“Aku pulang.” Kulihat ibuku yang sedang memasak di dapur untuk makan malam. Ia menoleh padaku sesaat dan menyambutku, tapi aku hanya memberikan senyuman sesaat padanya dan naik menuju ke kamarku. Aku sempat melihat ekspresi keheranan yang ditunjukkannya. Aku melepas ranselku dan menjatuhkannya ke lantai begitu saja, lalu menjatuhkan tubuhku yang lelah ke atas tempat tidur. Aku menghela napas dengan berat lalu membuka mataku yang tadinya terpejam. Pada akhirnya aku kembali menitipkan bunga itu. Mungkin, mungkin ini waktunya bagiku untuk berhenti. Sebuah ketukan di pintu mengejutkanku, membuatku sedikit menegakkan tubuhku dan menoleh ke belakang. “Ya?” “Boleh Ibu masuk?” “Ya. Pintunya tidak kukunci,” kataku. Detik kemudian ibuku membuka pintunya, lalu kepalanya melongok ke dalam. Ia t

