Bab 19

1056 Kata
Ardio menatap punggung Dean yang berlari meninggalkannya sendirian di koridor rumah sakit. Ardio tersenyum tipis, bergumam pelan. "Terima kasih De." Sampai di depan pintu kamar rawat Zen, Ardio menghela nafasnya, menguatkan tekad, mengatur suasana hati. Di waktu yang sama Dean sudah tiba di kantin rumah sakit, melirik kiri kanan, mencari orang yang sudah dihubunginya sejak tadi untuk memastikan waktu kepergian orangtua Zen. Seorang laki-laki dengan kemeja biru melambaikan tangan pada Dean, tersenyum. Dean segera menghampiri laki-laki itu, duduk tepat di hadapannya. "Terima kasih dokter," ucap Dean pelan, menghela nafas lega. "Sama-sama. Saya senang sekali mendengar Ardio mau menemui Zen. Semoga dengan adanya Ardio, Zen bisa tersenyum lagi." Dokter Qirhan tersenyum senang. "Ah, Dean mau pesan sesuatu?" tanya dokter Qirhan menawarkan. "Saya lagi kosong, mau makan siang bersama?" ajak dokter Qirhan. "Eh?" Dean berpikir sejenak, kemudian mengangguk. "Boleh dokter." Dean berpikir lebih baik makan siang dulu di kantin, beruntung ada dokter Qirhan yang menemaninya, jadi dia tidak sendirian seperti anak hilang di rumah sakit. "Dean pacaran sama Alva ya?" tanya dokter Qirhan tiba-tiba setelah memesan makanan. "Enggak!" seru Dean cepat. "Eh?" Dokter Qirhan nampak terkejut melihat reaksi Dean, dokter Qirhan langsung tertawa. "Kamu punya masalah ya sama Alva?" "Ah hahaha bukan begitu." Dean menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, bingung cara menjelas tentang Alva pada dokter Qirhan. "Dokter bagaimana? Ada pacar?" tanya Dean mengalihkan topik tentang Alva. Dokter Qirhan menggeleng. "Maunya sih gitu, tapi saya tidak punya waktu untuk mencari pacar, apalagi pacaran." Dokter Qirhan tertawa kecil. "Dean mau sama saya?" canda dokter Qirhan. Dean langsung menggeleng tanpa basa-basi. "Tidak." Dokter Qirhan kembali tertawa mendapat reaksi cepat Dean. "Baru kali ini saya ditolak mentah-mentah, hahaha. Dean menarik ya?" tanya dokter Qirhan yang masih tertawa. "Haha." Dean menyeringai melihat dokter Qirhan yang masih tertawa, teringat seseorang yang besar kepalanya sama seperti dokter Qirhan. Alva yang sedang main game online bersama temannya tiba-tiba bersin. "Pasti ada yang ngejelekin gue nih," gumam Alva sambil menyeka-nyeka hitungnya yang gatal habis bersin. oOo Ardio mendorong pelan pintu kamar rawat Zen, pupil mata Ardio langsung melebar melihat gadis yang duduk diam tidak berekspresi menatap pemandangan di balik jendela kamar ini. Tubuh gadis itu masih dililit banyak perban, selang di sana-sini, mesin-mesin yang jarang diliat di rumah sakit tersusun di sekitar gadis itu, ditambah aroma obat yang begitu menyengat. Ardio tercekat untuk melanjutkan langkahnya, tak tahan melihat betapa tersiksanya gadis itu, dan lagi-lagi Ardio menyalahkan dirinya. "Dio..." Zen terdiam menatap Ardio, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Air mata langsung mengalir membahasi pipi Zen, Ardio segera berlari untuk menyeka air mata Zen tanpa berpikir banyak lagi. "Aku kangen," bisik Zen kelu. Ardio menggigit bibirnya, kesal pada dirinya sendiri, kenapa baru sekarang dia menemui Zen!? Kenapa tidak dari dulu!? Pikiran dan bathin Ardio berkecamuk. "Aku juga..." gumam Ardio pelan, tersenyum tipis pada Zen. "Maaf... jika kamu tidak menemuiku saat itu, mungkin kamu tidak akan--" "Jangan minta maaf. Aku yang salah." Zen langsung menyela ucapan maaf Ardio. Tersenyum senang. "Aku senang kamu datang ke sini, terima kasih. Dan... maaf, sudah membuatmu khawatir." Zen menatap Ardio dari bawah sampai atas. "Kamu... tidak boleh merusak tubuh sendiri." Zen tersenyum tipis, raut matanya langsung berubah pilu. Sekali liat saja, Zen tau, bahwa Ardio jarang makan, tubuhnya sangat kurus, matanya sembab, rambutnya juga panjang, sedikit berantakan. "Ah iya, Dean titip salam untuk kamu," ucap Ardio, mengenggam tangan Zen yang dingin. Zen tersenyum tipis. "Salam balik buat Dean." Mereka kini saling diam, banyak yang masing-masing mereka ingin bicarakan, tapi tak tau harus memulai dari mana. Akhirnya, diam menjadi peneman melepas rindu. "Sejak dirawat... aku selalu membaca ulang puisi-puisimu, kamu... sudah tidak update lagi ya? Kenapa? Aku selalu menunggunya loh." Zen tersenyum tipis pada Ardio, masih memandang Ardio dengan raut mata sayunya, sedih. Ardio hanya menundukkan pandangannya, tidak menjawab pertanyaan Zen. "Setelah sembuh nanti... ajak aku ketemu adikmu ya?" pinta Zen, senyuman manisnya meluluhkan Ardio, membuat Ardio menganggukkan permintaan Zen, walau tersenyum masam mengingat masa lalunya yang buruk. Air mata tiba-tiba mengalir lagi membasahi pipi Zen. "Eh?" Zen heran sendiri, tidak tau kenapa air matanya tiba-tiba jatuh. Dengan sigap Ardio menyeka air mata Zen. "Kenapa?" bertanya ada apa. "A... aku juga tidak tau." Zen menggeleng ringan, juga tidak tau penyebab air matanya jatuh. "Aku ingin segera pulang, sekolah, berjumpa teman-teman." Zen memperbaiki posisi duduknya, mengenggam erat jemari Ardio. "Kamu pasti bisa cepat pulang!" ujar Ardio meyakinkan. Zen tersenyum tipis. 'Aku harap juga begitu,' bathin Zen kelu. 'Aku... sudah tidak kuat lagi, maaf Dio... aku tak bisa mengatakan ini padamu.' Zen menatap wajah Ardio dalam-dalam, mencermati setiap detail wajah dari laki-laki yang dicintainya itu. "Kamu... harus bahagia ya!" ucap Zen tiba-tiba. Ardio hanya mengangguk ringan, ikut mengamati wajah Zen, teringat dengan adiknya yang sudah meninggal. "Aku ingin dengar puisi kamu," pinta Zen berharap. Ardio diam sejenak, mengeluarkan kertas yang ada di sakunya. "Aku menulisnya untuk kamu," ucap Ardio malu-malu. "Benarkah!?" Zen berseru senang, walau nada suaranya tidak tinggi seperti biasanya. Mata Zen langsung berkaca-kaca, terharu. "Aku ingin mendengarnya!" seru Zen bersemangat. Ardio tersenyum tipis, teringat dengan Dona tadi yang juga bersemangat mengajaknya bermain. Ardio menghirup udara di sekitarnya, membuangnya perlahan. "Kulihat, ada atma mulia di hadapanku Yang tersenyum bak baskara yang menyilaukan." Zen nampak bahagia sekali mendengar puisi yang disiapkan Ardio untuknya. "Derai air hujan kini menjadi peneman setia Membawa diriku dan engkau pada nostalgia lama Kurenungkan ingatanku tentangmu Wahai dara nan dahayu." "Selintang-- kamu gak apa-apa!?" Ardio berseru panik setelah Dean merintih memegangi kepalanya. Ardio segera menghubungi dokter, benar-benar panik melihat kondisi Zen yang tiba-tiba parah. Dokter Qirhan segera menyudahi makan siangnya setelah dipanggil suster. "Maaf ya Dean! Saya pergi dulu!" Dokter Qirhan berlari segera menuju kamar Zen. Dean ikut menyudahi makan siangnya, khawatir pada Ardio. Ardio duduk mematung di koridor rumah sakit, memegangi kepalanya yang terasa kosong, semuanya olah jadi hampa, tak ada rasanya hawa-hawa kehidupan lagi. Dia tidak bisa menyelesaikan puisinya untuk Zen. Dean langsung memeluk Ardio, mengatakan tidak apa-apa berulang kali. "De, kalian bisa pulang dulu?" tanya dokter Qirhan yang sudah rapi dengan seragam operasinya. Memasang wajah bersalah karena sudah mengusir mereka, di satu sisi juga panik. 'Ah... lagi-lagi...' bathin Dean setelah melihat seragam operasi dokter Qirhan, itu tandanya, kondisi Zen benar-benar kritis. Dean mengangguk, tersenyum kecut. Dean tau dokter Qirhan meminta mereka pulang agar Ardio tidak ketemu dengan mama Zen, agar Ardio tidak disalahkan lagi. Dean menarik tangan Ardio, membantu Ardio berjalan, melangkahkan kaki meninggalkan rumah sakit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN