“Oh, h-hai,” sapaku balik, sedikit canggung. “Namaku Christine. Aku yang berada di rumah sakit waktu itu. Apa kau ingat?” Bohong kalau aku bilang tidak karena selama ini sosoknya yang selalu mengganggu pikiranku. “Ya. Aku ingat,” jawabku. “Oh, baguslah. Apa aku bisa berbicara denganmu sebentar?” “Ya, masuklah,” kataku sambil menyisihkan posisiku agar ia bisa masuk ke dalam rumah. “Oh, sebenarnya, jika kau tak keberatan, aku ingin kita berbicara di luar.” Setelah melihat ekspresi terkejutku, ia segera menambahkan, “Jika tak bisa, tak apa-apa.” “Tidak. Aku bisa,” jawabku segera. “Oh, baiklah. Jika kau tahu tempat yang bagus untuk berbicara berdua, kau bisa tunjukkan padaku nanti. Akan kutunggu di mobil,” katanya dan menunjuk mobil miliknya yang diparkir di depan rumah dengan ibujariny

