9 Juli
Kutatap sendu dirimu di atas perahu
Kau seperti seseorang yang sudah menyerah
Semuanya tiba-tiba berubah jadi abu-abu
Terbawa serayu yang tak tentu arah
Kemarilah, duduk di sini bersamaku
Di bawah chandra purnama
Mari kita bercerita sebuah kisah pilu
Dalam makna yang ambigu
Duhai cinta
Ingatkah kau saat buana tak merestui kita?
Kuterkurung dalam bilik senandika
Memikirkanmu sedang berbuat apa
Saat kutau memilikimu ternyata luka
Aku terbalut dalam sendu tak beradu
Mencoba berlapang dada
Memandangimu kini dengan sahaja
-- Ardio Faster
oOo
Ronde kedua sudah selesai, semua peserta istirahat sambil memikirkan ancang-ancang untuk menang dalam ronde terakhir nanti yang telah disepakati.
"Rin! Gue ke toilet dulu ya! Kebelet nih!" seru Dean sambil berlari menuju toilet.
"Okeh!" jawab Rini kemudian menyeruput minumannya.
Dean melirik ke bangku penoton dan mendapati Ardio yang sedang sibuk dengan HP-nya, Dean tersenyum tipis nampak bahagia karena ada Ardio yang menonton pertandingannya, lalu melanjutkan langkahnya ke toilet.
Dean yang hendak keluar dari toilet setelah selesai melakukan buang air kecil hendak keluar dari toilet dan kembali ke lapangan. Namun langkah Dean terhenti begitu saja karena anggota timnya yang ngegosip.
"Eh, kok Rini bisa jadi wakil ketua sih? Bagusan gue main lah daripada dia!" sahut cewek 1.
"Iya tuh, padahal gegera dia hampir aja kita kalah, untung ketua bisa nangkap bola dengan cepat," sahut cewek 2.
"Eh kalian tau gak? Rini itu juga playgirls lo, padahal muka pas-pasan doang pakai acara gonta-ganti cowok segala," sahut cewek 3.
"Entahlah! Mending keluar aja tuh orang dari tim kita!" sahut cewek 2.
"Lo gak tau apa!? Dia dekat banget gitu sama Dean, udah pasti Dean bakal belain dia lah!" sahut cewek 4.
Dean langsung keluar dari toilet sambil mendramatisir bunyi hentakan pintu toilet. Keempat cewek itu terkejut melihat Dean. Dean menyunggingkan bibirnya, senyum tipis pada mereka. "Hai! Kalian semua kelas 11 ya? Pernah dengar gak? Kalau ngegosipin orang di toilet itu 100% kemungkinan si korban bakal dengar? Lain kali liat tempat buat ngatain orang dulu ya!" ucap Dean sambil menepuk ringan bahu salah seorang di antara mereka yang berdiri dekat dengan pintu toilet sambil melangkah keluar dengan santai.
Setelah sampai di luar Dean langsung menghela panjang nafasnya sambil menghirup kembali udara dalam-dalam.
"Gak nyangka gue si Rini punya banyak haters juga ya," gumam Dean menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Siapa yang banyak haters?" tanya seorang cowok dari belakang mengangetkan Dean.
"Eh Ayam!" refleks Dean karena kaget.
"Hei gue orang bukan ayam!" canda cowok itu sambil mengusap-usap rambut Dean.
"Ah! Apaan sih Kak!" seru Dean pada Alva karena risih rambutnya diacak-acak sampai berantakan.
"Haha! Ini!" ucap Alva sambil menyodorkan air mineral botol pada Dean.
Dean langsung mengembat air minum yang diberikan Alvaro padanya dan langsung meneguk dengan cepat sampai botol ukuran setengah itu jadi kosong.
"Kenapa? Kesel banget kayaknya. Apa lo dibully? Eh... tapi gak mungkin seorang Dean bakal dibully sih ya," sambung Alvaro.
Dean melotot tajam mendengar ucapan Alva yang terkesan sebagai sindiran.
Keempat cewek tim basket SMA Darma Nasional yang sama dengan Dean keluar dengan ekspresi canggung dan cemas, mereka menundukkan kepala pada Dean sambil meminta maaf.
"Hah... jangan minta maaf ke gue, itu ada orangnya. Langsung aja minta maaf sama dia!" seru Dean sambil menunjuk Rini yang berlari ke arahnya.
"Eh ada apa nih?" tanya Rini yang baru sampai langsung heran.
"Tanya aja ke mereka," jawab Dean melirik keempat cewek itu.
Rini melirik dengan tersenyum tipis dan ekspresi bingung yang tergambar jelas di wajahnya.
"Maaf Rini! Kami tadi menjelek-jelekkan kamu!" ucap cewek 3.
"Iya Rin maaf ya... " ucap cewek 1.
