Dr. Qirhan diam sejenak, namun karena tak enak hati menatap ekspresi sedih dari mama Zen, Dr. Qirhan menghela panjang nafasnya. "Operasi Zen berhasil Tante, Om." Semua yang ada di depan ruang UGD itu menghela nafas lega. "Tapi... Zen belum sadarkan diri karena masih terpengaruh kadar obat bius... namun sebelum operasi tadi Zen sempat sadarkan diri dan terus menggumamkan nama Ardio, mungkin orang yang bernama Ardio itu yang menguatkan Zen dalam menghadapi operasi ini," jelas Dr. Qirhan.
Mama Zen langsung bersimpuh dilantai rumah sakit itu, bersyukur mendengar operasi Zen yang berhasil. Papa Zen membantu istrinya berdiri.
Mama dan papa Zen saling bertatapan satu sama lain, berpelukan karena operasi putri semata wayang mereka berhasil. "Papa kenal orang yang bernama Ardio?" tanya mama Zen langsung digelengkan oleh papa Zen.
Sedangkan Ari papa Dean yang nampak kaget setelah mendengar ucapan Dr. Qirhan tadi.
"Owh iya Ri... Tadi kamu menyebut nama tetanggamu Dio kan?" tanya papa Zen pada Ari, papa Dean.
Papa Dean menganggukkan kepalanya mengiyakan, seketika wajah Dean langsung pucat basi.
"Apa Dio itu sekolah ditempat yang sama dengan Zen?" tanya papa Zen penasaran.
"Eh? I.. iya," jawab papa Dean.
"Owh iya Niel... Aku pulang duluan ya, sepertinya Dean juga lagi gak enak badan, Qirhan, Resti... saya balik duluan ya," pamit papa Dean sambil menyalami ke-3 orang itu.
"Dean... Kamu tidak ingin melihat keadaan Zen dulu?" tanya mama Zen menghentikan langkah Dean dan papanya.
"Maaf Tante, kepala Dean tiba - tiba sakit, tapi besok Dean bakal balik ke sini lagi, kalau begitu Dean pamit duluan Tante, Om, dan Dokter," ucap Dean sambil mengikuti langkah papanya dari belakang.
Tiba di luar papa Dean langsung mengambil Taxi dan diikuti Dean masuk kedalamnya.
"Ada sesuatu tentang Dio yang harus disembunyikan dari mama dan papanya Zyantia, Dean?" tanya papa Dean terus terang.
Dean diam sejenak sambil menatap pemandangan dari balik kaca taxi.
"Papa masih ingat dengan trauma yang dialami Dio waktu dulukan?" tanya Dean yang masih menatap pemandangan dari balik kaca taxi.
Papa Dean diam sejenak, jelas sekali nampak ekspresi kusam dan rasa bersalah yang amat dalam dari wajahnya itu. "Bagaimana mungkin papa bisa melupakan semua kejadian yang telah papa perbuat itu?" tanya papa Dean kembali.
"Papa tau... Sejak saat itu Dio tidak ingin lagi bermain musik, seberapa keras Dean mengajaknya dan mencoba membuatnya kembali bermain musik tetap saja tidak bisa, entah sejak kapan dan karena apa, Dio mulai sering main kembali ke rumah, memainkan piano dengan lirik dari musik klasik, tentang Dio dan keluarganya yang tidak menuntut Papa, tentang kecelakaan itu yang membuat Dio yang biasanya selalu ceria, kini menjadi pendiam dan pengurung," jelas Dean.
Papa Dean masih diam tidak menjawab penjelasan dari Dean.
"Tapi hal itu memang benar bukan kesalahan asli dari Papa kan? Di mata hukum kasus itu adalah kecelakaan, tidak akan sampai mengusut kecelakaan itu sampai ke pengadilan," sambung Dean.
"Mungkin, tapi... Papa benar - benar tidak menyangka hal itu akan terjadi, malah setelah saat itu Papa tidak lagi mengendarai mobil atau kendaraan apapun," ucap papa Dean menundukkan kepalanya.
Dean tersenyum tipis mendengar ucapan papa nya itu.
"Kalau begitu Dean mau ke sebelah dulu ya Pa!" seru Dean sambil turun dari taxi yang sudah berhenti tepat di depan gerbang rumah mereka.
Dean langsung berlari kecil ke rumah Dio yang ada di sebelah rumahnya.
Dean mengetok pintu dengan pelan.
"Owh Nak Dean, cari Dio?" tanya mama Ardio yang kini berdiri di hadapan Dean.
"Halo Ma, boleh Dean menemui Dio?" tanya Dean sambil tersenyum tipis pada mama Ardio.
"Owh boleh, silahkan masuk!" ucap mama Ardio.
"Kalau gitu Dean langsung ke kamar Dio dulu ya Ma," ujar Dean sambil berlari kecil ke kamar Ardio.
Dean menatap Ardio yang tidur terlungkup di atas kasur, mata Dean nampak sayu karena sedih menatap teman masa kecilnya itu, sekaligus orang yang disukai Dean sampai saat ini.
Dean mengambil bantal guling yang ada di sebelah Ardio dan langsung memukulkan bantal itu ke punggung Ardio.
"Woi! Gak usah pura - pura tidur! Gue tau kok lo gak bisa tidur!" seru Dean.
Ardio masih diam tidak menghiraukan seruan dan pukulan dari Dean.
"Zyantia operasi," ucap Dean pelan.
Ardio langsung membalikkan tubuhnya dan mengubah posisinya, "Apa maksud lo!?" kaget Ardio. Duduk.
Dean ikut kaget melihat ekspresi cemas Ardio. Tak biasanya Ardio begini setelah kejadian itu. "Jadi... lo emang beneran suka ya sama dia?" tanya Dean sambil memeluk erat guling yang dipegangnya.
Ardio memilih diam dan memalingkan wajahnya dari Dean.
"Zyantia itu... mirip ya sama Agnes," gumam Dean pelan sambil melepas pelukannya dari guling.
"Di mata Gue... Zyantia itu wanita yang perfect, siapa sih yang gak bakal suka sama cewek secantik dia? Siapa sih yang gak bakal kesemsem sama senyum manisnya? Dan terlebih dia membuat lo ingat kembalikan sama Agnes? Gue tau kok ekspresi Zyantia saat senyum itu mirip banget sama Agnes, dan gue juga tau bahwa Zyantia suka dengan puisi-puisi yang lo buat kayak Agnes kan?" tanya Dean sambil menatap lama langit - langit kamar Ardio.
"Dari mana lo tau itu?"
"Gue baru balik dari rumah sakit, dan ketemu sama bokap nyokap nya Zyantia"
"Dia sakit apa sampai operasi?!" tanya Ardio nampak sangat khawatir dan cemas. Memaksa Dean untuk segera bercerita.
"Leukimia."
Ardio terdiam mendengar jawaban dari Dean "Apa operasinya berjalan dengan lancar?" tanya Ardio kembali setelah keheningan yang cukup lama tadi.
"Operasinya berhasil kok, terlebih dokter yang melakukan operasi bilang dia selalu menyeb... dia akan siuman secepatnya," jawab Dean yang mengurungkan niatnya memberi tau Ardio bahwa sebelum dibius Zen yang belum sadar selalu menyebut namanya.
"Lo udah mendingan?" tanya Dean.
"Gue udah baik - baik saja kok, lagian kejadian itu sudah lama," jawab Ardio sambil tersenyum tipis pada Dean, sorot matanya jelas sayu dengan wajah yang nampak lelah.
"Maafin papa gue ya, jika seandainya papa gak kembali ke rumah waktu itu, mungkin saja Agnes akan baik - baik saja," ujar Dean yang sedang menahan tangisnya.
Ardio mengembangkan tangan Dean. "Om Ari sama sekali gak salah kok, itu kesalahan gue sendiri yang gak bisa jaga Agnes saat itu," jelas Ardio.
"Tapi tetap saja--"
"Bukankah Minggu lo akan bertanding? Nilai lo gimana? Nanti mak lampir bakalan marah tanpa sebab ke gue karena lo gak jadi tanding," tanya Ardio nampak kesal mengingat Rini.
"Hahaha lo tenang aja, lagian nilai gue merosot emang gara - gara lo kok, jadi wajarlah kalau Rini marahnya sama lo, ya udah gue balik duluan ya!" seru Dean sambil keluar dari kamar Ardio, tersenyum.
"Woi Dean! Apa maksud lo nilai lo merosot karena Gue?" tanya Ardio nampak kesal sekaligus bingung.
Dean tersenyum tipis pada Ardio sambil melambaikan tangannya dan menutup pintu.
"Ma... Dean pamit dulu ya!" pamit Dean pada mama Ardio.
"Iya Nak!" sahut mama Ardio.
oOo
Dean kembali ke rumahnya.
"Lah? Kamu gak jadi nginap seminggu di tempat Rini?" tanya mama Dean heran.
