Pagi ini cuaca sedikit mendung, sangat sesuai dan kompak dengan suasana hati oliv yang kini resmi menjadi asisten juna di mulai dari kemarin. Di cuaca seperti ini lebih enak jika bergelung bersama bantal, guling, dan selimut. Tapi jadwal pekerjaan juna selama sebulan ini sudah oliv terima. Bahkan sudah ada beberapa catatan permintaan juna untuk acara yang akan dia datangi tercatat rapi di buku catatan kecil oliv.
Drrt... Drrt...
Tiba - tiba ponsel oliv berdering, dilayar tertera nama juna.
"Halo." jawabnya malas.
"Selamat pagi pemalas, hari ini gua ada fitting buat pemotretan besok siang. Lu buka kamar lu baik-baik atau gua dobrak nih pintu." ancam juna. Membuat olivia langsung mendengus kesal. Bagaimana bisa seseorang ingin datang bertamu tapi dengan sikap yang seperti ini.
"Lu tuh penyanyi terkenal apa preman pasar sih. Ngajak berantem mulu kerjaannya." amuk oliv di telfon sambil berjalan untuk membuka pintu kamar.
Saat dibuka terlihat wajah juna dengan senyum yang cerah, membuat olivia kesal. Terlihat juga pria itu sudah siap dengan pakaiannya yang rapi dan aroma parfum mahal dengan harum semerbak tercium sampai di hidung oliv.
Sedangkan oliv jangan ditanya lagi, tentunya dia masih memakai piyamanya semalam, rambut panjangnya dikepang asal, dan ada beberapa totolan putih obat jerawat diwajahnya. Bagaikan langit dan bumi, siapapun yang melihatnya akan heran. Seharusnya oliv sebagai wanita memiliki sifat yang lebih rajin dari pada juna, tapi ini dia malah jauh lebih pemalas.
"Lu kalo tidur berantakan banget. Liat tuh bekas iler masi disamping bibir." ejek juna sambil memaksa masuk apartemen oliv. Seakan – akan itu miliknya.
Saat oliv menyusul masuk, dia sempat berdiri di standing mirror dekat rak sepatu dibelakang pintunya mengecek apakah yang juna katakan itu benar, dan baru sadar kalau dia hanya dikerjai habis - habisan.
Sampe sekarang pun oliv belum menyadari kalau apartemennya dengan apartmen milik juna hanya berbeda 1 lantai. Bahkan lebih parahnya lagi unit milik juna berada diatas apartemen milik olivia. Sungguh kebetulan.
"Apaan sih gua nggak ileran. Sialan lu." Omel oliv karena kesal sudah masuk dalam perangkap juna, hanya suara tertawa puas juna yang terdengar. Membuat olivia semakin kesal.
"Buruan mandi. 15 menit lagi kita berangkat." perintah juna mutlak tak terbantahkan.
"5 menit lagi juga gua udah siap." jawab oliv sambil masih duduk bermalas – malasan di sofanya.
"Lu nggak mandi apa ? 5 menit udah siap ? Nggak mungkin banget.” Juna meremehkan kecepatan dandan oliv.
“Lu belum lagi dandan, blow rambut, dan ritual lainnya." Lanjut juna panjang lebar, seakan – akan dia tau bagaimana kegiatan para wanita jika harus bersiap – siap.
"Gua udah mandi semalem, antisipasi punya bos kayak lu yang bawelnya nggak ketulungan. Lagian jadi cowok random banget sih, perasaan jadwal masi jam 10. Ini jam berapa masi setengah 8 pagi udah nongol aja, woy." Olivia juga mengomel tidak kalah panjang. Membuat juna menahan senyumannya. Jika olivia sudah mengeluh tentangnya, justru membawa kebahagian tersendiri untuk juna.
"Lu cewek jadi - jadian apa ? Apa sebenernya lu kucing ya ? Jorok banget jadi cewek." Juna semakin mengejek, ditambah dengan tatapan yang membuat oliv risih karna diperhatikan dari atas sampai bawah. Sebenarnya penampilan olivia tidak seburuk itu sih, bahkan tercium aroma khas yang sekarang menjadi salah satu kesukaan juna. Hanya saja dia terlalu gengsi mengakui itu.
Juna lebih senang jika harus berdebat dengan oliv untuk urusan tidak penting seperti ini.
"Biarin aja, yang penting gua selalu wangi meskipun jarang mandi." bela oliv tidak mau kalah atas tuduhan yang juna katakan tadi.
"Udah gila kali ya gua jadiin lu asisten." Juna hanya menggeleng - gelengkan kepalanya melihat kebiasaan asistennya yang aneh itu. Sedangkan oliv sudah beranjak masuk ke kamarnya untuk bersiap - siap.
"Emang lu gila." jawab oliv lirih. Takut jika juna mendengar maka perdebatan ini akan memakan waktu sampai seharian.
Juna mendengar apa yang olivia katakan, tapi dia hanya tersenyum kecil. Merasa gemas sendiri dengan tingkah olivia. Bagaimana bisa seorang juna tidak tersinggung dengan perkataan asistennya sendiri ? Apa dia sudah benar – benar jatuh dalam pesona oliv ?
Tidak sampai 10 menit, oliv sudah siap dengan dandanannya. Sangat simpel. Kaos putih yang agak longgar dengan bagian depannya dimasukkan dan bagian belakang dibiarkan. Lalu, dipadukan celana high waist yang tidak terlalu ketat 10cm diatas mata kaki dengan bagian bawah sedikit rumbai seperti robek natural, sepatu kets yang nyaman, rambut kuncir kuda dengan bagian anak rambut yang dibiarkan membuatnya semakin terlihat sangat sexy dan menarik. Dan juga dandanan tipis tapi terlihat sempurna menghiasi wajahnya.
Jujur saja sebenarnya juna terpesona melihat olivia dengan dandanan sederhana seperti ini. Beberapa kali dia berdehem untuk mengalihkan oliv agar tidak sadar jika dirinya sempat terhipnotis akan pesonanya.
"Gua mau sarapan dulu." kata juna kembali datar. Membuat olivia kembali kesal.
"Mau sarapan apa?" tanya oliv sambil memakai tasnya.
"Menu breakfast di cafe bawah aja." jawab juna santai.
"Oke." Oliv hanya menyetujui bosnya itu, daripada mereka kembali berdebat.
**
Setelah menunggu 15 menit akhirnya menu sarapan yang tadi dipesan sudah tersaji di hadapan merka. Oliv dengan semangat memakan pesanannya. Kebetulan perutnya memang sedang sangat lapar.
"Udah lama nggak makan ya ? Sante aja dong, nggak bakal ada yang ngerebut juga." ledek juna yang langsung dihadiahi tatapan membunuh oliv.
"Setaun udah gua nggak makan, kasian kan ?" jawab oliv sambil berpura – pura sedih akan kehidupannya.
"Iya, kasian banget." Kata juna tiba - tiba mengusap puncak kepala oliv.
Membuat oliv terkejut akan perlakuan tiba – tiba juna. Dia mendongakan kepalanya untuk memastikan bahwa orang yang duduk didepanya ini masih orang yang sama dengan tadi pagi mengetuk apartmennya.
"Dasar cowok aneh, perasaan moodnya agak berubah aneh akhir - akhir ini." batin oliv heran melihat tingkah juna.
"Udah lanjut makan aja sana, daripada nanti pingsan. Gua juga juga yang repot." Suara juna memecah lamunan oliv. Dalam hatinya sudah bersorak gembira karena berhasil mengusap rambut coklat yang sangat halus milik asistennya itu.
"Tuh kan bener, berubah lagi. Dasar cowok aneh." batin oliv sambil melanjutkan sarapannya.
Selesai sarapan juna mengajak oliv kearah lift untuk turun ke parkiran bawah tanah. Biasanya hanya bisa diakses oleh penghuni apartemen yang memiliki kendaraan pribadi.
"Ngapain turun, harusnya kan parkiran lu ada diatas." tanya oliv penasaran. Tapi masih tidak menaruh curiga.
"Mobil gua ada dibawah tuh, ngapain gua ke atas." jawab juna sambil terus berjalan ke dalam lift.
"Lu tinggal disini juga ?" tanya oliv semakin ingin tahu. Jika diingat lagi memang juna sering muncul di sekitarnya. “Jangan – jangan.”
"Kenapa emangnya ? Udah penasaran banget gua tinggal dimana ?" jawab juna sambil tersenyum jahil. Lagi – lagi olivia tidak menyadarinya.
"Ya..... soalnya kan emang cuma penghuni dengan kendaraan pribadi aja yang bisa akses ke lantai bawah." jelas oliv dengan wajah dan suara yang polos, semakin menarik senyuman kecil di wajah juna.
"Nih cewek bener - bener polos atau gimana sih, nggak ada peka - pekanya jadi orang" batin juna sambil menggelengkan kepala. Mengingat memang selama ini dia mengawasi olivia dan dia sangat tau bahwa wanita mungil di sebelahnya ini sangat ceroboh.
"Berisik aja lu. Udah yuk." Juna menarik tangan oliv, mendapat kesempatan menggenggam tangannya lagi. Sedangkan oliv hanya menurut saja dibelakangnya. “Bermanfaat juga kecerobohan nih cewek.”
Sesampainya dimobil, juna membuka pintu mobilnya sendiri dan segera masuk. Sedangkan oliv masi diam memaku mengagumi mobil sport milik juna yang hanya bisa dinaiki 2 orang aja.
"Mau diem disitu terus? Gua tinggal juga nih." Ancaman juna saat kaca mobil penumpang disebelahnya terbuka membuat oliv sadar dan bergegas masuk ke mobil.
Oliv masih terus terdiam sambil berdecak kagum melihat bagian interior mobil juna. Tanpa disadarinya, juna sudah maju kerahnya. Sangat dekat, sehingga oliv otomatis menahan nafasnya dan diam mematung.
"Ma.. mau ngapain lu ?" tanya oliv sambil terbata karena gugup.
Disisi lain, juna sedang menghirup dalam – dalam aroma tubuh olivia yang sangat segar dan menenangkan. Campuran wangi musk khas parfum wanita dengan sentuhan sedikit manis buah.
Juna berdehem mengatur suasana hatinya karna sudah terpengaruh campuran aroma tubuh dan parfum yang ada dalam diri oliv.
"Mundur lu, gua mau masangin seat belt." kata juna sangat tenang tapi membuat siapa saja yang mendengarnya menurut. Otomatis olivia memundurkan tubuhnya ke sandaran kursi.
Jangan tanyakan lagi bagaimana nasib detak jantung olivia, rasanya sudah sampai diujung tenggorokannya hingga sedikit lagi mungkin akan lompat dari mulutnya.
"Aduh perasaan gua apaan sih, masa gini aja grogi." maki oliv dalam hati, dia kesal pada dirinya sendiri.
Diperjalanan pun sangat sepi seperti tidak ada kehidupan didalam mobil itu. Tidak ada yang memulai pembicaraan diantara mereka. Hanya terdengar suara samar mesin mobil. Akhirnya olivia membuka tasnya dan memasang headset ke telinganya untuk mendengarkan lagu.
Tiba - tiba terdengar suara telfon berdering, saat dicek bukan milik olivia melainkan milik Juna. Dilayar poselnya yang terhubung dengan layar mobilnya itu menampilkan nama gadis.
"Iya, halo." terdengar suara manja dan penuh perhatian disebrang sana setelah juna menekan tombol terima.
"Bentar lagi sampe, lu tunggu aja disana."
"Iya."
"Iya."
"Oke. See you." hanya jawaban singkat yang keluar dari mulut juna selama berbicara dengan gadis di telfon. Olivia juga tidak terlalu mempedulikannya.
"Oliv, mulai sekarang lu manggil gua kak Juna." kata - kata juna reflek membuat oliv menoleh ke arahnya.
"Ngapain sih ? Biasanya juga kayak gini."
"Tapi gua kan emang lebih tua dari lu setahun, apa nggak bisa lu lebih sopan sama gua." pernyataan juna kali ini tidak bisa dibantah oleh oliv. Lagipula selama ini oliv memang tidak pernah menyebutkan nama juna.
"Oke... Kak... Juna." oliv tergagap mecoba menuruti permintaan juna.
Setelah itu hanya senyuman puas yang ada diwajah juna.
**