"Maaf Rini!" ucap cewek 2 dan 4 barengan.
"Eh kok...?" tanya Rini heran pada mereka berempat yang langsung berlari begitu saja meninggalkan Rini.
"Mereka tadi jelekin gue apa De?" tanya Rini menatap penasaran pada Dean.
"Sok-sokan, sok cakep, playgirls, muka pas-pasan, ngandalin gue di basket, gak becus main basket tapi malah jadi wakil ketua!" jelas Dean yang membuat Rini langsung tertohok.
"Sakit tapi gak berdarah..." ucap Rini sambil memegangi dadanya dan berdrama seperti orang yang akan mati besok. "Ya udah gue kebelet nih. Bye!" sambung Rini sambil melangkah cepat ke toilet.
"Gak apa-apa tuh?" tanya Alva heran.
"Apanya?" bingung Dean.
"Setelah dikata-katai begitu apa dia gak apa-apa?" tanya Alva sambil melirik toilet cewek.
"Mana mungkin dia baik-baik aja kak, palingan di toilet dia bakal nangis tuh, biarin aja. Di situasi sekarang dia lagi butuh sendiri," jelas Dean melangkah pergi meninggalkan Alva sambil mengembalikan botol minuman yang isinya telah habis tadi ke tangan Alva. Melangkah santai tanpa beban.
"Serius baik-baik saja? Bukannya lo sahabat Rini?" tanya Alva.
Dean menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Alva. "Ya, gue emang sahabatnya, jadi gue yang lebih tau siapa dia daripada orang lain. Setiap orang punya ciri yang berbeda. Di situasi saat ini gue yang paling tau Rini butuh waktu sendiri untuk meluapkan emosinya, gue hanya akan menjadi orang bodoh jika ada di sisinya untuk saat ini," jelas Dean membalikkan tubuhnya kembali sambil melangkah pergi.
Di dalam toilet.
Rini menyapu bersih air matanya dengan tisu dalam kantong celananya. "Hah... hidup kok gini amat ya? Ada aja yang gak suka," gumam Rini sambil terus menyeka air matanya yang dari tadi terus mengalir.
Rini langsung berdiri dari duduknya di atas penutup toilet, lalu melangkah keluar setelah mencuci mukanya. "Gue sejelek itu kah?" gumam Rini menepuk-nepuk ringan wajahnya di depan kaca. Memperhatikan kiri kanan wajahnya, merasa tak jelek sama sekali.
"Berkacalah pada cermin yang tak retak, jika saat ini kamu sedang berkaca dalam cermin yang baik-baik saja, kamu bisa melihat dirimu yang sesungguhnya, paras cantik dari wajahmu itu," ujar seorang gadis cantik dengan geraian rambut panjangnya yang membuat Rini ternganga menatapnya.
"Z... Zen!? Kok lo bisa di sini!? Lo udah baikan!?" kaget Rini.
Zen menyungginkan senyuman lebarnya pada Rini. "Aku udah baik kok, kalau tidak salah nama kamu Rini ya? Kamu tau di mana Dean berada?" tanya Zen yang masih mempertahankan senyumannya.
"Ad... ada apa mencari Dean?" tanya Rini heran, gelagapan karena Zen memergoki dirinya yang sedang ngaca tadi.
"Ada sesuatu yang mau aku bicarakan, jadi kamu tau Dean di mana?" ulang Zen.
"Owh mungkin di beskem tempat istirahat tim basket SMA kita," jawab Rini ragu-ragu.
"Owh begitu, baiklah. Terima kasih infonya Rini!" ujar Zyantia berbalik menuju bescem tim SMA Darma Nasional, melambaikan tangan pada Rini.
Rini terdiam sejenak di toilet, menduga-duga apa yang ingin dilakukan Zen saat bertemu dengan Dean. Rini mendongakkan kepalanya ke atas sambil menghirup oksigen dengan kasar lalu membuangnya kembali sambil memasang wajah serius. "Ok! Lo harus fokus Rini! Gak ada waktu buat mikirin haters-haters lo! Hahaha!" tawa Rini yang terdengar seperti dipaksakan dan langsung keluar dari toilet kembali menuju beskem.
Zen melirik kiri-kanan ke beskem tim basket SMA Darma Nasional. "Hmmm... Dean itu ketua tim bukan ya? Di mana ya?" gumam Zen sambil menoleh terus ke kiri-kanan.
"Zen!" panggil Alva sambil berlari kearah Zen.
"Eh kak Alva, ada apa ke sini kak? Bukannya tim basket cowok tanding kemaren? Tapi kakakkan juga gak ikut tanding karena udah kelas 3 kan?" tanya Zen heran.
"Hahaha aku mau nonton aja kok, omong-omong kamu ngapain ke sini Zen? Kamu gak ada ketertarikan bukan dalam bidang olahraga? Walau kemampuan kamu ok sih. Eh iya udah baikan setelah operasi?" tanya Alva diangguki dengan senyuman tipis oleh Zen.
"Aku mau berterima kasih pada Dean, soalnya setelah sadar dari operasi, aku belum mengatakan apa-apa," jawab Zen.
"Bukankah bisa di sekolah?" tanya Alva heran.
Zen menggelengkan kepalanya. "Sampai lulus kelas 2 nanti aku akan belajar di rumah kak, soalnya mama sama papa takut jika terjadi apa-apa lagi, jadi aku masih harus banyak melakukan kemoterapi dan minum obat-obatan, sebelum semuanya benar-benar baik-baik saja, aku akan terus istirahat di rumah," jawab Zen sambil menyunggingkan senyum tipisnya dengan raut mata sedih.
oOo
Dean melirik kearah toilet dan mendapati Zen tengah mengobrol bersama Alva di bagian pojok kiri stasiun tepatnya di sebelah kiri toilet. Lalu Rini tiba-tiba datang sambil nimbrung dengan mereka tanpa menghiraukan apa yang baru saja terjadi.
Babak terakhir akan segera di mulai.
Dean membuang kasar nafasnya sambil melangkahkan kaki menyusul Rini yang malah asik mengobrol dengan kedua orang itu. Dean langsung menepuk keras bahu Rini. "Hei! Lo gak dengar babak akhir mau di mulai!?" seru Dean berdecak kesal.
"Eh, i... Iya. Duluan ya!" seru Rini sambil melambaikan tangannya pada Zen dan Alva.
"Ya udah gue duluan juga ya!" ucap Dean sambil membalikkan tubuhnya dari Zen dan Alva.
"Dean!" sorak Zen pada Dean yang sudah berjarak 5 langkah darinya. Dean menoleh pada Zen dengan ekspresi heran. "Bisa nanti setelah kamu selesai tanding kita bicara sebentar?" tanya Zen canggung.
Dean mengernyitkan keningnya karena heran tentang apa yang mau dibicarakan oleh Zen. "Owh baiklah," angguk Dean menyetujui lalu kembali berbalik pergi ke lapangan.
"Sepertinya Dean gak menyukai aku ya?" gumam Zen nampak sedih.
"Eh kok gitu!? Kenapa?" kaget Alva yang sedari tadi berdiri disamping Zen.
"Yah... ekspresinya tadi menjelaskan semuanya, ya udah Kak aku mau nonton di bagian timur nih, Kakak di mana?" tanya Zen.
"Owh... samaan aja deh," jawab Alva sambil melirik pada Ardio yang masih duduk dibangku penonton bagian selatan seperti sedang memainkan ponselnya. 'Yah... Lebih baik tidak usah gue beritahu pada Zen bahwa pacarnya ada di sini' bathin Alva sambil mengikuti langkah Zen.
Selesai bunyi peluit dinyaringkan, para pemain basket perempuan kembali gencar dengan bola dan gawang keranjangnya masing-masing.
Rini membuang kasar nafasnya saat tim lawan berhasil merebut bola yang sedang digiringnya.
'Hah! Persetan deh!' bathin Rini yang kini mulai mengubah gaya bermainnya yang biasa mengiring bola ke Dean, kini ikut mengejar dan merebut bola dari lawan.
Dean yang menyadari perubahan gaya bermain Rini menyungginkan bibirnya tersenyum tipis. 'Owh... Sifat aslinya keluar' Dean melirik rekan setimnya yang menghibahkan Rini di toilet tadi nampak kaget dengan cara main Rini yang sanggar dan fleksibel.
Poin pertama berhasil diambil oleh tim lawan, Dean menghela nafasnya sambil mengikat erat rambutnya yang tadi ikatannya hampir lepas karena longgar.
Permainan kembali dimulai sampai babak terakhir itu selesai.
"Ok guys! Kita sudah melakukan semua yang terbaik untuk pertandingan terakhir kita ini! Terima kasih atas kerja keras kalian semua. Buat yang merasa capek silahkan pulang duluan, tapi jika ada yang masih ingin menonton juga silahkan. Karena sayangnya sekolah kita tidak lolos ke babak final," jelas Dean sambil tersenyum tipis pada rekan-rekannya walau dengan ekspresi mata yang jelas memperlihatkan kesedihan.
Dean menepuk punggung Rini sampai hampir membuat Rini yang dari tadi bengong itu mencium tanah. Rini melirik kesal pada Dean.
"Ada yang mau disampaikan wakil ketua?" tanya Dean sambil tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi itu.
Rini tersentak kaget. "Oh iya, terima kasih atas kerja samanya di pertandingkan terakhir kita dikelas 2 ini teman-teman semua. Dan juga... maaf jika gue ada salah selama memimpin!" ucap Rini sambil menyunggingkan bibirnya tersenyum pada rekan-rekannya.
Semua tim bubar dan ada yang memilih untuk keluar dari stadion, ada juga yang memilih untuk duduk di kursi penonton, menonton babak final pertandingan basket putri.
"God job ya!" seru Rini sambil menepuk bahu Dean dengan keras, membalas dendam atas tepukan Dean tadi. Rini mengambil jaket dan tasnya lalu berlari kecil menjauh dari Dean sambil sekali-sekali memberi kode pada Dean dengan melirik Ardio yang duduk di bangku selatan.
'Hah... Sepertinya dia benar-benar baik-baik saja. Kalau begitu gue pulan-- Oh iya sampai lupa, Zyantia tadi mau ngomongin apa ya? Apa gue ajak Ardio juga? Eh... tapi jangan deh.' pikir Dean sambil mengambil ponselnya yang ada di dalam tas.
Dean : "Dio... Lo tunggu gue bentar lagi ya!"
Selesai mengklik tombol kirim, Dean menyandang tasnya dan berjalan ke arah bangku bagian timur tengah tempat Zyantia dan Alva berada.
"Hei, mau ngomongin apa?" tanya Dean sambil duduk di sebelah Zen.
"Halo Dean, terima kasih ya sudah nolong aku waktu itu, jika gak ada kamu mungkin aku gak bakal ada di sini sekarang. Aku berutang nyawa sama kamu Dean," ucap Zen sambil tersenyum sedih, benar-benar tulus berterima kasih pada Dean.
Dean menelan ludahnya karena terkejut. "Hahaha santai aja kali Zyantia! Gue gak masalah kok, malah gue senang bisa bantu lo!" jawab Dean sambil tertawa dengan Zen, membuat suasana sedikit hidup.
"Tapi tetap saja, jika gak ada kamu dan kak Alva waktu itu aku gak tau harus bagaimana," sambung Zen. Mengenggam tangan Dean dengan kedua tangannya. "Terima kasih."
Dean tersenyum tipis sambil menatap iba Zen. "Zyantia..." Dean menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Zen... jika lo butuh apa-apa, lo bisa kok manggil gue, lo bisa manfaatin gue, gue akan bersedia membantu lo kapan saja," ucap Dean mempererat genggaman tangan Zen, mengubah panggilan nama Zyantia ke panggilan akrabnya 'Zen'. 'OMG!! Barusan gue ngomong apa!? Aduh! Ini gak gue banget! Malah gue ngomongin ini sama rival cinta gue!?' bathin Dean bertolak belakang dengan ucapannya barusan.
"Kalau begitu terima kasih ya Dean! Aku juga akan membantumu! Jika butuh apa-apa kamu bisa memanfaatkanku! Gak usah sungkan-sungkan!" seru Zen tersenyum cerah pada Dean.
Dean diam-diam menghela nafasnya sambil memaksakan senyum pada Zen. "Baiklah kalau gitu Zen, gue pulang dulu ya. Bye Zen! Bye kak Alva!" seru Dean melangkah pergi meninggalkan kursi penonton. Melambaikan tangan meninggalkan Zen dan Alva begitu saja.
"Eh mau barengan gak De?" ajak Zen.
"Oh gak usah, gue sama teman gue. Tapi makasih ya tawarannya!" sorak Dean sambil melanjutkan langkahnya, tersenyum.
"Gimana?" tanya Alva ke Zen.
Zyantia tersenyum lebar sambil memperlihatkan giginya yang putih dan rapi itu pada Alva. "Hehe, ternyata kakak benar Dean itu baik dan ramah, aku pikir Dean itu jutek loh," tawa Zen.
"Kalau begitu ayo aku antar!" ajak Alva diangguki oleh Zen.
Dean melayangkan tasnya ke punggung Ardio yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya.
"Hei! Lo gak baca pesan gue ya!?" seru Dean.
"Emangnya lo ngirim pesan ke gue?" tanya Ardio sambil mengeluarkan game cacing-cacingnya dan mulai membuka aplikasi chat. "Oh iya, ya udah ayo pulang!" ajak Ardio sambil berdiri dari duduknya.
Dean membuang kasar nafasnya. "Hah... kebiasaan sih lo!"
"Besok ujian kan? Lo udah belajar belum?" tanya Dean pada Ardio.
"Gue belajar gak belajar pun tetap nilai gue pas rata-rata aja," jawab Ardio sambil memasang headset nya. Nampak tidak peduli dengan yang namanya ujian.
"Aduh... jadi cowok kok lempengan amat, gak ada usaha," gumam Dean yang membuat Ardio langsung melirik kesal dirinya, merasa tersindir.
Dean menyunggingkan kedua sudut bibirnya setelah melihat ekspresi kesal Ardio, tertawa cengengesan.