Dean tersontak kaget mendengar ucapan mamanya, dia baru ingat bahwa semua pakaian sekolah dan buku pelajarannya kini sedang mangkal di rumah Rini.
"Ma! Pa! Dean ke rumah Rini dulu ya!" sorak Dean sambil beringsut mengambil kunci mobil mamanya dan langsung berlari keluar rumah.
Dean mengendarai mobil dengan kecepatan rata-rata menuju rumah Rini.
Butuh waktu 10 menit untuk sampai ke rumah Rini dengan mobil dan tanpa dihadang kemacetan, lagi-lagi, tanpa SIM. (Jangan tiru Dean ya!)
Dean turun dari mobil dan langsung mengetok rumah Rini dengan cepat dan keras, karena Dean tau orang tua Rini sedang tidak ada di rumah, jadi dia tidak perlu sungkan-sungkan. Benar-benar teman yang gak ada akhlak.
"Apaan sih lo! Berisik banget tau gak!?" kesal Rini sambil membuka lebar pintu rumahnya.
"Rin, gue mau ngambil barang gue lagi ya!" ujar Dean sambil melangkah masuk ke rumah Rini dan langsung bergegas menuju kamar Rini.
"Lah kenapa?" tanya Rini heran.
"Bokap gue pulang," jawab Dean sambil mengumpulkan buku-bukunya lalu dimasukkan ke dalam tas.
"Lah! kok mendadak!?" kaget Rini.
"Mana gue tau! Omong-omong makasih ya tumpangannya semalam," ucap Dean sambil menyandang tasnya dan mengenggam tas satu lagi yang berisi pakaiannya.
"Eh Dean! Omong-omong Zen kenapa?" tanya Rini penasaran.
"Lah? Kenapa lo nanya-nanya dia? Tumbenan?" tanya Dean yang telah duduk di atas ranjang Rini.
"Ya gue penasaran lah, itu anak tiba-tiba pingsan, terjatuh, dan berdarah gitu. Sampai gempar satu sekolah," jelas Rini.
"Hahaha lo nyebutnya kok kayak horor gitu sih, Zyantia gak kenapa-kenapa kok, ya udah ya gue balik dulu," jawab Dean sambil berdiri dan melangkah keluar dari kamar Rini.
"Owh iya satu lagi, kenapa lo sampai tergesa-gesa menuju panggung setelah melihat Zyantia jatuh? Sampai melompat turun dari kursi segela. Memangnya sejak kapan lo sampai perhatian sebegitunya sama Zyantia?" tanya Rini penasaran, tersenyum meledek.
"Hahaha kepo amat sih lo, gue balik ya! Kalau jawab pertanyaan lo terus gak balik-balik nih gue kayaknya," canda Dean sambil melangkah pergi menginjakkan kaki dari rumah Rini.
'lah iya juga ya? Kenapa gue sebaik itu?' bathin Dean heran.
***
Ardio diam di atas kasurnya sambil menatapi langit-langit kamarnya yang langsung seng berlubang yang memantulkan cahaya saat siang dan merintikkan air-air bila turun hujan.
Ardio menyungginkan bibirnya tersenyum tipis meratapi keadaannya saat ini, sambil beranjak dari kasur Ardio melangkah keluar dari kamarnya.
"Mau kemana Nak?"
"Mau ke sebelah ma," jawab Ardio diangguki langsung oleh mamanya.
Ardio melangkah keluar dari rumah dan berjalan ke rumah besar yang ada disebelah rumahnya, selesai membuka dan menutup kembali pagar, Ardio langsung mengetok pintu rumah.
Mama Dean membuka pintu rumah sambil tersenyum tipis pada Ardio. "Ayo masuk Dio!" ajak mama Dean diangguki oleh Ardio.
Mata Ardio terfokus menatap seorang pria yang duduk di sofa ruang tamu sambil membaca koran.
Pria itu melambaikan tangannya pada Ardio. "Ayo duduk di sebelah Paman, Ardio!" ajak pria itu yang tidak lain adalah papa Dean.
"Owh halo Paman Ari, lama sudah tidak berjumpa," ucap Ardio sambil menyalami tangan papa Dean.
"Iya nih, Paman banyak kerjaan di luar. Omong-omong apa sekolahmu baik? Ada pacar gak?" tanya papa Dean sambil tertawa cengengesan.
Wajah Ardio langsung memerah setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh papa Dean.
"Ah... gak kok paman," jawab Ardio sambil menggaruk-garuk tengkuk lehernya.
"Wah dari gelagat kamu kayaknya iya nih. Siapa tuh ceweknya? Lebih cantik dari Dean gak?" rayu papa Dean.
"Dean Pulang!" sorak Dean dari arah pintu masuk. "Owh Dio, ngapain lo ngomong sama orang tua gitu? Gak ada teman lain? Entar cepat tua juga loh," ledek Dean yang berlalu ke arah kamarnya, membopong tas besarnya.
Ardio dan papa Dean menatap Dean dengan tatapan kosong dan mulut yang menganga.
Selesai meletakkan barang-barang nya di kamar, Dean kembali ke ruang tamu dan mendapatkan mamanya sudah ikut nimbrung dengan kedua laki-laki yang disapa Dean tadi.
"Ada apa ngumpul-ngumpul gini?" tanya Dean penasaran.
"Aku pulang!" sorak adik laki-laki Dean dari pintu depan, dia menatap 4 orang yang duduk di meja ruangan tamu dan berlalu begitu saja tanpa menghiraukan mama dan papanya sekalipun.
"Dandra! Papa udah pulang loh! Gak nyambut papa dulu?" tanya papa Dean.
Adik laki-laki Dean yang bernama Dandra itu menggelengkan kepalanya sambil mengayunkan tangan dari belakang dan terus melangkah ke kamarnya. Tidak peduli.
"Hah... Kenapa anak-anakku pada cuek semua?" keluh papa Dean, "owh iya Ma... Putri bungsu kita kok gak keliatan dari tadi?" tanya papa Dean.
"Owh tadi Dona bilang mau ngerjain tugas kelompok di rumah temannya," jawab mama Dean diangguki oleh papa Dean.
"Owh iya Dio, ada masalah keuangan di sekolah?" tanya papa Dean digelengkan langsung oleh Ardio.
"Kalau begitu Dio ke ruang atas dulu ya Paman," ucap Ardio ingin beranjak dari ruang tamu itu.
"Tunggu Dio!" seru papa Dean dengan tatapan yang mengarah ke meja tempat letak korannya itu, "kamu ada hubungan apa dengan Zen, anak dari Daniel?" tanya papa Dean.
Ardio langsung terdiam seketika, berbeda dengan Dean yang kini sedang melotot tajam pada papanya.
"Pa!" seru Dean sambil berdiri dari duduknya.
"Gak ada yang perlu kalian sembunyikan bukan? Lebih baik katakan saja. Ardio, apa kamu tau Zen masuk rumah sakit dan di operasi?" tanya papa Dean diangguki oleh Ardio, sedangkan mama Dean yang dari tadi tidak tau apa-apa menutup mulutnya karena terkejut, "sebelum operasi Zen sempat sadarkan diri dan selalu menggumamkan nama kamu," sambung papa Dean.
Dean menggepalkan erat tangannya, dia tidak tau kenapa bisa sekesal ini. Tapi Dean juga tidak bisa mengeluarkan suaranya di situasi kini.
"Zen... menyebut nama saya Paman?" tanya Ardio nampak ragu.
Papa Dean menganggukkan kepalanya. "Paman sudah lama berteman dengan papa Zen, oleh karena itu saat baru mendarat di bandara tadi Paman langsung dihubungi oleh Papa Zen bahwa putrinya masuk rumah sakit. Apa kamu pacaran dengan Zen?" tanya papa Dean kembali.
Ardio diam dengan pandangan tertunduk.
"Kamu serius pacaran dengan Zen? Sejauh yang paman tau, Zen itu mirip dengan almar--"
"Pa! Sudah Pa! jangan ngungkit hal itu lagi! yang lalu biarkan lah berlalu!" seru Dean menyela ucapan papanya pada Ardio.
Mama Dean mengelus lembut punggung putrinya agar bersabar.
Ardio langsung beranjak dari duduknya. "Paman, Bibi, Dean. Ardio pamit pulang dulu ya," ucap Ardio sambil melangkah pergi keluar. Tidak jadi ke ruang piano.
Dean langsung mengejar Ardio yang nampak sedang menahan air matanya dan tergesa-gesa untuk kembali kerumahnya.
"Pa..." gumam mama Dean menatap sedih suaminya.
Papa Dean memandang kosong ke depan, menatap punggung Ardio yang perlahan menghilang, memperhatikan putri nya yang mengejar laki-laki itu dengan wajah penuh rasa khawatir. Tersenyum tipis dengan sorot mata sayu.