Bel masuk sekolah dasar itu berbunyi, semua murid dengan seragam putih merah pada berlarian memasuki kelas mereka masing-masing.
Dean menatap ke bangku sebelahnya yang nampak kosong, setiap guru menerangkan pelajaran, mata Dean sekali-sekali melirik ke pintu masuk kelas, sampai guru bahasa Indonesia yang mengajar mengatahui gerak-gerik Dean yang aneh.
"Ada seseorang yang kamu tunggu Dean?" tanya guru bahasa Indonesia itu mengejutkan Dean.
"Eh!? Eh... Enggak buk" jawab Dean gelagapan.
"Terus kenapa kamu dari tadi melirik ke arah pintu Dean?" tanya guru bahasa Indonesia itu sambil memperlihatkan gigi putihnya yang tersusun rapi, tersenyum manis pada Dean.
"Dean hanya olahraga otot mata buk," elak Dean yang jadi bahan bercandaan setiap teman-temannya di kelas.
"Semuanya! Tolong jangan berisik! Ayo kita mulai pelajaran kembali!" seru guru bahasa Indonesia itu sambil berbalik ke mejanya.
Dean membuang nafasnya perlahan sambil melemaskan tubuhnya yang sedari tadi menjadi tegang setelah guru bahasa Indonesia memergoki tingkahnya.
***
"Kenapa kamu tidak sekolah Nak?" tanya mama Ardio, Ratih, sambil mengelus lembut rambut putranya itu.
Ardio hanya diam dengan posisi terlungkup dan kepalanya yang tenggelam ke dalam bantal tidurnya.
Mama Ardio tersenyum tipis, "Nak... Mama harus kerja dulu, makan siang sudah ada di atas meja. Jangan lupa makan ya, gak apa-apa jika sekarang kamu kamu libur sekolah, tapi besok harus sekolah ya," ucap mama Ardio sambil menghela pelan nafasnya.
Setelah terdengar bunyi pintu yang tertutup, Ardio langsung duduk di atas kasurnya, melirik ke arah gitar kecilnya yang telah terbelah 2 karena dihempaskannya ke lantai rumah kemaren sore, saat mamanya memberikan gitar itu ke tangannya.
Ardio menggepalkan erat tangannya, lalu membawa gitar itu keluar rumah untuk dibuang di tempat pembuangan sampah besar yang tidak jauh dari rumahnya.
"Ardio..." suara gadis kecil itu mengangetkan Ardio yang sedang melangkah tertatih ke arah tempat pembuangan sampah.
"Dean..." gumam Ardio pelan sambil mengalihkan pandangannya dari Dean.
Dean melirik benda yang dibawa oleh Ardio dengan tangan kosong itu, Dean menutup matanya sambil membuang pelan nafasnya. "Itu gitarmu bukan? Kenapa bisa seperti itu?" tanya Dean cemas pada Ardio.
Ardio membalikkan tubuhnya, berlari meninggalkan Dean begitu saja. Dean langsung mengejar Ardio dengan sepenuh tenaganya ke tempat pembuangan sampah itu.
Ardio melempar jauh gitarnya yang telah terbelah dua itu, membuat Dean terperanjat kaget walau dengan hentakan nafas yang masih ngos-ngosan.
"Ar... Ardio!" seru Dean sambil menarik tangan Ardio agar menatap dirinya. "Apa yang kamu lakukan? Bukankah gitar itu kenangan satu-satunya yang sangat berharga bagi kamu untuk Agnes!?" seru Dean tidak percaya dengan tindakan yang dilakukan oleh Ardio kini.
"Sepertinya aku tidak lagi tertarik pada musik, daripada mengenang akan hal itu kembali, bukankah lebih baik mengikhlaskannya?" tanya Ardio sambil membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan Dean di tempat pembuangan sampah itu begitu saja.
Dean berusaha melangkah ke arah tempat gitar yang dibuang oleh Ardio tadi, saat hendak menolehkan kepalanya Ardio jadi kaget dengan apa yang dilakukan Dean.
Ardio langsung berlari cepat ke tempat Dean sambil menarik tangan Dean agar tidak melanjutkan langkahnya. "Apa yang kamu lakukan!?" seru Ardio yang kini jelas nampak marah pada Dean.
Dean terdiam mendengar bentakan dan lototan tajam dari mata Ardio, setelah itu Dean menangis sekeras-kerasnya.
***
Esoknya Ardio dan Dean yang satu sekolah kembali menjalani hari-hari mereka seperti biasanya, walau ada sedikit perubahan yang nampak cukup jelas, yaitu sifat Ardio yang kini pemurung dan tidak mengurus dirinya sendiri lagi.
Setelah lulus dari SD, Dean dan Ardio mulai sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, walau Dean ingin mengajak Ardio untuk main, tapi diurungkan niatnya itu karena teringat kembali akan ekspresi Ardio yang marah, kesal, sekaligus menahan tangisnya di tempat pembuangan sampah dulu.
Di bangku SMP rambut Ardio sudah mulai tumbuh panjang, sudah jelas guru akan menegurnya, Ardio terpaksa untuk mengunting rambutnya walau tetap menyisakan poni kembangnya, setelah diberi teguran untuk memotong rambut, Ardio mulai memakai masker ke sekolah, Dean hanya diam menatap tingkah teman masa kecilnya itu.
Kebetulan di bangku kelas 1 SMP mereka kembali sekelas, saat tugas piket di hari yang sama sudah terjadwalkan, murid-murid sudah berhamburan keluar sekolah.
Ardio mulai membersihkan debu-debu yang lengket di kaca dengan kemoceng berwarna rainbow, Dean pun mulai menyapu lantai kelas, 2 murid lainnya yang ikut piket hari ini sedang membantu guru mengantarkan tumpukan buku yang tebal ke perpustakaan.
Suasana terasa canggung bagi mereka berdua yang sudah 3 bulan lamanya tidak lagi mengobrol dan bertegur sapa walau tetanggaan.
Dean menggigit bibirnya karena geram akan situasi kini, namun juga takut untuk salah bicara.
"Aku sudah selesai," ucap Ardio sambil melangkah ke arah meja guru untuk meletakkan kembali kemoceng itu pada laci guru.
Ardio melangkah ke pintu kelas, saat tepat berdiri di sisi pintu, Ardio menolehkan kepalanya ke arah Dean yang masih menyapu.
"Mau pulang bersama?" tanya Ardio yang membuat Dean tersontak kaget. Dean segera menganggukkan kepalanya dan mempercepat tugasnya.
"Dean! Ardio! Kalian pulang duluan saja! biar sisanya kami yang urus!" sorak seorang siswi sambil berlari dari koridor menuju kelas diikuti oleh seorang teman cowoknya yang mengekor dari belakang.
"Kalau begitu tolong ya Liv, Bel!" ucap Dean sambil menyenderkan sapu di barisan meja belakang sebelah kiri.
Dean mengambil tasnya yang terletak di meja guru lalu keluar dari kelas bersama Ardio, selama di perjalanan suasana mereka kembali canggung, Dean menghela pelan nafasnya untuk mulai membuka obrolan.
"Tumben lo ngajak gue pulang? Ada angin apa?" tanya Dean yang kini mengubah gaya bahasa dan panggilannya pada Ardio. Mengubah suasana tidak menyenangkan di masa lalu.
Ardio terpana menatap Dean. "'Lo' 'Gue' ya? keren juga," angguk Ardio tanpa menjawab pertanyaan Dean.
"Jadi karena apa?" tanya ulang Dean.
"Hmm... seperti yang gue bilang sebelumnya, kita gak boleh saling benci atau dendam, apalagi sampai tidak tegur sapa selama 3 hari," jawab Ardio.
"Lah inikan udah 3 bulan!?" kaget Dean.
Ardio tersenyum tipis pada Dean sambil menaikkan kedua bahunya memberi isyarat 'Mana gue tau'
"Tapi Dio... Makasih loh udah ngajak gue bicara lagi, gue gak enak sampai harus membuka obrolan atas apa yang dulu terjadi," ucap Dean sambil menyunggingkan senyumnya pada Ardio, "omong-omong lo masih suka dengar lagu? Masih suka main musik gak? Lo ingatkan papa gue punya piano di rumah? Itu gak kepake, mending lo aja yang pake," jelas Dean bersemangat.
Ardio diam mendengarkan ucapan dan ajakan Dean, bibirnya memang tersenyum, tapi raut mata Ardio menjelaskan kesedihannya yang amat dalam.
"Kalau begitu lain kali saja setelah lo ada mood, pintu rumah kami terbuka lebar untuk lo dan tante Ratih kok," ucap Dean yang menyadari ekspresi Ardio.
Ardio melirik ke arah Dean sambil tersenyum tipis, "Terima kasih," ucap Ardio pelan. "Dean... maaf ya, karena kami papa lo sampai harus pindah keluar negeri," sambung Ardio lirih.
"Eh? Memangnya kenapa?" tanya Dean kaget.
"Pasti paman Ari juga trauma akan kejadian itukan? Saat melihat gue dan mama, pasti paman Ari akan sangat depresi. Jadi gue juga minta maaf, karena misahin lo dari papa lo," ucap Ardio.
"Gue maafin," jawab Dean sambil menepuk punggung Ardio. "Jangan lemas gitu dong! Kayak cewek tau!" canda Dean sambil berlari meninggalkan Ardio, Ardio yang ingin membalaskan punggungnya yang sakit akibat tabokan dari Dean segera melangkahkan cepat kakinya mengejar Dean.
Setiap harinya mereka berdua kembali asik bersama, rasa cinta dalam diri Dean semakin besar pada Ardio, Dean juga selalu berupaya mengubah Ardio sepertinya Ardio yang dulu dikenalnya dekat lagi, Ardio yang ceria, Ardio yang rela melakukan apapun untuk adiknya, Agnes. Dan Ardio yang selalu membuat Dean berdebar saat ada di sebelahnya.
"Dio! Ke rumah gue yuk! Main piano!" ajak Dean sambil tertawa cengengesan pada Ardio.
"Ogah!" seru Ardio sambil menyandang tasnya dan melangkah keluar dari kelas.
"Lo sampai kapan sih mau lari!?" seru Dean menghentikan langkah Ardio.
***
Kembali ke masa sekarang.
Ardio terus melangkah dengan cepat dan berhenti tepat di sebuah bangunan tua yang rencananya dulu dibikin ruko, namun karena tersendat biaya akhirnya pembangunan dihentikan sementara sampai gedung besar ini nampak tua seperti rumah angker.
"Lo kenapa lagi sih? Kalau ada apa-apa cerita aja ke gue! Jangan lo pendam sendiri seolah-olah lo tuh kuat!" seru Dean berkacak pinggang dengan hentakan nafas yang ngos-ngosan.
"Lo ingat tempat ini?" tanya Ardio sambil duduk dirumput yang ada disebelah pohon tua yang sampai sekarang belum ditebang, tepat di depan bangunan tua itu.
Dean terdiam, bagaimana mungkin Dean bisa lupa tempat yang membuat dia jatuh cinta pada Ardio dulu. "Ya kenapa!?" tanya Dean yang menutupi wajahnya yang nampak memerah karena mengingat kenangan dulu.
"Buat gue... Tempat ini neraka ingatan, tempat yang membuat gue kembali mengingat hari itu, hari yang sejatinya tak ingin untuk gue liat bahkan rasakan. Tem--"
Blackpink in your area
Bunyi nada panggilan dari ponsel Dean, membuat Ardio menghentikan perkataannya.
"Angkat sana! Kenapa lo liatin aja?" tanya Ardio heran.
'Waduh! Gue lupa lagi ngabarin kak Alva tentang Zyantia, tapi sekarang gue lagi ngobrol sama Dio nih!' bathin Dean dilema.
"Angkat aja, gak usah sungkan sama gue," ucap Ardio sambil melentangkan tubuhnya ke rerumputan di bawah pohon yang rindang itu.
Dean mengangguk mengiyakan ucapan Ardio dan mengatur jarak 10 langkah agar tidak menganggu Ardio.
Dean : "Halo kak."
Alvaro : "Oh halo Dean, apa lo masih di rumah sakit?"
Dean menggigit jarinya karena bingung harus menjawab apa.
Dean : "Eng... enggak kak."
Alvaro : "Owh baru pulang?"
Dean : "Ah iya kak, Zen baik-baik aja kok. Kata dokter operasinya berjalan dengan lancar, untung saja lo cepat membawa Zen ke rumah sakit kak, kalau gak mungkin Zen gak bisa diselamatkan."
Alvaro : "Beneran!? Lo gak lagi bohong kan!?"
Suara Alvaro jadi terdengar bersemangat sekaligus lirih seperti sedang menahan tangisannya.
Dean : "Iya kak, kalau gitu udah dulu ya kak. Bye!"
Dean langsung mematikan telpon sambil menghela panjang nafasnya. "Hah... kenapa bisa gue sampai lupa gini ya?" gumam Dean heran lalu kembali ke tempat Ardio.
Dean ikut membaringkan tubuhnya di samping Ardio dengan tangan sebagai bantalannya. "Udah lama ya? Apa kita bakal ketiduran di sini lagi? Terus bangun saat sore?" canda Dean sambil menatap keatas, dedaunan yang rindang itu jatuh satu-satu saat angin meninggikan kecepatannya.
"Hahaha," tawa Ardio nampak bahagia dan tidak dibuat-buat setelah mendengar ucapan Dean tadi.
Dean tersenyum tipis menatap Ardio yang terbaring disampingnya. "Akhirnya lo bisa ketawa lagi ya," ucap Dean.
Ardio melirik ke arah Dean sambil menyunggingkan bibirnya tersenyum lebar menatap teman masa kecilnya itu.
"Omong-omong lo mau jenguk Zyantia gak?" tanya Dean penasaran.
"Ngapain? Gue gak ada hubungan apa-apa kok sama dia," ucap Ardio nampak sedih.
"Lah? Tapi bukannya lo pacaran sama dia?" tanya Dean heran.
"Pura-pura doang sih sampai rumor s****n itu selesai, lagian siapa coba yang membeberkan bahwa Zen nembak gue!? Kurang kerjaan banget tuh orang! ganggu hidup damai gue lagi!" kesal Ardio sambil melempar-lempar batu yang ada di sekitarnya ke arah jalan yang sepi itu.
"Hei! Siapa yang lempar kerikil ini!? Ngapain kalian tidur-tiduran di sana!? Ini bukan kamar kalian! Sana pulang kerumah masing-masing!" seru salah seorang emak-emak yang lewat sambil membawa kantong belanjaannya yang banyak dan besar.
Ardio dan Dean tersontak kaget dan langsung berlari meninggalkan tempat itu sambil tertawa bersama.
"Hah... Ada-ada saja anak muda zaman sekarang," gumam emak-emak itu sambil masuk ke dalam rumah yang berada tepat di seberang gedung tua yang belum selesai pembangunannya itu.
"Hah... Dean, tunggu. Capek gue," ucap Ardio sambil memegang kedua lututnya dengan hentakan nafas yang ngos-ngosan.
Dean yang berada 2 langkah didepan Ardio mundur kebelakang dan kini tepat berdiri disebelah Ardio. "Mau gue gendong sampai rumah?" tanya Dean sambil tertawa cengengesan
"Emangnya gue tuan putri!?" kesal Ardio berdecak sebal.
"Hahaha ya udah! Kita istirahat dulu deh," ucap Dean sambil duduk di tepi jalan tempat mereka berdiri, Dean meluruskan posisi kakinya, diikuti oleh Ardio.
***
5 Hari berlalu sejak Zen sudah selesai dioperasi, Zen sama sekali tidak masuk sekolah dalam 5 hari itu. Kini tepat hari Sabtu, hari pertandingan basket untuk sekolah tingkat SMA sederajat.
Dean sudah ada di posisinya, berdiri di tengah lapangan dengan posisi siap. Sejak ditegur oleh wali kelasnya, Dean belajar mati-matian agar nilainya meningkat dratis dan bisa mengikuti pertandingan terakhirnya di SMA.
Setelah peluit yang ditiupkan wasit berbunyi, tim perempuan langsung bergerak cepat mengoper dan merebut setiap lantunan bola dengan tangan mereka. Berlari sambil mengoper dan melantunkan bola dengan pertahanan kuat agar tidak direbut oleh lawan begitu saja.
Rini berhasil mendapatkan bola dan melirik seraya memberi kode pada Dean bahwa bola akan diopornya pada lantunan ke 3, Dean paham dengan kode tangan yang ditunjukkan oleh Rini.
Bola yang dioper Rini langsung melesat ke tempat Dean berdiri, Dean langsung berlari ke ring lawan dan melempar bola dengan tepat memasuki ring.
Tim SMA Darma Nasional berteriak atas perolehan poin pertama untuk sementara, permainan kembali di mulai dengan agresif dan keaktifan dari tim lawan.
"Hei!" suara sok akrab itu mengangetkan Ardio yang duduk diam menonton pertandingan Dean dibangku penonton.
"Eh? Siapa?" tanya Ardio heran.
Laki-laki yang baru duduk disebelah Ardio kini menelan ludahnya seakan tidak percaya bahwa ada orang yang tidak mengenalnya.
"Oh... Gue Alva, Alvaro Ranggana," ucap laki-laki yang duduk di sebelah Ardio kini yang tidak lain adalah Alvaro.
'Kayak pernah dengar deh naman-- Oh diakan cowok populer di sekolah! Tapi ngapain sok akrab sama gue deh' bathin Ardio heran.
"Owh, gue Ardio," ucap Ardio cuek.
"Lo pacaran sama Zen?" tanya Alva membuat Ardio menyemburkan air putih yang diminumnya.
"Ha... Haha maksudnya apaan ya?" tanya Ardio pura-pura heran.
"Gue Alva, mantan tunangan Zen," sambung Alvaro dengan ekspresi dingin.
Ardio langsung menelan ludahnya, hampir saja dia merasa tersedak walau tidak ada yang dimakannya saat ini. "Urusannya sama gue apaan ya?" tanya Ardio pura-pura bodoh.
"Hah... seterah lo dah, tapi jangan coba-coba bikin Zen nangis," ucap Alva sambil berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Ardio. Setelah 2 langkah berjalan, Alva kembali membalikkan tubuhnya ke Ardio. "Oh iya satu lagi, jangan coba-coba untuk mendekati Dean. Walau lo teman dari kecil Dean sekalipun," ancam Alva yang kemudian melanjutkan langkahnya tanpa berbalik lagi ke arah Ardio.
Ardio menatap heran kakak kelasnya itu. "Kenapa dia larang gue deketin Dean? Udahlah, anggap aja gak pernah ngomong sama dia," gumam Ardio cuek. Kembali memperhatikan Dean dan tim-nya bertanding.