BAB 5

1782 Kata
Pagi ini, olivia sudah rapi dengan baju formalnya seperti orang kantoran pada umumnya. Menyiapkan semua dokumen yang dibutuhkan untuk melengkapi berkas – berkas persyaratan yang diminta. Dan dia siap mendatangi perusahaan yang semalam olivia catat alamatnya setelah mendapatkan pesan untuk melakukan tes lanjutan. Kebetulan memang sangat cocok dengan jurusan yang dia ambil. Sesampainya di perusahaan itu, olivia mengatakan kepada resepsionis untuk menemui bu vera. Sesuai dengan instruksi yang dia dapatkan, mungkin bu vera adalah orang yang  bertanggungjawab dengan urusan calon pegawai baru. Setelah menunggu hampir setengah jam di lobby, akhirnya olivia diantarkan ke lantai 3 oleh resepsionis itu. Lantai dimana kantor bu vera berada. Dengan sopan olivia mengetuk pintu dengan tulisan yang bertulisakan nama dan jabatan bu vera di kantor itu. "Silahkan masuk." Ucap bu vera dari dalam kantor. Mempersilahkan gadis cantik yang terlihat sangat rapi ini untuk masuk. Olivia menyunggingkan senyuman sopan. “Silahkan duduk.” "Perkenalkan nama saya Olivia jasmine. Yang semalam menghubungi ibu via email tadi malam." kata olivia dengan sopan sambil mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan wanita cantik yang mungkin masih berusia awal 40 tahunan. "Langsung saja saya tanya - tanya sedikit ya. Karna ini sebelumnya belum pernah ada pengalaman bekerja, apakah nanti keberatan jika setiap akhir bulan akan ada lembur ?" kata vera berterus terang. Karena memang lowongan yang sedang olivia lamar memang menuntut hal itu. "Saya tidak keberatan bu, setahu saya memang staff keuangan akan sering lembur. Apalagi diawal dan akhir bulan." Olivia memahami dengan maksud yang di sampaikan oleh wanita yang berada di depannya ini. Dalam otak olivia adalah dia hanya ingin segera mendapatkan pekerjaa, dengan segala resikonya. "Baik kalo begitu, bagaimana dengan  kelengkapan yang saya minta kemarin silahkan ditinggal saja. Untuk proses selanjutnya nanti akan dihubungi oleh pihak kantor kami." Jelas vera dengan ramah. "Baik bu, saya mengerti." olivia mengangguk sopan, lalu dia meletakkan kelengkapan data yang diminta dalam map itu di atas meja vera. "Sampai disini saja. Proses selanjutnya akan dikabarkan lagi kurang lebih satu minggu terhitung semenjak hari ini." Olivia mengangguk paham. "Kalau begitu saya permisi kalau begitu bu vera." olivia berdiri sambil menjabat tangan bu vera untuk berpamitan. Setelah keluar kantor itu, olivia menghela nafas. Lalu perasaan khawatir akan hasilnya mulai melanda hatinya, karena ini adalah wawancara pertamanya. Dan nyatanya terlewati dalam waktu yang terbilang sangat singkat. Memikirkannya saja membuat oliv semakin gugup. Akhirnya olivia memutuskan untuk segera kembali ke apartemennya. Mungkin cukup untuk hari ini. Lebih baik dia memikirkannya rencana lain untuk hidupnya di apartmen saja. ** Saat wawancara itu terjadi olivia tidak menyadari bahwa selain dirinya dan vera, ada dua orang lagi yang sedang memperhatikannya. ‘Dasar ceroboh, lagi – lagi dia nggak sadar.’ Batin seorang pria yang memperhatikan olivia yang sedang gugup dari balik dinding kaca yang bisa menembus ke ruangan sebelah. Dan itu hanya di ketahui oleh orang – orang di kantor mereka. Bodohnya lagi olivia juga tidak menyadarinya. “Jadi... siapa dia ?” tanya wanita yang tersenyum melihat tingkah adiknya itu. “Bukan siapa – siapa kak.” Kata juna santai sambil terus memperhatikan gadis itu. “Tapi seorang juna yang ini kayaknya gua nggak kenal. Nggak biasanya lu mau ikut campur buat urusan perusahaan.” “Pasti dia spesial ya ?” tanya yuna penasaran. “Diem aja deh lu, kak.” Jawaban juna ini membuat yuna langsung tertawa. “Kayakanya ada yang lagi jatuh cinta deh.” Ejek yuna. Setaunya adik satu – satunya ini sangat sulit didekati oleh wanita manapun. Yang yuna tau hanya gadis, sahabat juna semenjak kecil yang bisa dekat dengannya. “Dia mirip seseorang.” Kata juna singkat. “Siapa ?” “Mine.” Mendengar jawaban juna itu membuat yuna terdiam. Dan tiba – tiba ingatan akan masa lalu kelam yang terjadi pada adiknya itu lewat begitu saja. ‘Dia bener – bener punya tempat spesial di hati lu, jun.’ Batin yuna sambil menatap kosong sofa didepannya. “Apa lu belum lupain dia ?” tanya yuna. “Belum, terlalu sulit ngelupain dia. Sampe detik ini gua belum bisa ganti dia dengan siapapun.” Terdengar kesedihan yang mendalam dari kata – kata juna. “Tapi kamu nggak bisa samain cewek itu sama dia. Itu bakalan nyakitin buat olivia.” Yuna mengingatkan. “Olivia terlalu mirip sama dia, kak. Sulit hapus bayangan dia.” “Tapi bakal aku coba.” Lanjut juna lagi. “Dari mana kamu kenal olivia ?” tanya yuna penasaran. “Waktu gua meet and greet di Bandung. Dan gadis salah paham sama dia.” “Maksudnya ?” “Kapan – kapan gua ceritain.” “Inget, lu nggak boleh terima dia jadi karyawan disini.” Kata juna tegas. “Terus buat apa dia di wawancara. Lu ada rencana apa jun ?” “Liat aja nanti.” Terlihat senyum juna yang terlihat sangat ikhlas menghiasi wajahnya. Membuat yuna sedikit bersyukur, karena ternyata gadis ini memiliki pengaruh yang baik pada adiknya. ** Sebelum naik ke atas apartmennya, olivia mampir ke cafe yang berada di satu lantai dengan lobby untuk membeli segelas kopi double shot, karena dia merasa sangat stres memikirkan hasil wawancaranya tadi. Tanpa terasa oliv melupakan masalahnya dengan patah hatinya. Sekarang dia benar – benar fokus mencari pekerjaan. Dia ingin segera merubah hidupnya, agar tidak lagi mendengarkan kata – kata mamanya yang penuh dengan racun berbisa. "Mas, caramel latte double shotnya ya." ucap oliv kepada barista cafe. “Berapa gelas ?” tanya barista itu ramah dan penuh dengan senyuman. Membuat siapa saja yang melihat pasti waspada. Tapi olivia lagi – lagi sangat ceroboh karena terlalu suntuk. Tiba - tiba ada yang berdiri disampingnya. Saat menoleh olivia terkejut, karna cowok itu adalah cowok hantu yang selalu berkeliaran beberapa hari ini dalam hidupnya. Cowok yang suka datang dan pergi sesuka hatinya. "Ngapain lu ada disini ? Lu ngikutin gua ?" tanya oliv ketus. Lalu mengalihkan pandangan ke arah lain. "Gila apa ngikutin lu. Lu kira gua nganggur banget sampe kudu ngikutin cewek jutek nan galak kayak lu gini." jawab juna tidak kalah ketus. Dengan wajah yang membuat siapa saja yang melihatnya akan kesal. Dan itu terbukti, karena oliv benar – benar sangat kesal. Olivia hanya memutar matanya karna mendengar jawaban juna. "Dari mana lu pake baju formal gitu ?" "Nyari kerjaan ?" lanjut juna dengan wajah yang dibuat terlihat tidak peduli. Padahal dalam hatinya dia mengetahui semuanya. Ah bukan hanya mengetahui, tapi ini adalah salah satu bagian dari rencananya. "Bukan urusan lu." jawab olivia lagi – lagi dengan nada ketus. Membuat juna bersorak gembira melihat sikap olivia yang mulai uring – uringan. "Daripada kerja dikantoran, mending lu kerja sama gua aja." “Kayaknya lu cocok.” Lanjut juna sambil tersenyum. Siapapun wanita yang melihat senyuman ini pasti akan gemetar hingga pingsan. Tapi olivia ini satu – satunya yang justru kesal melihat senyum di wajah juna. "Gila apa gua kerja sama lu, bisa - bisa gua dijadiin babu sama lu." jawaban oliv membuat juna sedikit geleng - geleng. "Lu jadi cewek bisa nggak jangan mikir jelek mulu. Udah baik gua tawarin kerjaan. Nggak semua bisa kerja sama gua." jelas juna dengan wajah bangga. "Kalo berminat, lu tau kudu telfon kemana." lanjut juna sambil meninggalkan oliv. Disaat yg sama, kopi yg dipesan oliv sudah siap. Membuat olivia mengurungkan niatnya untuk memaki juna. "Ini kak kopi pesanannya. Coba dulu kalo kurang kopi atau gulanya bisa bilang langsung sama saya nanti saya tambahin." ungkap barista cafe sambil membukakan bungkus sedotan untuk oliv. Oliv menerima kopi dan sedotan yang sudah dibukakan oleh barista tersebut. "Gimana kak ? Ada yang kurang ?" barista tersenyum mencoba menarik perhatian olivia. "Udah pas kok mas." jawab olivia jutek. "Yakin nggak ada yang mau ditambahin kak ?" barista itu masih menanyakan hal yang sama untuk menahan olivia agar lebih lama disana. Dan mungkin untuk membuka pembicaraan diantara mereka agar bisa berkenalan lebih dekat. "Yakin mas." jawab olivia semakin jutek sambil meninggalkan cafe. Dari kejauhan juna memperhatikan sikap olivia kepada barista itu sambil tersenyum. Padahal jika barista itu masih terus menahan olivia dia akan turun tangan. “Good job, cewek galak.” Puji juna. Karena sikap jutek olivia itu tidak hanya ditujukan kepadanya saja, mungkin dia bersikap seperti itu hampir kepada setiap pria yang ditemuinya. ** Seminggu berlalu tanpa ada kabar dari perusahaan yang olivia datangi satu minggu lalu. Pupus sudah harapannya untuk segera mendapatkan pekerjaan. "Apa aku nggak lolos seleksi selanjutnya ya." Dia mulai berbicara sendiri sambil memperhatikan ponselnya berulang kali hari ini. Tapi tidak ada tanda – tanda kabar baik akan datang. "Gua harus mencari lowongan yang lain nih." olivia berbicara pada dirinya sendiri sambil membuka laptop. Memberikan semangat pada diri sendiri. Hanya itu yang sekarang bisa di lakukan. "Gila apa ya, ini lowongan kenapa pada nggak nyambung sama jurusan gua semua." "Ini kenapa gajinya dibawah rata - rata untuk ukuran gua yang sarjana sih." oliv semakin emosi saat membuka aplikasi yang menawarkan berbagai macam lowongan pekerjaan itu. Drrt... Drrt... Tiba - tiba hape oliv menyala, ada pesan masuk. Olivia membukanya.         From : mama galak        Gimana ? Udah dapat kerjaan ?        Hampir 2 minggu disana masa nggak ada progres ?        Lupa juga cara ngabarin orang tua.   Olivia membuang ponselnya asal setelah membaca pesan dari mamanya. Semakin kalah sebelum berperang nih gua. Drrt... Drrt... Sesaat kemudian ada pesan masuk dari seseorang. ‘Siapa lagi sih ?’ gerutunya. Dengan malas olivia membuka pesan itu.         From : Ghost boy        Lu udah mikirin tawaran kerjaan dari gua belum ?        Apa sekarang lu udah jadi cewek kantoran ?   Apa - apaan sih dua orang mengirim pesan dengan tema bahasan yang sama. Mereka mungkin jodoh. Heran!! "Apa gua nerima tawaran kerja cowok itu aja ya ?" batin oliv sambil memutar – mutarkan ponselnya. Dia mempertimbangkan hal – hal yang mungkin terjadi jika menerima tawaran pekerjaan dari juna. Padahal pesan yang juna kirim pada olivia itu hanya untuk memastikan bahwa rencananya berhasil dan berjalan lancar. "Kalo gitu urusan sama mama juga nggak bakal seribet ini." "Satu orang yang gangguin gua bakalan berkurang kerjaannya. Satunya lagi pasti kesenengan kalo bisa gangguin gua tiap hari." lanjut oliv dalam hati. Sungguh dia bimbang untuk mengambil keputusan ini. Berjam – jam olivia meyakinkan diri untuk membalas pesan juna. Sambil menimbang - nimbang olivia mengulur waktunya dengan mandi sejenak agar otaknya kembali waras, juga makan agar otaknya juga berjalan lancar. Semakin ditunda entah kenapa perasaannya semakin tidak tenang. Akhirnya olivia menarik nafas panjang dan meyakinkan dirinya untuk mengambil tawaran pekerjaan dari juna. Siapa tahu setelah bekerja dengan juna  bisa menambah pengalaman yang oliv belum dapatkan sebelumnya.            To : Ghost boy            Lu mau gua kerja apa ?  Setelah beberapa saat mengirim pesan ke juna. Tidak kunjung ada jawaban. Olivia semakin tidak tenang. Akhirnya dia mondar - mandir dikamarnya. Hingga sulit tidur, karena dia juga mengecek ponselnya beberapa kali dalam waktu 5 menit. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN