Sesampainya mereka disana di sambut dengan sangat hangat. Tapi hanya juna saja yang mendapatkan perlakuan ini. Tentu saja. Jangan tanyakan bagaimana tatapan gadis kepadanya. Sangat jelas terlihat ketidaksukaan dan sedikit meremehkan.
Dibutik tempat juna fitting baju, olivia hanya memilih duduk didekat meja kasir saja. Karna ada gadis yang sudah sangat repot mengurusi semua keperluan juna. Sampai rasanya olivia tidak berguna sebagai asisten pribadi juna, karna dia tidak tahu apa pun tentang juna. Style kesukaan, baju yang cocok untuk acara ini dan itu, aksesoris yang cocok. Bahkan oliv melihat pantulan didepan kaca pun merasa minder.
"Hanya menggunakan kaos dan jeans begini, sangat santai. Dengan dandanan yang santai pula. Tidak ada yang menonjol dan menarik, bagaimana mungkin seorang juna akan meminta saran darinya." gumam oliv sambil memiringkan badannya ke kiri dan ke kanan mengamati penampilannya.
Tanpa oliv sadari tadi juna sudah mengamati tingkah oliv yang aneh. Lalu memanggilnya.
"Oliv." Membuat gadis menoleh ke arahnya dengan pandangan yang tidak bersahabat.
"Eh, iya kak." jawab oliv sambil menghampiri juna.
"Sudah selesai kak fittingnya ?" tanyanya lagi.
"Gua ada satu tema mengharuskan memakai baju yang sedang banyak dipakai anak muda jaman sekarang." jelas juna kepada oliv tentang tema acaranya.
Juna ingin melihat pendapat oliv tentang tugas pertama kali ini. Mungkin saja pendapat itu bisa dia pertimbangkan.
"Jangan terpaku pada yang biasa aku pakai, lu harus sekreatif mungkin milihnya." perintah juna yang langsung diangguki oliv.
"Oh ya, bajunya harus terlihat santai tapi bukan yang berbahan kaos. Sedikit lebih santai tapi tetap terlihat formal disaat bersamaan, tetapi enak dilihat dan paling penting banyak digunakan anak muda jaman sekarang." lanjut juna panjang lebar.
Olivia terlihat serius memilih baju yang diminta juna, dengan semua penjelasannya yang menurutnya terlalu banyak permintaan dan sejujurnya sedikit membingungkan bagi olivia. Karna selama ini dia tidak pernah serepot ini untuk memilih harus menggunakan baju apa.
Akhirnya pilihan olivia jatuh kepada kemeja lengan pendek dengan motif yang sangat santai tetapi untuk acara formal masi bisa dipakai dipadukan dengan jas, dan yang terpenting motif ini adalah style anak muda jaman sekarang. Saat menyerahkan bajunya kepada juna. Tiba - tiba gadis datang membawa sebuah kemeja pendek juga yg dipadukan dengan sweater yang terlihat santai dan formal secara bersamaan.
"Jun, ini aja lebih cocok buat kamu." sambil menyodorkan kearah juna, dan mengambil kemeja pilihan olivia. Oliv memundurkan langkahnya.
Melihat perilaku gadis yang sangat perhatian kepada juna membuat oliv sedikit kecewa.
"Masa gua sedih gini, bahkan bener - bener terulang kalah sebelum berperang lagi. Cuma perkara baju aja gua nggak becus." batin oliv sambil pura - pura melihat kemeja yang lain agar tidak terlihat kecewa.
Juna melihat raut wajah olivia yang kecewa memutuskan untuk mencoba kedua kemeja tersebut.
"Gua juga mau coba baju yang lu ambil itu, biarin asisten gua juga belajar untuk mengatur style yang cocok buat gua." juna berdiri mengambil kemeja pilihan oliv dan pilihan gadis.
Sambil berjalan menuju ruang fitting, gadis sudah mengekor dibelakang juna seraya tidak mau berjauhan dengannya.
Oliv yang melihatnya hanya kembali berjalan kearah tempat duduknya tadi.
"Liv, coba tolong carikan bawahan dan sepatu yang cocok dengan kemeja ini." perintah juna kepada oliv yang diangguki tanda mengerti. Oliv lalu bergerak mencari celana dan sepatu yang cocok dengan kemeja pilihannya tadi.
Gadis menyadari sesuatu saat melihat perlakuan juna kepada oliv sedikit berbeda, membuatnya merasa kalah. Dan otomatis langsung membuat oliv menjadi salah satu ancaman untuknya.
"Ini gua udah ambilin bawahan dan sepatu yang cocok buat kemeja pilihan gua. Lu coba deh jun." sodor gadis pada juna dengan nada sedikit manja dan terlihat dibuat - buat.
Oliv melihat adegan itu hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar karena tiba - tiba dia merasa kesal dan ingin marah. Sepertinya ada yang salah dengan diriya.
Juna keluar menggunakan kemeja, bawahan, beserta sepatu pilihkan gadis. Ada perasaan bangga gadis seperti ingin menunjukan kepada oliv, bahwa pilihannya tidak akan salah. Dan juna akan selalu menyetujui pendapatnya.
"Gua agak ngerasa nggak nyaman dengan baju ini, harusnya lebih santai karna acara kita dioutdoor, dalam malam hari. Di musim sekarang ini sepertinya akan terasa sangat gerah." Jelas juna hati - hati agar gadis tidak tersinggung sambil mencoba melonggarkan kerah kemejanya. Terlihat memang tidak nyaman di pakai.
Saat kembali kedalam ruang fitting, tiba - tiba juna memanggil oliv untuk masuk juga ke ruangan itu. Ketika didepan ruang fitting olivia mengetuk pintunya, dia dengan ragu memanggil juna memastikan bahwa juna tidak sedang mengganti bajunya.
"Kak, udah dipake belom bajunya ?" tanya oliv saat juna tak kunjung menjawab panggilannya.
"Masuk aja." perintah juna yang dituruti oliv.
Didalam ruangan ganti terlihat juna sudah mengunakan kemeja, bawahan jeans putih, dan sepatu boots yang terlihat sangat pas dibadan proporsional juna. Menunjukkan otot di lengannya membuat semua wanita yang melihatnya menjerit histeris.
Tiba - tiba juna maju selangkah kearah oliv, otomatis membuat oli mundur. Tapi karena ruangan itu tidak terlalu besar oliv membentur dinding pembatas.
"Coba lu lihat, ada yang kurang nggak sama style gua." perintah juna membuat oliv mengamati ulang dari atas ke bawah, samping kanan ke samping kiri.
Olivia reflek maju dan mengarahkan tangannya untuk membuka 3 kancing teratas kemeja juna, yang membuatnya memperlihatkan d**a bidang miliknya. Lalu, olivia berjongkok membenarkan tali sepatu boots yg digunakan juna dan memasukkan kedalam celana jeans putih milik juna yang sangat pas mengikuti lekuk kakinya. Setelah itu oliv mengarahkan pandangannya kembali ke arah kemeja yang dipakai juna.
"Kak, coba kemeja bagian depan dimasukin aja kecelana jeansnya. Kayak gini." Tunjuk oliv kearah cara berpakaiannya hari ini.
Juna hanya menuruti kata - kata olivia. Dan mengarahkan pandangannya ke kaca dibelakangnya.
"Kayak gini maksud lu, liv ?" tanya juga sambil merapikan kemeja bagian belakangnya.
"Kayaknya udah nggak perlu aksesoris lagi kak, karena kemejanya sudah bermotif." Lanjut oliv sambil mencuri pandang ke arah juna. Pria di depannya ini terlihat sangat tampan dan menggoda.
Dibelakang mereka sedang ada gadis yang kepanasan karena merasa tersaingi dengan keberadaan oliv. Juna yang tidak terlalu menyadari bahwa gadis sedang uring - uringan dibelakangnya, masih asik merapikan rambutnya untuk disesuaikan dengan style yang dipilihkan olivia untuknya.
"Kak, mungkin nanti rambutnya bisa kayak gini." olivia menyodorkan ponselnya yg menampilkan sedikit referensi gaya rambut artis korea yang cocok dengan style dan bentuk wajah juna yang tegas.
Lagi pula style rambut pilihan oliv terlihat sangat simpel dan lebih rapi, hanya rambut yang diberi sedikit wax dan disisir mengikuti belahan rambut pemiliknya kesamping. Juna yang mempertimbangkan referensi dari oliv mencoba meniru gaya rambut yang cocok untuknya, agar ada gambaran akan cocok atau tidak jika diaplikasikan padanya.
"Kayak gini kan, sesuai sama referensi yang lu kasih tadi." Juna menoleh sambil masih merapikan rambutnya sesuai contoh.
Olivia maju memperhatikan apa yang kurang, tanpa sadar oliv berjinjit untuk merapikan rambut bagian depan juna. Olivia memang tidak terlalu tinggi, bahkan bisa dibilang sangat mungil jika berdekatan dengan juna.
Juna juga reflek menundukan kepalanya, agar sejajar dengan tinggi oliv.
"Nah begini aja kak, lebih cocok sama kak juna." tangan olivia masi merapikan dengan sabar rambut juna yang sedikit sulit diatur karna terlalu halus.
Dibelakang mereka masih ada seorang wanita yang semakin kebakaran jenggot melihat pemandangan didepannya ini.
"Gua udah bertaun - taun jadi temennya juna, bahkan udah kerja bareng dia nggak pernah tuh juna memperlakukan gua sebaik sama cewek itu." batin gadis sambil melipat tangannya didada. Dia sangat kesal. Kalau begini dia benar – benar menaruh olivia di daftar merah sebagai ancaman untuknya.
Gadis akhirnya tidak tahan melihat pemandangan tersebut pun maju ke arah juna dan oliv.
“EHEM!!” dia berdehem untuk menganggu kedu orang didepannya ini.
"Jun, lu jadi pake baju pilihan siapa ?" tanya gadis sewot.
Juna dengan santai berbalik menghadap kaca, sambil memastikan bahwa dia sangat nyaman dengan baju yang dipilihkan olivia.
"Gua pake baju ini aja, lebih cocok dengan tema acaranya. Dan lagi pula gua nggak pernah pake style kayak gini." Jelasnya.
Gadis mendengar keputusan juna, akhirnya sadar bahwa hari ini dia kalah telak dari cewek jutek yang baru saja merebut perhatian juna. Hanya bisa menahan amarahnya, gadis akhirnya menyelesaikan urusan kostum juna untuk beberapa acara.
"Dis, udah selese kan ? Gua langsung balik aja ya. Nanti malem kita ketemu ditempat biasa bareng anak - anak." tanya juna yang barusan saja selesai berganti pakaian miliknya. Gadis hanya melambaikan tangan tanda setuju. Sudah cukup untuk hari ini, dia tidak bisa menahan lagi melihat wajah oliv.
Tanpa terasa hari sudah sore. Juna akhirnya memutuskan untuk kembali ke apartemen. Setelah berpamitan dengan pemilik butik dan gadis tentunya.
Didalam mobil, juna membuka pembicaraan.
"Liv, nanti malem gua ada acara kumpul bareng temen - temen gua,"
"Dan lu harus ikut." lanjut juna.
"Acara dimana kak ? Apa dadakan ? Kenapa gua harus ikut kak ?" tanya oliv sambil menoleh ke arah juna yang sedang serius menyetir.
"Di Bar one night. Lu bisa nyetir mobil kan ?"
"Gua jaga - jaga aja mabuk, jadi gua pastikan lu bisa nyetir dan ikut gua ke acara itu." penjelasan juna sangat bawel menurut oliv, sampai oliv tidak memiliki kesempatan untuk memberikan respon dan menolak.
"Iya." Hanya satu kata yg keluar dari mulut oliv. Tubuhnya sudah terlalu lelah jika harus berdebat dengan juna lagi untuk urusan ini.
"Jangan pake baju yg terlalu terbuka, gua nggak mau lihat asisten gua bukannya nemenin malah tebar pesona disana. Inget ini bagian dari kerjaan lu." kata juna membuat oliv geram. Sudah tiba – tiba memaksa ikut, dengan syarat pula. Yang paling parah bisa – bisanya dia berpikir bahwa oliv akan tebar pesona.
"Lu kira gua cewek apaan kak ? Seenaknya aja nuduh. Bahkan kita aja belum pernah ke club bareng." jawab oliv mulai tersulut emosi.
"Bagus kalo lu tau. Gua nggak perlu ngajarin lagi." jawab juna santai. Langsung mendapat hadiah lirikan maut dari oliv, tetapi juna tidak terlalu memperdulikannya.
**