Bab 16

1166 Kata
Mama Zen sejak tadi berbolak-balik di depan ruangan UGD memikirkan keadaan putrinya yang dari tadi belum ada kabar dari dokter. Dr. Qirhan sudah ikut masuk ke dalam ruang UGD karena dia juga punya koneksi di rumah sakit Jaya Sehati dalam binaan orang tuanya yang tidak lain adalah saudara dari mama Zen. "Ma... bagaimana keadaan Zen?" tanya seorang laki-laki paruh baya sambil berlari kecil menyusuli mama Zen dengan keringat dingin yang bercucuran di wajahnya. "Pa... hiks, Zen... kecelakaan," ucap mama Zen sambil memeluk suaminya itu dalam deraian air mata. Papa Zen membalas pelukan istrinya itu, erat. "Maaf... tadi Papa masih rapat jadi tidak bisa mengangkat telepon Mama," ucap papa Zen nampak bersalah. "Tidak apa-apa, mari kita berdoa yang terbaik saja untuk Zen," ucap mama Zen lirih. Papa Zyantia melirik ke arah Ari sahabatnya. "Terima kasih sudah membantu kami Ari," ucap papa Zen pada papa Dean, tersenyum sayu. Papa Dean menyungginkan senyum tipisnya. "Tidak masalah Niel," "Itu siapa?" tanya papa Zen menunjuk Ardio yang duduk diam di bangku rumah sakit dengan raut wajah pucat basi seperti tidak ada darah. "Owh dia anak tetanggaku, Ardio," jawab papa Dean. Pintu ruangan UGD itu terbuka perlahan, 2 orang dokter keluar dari ruangan dengan masih mengenakan masker di mulut mereka, seorang dokter yang kelihatan lebih tua menepuk pundak dokter yang ada di sebelahnya kemudian menganggukkan kepala dan pergi. "Han... Qirhan, bagaimana keadaan Zen?" tanya mama Zen lirih. Dr. Qirhan membuka maskernya perlahan, menatap ke bawah tanpa berani menatap tantenya itu. Mama Zen langsung melangkah dan memegang bahu Dr. Qirhan. "Qirhan! Bagaimana keadaan Zen!?' tanya mama Zen yang kini jelas semakin panik, berseru keras. Dr. Qirhan masih diam dan tetap memalingkan wajahnya, tidak berani untuk menatap tantenya itu. "Maaf..." gumam Dr. Qirhan lirih. Semua orang jadi tersentak kaget mendengar ucapan maaf Dr. Qirhan, Ardio dan Dean kini berdiri dari duduknya tadi menatap cengang Dr. Qirhan. "Kondisi Zen semakin memburuk, dia masih bernafas, tapi sayangnya detak jantungnya melambat, jadi kecil kemungkinan Zen bisa selamat." sambung Dr. Qirhan yang juga nampak sedang menahan kesedihannya karena kondisi adik sepupunya itu. Mama Zen langsung bersimpuh rapuh di lantai rumah sakit, air matanya kembali mengalir dengan deras, Dean mencoba menenangkan kondisi bathin seorang ibu yang kondisi putri semata wayangnya sudah diambang kematian. Papa Dean juga memeluk Daniel, papa Zyantia. Membantu meringankan kesedihan sahabatnya itu. Berbeda dengan Ardio yang langsung berlari memasuki ruangan UGD dengan tergesa-gesa. Ardio menatap kosong tubuh Zyantia yang kini terbaring tidak berdaya di ranjang rumah sakit itu, Ardio memeluk erat tubuh Zen dan menangis sejadi-jadinya. "Maaf... maafkan aku Zen," ucap Ardio lirih. "Zen... tolong... tolong jangan tinggalkan aku sendiri. Tolong kembalilah dalam pelukanku, Sadarlah! Bertahanlah! Aku masih ingin melihat senyumanmu itu, walau... itu menyiksaku," jelas Ardio lirih. oOo "Pak Wil dirawat dalam ruangan sebelah Om, Tante. Beliau mengalami geger otak ringan" ucap Dr. Qirhan yang jelas masih menahan kesedihan dan ketidak berdayaannya. Dia sudah melakukan segala yang terbaik, hasil akhirnya tetaplah keputusan dari Tuhan, apa Zen bisa selamat atau tidak. Daniel diikuti oleh Ari, papa Dean, langsung menuju ruangan sebelah untuk melihat kondisi sopir anaknya itu. "Tu... Tuan, bagaimana keadaan Nona Zen?" tanya Pak Wil lirih mencoba duduk dari posisi terbaringnya. Daniel menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. "Anda tidak mengalami sakit yang sangat seriuskan Pak Wil?" tanya Daniel. "Kata Dokter saya hanya geger otak ringan Tuan, jadi bagaimana dengan keadaan nona Zen tuan?" tanya Pak Wil nampak khawatir. "Kecil kemungkinan Zen bisa sadar," jawab Daniel lirih sambil menggepalkan erat tangannya. Pak Wil jelas terkejut mendengar kabar buruk itu. "A... apa anda serius Tuan?" tanya pak Wil yang masih tidak percaya akan kabar yang baru didengarnya. Daniel langsung berdiri kembali, menganggukkan kepalanya atas pertanyaan pak Wil tadi, dan langsung pamit keluar untuk melihat keadaan putrinya. Papa Dean menepuk lemah bahu pak Wil. "Anda istirahat saja dulu Pak, tidak perlu memikirkan hal lain dulu selain kesehatan Anda," ucap papa Dean menenangkan. Pak Wil diam terpaku di atas ranjangnya, masih tidak percaya akan kabar yang baru saja didengarnya. Tapi tubuhnya juga masih tidak sanggup untuk berdiri karena masih lemah sehabis mengeluarkan banyak darah tadi. "Kamu tau... anak saya tidak akan jadi seperti itu jika tidak ada kamu!" seru mama Zen, tiba-tiba pada Ardio. Mencari pelampiasan emosinya. "Resti! Apa maksudmu mengatakan hal itu!?" marah papa Dean yang baru saja memasuki ruangan tempat Zen terbaring saat ini. "Iya kan Ri!? Pasti Zen mau pergi keluar tanpa minta izin pada saya demi pergi ke tempat anak ini!" seru mama Zen sambil mengacungkan jari telunjuknya pada Ardio, melirik papa Dean, meminta anggukan. "Ma! Udah? Jangan salahin anak orang lain!" seru Daniel, papa Zen. Resti terkejut mendengar seruan suaminya. "Pa! Emang karena dia!" kesal Resti pada Daniel. "Jika dia tidak ada, Zen tidak akan sampai meninggalkan rumah!" "Maaf Tante... Om. Mungkin memang benar ini salah saya," ucap Ardio lirih. "Gak mungkin lagi! Tapi memang salah kamu! Dengan cara apa kamu akan bertanggung jawab terhadap keadaan putri saya sekarang!?" kesal Resti, diluapi emosi marah dan kecewa yang dalam. Dean yang dari tadi mencoba mengontrol emosinya, akhirnya kini lepas. "Kalian semua! Bisa diam!? Ini bukannya waktunya untuk berdebat atau saling menuduh satu sama lain!" seru Dean lantang. Resti, mama Zen langsung terperanjat karena kaget. Dia segera memeluk tubuh Zen putrinya itu yang terbaring lemah di atas ranjang. "Zen..." gumam Resti lirih. Dean mencoba menenangkan mama Zen. Sambil berbisik pelan pada Ardio. "Ini bukan salah lo." "Ka... lian beris... sik banget sih." Suara lemah dan terbata-bata itu membuat pandangan semua orang yang ada di ruangan itu kini menoleh Zen yang sudah membuka matanya. Zen tersenyum tipis dengan wajah pucat basi, mengenggam tangan Ardio. "Se... nang bisa me... lihatmu lagi." Mama dan papa Zen langsung memeluk Zen, menangis sejadi-jadinya, ada perasaan lega di hati mereka, tapi di satu sisi, mereka tak tega melihat putri semata wayangnya terbaring lemah seperti ini. Dean menyeka air matanya, bernafas lega karena Zen sudah sadar. "Ma... Pa, tubuhku rasanya mati rasa," gumam Zen terengah-engah. Papa Zen segera menghubungi dr. Qirhan, meminta penanganan segera. Zen mengenggam tangan papa nya, menggelengkan kepala. "Aku sudah berusaha, ta... tapi aku tak sanggup bertahan lagi, Pa. Terima kasih." Zen tersenyum tipis, meminta papa nya untuk tidak perlu menghubungi dokter Qirhan. "Sayang! Kamu gak boleh ngomong gitu! Kamu bisa sembuh!" seru papa Zen histeris. Zen hanya tersenyum tipis menatap papa nya. "A.. ku mau berbicara berdua dengan Dio," pinta Zen melirik papa dan mama nya, melirik Dean dan papa Dean, tersenyum. Dean dan papa nya melangkah keluar meninggalkan ruangan itu, mama Zen menolak, dia ingin menemani Zen, papa Zen segera merangkul istrinya, pergi meninggalkan ruangan, mendudukkan wajahnya, menyeka air mata kesedihannya. Zen mempererat genggaman tangannya pada Ardio. "Ada yang harus kamu jelaskan bukan?" Zen nampak sangat susah untuk bernafas, dia mengatur suaranya agar tidak terbata-bata. Ardio tak sanggup melihat tubuh Zen yang semakin memutih, pucat. "Kamu harus dirawat segera!" seru Ardio panik. "Percuma." Zen masih tersenyum, tidak nampak kesedihan sekecil apa pun di wajahnya. "Aku tak menyangka... masih bisa berbicara denganmu." Ardio mengangkat tangan Zen, menempelkan ke keningnya, menangis, menciumi tangan Zen berulang kali. "Aku mencintaimu... benar-benar mencintaimu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN