Royal Sugar

1058 Kata
Untuk pertemuan pertama ini cukup menyenangkan. Dan aku pun mengetahui bahwa Andias adalah salah satu orang terkaya di kota ini. Dia adalah lulusan salah satu kampus ternama di California, Amerika Serikat. Keluarganya digelari Raja Ruko karena memiliki ratusan ruko di berbagai wilayah di Jakarta. Kekayaan Andias berdampak bagus terhadap pertmuan kami karena dia sering memesan kamar di hotel mewah berbintang 5++. Dia sangat mengutamakan kenyamanan. Dan pastinya dia selalu memastikan kenyamanan ku. Tidak seperti Victor yang sering memesan hotel kelas melati untuk kencan dengan ku. Walaupun Andias kaya raya dan bisa memberiku segalanya, tetapi aku tidak menginginkan uangnya. Aku hanya nyaman berada di dekatnya, sikapnya sangat baik terhadap ku. Kami menjalin hubungan kosong selama tiga bulan. Ku katakan kosong karena kami belum memulai adengan panas sama sekali. Beberapa kali dia mengajakku liburan ke Bali tetapi waktu kami tidak pernah cocok, aku sibuk dengan kuliah dan dia sibuk dengan pekerjaanya. Kehadiaran Andias membuat ku merasa cukup, aku memutuskan untuk tidak mencari lagi orang – orang baru di aplikasi WeMeet dan ku akhiri hubungan ku dengan Victor. Awalnya Victor bingung tetapi kemudian dia menerima keputusan ku dan tidak ingin bertemu lagi dengannya. ****** Selesai perkuliahan sore ini, aku langsung menuju ke hotel yang sudah dipesan oleh Andias, dia akan segera menyusul. Aku menunggunya sambil merebahkan tubuh ku dia atas ranjang yang nyaman. Sebelumnya aku sudah membersihkan diri ku dan mengenakan pakaian yang disiapkan oleh Andias sewaktu check-in tadi siang. Aku terkejut seketika membuka bingkisan tersebut yang berisi nightrobe merah maroon yang sexy dilengkapi dengan kimono satin yang sangat halus. Ku kenakan nighrobe itu dan melihat diri ku di cermin. Betapa cantiknya diri ku. Nightrobe ini panjangnya hanya setengah dari paha mulus ku, tali tipis yang menyangkut di kedua pundakku yang kemudian ku tutupi dengan kimono pasangannya, tubuh ku nampak sangat menggoda, ku tatap setiap lekukannya, tidak terlewatkan d**a ku, dengan belahan d**a yang rendah, ku pastikan tidak mengenakan bra dan kemudian mengibaskan rambut ku percaya diri. Ini akan menjadi hari special untukku dan Andias. Ku pakai parfum ku di belakang daun telinga serta leher untuk menggoda Andias  nantinya. Tak lupa ku kenakan make up tipis agar terlihat menawan, aku siap untuk menjadi santapannya hari ini. Ting-tong Suara bel berbunyi. Hati ku berdegup kencang. Aku siap menyambut Andias. Ku buka pintu perlahan dia nampak sangat bahagia. Matanya berbinar melihat ku bagai bidadari atau melihat ku bagai santapan empuknya hari ini, dan aku menggodanya di depan pintu dengan menggigit jari telunjukku, dan sedikit membuka lace kimono dan ku nampakkan d**a ku yang menantang. Andias sekali melangkah kemudian langsung mengangkat tubuh ku ala bridal style. Ku lingkarkan lengan ku di lehernya dan menatap matanya, dia mencium ku, melumat bibir ku hingga basah. Bibirnya yang tebal merekah melahap habis seluruh bibir ku. Dia meletakkan tubuh ku di atas ranjang tanpa melepas lumatan liarnya. Satu yang ku suka dari Andias adalah dia selalu memastikan diri ku nyaman dan aman. Dalam keadaan sangat h***y pun dia meletakkan kepala ku dengan sangat lembut. Mengangat seluruh rambut panjang ku yang menjuntai ke atas agar seluruh leher jenjang ku terlihat. Aku sangat suka, dia piawai memperlakukan wanita. “Are you ready?” ucap Andias sambil