Bab 20

1155 Kata
Ardio mendorong pelan pintu kamar rawat Zen, pupil mata Ardio langsung melebar melihat gadis yang duduk diam tidak berekspresi menatap pemandangan di balik jendela kamar ini. Tubuh gadis itu masih dililit banyak perban, selang di sana-sini, mesin-mesin yang jarang diliat di rumah sakit tersusun di sekitar gadis itu, ditambah aroma obat yang begitu menyengat. Ardio tercekat untuk melanjutkan langkahnya, tak tahan melihat betapa tersiksanya gadis itu, dan lagi-lagi Ardio menyalahkan dirinya. "Dio..." Zen terdiam menatap Ardio, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Air mata langsung mengalir membahasi pipi Zen, Ardio segera berlari untuk menyeka air mata Zen tanpa berpikir banyak lagi. "Aku kangen," bisik Zen kelu. Ardio menggigit bibirnya, kesal pada dirinya sendiri, kenapa baru sekarang dia menemui Zen!? Kenapa tidak dari dulu!? Pikiran dan bathin Ardio berkecamuk. "Aku juga..." gumam Ardio pelan, tersenyum tipis pada Zen. "Maaf... jika kamu tidak menemuiku saat itu, mungkin kamu tidak akan--" "Jangan minta maaf. Aku yang salah." Zen langsung menyela ucapan maaf Ardio. Tersenyum senang. "Aku senang kamu datang ke sini, terima kasih. Dan... maaf, sudah membuatmu khawatir." Zen menatap Ardio dari bawah sampai atas. "Kamu... tidak boleh merusak tubuh sendiri." Zen tersenyum tipis, raut matanya langsung berubah pilu. Sekali liat saja, Zen tau, bahwa Ardio jarang makan, tubuhnya sangat kurus, matanya sembab, rambutnya juga panjang, sedikit berantakan. "Ah iya, Dean titip salam untuk kamu," ucap Ardio, mengenggam tangan Zen yang dingin. Zen tersenyum tipis. "Salam balik buat Dean." Mereka kini saling diam, banyak yang masing-masing mereka ingin bicarakan, tapi tak tau harus memulai dari mana. Akhirnya, diam menjadi peneman melepas rindu. "Sejak dirawat... aku selalu membaca ulang puisi-puisimu, kamu... sudah tidak update lagi ya? Kenapa? Aku selalu menunggunya loh." Zen tersenyum tipis pada Ardio, masih memandang Ardio dengan raut mata sayunya, sedih. Ardio hanya menundukkan pandangannya, tidak menjawab pertanyaan Zen. "Setelah sembuh nanti... ajak aku ketemu adikmu ya?" pinta Zen, senyuman manisnya meluluhkan Ardio, membuat Ardio menganggukkan permintaan Zen, walau tersenyum masam mengingat masa lalunya yang buruk. Air mata tiba-tiba mengalir lagi membasahi pipi Zen. "Eh?" Zen heran sendiri, tidak tau kenapa air matanya tiba-tiba jatuh. Dengan sigap Ardio menyeka air mata Zen. "Kenapa?" bertanya ada apa. "A... aku juga tidak tau." Zen menggeleng ringan, juga tidak tau penyebab air matanya jatuh. "Aku ingin segera pulang, sekolah, berjumpa teman-teman." Zen memperbaiki posisi duduknya, mengenggam erat jemari Ardio. "Kamu pasti bisa cepat pulang!" ujar Ardio meyakinkan. Zen tersenyum tipis. 'Aku harap juga begitu,' bathin Zen kelu. 'Aku... sudah tidak kuat lagi, maaf Dio... aku tak bisa mengatakan ini padamu.' Zen menatap wajah Ardio dalam-dalam, mencermati setiap detail wajah dari laki-laki yang dicintainya itu. "Kamu... harus bahagia ya!" ucap Zen tiba-tiba. Ardio hanya mengangguk ringan, ikut mengamati wajah Zen, teringat dengan adiknya yang sudah meninggal. "Aku ingin dengar puisi kamu," pinta Zen berharap. Ardio diam sejenak, mengeluarkan kertas yang ada di sakunya. "Aku menulisnya untuk kamu," ucap Ardio malu-malu. "Benarkah!?" Zen berseru senang, walau nada suaranya tidak tinggi seperti biasanya. Mata Zen langsung berkaca-kaca, terharu. "Aku ingin mendengarnya!" seru Zen bersemangat. Ardio tersenyum tipis, teringat dengan Dona tadi yang juga bersemangat mengajaknya bermain. Ardio menghirup udara di sekitarnya, membuangnya perlahan. "Kulihat, ada atma mulia di hadapanku Yang tersenyum bak baskara yang menyilaukan." Zen nampak bahagia sekali mendengar puisi yang disiapkan Ardio untuknya. "Derai air hujan kini menjadi peneman setia Membawa diriku dan engkau pada nostalgia lama Kurenungkan ingatanku tentangmu Wahai dara nan dahayu." "Selintang-- kamu gak apa-apa!?" Ardio berseru panik setelah Dean merintih memegangi kepalanya. Ardio segera menghubungi dokter, benar-benar panik melihat kondisi Zen yang tiba-tiba parah. Dokter Qirhan segera menyudahi makan siangnya setelah dipanggil suster. "Maaf ya Dean! Saya pergi dulu!" Dokter Qirhan berlari segera menuju kamar Zen. Dean ikut menyudahi makan siangnya, khawatir pada Ardio. Ardio duduk mematung di koridor rumah sakit, memegangi kepalanya yang terasa kosong, semuanya olah jadi hampa, tak ada rasanya hawa-hawa kehidupan lagi. Dia tidak bisa menyelesaikan puisinya untuk Zen. Dean langsung memeluk Ardio, mengatakan tidak apa-apa berulang kali. "De, kalian bisa pulang dulu?" tanya dokter Qirhan yang sudah rapi dengan seragam operasinya. Memasang wajah bersalah karena sudah mengusir mereka, di satu sisi juga panik. 'Ah... lagi-lagi...' bathin Dean setelah melihat seragam operasi dokter Qirhan, itu tandanya, kondisi Zen benar-benar kritis. Dean mengangguk, tersenyum kecut. Dean tau dokter Qirhan meminta mereka pulang agar Ardio tidak ketemu dengan mama Zen, agar Ardio tidak disalahkan lagi. Dean menarik tangan Ardio, membantu Ardio berjalan, melangkahkan kaki meninggalkan rumah sakit. oOo Saat ini... mereka semua sama-sama tidak tau, tidak sadar, dan tidak berharap, bahwa hari ini mereka harus kehilangan seseorang, keluarga, teman, atau bahkan... cinta, untuk selamanya. Tidak ada lagi yang namanya keajaiban, karena kematian itu... adalah sesuatu yang nyata. Di ruang operasi kini, semua dokter sudah diusir Zen, tinggal dokter Qirhan yang tersisa, berjalan mendekat membawakan sehelai kertas berserta alas dan pena pada Zen. Tangan Zen gemetaran menuliskan sesuatu di atas kertas itu. Dia meminta dokter Qirhan menjauh darinya, dia tidak ingin dokter Qirhan sampai membaca apa yang sedang ditulisnya. "Zen... kamu harus operasi," ucap dokter Qirhan tidak bersemangat. Zen hanya tersenyum kecut. "Kakak juga tau kan? Bahwa tidak ada lagi operasi, semuanya sudah percuma, aku hanya tinggal menunggu ajalku sendiri." Dokter Qirhan diam, merapikan sarung tangannya. "Jangan berkata seperti itu, maut hanya Tuhan yang tau." "Aku tau kok, untuk aku bisa hidup setelah kecelakaan itu, rasanya mustahil kan?" Zen masih terus menulis di atas kertas putih itu, tangannya masih tetap gemetaran. Semua infus dan selang-selang yang menemani Zen selama ini sudah dilepas, Zen benar-benar merasa bebas. Dokter Qirhan tidak menjawab. "Tolong berikan surat ini pada mama, aku tau mama bakal membacanya. Aku tak ingin ada kesalahpahaman setelah kepergianku." Tangan Dean gemetaran melipat kertas yang sudah penuh dengan tinta hitam itu. Dokter Qirhan melangkah mendekat, mengambil surat yang dititipkan Zen padanya. "Setelah ini kamu mau bagaimana?" Zen hanya tersenyum tipis. "Mama sama papa lagi dalam perjalanan kan? Aku harap bisa melihat wajah mereka untuk terakhir kalinya. Tapi..." Kalimat Zen terputus. "Kamu bisa asal ope--" "Kak! Gak ada lagi operasi. Aku tau itu percuma, dan aku sudah tidak kuat lagi menahan sakitnya. Aku ingin bebas, aku ingin sehat. Dan... aku tau sudah tidak ada harapan. Makanya... aku ikhlas jika harus mengakui aroma kematian yang sudah melingkup ini." Zen menudukkan pandangannya, sampai di akhir pun, Zen masih berusaha menahan sakit di sekujur tubuhnya, tidak menampakkan ekspresi betapa tersiksanya dia, hanya tersenyum, menatap dinding ruangan, seperti sedang menyapa seseorang. "Terima kasih Kak sudah merawatku selama ini. Jika ada kehidupan selanjutnya, aku tetap ingin menjadi adik Kakak, dan walau aku masih punya penyakit setelah terlahir kembali, Kakak tetap mau kan jadi dokterku?" tanya Zen tersenyum lebar dengan sorot mata sayu. Dokter Qirhan tersenyum tipis, mengangguk pelan. Sekelebat cahaya putih membias di depan mata dokter Qirhan, pupil mata dokter Qirhan langsung membesar, dia menangis tanpa suara melihat Zen sudah menutup matanya. Tak ada lagi bunyi detakan jantung yang lemah, urat nadinya tidak lagi bergerak, dan di hari itu, Zen sudah tidak lagi bernafas, gadis itu sudah pergi untuk selamanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN