Dari sekian banyak mimpi yang pernah kuimpikan di masa kecil, melihat Jonathan membuka matanya dan menatapku adalah mimpi baruku akhir-akhir ini. Meskipun awalnya aku begitu yakin bahwa mimpi baru ini akan terwujud, kurasa aku harus menelan itu secara pahit bahwa aku tidak akan pernah melihatnya lagi. Ya, tidak akan pernah lagi. Setelah sekolah berakhir, aku dan Ian pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Jonathan. Ketika aku menuju kamarnya, aku tidak melihat dua penjaga yang sebelumnya menjaga kamarnya. Keadaan di depan kamar itu sangat sepi. Melihat kejanggalan itu, aku berlari menuju kamarnya. Dan benar saja, kamar itu sudah kosong. Aku memastikan sekali lagi nomor kamarnya jika saja aku salah kamar. Tapi tidak, itu kamar yang benar. Aku segera berlari turun, mengabaikan Ian yang terus

