BAB 6

1539 Kata
Karena semalam tidak tidur nyenyak, pagi ini olivia merasa kurang enak badan. Kepalanya pusing, rasanya dia juga sedikit demam. Olivia memutuskan untuk mencari bubur untuk sarapan pagi ini, karena dia terlalu malas untuk menyiapkan makanan. Dia ingin beristirahat seharian ini. "Semua gara - gara cowok itu, harusnya gua nggak usah bales aja itu pesan dia." gerutu oliv dalam hati. Sungguh dia menyesal dengan keputusannya membalas pesan dari juna. Keluar dari lift apartemennya, yang pertama kali olivia temukan adalah wajah tampan pria yang semalam berhasil membuatnya tidak bisa tidur. Dan merasa menyesal semalam telah membalas pesan darinya. Dengan masih memakai piyama dengan cardigan berwarna hitam, rambut dikuncir kuda, dan wajah khas bangun tidur yang telihat sedikit pucat. Dari kejauhan juna memperhatikan penampilan oliv dari atas sampai bawah dengan seksama. "Lu kenapa, muka udah kayak zombie aja" ledek juna sambil tersenyum. Tapi senyum itu lagi – lagi berhasil membuat oliv semakin kesal kepadanya. "Dia nggak tau apa ya gua semaleman nyesel bales pesan dia sampe berakhir susah tidur." batin olivia sambil memasang muka bete mendengar ledekan juna. "Apa sih diajak ngomong cuma diem aja. Kenapa lu ?" juna penasaran karena wajah olivia benar – benar terlihat kesal padanya. Membuat dia mengurungkan niatnya untuk menggoda oliv lebih lanjut. "Gua nggak papa." balas oliv jutek. "Ada yang mau gua omongin, sini duduk dulu." perintah juna sambil menepuk kursi sebelahnya. Olivia sedikit tidak mood jika harus berhadapan dengan juna saat ini. Karena sesungguhnya dia sedang dalam mode saving energi, olivia menuruti juna sambil diam saja. Dan tanpa perdebatan untuk pertama kalinya. Dengan tampang bete tentunya. “Mau ngomongin apa sih ?" tanya oliv tidak sabar, karena juna hanya memperhatikannya saja sejak tadi. "Tentang kerjaan yang kapan itu gua tawarin, gua mau lu jadi asisten pribadi gua." jelas juna santai. “Akhirnya tujuan dari rencana gua bisa sampai di tahap ini juga, tahap yang gua tunggu – tunggu.” "Jadi apa ? Nggak salah denger gua ?" jawab oliv malas. Sebenarnya dia hanya berpura – pura tidak dengar. “Sini.” Panggil juna. “Apa sih ?” olivia semakin kesal karena juna memintanya mendekat. “Sini dulu.” Setelah oliv mendekat, tiba – tiba juna mendekatkan dirinya dan berbisik. “Lu jadi asisten pribadi gua.” Suara yang sangat merdu terdengar di telinga oliv. Membuatnya terlena dalam waktu singkat. Sial !! "Berarti gua sering bareng dia dong kalo jadi asisten pribadinya. Bisa emosi jiwa dan raga terus kalo gini ceritanya." gerutu oliv dalam hati setelah sadar dari buaian suara juna di telinganya. "Jadi asisten pribadi gua, gampang kan cuma persiapin kebutuhan gua aja. selebihnya jadwal dan lainnya udah diurus sama gadis." jelas juna panjang lebar dengan wajah yang sulit diartikan. Tapi dalam hatinya sedang berharap – harap cemas akan jawaban oliv. Kalau dari yang dia perhitungkan seharusnya olivia tidak bisa menolak tawarannya. ‘Jangan - jangan nih cewek jutek nggak mau lagi kerja sama gua, mukanya nggak enak diliat gini. Mana diem aja.’ Batin juna semakin gelisah. "Gua pikir - pikir dulu deh, udah ya gua mau sarapan dulu." jawab oliv yang ingin segera kabur dari juna. "Lu mau sarapan apa, bareng aja. Kebetulan gua juga laper." Juna malah mengungkapkan sesuatu yang oliv tau arahnya akan kemana. "Nggak perlu, gua mau sarapan disana." tunjuk oliv ke arah tukang bubur ayam didepan apartemennya. "Yaudah ayok deh." Juna menuruti oliv untuk makan di tukang bubur depan apartemen. "Yakin lu ? Nggak takut sakit perut apa ? Kalo nanti ada fans yang nyamperin lu gimana ? Atau lu kena gosip sama gua gimana ? Jangan nurunin pasaran gua ya." Jelas olivia yang berakhir dengan ancaman. "Apasih lu lebay banget." ledek juna membuat oliv semakin kesal. Juna bangkit dari duduknya dan segera menarik tangan oliv ke penjual bubur disebrang jalan. Tiba – tiba jantungnya berdetak sangat cepat. Seperti ada yg mau melompat dari dadanya. Berulang kali dia melihat tangannya yang berada dalam genggaman juna. “Ini nggak salah kan ?” "Kenapa perasaan gua aneh ya, jadi deg - degan gini. Ah, mungkin gara - gara nggak enak badan nih perasaan gua jadi gini." batin oliv meyakinkan dirinya baik - baik saja. Bukan sesuatu yang mengkhawatirkan. Disisi lain, perasaan juna juga nggak kalah berdebar. Ketika kulitnya bersentuhan dengan kulit olivia menimbulkan perasaan yang sudah lama tidak dia rasakan lagi. "Kenapa deg - degan gini ya, masa gara - gara cewek ini sih. Nggak mungkin kayaknya gua laper aja jadinya gini." Batin juna meyakinkan dirinya baik - baik saja. Mereka berdua sama – sama menolak debaran yang terjadi di antara kedua pria dan wanita ini. Sesampainya di penjual bubur ayam, juna langsung memesan 2 porsi bubur ayam lengkap untuknya dan si cewek jutek. Saat disadari ternyata tangan juna masih menggenggam tangan oliv. Sikapnya langsung berubah gugup dan melepaskan tangannya dari genggaman oliv. Sedangkan,  Olivia yang menyadari keanehan juna hanya diam saja. "Bang, satunya mericanya banyakin ya." jelas olivia untuk bubur ayam miliknya. "Jadinya dibungkus aja bang." lanjut juna sambil tersenyum ramah ke abang buburnya. "Pasti begini nih akhirnya, nggak bakalan mau nih dia makan ditempat rame kayak gini." batin oliv sambil memperhatikan cowok antik disampingnya ini. Padahal juna merasa sedikit khawatir saat tangannya menggenggam tangan olivia tadi, terasa suhu tubuh wanita itu sedikit hangat. Juna rasa jika oliv memang sedang sakit. "Ngapain lu liatin gua, nanti jatuh cinta bingung lu." goda juna yang dihadiahi cubitan oleh oliv dilengannya. "Gila lu ya, sakit nih. kalo lecet lu tanggungjawab ya. Lengan gua ini juga ada asuransinya. " amuk juna sambil menggosok lengannya yang panas akibat cubitan oliv "Elu yang gila, ngapain gua jatuh cinta sama lu. Sembarangan aja kalo ngomong.” “Gua heran aja kayaknya ada yang dengan percaya dirinya banget ngajakin makan disini, nyatanya dibungkus juga." tertawa keras olivia membuat juna gemas ingin mencubit pipinya. Dia tidak tau saja jika juna sedikit mengkhawatirkannya. Tapi tentu saja tidak akan ditunjukkan olehnya karena tertahankan gengsinya. ** Akhirnya mereka berdua kembali dengan tenang ke apartemen oliv, tanpa di bumbui perdebatan juga. Semua yang melihat mereka jalan bersama pasti akan merasa iri. Karena pasangan pria tampan dan wanita cantik ini terlihat sangat serasi. Sambil memakan sarapannya, oliv mencoba mengumpulkan keberanian untuk membuka pembicaraan dengan juna. "Tawaran gua gimana ? Udah lu pikirin ?" tanya juna yang dibalas helaan nafas lega oliv. "Untung aja dia udah mulai bahas duluan." batin oliv lega, karena dia tidak perlu bersusah payah memulai pembicaraan ini. "Tugas utama gua apaan ? Jadi baby sitter lu ?" tanya oliv masih dengan wajah dan nada yang jutek. "Ya boleh sih kalo mau jadi baby sitter gua. Suapin, mandiin, pakein baju." goda juna sambil mengeluarkan smirknya. Olivia tentu saja kaget mendengar pernyataan juna seketika melotot dan melempar tisu yg suda diremasnya kearah wajah juna. Padahal niatnya hanya ingin bercanda, bagaimana bisa pria itu malah menuruti ide yang sangat gila itu. Juna terkejut hingga memundurkan tubuhnya untuk menghindar. "Gila apa lu!!! Nggak ada kerjaan kayak gitu. Mending gua nganggur aja selamanya." amuk oliv yang dibalas tertawa terbahak - bahak juna. “Kan tadi lu yang nawarin. Gua sih gak masalah.” Kata juna masih menggoda olivia. “Nggak... nggak ada kerjaan kayak gitu. Nggak mau gua.” Omel oliv. "Santai aja, gua juga bukan cowok yang mau dipegang - pegang samasembarang orang. Apalagi cewek kayak lu." jawab juna sambil mencubit kecil ujung hidung oliv. "Kerjaan lu gampang, cuma siapin barang - barang yang gua butuhin selama show diluar dan dalam kota. Jadi, selama gua pergi lu ikut." penjelasan juna membuat oliv terdiam. "....." "Jadi gimana ?" lanjut juna karena olivia tidak segera menjawab pertanyaannya. Sebenarnya dia masih khawatir olivia menolak tawarannya. "Mimpi apa gua semalem, sekalinya dapet kerjaan tapi kudu bareng cowok ini terus. Kasian banget ya yangg nanti jadi istrinya." batin oliv sambil menepuk lengan sebelah kirinya seraya sedang menenangkan diri sendiri. Juna yg melihatnya hanya bingung melihat tingkah aneh calon asistennya ini. "Oke gua coba dulu sebulan, nanti kalo ditengah jalan gua nggak sanggup gua boleh mengundurkan diri kan ?" olivia mengajukan persyaratan untuk melakukan uji coba terlebih dahulu. Sambil memegang dagunya, Juna memikirkan cara agar cewek jutek ini bisa lebih lama berada disampingnya. "Hmm... Kalo setau gua, percobaan awal dikantor itu 6 bulan pertama. Berikutnya bisa dilanjutkan atau putus kontrak tergantung kedua belah pihak." penjelasan juna yang membuat oliv berfikir lagi. “Enam bulan bareng ya, kayak gimana tuh hidup gua. Yaudah deh daripada tiap angkat telfon mama cuma ada caci maki dan air mata. Mending gua jalanin dulu aja kali ya." batin oliv pasrah, karena kesempatan tidak datang dua kali. "Oke. Gua terima tawaran lu. Tapi perjanjian kita harus jelas diatas hitam dan putih. Harus jelas juga gaji dan fasilitas yang gua dapet selama kerja sama lu." Olivia terlihat sangat bawel diluar dugaan juna. Tapi dia senang melihat wanita didepannya ini. Dan yang paling membuatnya bahagia adalah dia akan membuat olivia selalu ada di sampingnya. Setidaknya untuk enam bulan ke depan. "Nggak masalah, gua bisa tulis dan tanda tangan sekarang. Lu siapin aja kertas sama penanya." perintah juna agar masalah ini cepat selesai. Dan olivia bisa segera resmi menemaninya kemana pun. Dengan serius juna dan olivia saling bertukar persyaratan untuk di tulis di kontrak mereka berdua. Akhirnya perjanjian sudah resmi dibuat dan ditanda tangani kedua belah pihak, dan resmilah olivia jasmine sebagai asisten pribadi seorang juna archer. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN