Bab 17

1006 Kata
Air mata langsung mengalir di wajah Zen, Zen masih tetap tersenyum. "Aku senang... aku juga sangat mencintaimu, benar-benar mencintaimu." "Terima kasih sudah datang ke hidupku," ucap Ardio lirih, menyeka air mata Zen. Zen tersenyum lebar. "Aku beruntung mengenalmu. Terima kasih atas puisi-puisi hebatmu, teruslah berkarya." Pupil mata Ardio membulat sempurna melihat Zen tersenyum lebar. Ardio segera memegangi dadanya yang terasa sakit, mengernyitkan kening menahan rasa sakit, genggaman tangannya pada Zen semakin erat, membuat Zen merintih. "Ah... ma... maaf." Ardio segera melepaskan genggaman tangannya dari Zen, tak berani menatap wajah Zen. "Ada apa?" tanya Zen bingung. Ardio masih diam, tidak menjawab. "Kamu bisa cerita padaku." Ardio melirik Zen, menempelkan kepalanya ke atas ranjang, menghela nafas. "Aku punya adik perempuan yang sangat mirip denganmu saat tersenyum." "Wah, aku ingin bertemu dengan dia!" sorak Zen senang, Zen memasang ekspresi bersahabat di wajah pucatnya itu. "Dia... sudah meninggal." Zen terdiam sejenak, segera tersenyum pada Ardio. "Begitu ya...?" "Dia meninggal karna aku tak bisa menjaganya dengan baik," gumam Ardio lirih. Zen kembali menggenggam tangan Ardio. "Bukan salahmu. Mungkin itu sudah takdirnya, karena kita tidak pernah tau kapan kematian itu akan datang. Jadi karena itu ya kamu tidak bisa bersamaku? Kamu takut melihat adikmu di diriku?" Zen tersenyum tipis, menebak alasan Ardio tidak bisa bersamanya. "Syukurlah... aku pikir kamu membenciku. Maaf ya..." Ardio diam, menjelaskan sudah bahwa memang itu alasannya. "Aku..." Genggaman tangan Zen lepas, Ardio masih menundukkan kepalanya di atas ranjang, tidak lagi mendengar suara Zen. Ardio segera mengangkat kepalanya, melihat Zen yang sudah menutup kedua matanya. "ZEEENNNN!!!" seru Ardio histeris. Mama papa Zen berserta Dean dan papa nya yang ada di balik pintu segera masuk setelah mendengar suara teriakan Ardio. oOo Seorang gadis terduduk diam di ranjang rumah sakit, dengan banyak selang di sekitarnya, kepalanya di balut perban, di tangannya banyak terdapat infus dan bekas suntikan. Dia menatap pemandangan di balik kaca jendela kamarnya dengan senyuman tipis, mensyukuri hidupnya yang tengah berada di tepi jurang, tinggal menunggu kematian datang. "Zen!" Wanita paruh baya itu tersenyum tipis menyapa putri semata wayangnya. "Maaf ya mama lama." Zen menggeleng ringan, tersenyum. "Kamu mau sesuatu?" tanya wanita paruh baya itu, meletakkan tas yang berisi pakaian anak gadisnya di tapi meja. Zen menggeleng. "Aku kapan boleh keluar dari rumah sakit Ma?" Senyuman di wajah wanita paruh baya itu langsung pudar. "Kamu fokus istirahat dulu. Tidak usah memikirkan hal-hal lain. Ok?" Wanita paruh baya itu memegangi pindah putrinya, menatap serius. Zen tidak menjawab, hanya memalingkan wajahnya. "Aku ingin ketemu sama Dio." Bruk! "Udah Mama bilang kan!? Jangan pernah sebut nama dia lagi!" Wanita paruh baya itu berseru keras, memukul meja yang ada di sampingnya. "Tapi Ma--" "Zen!" Zen langsung diam, tidak punya cukup tenaga untuk berdebat dengan mama-nya. Setelah kejadian itu... saat di mana Zen kembali pingsan saat mau mengatakan sesuatu pada Ardio. Ardio sempat berpikir bahwa Zen sudah pergi selamanya, sampai berteriak histeris, ternyata Zen hanya pingsan. Mama Ardio dengan teganya mengusir Ardio, tidak ingin melihat wajah Ardio lagi. Sejak saat itu, sudah seminggu lamanya, Zen tidak pernah berjumpa lagi dengan Ardio, begitu pun Ardio yang ingin melihat langsung bagaimana kondisi Zen di rumah sakit. oOo Ujian harian wajib di sekolah sudah berakhir, 2 minggu lagi murid SMA Darma Nasional akan melaksanakan ujian mid semester. Dean meregangkan tubuhnya setelah selesai menjawab semua soal ujian, melirik bangku kosong yang ada di belakangnya, menghela nafas. "Kenapa De?" tanya Rini menghampiri meja Dean. "Ah gak ada apa-apa. Gue balik duluan ya!" Dean tersenyum tipis, melambaikan tangannya pada Rini yang bengong melihat Dean pergi begitu saja dari hadapannya. Setelah meninggalkan gerbang sekolah, Dean melangkah ke halte, menaiki trans, memikirkan Ardio yang sudah seminggu tidak masuk sekolah setelah diusir oleh mama Zen. "Pergi kamu sekarang! Jangan pernah temui anak saya lagi!" seru mama Zen pada Ardio melotot. Matanya sudah memerah saking marahnya. Mendorong tubuh Ardio menjauh dari putrinya. Dean menutup mulutnya melihat perlakuan kasar mama Zen pada Ardio, saat Dean mencoba menghentikan, papa Dean sudah lebih dulu menarik tangan Dean, menggeleng-gelengkan kepalanya. Ardio melangkah tertatih meninggalkan rumah sakit, melirik Zen yang terbaring lemah dengan tubuh putih pucat, dokter Qirhan segera datang, berlari terengah-engah memasuki ruangan. oOo Dean menghela nafasnya mengingat perlakuan tidak manusiawi mama Zen, kesal sendiri pada wanita paruh baya itu, Dean mengumpati mama Zen saking kesalnya.. Turun dari trans, Dean melangkah pelan ke rumahnya, masih terus kepikiran dengan teman masa kecilnya itu yang sampai kini tidak masuk ke sekolah. Dean berdecak sebal sendiri, mempercepat langkahnya, menggerutu sendirian di jalan, sampai orang-orang yang melihat Dean jadi keheranan sendiri. Dean hanya melewati rumahnya, tidak masuk ke dalam, lanjut melangkah ke rumah Ardio. Setelah menghela nafas cukup lama, Dean mengetok pelan pintu rumah Ardio, mengucap salam. "Wa'alaikumsalam De. Mau cari Dio ya?" Mama Ardio tersenyum tipis pada Dean, raut wajahnya nampak sayu, mengingat anaknya tidak pernah lagi berangkat ke sekolah tanpa alasan yang tidak diketahuinya. Dean mengangguk, menyalimi mama Ardio. "Tante, boleh Dean masuk?" Mama Ardio mengangguk lemah. "Tolong ya De... setelah ini Tante juga harus berangkat kerja, Tante tidak tau ada masalah apa dengan Dio sampai tidak pernah keluar kamar." Mama Ardio menghela nafas pasrah, memegangi bahu Dean, berharap Dean mampu membuat Ardio kembali berangkat ke sekolah. Dean tersenyum tipis, mengangguk yakin. Selesai mama Ardio keluar rumah untuk berangkat kerja, Dean segera ke kamar Ardio, duduk di samping Ardio yang kini masih rebahan di kasurnya, menutup mata. "Napa lo ke sini De?" tanya Ardio pelan. Dean menatap sedih tubuh Ardio yang semakin kurus, suaranya yang semakin serak, kamar yang berantakan, kertas-kertas robek yang bertebaran di mana-mana, dan mau kamar yang tidak mengenakkan. "Ke rumah sakit yuk!" ajak Dean tiba-tiba. "Gue baik-baik aja kok," jawab Ardio masih menutup matanya. "Bukan buat lo. Gue ngajak buat bezuk Zen." Ardio terdiam, tidak menjawab lagi. Setelah jeda cukup lama. "Gue gak bakal diterima di sana. Jelas-jelas lo liat sendiri bagaimana orangtuanya ngusir gue." "Dan lo akan terus seperti ini!?" tanya Dean mulai kesal. "Lo suka kan sama Zen!? Berkorban dong! Masa diusir gitu aja nyali lo langsung ciut sih! Laki macam apa lo!" Dean memukul perut Ardio, langsung melangkah pergi keluar dari rumah Ardio.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN