1. AWAL PERTEMUAN
***
Angin malam Jakarta berdesir melalui celah jendela apartemen Mitha yang sempit, membawa serta suara gemuruh kota yang selalu sibuk.
Di atas meja kerjanya yang berantakan, laporan medis tergeletak bagai potongan hukuman mati.
Huruf-huruf itu menari-nari di pandangannya:
Sirosis, Pengerasan hati.
Stadium awal. Perubahan gaya hidup diperlukan.
"Perubahan gaya hidup," Mitha menggerutu, meremas kertas itu sebelum melemparkannya ke tempat sampah.
Tapi kata-kata itu tetap terbakar di benaknya. Apa lagi yang harus diubah? Hidupnya sudah berubah drastis tujuh bulan lalu, ketika Andre, tunangannya, mengangkat tangan untuk pertama kalinya. Satu minggu sebelum hari pernikahan mereka. Satu pukulan yang menghancurkan ilusi tujuh tahun mereka bersama.
Teleponnya berdering, memecah kesunyian. Foto ibu dan kedua adiknya tersenyum, muncul di layar.
"Mitha, kamu sudah transfer untuk bulan ini?" suara ibunya langsung menohok, tanpa salam.
"Iya, Ma. Tadi siang."
"Bagus. Adikmu butuh obat baru, katanya lebih mahal. Dan adik laki-lakimu minta uang untuk study tour. Kamu bisa, kan?"
Mitha menutup matanya. Rasa lelah yang mendalam menggerogoti tulang-tulangnya. "Aku bisa usahakan, Ma."
"Usahakan? Mitha, kamu jangan egois. Keluarga ini tergantung padamu. Kalau kamu menikah nanti, siapa yang akan..."
"Aku tidak akan menikah, Ma," potong Mitha, suaranya datar. "Sudah kubilang."
Diam sejenak di seberang sana. Lalu, suara ibunya kembali, lebih keras.
"Jangan ngomong begitu! Kamu harus menikah! Apa kata tante? Dia sudah carikan kamu calon yang bagus, anak pengusaha. Kamu mau keluarga kita dikasihani terus?"
Tante. Selalu tante. Kakak mamanya yang dianggap sumber segala kebijaksanaan, sementara Mitha yang membiayai hidup mereka semua dianggap belum cukup pengalaman.
Jujur, Mitha seringkali merasa bingung, kadang ibunya terlihat ingin ia menikah, dan kadang pula seolah ingin dirinya tidak pernah menikah dan meringkuk bersama keluarga. Alasannya selalu sama, Kalau kamu menikah kami bagaimana? Siapa yang jaga Naya? Kalau calonmu kurang tepat, mapan, bagaimana mama menjelaskannya pada Tante? Pada keluarga besar?
Untuk kesekian kalinya, ia muak.
"Ma, aku lelah. Kita bicara lain kali." Ia menutup telepon sebelum ibunya membalas.
Pandangannya tertuju pada foto dirinya dan Andre yang masih tersimpan di rak buku, tertutup debu. Senyumnya di foto itu tampak naif. Percaya pada cinta. Percaya pada pernyataan, 'sampai maut memisahkan'. Ternyata, maut belum datang, tetapi tangan yang seharusnya melindungi justru menjadi alat penghancur. Tapi ketimbang fisiknya yang sakit, hatinya justru jauh lebih terluka.
Dia bangkit, berjalan menuju cermin di kamar mandi. Wanita berusia 27 tahun itu menatap balik pantulan dirinya. Mata cokelat yang dulunya penuh api, kini redup. Tubuh langsingnya terlihat semakin kurus akibat stres dan jam kerja yang tak manusiawi. Rambut cokelat bergelombangnya terlihat kusut.
Paramitha Jayadi, bisiknya dalam hati. Kamu siapa?
Hanya seorang staff yang bekerja keras meniti karir hingga dua tahun lalu ia menduduki jabatan HRD Manager, tulang punggung keluarga, mantan korban KDRT, dan kini, seorang calon pasien sirosis. Sederet daftar identitas di atas tidak ada satu pun yang ia pilih. Ia hanya seorang Mitha, wanita biasa dan bukan siapa-siapa.
Dengan tiba-tiba, sebuah dorongan liar muncul dari dalam dirinya. Sebuah pemberontakan terhadap segala aturan, terhadap semua kewajiban, terhadap nasib buruk yang terus menerpa.
Jika aku harus mati, pikirnya dengan getir, maka sebelum itu, aku ingin merasakan hidup. Hanya untuk diriku sendiri. Sekali saja.
Dia tidak pernah 'melakukannya'. Selalu menjadi anak baik, pacar yang setia, tunangan yang patuh. Tapi apa artinya semua itu? Hidupnya berada di ujung tanduk, tanpa memberinya pilihan dan hanya memaksanya untuk menerima keadaan.
Mitha membuka lemari pakaiannya. Matanya tertuju pada sebuah gaun hitam sederhana yang belum pernah dia pakai-hadiah dari rekan kerja yang dia anggap terlalu 'berani'. Gaun itu sederhana, tetapi potongannya menggoda, membentuk lekuk tubuh.
Malam ini, dia akan menjadi orang lain. Bukan Mitha yang bertanggung jawab. Bukan Mitha si korban Kdrt, Hanya seorang wanita anonim yang ingin merasakan panasnya pelukan, dan mungkin, kehilangan ‘sesuatu’ yang sudah terlalu lama dia jaga tanpa alasan yang jelas.
Dia mengenakan gaun itu. Merias wajah dengan lebih tegas dari biasanya. Bibir merah marun. Dia menatap dirinya lagi di cermin. Ada kilau asing di matanya. Kilau keputusasaan yang diselubungi keberanian palsu.
Dia mengeluarkan segepok uang dari dalam tas nya. Tidak terlalu tebal, tabungan rahasianya yang sedikit. Cukup untuk menyewa 'teman' semalam di klub eksklusif yang pernah dia dengar dari obrolan rekan kerja.
Tempat di mana uang bisa membeli ilusi cinta, atau setidaknya, pelarian.
***
Jakarta malam itu terlihat berbeda melalui kaca taksi online. Lampu-lampu neon berkedip seperti bintang-bintang palsu seolah menjanjikan harapan tinggi yang tak mungkin bisa digapai. Hati Mitha berdebar kencang, campuran rasa takut, mual, dan gelisah.
Klub "Elysium" berdiri megah seperti kuil bagi para pencari pelarian. Suara musik bass yang menggema terasa seperti detak jantung kota yang sakit. Mitha menarik napas dalam-dalam, merasakan aroma parfum mahal, alkohol, dan kebebasan yang hakiki.
"Saya... saya sudah reservasi," katanya pada pria berbadan besar di depan pintu, suaranya hampir hilang di tengah keriuhan.
Pria itu memeriksa daftar. "Nama?"
"Mitha," jawabnya, menggunakan nama panggilan saja.
"Ruangan 304. 'Layanan' yang Anda pesan sudah menunggu."
'Layanan'... Klub kelas atas memang beda, menyebut gigolo saja sangat sopan dan halus, batinnya.
Mitha mengangguk, tangannya berkeringat. Dia menekan tombol lift, gugup, merasa seperti akan memasuki suatu tempat keramat dan tidak akan bisa mundur lagi.
Tapi itu yang dia inginkan, bukan? Untuk tidak bisa kembali.
Lift terbuka di lantai tiga, koridor yang lebih sepi dengan karpet tebal yang menelan setiap langkahnya. Dia mencari nomor 304. Namun, pandangannya sedikit blur karena ketegangan dan seteguk vodka yang dia teguk di bar bawah untuk memberanikan diri.
Dia melihat sebuah pintu yang sedikit terbuka. Nomor 309. Tapi dalam pikirannya yang sudah berkabut dan pengaruh alkohol, angka itu berubah menjadi 304.
Ini dia, pikirnya. Titik tidak kembali.
Dia mendorong pintu itu dan masuk.
Ruangan itu bukan ruangan VIP standar. Ini lebih seperti suite mewah. Lampu temaram, aroma sandalwood dan sesuatu yang maskulin-parfum mahal.
Dan di sana, di sofa kulit berwarna hitam, duduk seorang pria.
Bukan tipe pria 'Layanan Plus Plus' yang dia bayangkan.
Pria itu mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung hingga ke siku, memperlihatkan lengan yang berotot dan sebuah tato samar di pergelangan tangan.
Celana hitam yang sempurna membungkus kakinya yang panjang.
Wajahnya... wajahnya seperti diukir dari marmer dingin. Tulang pipi tinggi, hidung mancung sempurna, dan matanya...-Mitha terkesiap-mata pria itu berwarna abu-abu seperti awan mendung, menatapnya dengan dingin dan intensitas yang membuatnya membeku.
"Salah kamar," kata pria itu. Singkat, dingin.
Suaranya. Oh Tuhan, suaranya. Serak, dalam, dan mengiris seperti pisau yang diusapkan di atas kulit. Bahkan dua kata itu saja terasa seperti penghinaan.
"Saya... maaf. Saya cari 304," gumam Mitha, ingin segera lari.
Tapi pria itu tidak mengalihkan pandangannya. Mata abu-abunya menyapu Mitha dari ujung rambut hingga ujung kaki, lambat, menghakimi.
"304 di ujung sana. Tapi berdasarkan tampilanmu yang seperti anak kecil yang tersesat, sepertinya kamu memang mencari ruangan ini."
Sarkasmenya menusuk. Mitha merasa pipinya memerah. "Apa maksudmu?"
"Kamu masuk ke ruanganku, mengenakan gaun yang terlihat berusaha terlalu keras, dengan wajah yang jelas-jelas mengatakan kamu tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya." Ezra menyandarkan tubuhnya, mengambil segelas wiski di sebelahnya. "Jadi, apa maumu? Kiriman dari kakek? Atau kamu bagian dari permainan membosankan yang direncanakan teman-temanku?"
Mitha menggigit bibirnya. Rasa malu berubah menjadi kemarahan. Ini bukan awal yang dia rencanakan. "Saya bukan kiriman siapa-siapa. Saya hanya salah kamar. Dan sebagai informasi, cara bicara anda sangat tidak menyenangkan."
Ezra mengangkat alisnya, sedikit tertarik. Sebuah senyuman tipis, tanpa kehangatan, muncul di sudut bibirnya. "Ooh, ada duri. Menarik. Biasanya wanita yang dikirim ke sini langsung menangis atau berusaha merayu."
"Saya bukan 'wanita yang dikirim' ke mana pun!" hardik Mitha, rasa frustrasi hidupnya akhirnya menemukan sasaran yang tepat.
"Dan anda tahu apa? Anda mungkin kaya dan tampan, tapi kepribadian anda sangat menjijikkan. Selamat menikmati kesendirian anda!"
Dia berbalik untuk pergi, tangannya sudah di gagang pintu.
"Tunggu."
Suara itu membuatnya berhenti, bukan karena permintaan, tetapi karena perintah yang terpancar darinya.
Pria itu mengangkat kepala, menatap tajam padanya. Seulas senyum miring terukir si sudut bibir ketika ia berkata,
"Kamu sudah menggangguku. Setidaknya, beri kompensasi."
***