempurna, tentu saja tanpa sepengetahuan gadis itu.
Waktu pun berlalu, makanan mereka sudah habis. Namun, ada yang mengganjal di benak Claudya, mengapa David tidak kunjung menyatakan cinta padanya.
Selesai Candle Light Dinner, David kemudian membawa gadis itu ke sebuah kamar di hotel yang sama. David merayu Claudya dan voila gadis itu menyerahkan dirinya sendiri. David melakukannya malam itu, dia memangsa Claudya tanpa ampun. Menyalurkan apa yang selama ini dia pendam ke gadis bertubuh sexy itu.
Sedangkan di benak Claudya dia sangat bahagia, karena pernyataan “I love you” dari penguasa hatinya menandakan mereka sudah resmi berpacaran. Tanpa ia sadari sudah menghancurkan dirinya sendiri.
Setelah malam di hotel itu, malam dia mengorbankan virginity nya untuk orang yang saat itu sudah hilang bak ditelan bumi, Claudya sangat stres. Dia bahkan tidak masuk kuliah untuk 2 minggu lamanya. Dia menghilang dan menghindari teman – temannya. Yang dia lakukan sepanjang hari adalah menghubungi nomor telfon David yang tidak kunjung aktif. Beban dikepalanya begitu berat. Setiap hari dia menitikan air mata dalam diam. Orang tua Claudya yang saat itu memang berada di Luar Negeri untuk waktu yang lama dimanfaatkan oleh Claudya untuk menyendiri di rumahnya. Sesekali sahabatnya datang tetapi dia sudah memesan ke Asisten Rumah Tangganya untuk berbohong tidak memberitahukan bahwa ia ada di rumah.
Wajar saja Claudya tidak tahu harus mencari David kemana, lelaki itu sangat lihai. Dia tidak pernah menceritakan dirinya secara gamblang apalagi identitasnya, alamat rumah dan tempat kerjanya dia tutup rapat dari Claudya. David hanya membangun dunia khayalan yang hanya ada mereka berdua di dalamnya. Ini pertama kali Claudya direnggut hatinya oleh seorang laki – laki. Ia begitu terbuai tanpa bisa curiga sedikit pun.
Bagi David. Claudya memang special. Tetapi hal itu tidak menjadikan dirinya untuk menjalin hubungan serius dengan gadis kuliahan itu. David mengakui ada rasa kepada Claudya, dia menghabiskan beberapa bulan untuk bersamanya, jika tidak ada rasa itu membohongi dirinya sendiri. Namun dengan usianya yang masih membara, perasaan itu berubah menjadi nafsu. Selain itu, perjalanannya masih panjang, dia masih ingin berkarir dan melebarkan sayap bisnis keluarganya, dia hanya ingin mengumpulkan pundi – pundi kekayaan terlebih dahulu.
Malam itu setelah bercinta hebat dengan Claudya, dia memandang Claudya sedih sesaat. Tetapi niatannya memang hanya sebatas itu. Diisikan pil tidur ke dalam minuman Claudya, dan meminta gadis itu meneguknya sampai habis. Setelah Claudya tertidur pulas, David membersihkan dirinya lalu pergi meninggalkan hotel dengan rasa sedikit bersalah namun berusaha dia abaikan. Di area parkir, dia membuang sesuatu asal di tengah jalan. benar saja benda itu adalah chip nomor cadangan David yang digunakan berkomunikasi dengan Claudya. David mematahkan dan menghancurkannya, kemudian dia melaju dengan mobil sedannya meninggalkan hotel itu semakin jauh.
Sejak saat itu Claudya tidak pernah sekali pun melihat batang hidung David. Hari demi hari keterpurukannya dia lalui sendiri tanpa berbagi dengan siapa pun bahkan dengan bayangannya sendiri. Dua minggu waktu yang digunakan Claudya untuk bangkit dan harus melanjutkan hidupnya, sedikit banyak mengubah gadis itu. Dia terlihat kurus dan depresi. Berhari – hari tidak makan, hanya meneguk segelas air. Dia seperti zombie tepatnya. Sahabat – sahabatnya yang melihat kondisi Claudya seperti itu mencoba untuk mencari tahu apa yang terjadi namun tidak menemukan apa pun.
Dua bulan pasca peristiwa di hotel itu, Claudya banyak bolos dari kuliah. Dia mencoba mencari penghiburan sendiri di tengah keramaian kota. Namun tidak menemukan apa pun selain rasa kosong, hampa, dan nyaris putus asa.