Bab 10

2434 Kata
Flascback Daun yang jatuh berguguran di taman disapu lembut oleh angin yang datang dari sisi timur. 2 orang kakak adik itu tertawa riang menikmati situasi yang ada disekitar mereka kini. "Wah... ademnya," gumam gadis kecil dengan rambut terurai panjang itu menikmati cuaca sambil menutup matanya sambil mendengar bunyi musik dari gitar yang dimainkan oleh kakak laki-lakinya, diiringi dengan suara syahdunya. "Mau dengar lagu lain?" tanya kakak laki-laki dari gadis kecil itu. "Hehe!" gadis itu tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang tersusun rapi dengan mata yang terpecing dan pipi yang melebar. "Agnes mau dengar puisi ciptaan Kakak!" Kakak laki-laki dari gadis kecil itu tersenyum tipis. "Tidak bisa sekarang, Kakak lagi senang bermain musik." Gadis kecil itu mendengus kecewa. Tiba-tiba sebuah kupu-kupu melintas di depan matanya. "Kak liat kupu-kupunya!" seru gadis kecil sambil tertawa riang pada kakaknya yang sedang bersenandung lembut dengan gitar kecilnya. "Wah... warnanya sayapnya jingga kemerahan ya," ucap anak laki-laki itu sambil menyunggingkan senyum tipis pada adiknya. "Kak! Kak! Agnes mau nangkap kupu-kupunya ya!" seru gadis kecil itu sambil berlari mengikuti arah terbangnya kupu-kupu. Gadis kecil itu berlari ke arah jalanan yang biasa dilalui oleh berbagai macam kendaraan darat, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi dijalan yang akan dilintasi oleh gadis itu. Dan... BRAK!! Bunyi hantaman yang keras itu mengejutkan kakak dari gadis tadi, bagian depan mobil dipenuhi oleh bercak darah, tubuh gadis kecil tadi tergeletak 5 meter dari depan mobil. Siapa yang menduga, kupu-kupu cantik yang dikejarnya tadi malah berujung membuat gadis kecil itu kehilangan kesempatan hidup selamanya. Kakak laki-laki dari gadis kecil itu bersimpuh di atas rumput taman, tatapannya kosong, gitarnya kecilnya tergelatak begitu saja di atas rumput hijau yang menyenangkan mata, pikirannya terasa tidak karuan. Pengendara mobil yang menabrak gadis kecil itu langsung keluar dari mobilnya, berlari dengan cepat ke arah gadis kecil yang tidak sengaja ditabraknya itu. Pria itu langsung menutup mulutnya karena syok, jalanan taman nampak sepi, tidak ada satu kendaraan pun atau bahkan satu pun orang yang lewat, tidak ada. "Ag... Agnes..." gumam pria itu dengan nada suara yang serak, kaki dan tangannya kini bergetar hebat. Dia mengenal gadis yang barusan ditabraknya. Pria itu langsung membopong gadis kecil tadi ke dalam mobilnya. "Dio," gumamnya kepada kakak laki-laki gadis kecil itu yang kini tersimpuh rapuh di atas rumput taman, pupil matanya nampak bergetar, aliran darahnya serasa berhenti, suara detakan jantungnya seperti menghilang begitu saja. Pria itu memalingkan wajahnya, membawa gadis kecil itu masuk ke dalam mobil lalu mengangkat kakak nya masuk ke dalam mobil. Karena terlampau cemas dan gemetaran, pikiran pria itu jadi tidak karuan, dia tidak mengecek hentakan nafas ataupun bunyi jantung, dan denyut nadi dari gadis kecil itu. Pria itu membawa gadis kecil itu ke rumah sakit. Dia menelpon keluarganya dan keluarga dari gadis kecil itu, selang beberapa menit kemudian, 2 orang wanita dewasa dan satu gadis kecil berlarian dengan hentakan nafas yang ngos-ngosan ke ruang UGD. "Ratih... Maaf," gumam pria itu pada seorang wanita yang nampak paling banyak mengeluarkan air mata. Wanita itu menggelengkan kepalanya lalu memeluk putranya yang duduk di kursi rumah sakit itu sambil memegang lututnya, masih gemetaran. Sedangkan pria itu kini tengah memeluk wanita yang satu lagi dan gadis kecil yang ikut berlari tadi sambil menangis sejadi-jadinya. "Ratih... Ardio... Saya akan bertanggung jawab akan hal ini, dan saya dengan suka rela akan menyerahkan diri ke kantor polisi. Wanita yang dipeluk pria tadi dan seorang gadis kecil yang memegang tangannya nampak terkejut, air mata mereka mengalir sejadi-jadinya. "Pa..." gumam istri dari pria itu. Pria itu menoleh ke arah istrinya sambil tersenyum tipis dengan pandangan mata yang kini tertunduk. "Ari... silahkan laporkan saja dirimu ke kantor polisi" ucap wanita yang bernama Ratih itu, orang tua perempuan dari anak laki-laki yang kini sedang dipeluknya, dan gadis kecil yang kini sedang di dalam ruangan UGD. Wanita itu tetap memeluk putranya yang kini terduduk di kursi rumah sakit dengan tatapan kosong dan tubuh gemetaran. "Baik," jawab pria itu sambil berbalik meninggalkan ruangan. Berjalan sempoyongan untuk keluar dari rumah sakit. Gadis kecil yang tadi memeluknya, menarik celana pria itu, memeluk kaki papa-nya. "Jangan, jangan pergi." Suara gadis kecil itu gemetaran, tak mau papa-nya pergi. Pria itu tersenyum tipis pada putrinya itu, mengelus lembut kepala putrinya. Berbalik pergi. "Ratih..." gumam istri dari pria tadi membendung air matanya dengan suaranya yang kini tidak lagi terdengar jelas. "Sarah... maafkan aku," ucap Ratih sambil menggendong putranya masuk keruangan UKS. "Ma! Mama!" seru gadis kecil yang berdiri di samping Sarah sambil menarik-narik baju mama-nya itu. Sarah memeluk erat putri kecilnya dan menangis sejadi-jadinya dalam pelukan putrinya yang kini ikut menangis dengan kencang. Kini, lorong rumah sakit itu hanya dipenuhi dengan kecemasan, tangis, air mata yang tak henti-hentinya mengalir dan ketakutan. Sampai saat nanti... akan menjadi cerita kehilangan. *** Di kantor polisi "Pak, tolong bebaskan saudara Ari. Saya selaku orang tua dari korban tidak menyalahkan beliau apalagi sampai memiliki dendam pada beliau, kecelakaan itu terjadi karena putri saya juga bersalah," jelas Ratih dengan raut wajah yang serius pada polisi itu. "Anda yakin Nyonya Ratih?" tanya pak polisi. "Tentu Pak, bukankah hukum itu adil? Jadi saya tidak ingin bapak menahan orang yang tidak bersalah, semuanya terjadi karena takdir yang telah ditetapkan oleh Tuhan," jawab Ratih sambil berdiri dari duduknya, tersenyum tipis dengan sorot wajah yang amat menenangkan. "Ratih..." gumam Sarah seakan tidak percaya dan merasa bersalah pada wanita yang kini berdiri dihadapannya itu. "Bukankah sudah aku bilang? Suamimu tidak bersalah, kemaren aku hanya terlanjur depresi karena kehilangan putriku. Sudahlah..." ucap Ratih berlalu pergi meninggalkan Sarah, masih dengan sisa senyumannya yang belum pudar. "Aku harap hubungkan kita tetap baik kedepannya," gumam Sarah pelan pada Ratih. "Tentu," angguk Ratih tersenyum tipis pada Sarah. Polisi mengeluarkan seorang tahanan yang tidak lain adalah suami dari Sarah, Ari. Yang menabrak Agnes, anak dari Ratih tanpa sengaja di taman pagi kemarin. "Ma... Apa benar Ratih yang meminta untuk tidak menuntutku?" tanya Ari dengan tatapan bersalah. Sarah menganggukkan kepalanya pada suaminya itu. Setelah kembali ke rumah, Ari menatap rumah kecil yang ada di sebelah rumahnya dengan tatapan kosong dan raut wajah yang semakin hari semakin pucat. Ponsel yang ada disaku celananya berbunyi. "Halo," gumam Ari pelan ditelpon. "Maaf Bos, bisa saya meminta pindah kerja?" tanya Ari. "Baik bos, saya akan terbang besok," jawabnya kembali ditelpon. Sarah yang tanpa sengaja mendengar ucapan suaminya itu menjatuhkan barang yang tadi dipegangnya, segelas kopi s**u panas yang kini membasahi lantai rumah. "Pa... Papa meminta untuk pindah kerja? Apa papa serius?" tanya Sarah dengan ekspresi wajah yang terkejut sekaligus sedih. Sarah menggigit bibirnya untuk menahan perasaan yang ingin disampaikannya saat ini dan berlalu segera ke kamar. Ari segera menarik tangan Sarah. "Maaf Ma... Papa tidak bisa seperti ini terus, Papa akan menjual mobil ini," ucap Ari sambil melirik mobil Avanza hitamnya, "setelah itu kita akan membeli mobil baru untuk Mama mengantar anak-anak ke sekolah, Papa akan meminta maaf dengan baik pada Ratih hari ini. Karena besok papa harus berangkat ke Amerika untuk bekerja, Papa tidak tau kapan bisa kembali," jelas Ari sambil memeluk erat istrinya, Sarah. Sarah menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Ari, suaminya. "Bukankah Ratih sudah memaafkan Papa, tidak bisakah Papa tetap di sini? Pekerjaan di luar kota saja sudah sering membuat Papa jarang ada di rumah, dan sekarang Papa sendiri malah meminta pindah tugas di luar negri, tidakkah Papa juga memikirkan keadaan anak-anak kita?" tanya Sarah dengan suara serak dan air matanya yang kini membasahi pakaian yang dikenakan oleh Ari. "Maaf Ma... Papa tak sanggup untuk berlama di sini, menatap rumah itu," ucap Ari sambil melirik ke rumah yang ada di sebelah rumahnya. "Papa tidak tau jika berpapasan dengan Ratih atau Dio harus bagaimana, bukannya Papa melarikan diri dari mereka, tapi papa juga yakin bahwa mereka tidak akan kuat untuk bersabar melihat Papa dalam waktu yang lama. Papa butuh waktu, Ma." jelas Ari sambil mengusap air mata istrinya itu. Dean, putri Ari dan Sarah. Menguping dari balik pintu, menengadahkan kepalanya ke atas agar air matanya tidak berderai membasahi lantai. Dean segera berlari ke kamarnya dan menghempaskan tubuhnya dengan keras ke atas ranjang, memasukan wajahnya kedalam bantal lalu berteriak sekeras-kerasnya dan menangis sejadi-jadinya. oOo "Silahkan diminum tehnya, Ari, Sarah," ucap Ratih sambil menyunggingkan senyum tipisnya dengan raut mata tertunduk pada Ari dan Sarah. "Ratih... maafkan saya," gumam Ari pelan dengan rasa bersalah dan penyesalan yang amat dalam. "Bukankah sudah saya bilang? Itu bukan salah kamu sepenuhnya Ari. Kamu juga sudah membantu biaya pemakaman Agnes, jadi saya seharusnya berterimakasih padamu," ucap Ratih yang masih mempertahankan senyumannya. Ardio, anak Ratih. Melangkah pelan ke tempat mamanya, dan melototkan matanya dengan tajam ke arah Ari. Ari tak bisa bergidik, dia menelan ludahnya. Ari sangat paham bahwa anak kecil yang ada didepannya kini sangat lah membencinya. Ardio melangkah ke arah Ari, memegangi tangan Ari. "Terima kasih sudah membawa Agnes ke rumah sakit dengan cepat," ucap Ardio sambil menyunggingkan senyum tipisnya pada Ari, senyum yang penuh dengan rasa terima kasih dari anak-anak laki-laki yang polos itu, tak dibuat-buat. Ari dan Sarah tersentak kaget mendengar ucapan Ardio, mereka melirik ke arah Ratih yang menatap sedih putranya itu. Ari langsung memeluk erat Ardio. "Maafkan Paman Dio, maaf..." ucap Ari lirih. "Paman tidak salah apa-apa, justru Dio yang salah karena tidak bisa menjaga Agnes dengan baik," jawab Ardio yang suaranya hanya terdengar seperti bisikan. "Ratih... sebagai rasa bersalahku, biarkan aku yang menafkahi kalian berdua," ucap Ari digelengkan dengan cepat oleh Ratih. "Tidak Ari, tapi terima kasih. Saya tidak ingin merepotkan orang lain, selagi saya masih ada, saya bisa menafkahi anak saya sendiri," jelas Ratih dengan bahasa yang sopan. "Tapi Rat--" Sarah langsung menggenggam tangan Ari dan menggelengkan kepalanya. "Baiklah kalau begitu Ratih, tapi jika kamu membutuhkan sesuatu jangan sungkan-sungkan pada kami," sambung Sarah. Ratih menganggukkan kepalanya, "Terima kasih Sarah." "Paman... Bolehkah Dio main dengan Dean?" tanya Ardio pelan. Ari dan Sarah saling menatap sambil tersenyum tipis. Ari mengelus lembut kepala Ardio. "Tentu Dio... Bagaimana pun kami juga sudah menganggapmu sebagai anak kami sendiri, anggaplah Dean dan adik-adiknya sebagai saudaramu juga. Sering-seringlah main ke rumah," ucap Ari lembut diangguki oleh Sarah. Ardio tersenyum lebar. "Bolehkah aku menemui mereka sekarang!?" tanya Ardio nampak lebih bersemangat dari pada tadi, walau wajah dari anak laki-laki itu sama sekali tidak bisa berbohong, berapa dia merasa kehilangan. Ari mengangukkan kepalanya mengiyakan. Ardio pun langsung berlari ke rumah yang ada di sebelah rumahnya. Tok! Tok! Dean membuka pintu perlahan, mengeluarkan separuh dari tubuhnya keluar dari pintu. "Ada apa Dio?" tanya Dean khawatir. "Main yuk!" ajak Dio sambil tersenyum lebar, Dean tau betul bahwa senyumam yang terukir dari bibir anak laki-laki yang ada dihadapannya kini adalah senyuman yang dipaksakan. "Ke taman," ucap Dean datar. Ardio tersentak kaget, matanya tak berkedip sama sekali setelah mendengar ucapan Dean tadi, beberapa detik kemudian Ardio menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis. "Ayo," ucap Ardio terdengar lirih dan dipaksakan. Dean menatap sedih Ardio sambil menyunggingkan senyum tipisnya. "Ayo!" ajak Dean sambil menarik tangan Ardio ke taman yang tak jauh dari rumah mereka. Adik laki-laki Dean, Dandra, memperhatikan mereka dari balik kursi. Menyudahi permainan rumah-rumahannya karena kakaknya sudah pergi tanpa pamit. Taman itu nampak sepi, masih tidak ada seorang pun di taman. Kabarnya taman bermain itu juga akan ditutup pekan depan. Dean mengajak Ardio ke ayunan di sisi selatan taman. "Pasti berat ya, terlihat baik-baik saja atas semua yang terjadi," ucap Dean memalingkan wajahnya dari Ardio. "Hahaha maksud Dean apa?" tanya Ardio yang masih mempertahankan senyuman tipis dibibir mungilnya itu. "Menangis lah," ucap Dean sambil memusatkan tenaga kakinya ke rumput taman agar bisa memperkuat ayunannya. Ardio menggigit keras bibirnya sampai berdarah dengan air matanya yang jatuh perlahan membasahi pipinya itu. Dean segera menghentikan ayunannya. "Aku suruh kamu untuk menangis melepas semua perasaan berat yang kamu tanggung, bukan menyakiti dirimu seperti ini!" seru Dean sambil mengeringkan darah yang keluar dari bibir Ardio dengan sapu tangan biru lautnya. Ardio terkejut mendengar Dean marah padanya. Namun Ardio lebih memilih memalingkan wajahnya. "Bencilah aku," ucap Dean sambil tetap mengeringkan darah Ardio yang mengalir dari bibir mungilnya itu. "Apa maksudmu?" tanya Ardio. "Papa ku bukan yang membuat Agnes sampai kehilangan nyawa? Jadi bencilah aku sepuasmu, jangan dendam pada papaku, limpahkan saja amarah dan rasa dendammu padaku," ucap Dean lirih dan langsung menghentikan gerakan tangannya setelah darah Ardio tidak mengalir lagi. Dean duduk diam di sebelah Ardio, terdiam sambil menengadah ke pohon besar yang melindungi mereka dari panasnya matahari. "Kalau begitu, aku akan membencimu," ucap Ardio dengan muka datar pada Dean. Dean terkejut mendengar perkataan Ardio, namun memilih untuk tersenyum. "Aku akan membencimu jika kamu menganggapku membenci keluargamu ataupun kamu Dean," sambung Ardio. Jelas Dean kembali kaget setelah mendengar kalimat yang dilontarkan Ardio padanya. "Apa maksudmu?" tanya Dean heran. "Mama mengajarkanku untuk tidak perlu membenci orang lain, tapi jika dengan membenci orang itu jiwamu tenang, cukup benci dia dalam 3 hari saja, jangan lebih. Karena hidup dengan penuh kebencian itu akan suram, sesuatu yang pergi tidak akan juga kembali, jadi tidak perlu untuk disesali" jelas Ardio sambil membaringkan tubuhnya di atas rumput hijau taman itu. "Maaf telah mengajakmu ke sini," ucap Dean lirih. Ardio menggelengkan kepalanya, "Aku justru berterima kasih pada Dean, aku sebenarnya tidak berani lagi ke sini, tapi... Dean membuatku tak merasa kesepian ada di sini, terima kasih Dean," ucap Ardio sambil menyunggingkan senyuman lebarnya yang terasa tulus dan nyata. Dean terbelalak menatap Ardio, wajah gadis itu kini memerah karena malu. "Terima kasih kembali!" ucap Dean ikut tersenyum lebar. Tidak terasa mereka tertidur di bawah pohon yang rindang itu sampai petang, cahaya mentari sore menemani langkah mereka kembali ke rumah masing-masing. Dean melambaikan tangannya pada Ardio dan langsung masuk kedalam rumahnya. Mata Dean terfokus pada gitar kecil yang ada di depan papanya yang kini duduk diam sambil menutup matanya. "Pa... bukankah ini gitar milik Ardio?" tanya Dean pelan. Papa Dean, Ari membuka matanya sambil tersenyum tipis pada putrinya itu. "Baik mainnya dengan Dio?" tanya Ari diangguki dengan ekspresi bahagia oleh Dean. "Pa! Dean kembalikan ke Dio ya!" sorak Dean bersemangat sambil membawa gitar milik Ardio yang dulu tertinggal di mobil Papa Dean saat mengantar Agnes ke rumah sakit. Dean berlari dengan cepat tanpa sempat dihentikan oleh Ari. Tok! tok! "Ada apa Dean?" tanya mama Ardio, Ratih. Sambil menyunggingkan senyum tipis di wajahnya itu. "Tante! Dean ingin mengembalikan ini ke Dio!" ucap Dean sambil menyodorkan gitar kecil itu pada mama Ardio. "Owh iya, terima kasih ya Dean. Dean mau masuk dulu?" tanya mama Ardio sambil mengambil gitar itu dari tangan Dean. Dean menggelengkan kepalanya. "Dean kembali ke rumah dulu ya Tante!" ujar Dean sambil menciumi punggung tangan mama Ardio dan kembali berlari kecil keluar dari rumah Ardio. BRUK! Suara hantaman yang terdengar sangat keras itu mengejutkan Dean, langkahnya terhenti. Dean melirik ke rumah Ardio, tempat suara keras seperti benda yang dihantam itu terdengar, tangan dan kaki Dean jadi gemetar, Dean segera berlari dengan cepat, kembali ke rumahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN