Aku menyentuh tulisan di cermin itu dengan seksama. Tulisan itu seperti yang ada di film-film horror, dibuat dengan pewarna bibir. Aku melihat ke bawah dan kudapati meja riasku sangat berantakan. Pewarna bibir yang kuyakini digunakan untuk menulis tulisan itu juga tergeletak disana. “Astaga, apa yang terjadi?” gumamku. Kulihat dari sudut mataku seseorang berjalan masuk ke dalam kamar. Aku menoleh dan melihat bahwa itu adalah Jonathan. Dia berjalan mendekatiku. “Sayang, bagaimana keadaanmu?” tanyanya menyentuh lengan atasku. Aku menautkan kedua alisku. “Apa yang terjadi denganku?” tanyaku balik. Kini Jonathan yang menautkan kedua alisnya. “Kau…” ucapnya ragu. “Ini aku,” kataku. “Oh. Kau kembali lagi,” katanya. Kini reaksinya sudah tidak lagi terlalu terkejut. “Apa yang terjadi padak