meremas sebelah p******a ku dengan lembut terhalangi oleh nightrobe satin pemberiannya. Aku melayang nampaknya wajah ku merona karena malu dan Andias begitu gemas. Dikecupnya leher ku dengan mesrah menuju tulang belikat dan ke d**a ku. Meninggalkan jejak di beberapa bagian, kemudian berlabuh sedikit di dua benda kembar milikku yang sepertinya sekarang menjadi favorit nya. “Clau, tubuh kamu indah. Lu buat gue gila” ucapannya disela – sela bernafas sembari melumat setiap inci tubuh ku sambil membuka nightrobe maroonya perlahan. Perlahan tapi pasti dia menelanjangi ku, tak ada sehelai benang pada diriku sekarang. Aku mendesah keenakan dibuatnya, permaianannya sangat detail di setiap bagian tubuh ku. Beda orang beda rasa. Dari sekian yang bermain dengan ku, Andias termasuk dalam list favorite ku. Aku memejamkan mata ku menikmati setiap sentuhannya. “Lakuin sekarang, gue udah gak tahan And...” jerit ku sembari menutup mata karena sesuatu dari dalam akan segere bergulir kencang menuju otak ku. Namun, Andias urung melakukannya, dia malah menggesekkan benda kerasnya tepat di atas lubang kenikmatan ku tanpa memasukkannya, tapi aku sudah sangat enak aku sudah mencapai puncak. Ku biarkan dia menggesekkan benda keras itu dengan penuh hasrat dan akhirnya Andias pun memuntahkan cairannya di atas miss V ku yang tertutupi bulu – bulu halus. Andias menjerit lalu menjatuhkan diri nya kepada ku. “Dasar penggoda” bisik Andias tersenyum kepada ku sambil merebahkan tubuhnya di samping ku. Aku yang sudah habis tenaga hanya mampu tersenyum. Dia kemudian meraih tangan ku dan melingkarkan di atas perutnya. Belasan pertemuan kurang lebih dengan adengan yang sama, Andias belum mau memasukkan benda kerasnya. Alasannya dia tidak terburu – buru, dia ingin bertahap mengingat aku yang polos takutnya aku trauma, tapi dia janji pasti akan memberi ku kenikmatan itu. Aku hanya mengangguk dan mengikuti maunya saja, kadang aku lupa bahwa aku adalah gadis polos untuknya. Image yang ku bangun sendiri, aku tertawah terkekeh mengingatnya, hellooww gadis polos dari mana. ****** Hingga suatu hari, Andias mengajakku menghabiskan weekend bersama selama 2 hari. Istrinya keluar kota dan dia ingin menghabiskan waktu dengan ku. Aku mempersiapkan diri dan segera menuju hotel sebelum malam tiba. Andias sudah memesan kamar untuk kami selama 3 hari. Aku disusul Andias, dia membawa beberapa makanan favorit ku dan lagi – lagi sebuah bingkisan. Ya, hampir setiap kami bertemu Andias selalu membawa bingkisan terutama baju sexy untuk aku kenakan. Bingkisan kali ini agak berbeda karena ini adalah party dress yang sangat cantik. “Malam ini ke ke club ya sayang, belum pernah kan kita. Mumpung timingnya nya lagi pas. Celia lagi di luar kota” Celia adalah nama istrinya. Aku pun mengangguk.  Andias mendekat mengangkat dagu ku dan mencium bibir ku sebentar, “Aku bakal buat kamu mabuk” katanya sambil senyum. “Dias, jujur gue belum pernah minum sama sekali. Sumpah!” reaksi ku ketakutan. Ini adalah yang sebenar – benarnya. Aku belum pernah minum alkohol sama sekali hingga detik ini. walaupun tidur dengan banyak pria tidak membuat ku ingin menyentuh minuman memabukkan itu, aku melakukan semua secara sadar tanpa di bawah pengaruh minuman maupun obat. “Kan ada aku, tenang aja” ucap Andias menjawab. Dia tersenyum kecil, dan melanjutkan lumatannya lebih dalam hingga berakhir di atas ranjang dengan kondisi seluruh bajuku sudah ditanggalkan.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN