Sudah seminggu aku ga bertemu kak Edo dan selama itu pula dia ga ada kirim kabar tentang keadaannya, huft... mungkin dia lagi bahagia bahagianya berbulan madu, aku memandangi langit langit kamar yang terasa sepi.
Bayangan aku memadu kasih dengan kak Edo kadang masih suka menari nari di pelupuk mata, ya Allah.. aku rindu.
Aku bangun kesiangan, untung Silvi membangunkan aku untuk menjemputku ke kantor, senang punya gocar cantik hehehehe gratis pula. Sekarang pandangan orang orang dikantor tak aku gubris, aku harus semangat mencari uang. Adikku perlu biaya kuliah, jika aku ga kerja aku ga bakal dapat gajih, so life must go on Rena.
"Pagi mba Rena cantik" goda Bayu saat melihat aku sudah rapi dengan seragam koki baruku. Bu Mia mempromosikan aku jadi asisten koki di kantor, soalnya karyawan banyak yang senang dengan hasil masakanku, mungkin kalau mereka tahu aku yang masak bakal lain ceritanya hehehe, terutama karyawan cewe yang suka menggunjingku. Tapi biarlah, point utamanya yang terpenting adalah karena sekarang aku jadi asisten koki bukan cleaning service lagi maka bulan depan gajihku akan naik kata bu Mia, kabar gembira bukan.
Aku tersenyum mendengar pujian Bayu.
"Mba Rena iki kalo ketawa tambah ayu loh, bener kan bu Mia?"
"Sudah sudah, pagi pagi ko ngegombal, sana kerjain tugasmu bersih bersih" perintah bu Mia. Aku dan Bayu hanya tertawa melihat bu Mia.
Aku melihat sekilas ke tidak sukaan mba Silla tapi biarlah lama lama juga bakal baik sendiri.
Hari ini ada meeting besar, bahas tentang proyek kerja sama dengan perusahaan dari Singapure. Aku sibuk seharian, jam istirahat badanku letih. Aku sedang menuju ke toilet saat ada tangan kekar membekapku dan membawaku ke ruangan penyimpanan dokumen. Aku meronta dan berteriak teriak, bayangan penculikan menari nari di pelupuk mata, ah lebay.
"Ini aku"
Aku membelalak saat terdengar suara orang yang membekapku, itu suara yang akhir akhir ini aku rindukan.
"Kak Edo!"
Dia menarikku dalam pelukannya, dia ciumi aku dengan intens. Kulihat wajahnya sangat berantakan, wajahnya yang klimis banyak ditumbuhi bulu bulu halus.
"Aku kangen" dia benamkan wajahnya ke tengkukku.
"Maaf aku ga ada ngabari kamu seminggu ini" lanjutnya.
"Gimana pernikahannya? berjalan lancar?" aku mencoba mengurai pelukannya.
"Ga usah membahas itu, mulai besok aku ga akan kemana mana" erat dia peluk aku tanpa mau melepaskan, aku mengeliat.
"ini di kantor kak, nanti dilihat orang"
"Aku ga peduli"
Ketidakpedulianmu bikin aku digunjing orang tau, pengan rasanya aku mengumpat. Menumpahkan kekesalan pada manusia batu satu ini.
"Nanti pulang bareng aku, oke? aku tunggu kamu di parkiran"
"Hmmm" entah hatiku sekarang lagi tak menentu.
Setlah kak Edo melepaskan pelukannya aku segera keluar dari tempat yang terasa pengap itu dan mencoba mengatur nafasku senormal mungkin, agar tak dicurigai orang yang melihatku.
"Kamu dari mana aja sih? di cari dari tadi ga ada!" suara ketus mba Silla mengagetkanku.
"Aku dari toilet, sakit perut, mba" jawabku ngasal.
Dia menatapku curiga "Kamu mau membodohiku, hah? aku barusan dari toilet dan kosong ga ada orang"
"Ehem" suara deheman seseorang mengagetkanku dan mba Silla
" Edo?" mba Silla terpaku melihat kak Edo dan Rudi sudah berdiri disampingku, akupun kaget dibuatnya.
"Renata habis menemuiku, apa kamu keberatan?"
"Menemuimu? jadi benar gosip diluar sana kalau dia perempuan simpananmu" tatapan ketus mba Silla tertuju padaku.
Aku diam seperti kambing ompong, gosip bakal menyebar lagi, berharap kak Edo ga ngomong macem macem ke mba Silla. Menurut berita yang kudengar, mba Silla itu teman masa kecil kak Edo makanya dia berbicara santai padanya.
"Bayu!!" aku berteriak saat melihat Bayu lewat dengan peralatan tempurnya. Aku meninggalkan mba Silla dan kak Edo, berlari menuju Bayu.
"Kenopo toh mbak? kok lari lari kaya anak kecil wae"
"Enggak, cuma mau bantuin kamu" kataku berdalih. Kulirik mereka menatapku, apalagi kak Edo tatapan tajamnya membuat aku begidik.
"Ayo yu, ku bantuin" kuambil alih ember yang dipegang Bayu.
"Turnuwon yo" seakan ngerti dengan situasiku, Bayu tak banyak protes. Aku dan Bayu berjalan beriringan menuju pantry.
"Entar sore jalan jalan yok, yu?"
"Jalan jalan neng endi?"
"Ke Mall kek, ke pantai kek, yang penting jala... suntuk aku"
"Lah tadi mba Rena ga liat tatapan mematikan suamimu, engko aku dicincang koyo opo?"
"Jadi kamu ga mau?"
"Ya... mau lah, la wong wanita cantik yang ngajak jalan aku" jawabnya sumringah.
"Nanti pulang kerja bareng ya, aku nungguin kamu selsai"
"Siap" Binar dimata Bayu membuat aku jadi sedikit bersalah.
Bayu hanya pelarian buatku dari kak Edo, karena dia mengajak aku pulang bareng perasaanku jadi tak menentu. Aku malah pengen ga pulang malam ini, ah entahlah aku pusiangggg.
***
Sudah pukul sembilan malam, aku dan Bayu asik makan di restoran cepat saji di mall, Silvi sedang ada keperluan makanya dia ga gabung tadi. Selsai makan Bayu mengantarku ke apartemen, motornya berhenti di depan gedung.
"Makasih ya, yu! sudah nemenin aku jalan" kataku sebelum berbalik pergi. Ku serahkan helm yang ku pakai dan jalan masuk.
"Mbak!"
Aku menoleh saat ku dengar suara Bayu memanggi.
"Lek ada apa apa hubungi aku"
Aku tersenyum dan melambai padanya, menyuruhnya untuk pulang.
Sampai di depan apartemen aku terpaku, ku pencet sandinya dan masuk. Ruangan terasa sunyi, harum masakan tercium dari dalam.
Kulihat lelakiku sedang duduk di pantry bar, di depannya laptop sedang menyala.
"Kak, aku.."
"Mandilah, setelah itu makan" jawabnya sambil tetap serius menatap layar laptopnya.
Aku diam dan menuruti kemauannya, perasaanku lega karena dia tak marah karena aku sengaja menghindar tak ingin pulang bareng dengannya.
Dikamar mandi aku berendam di bathup, melepas letih karena seharian sibuk, sibuk fikiran dan sibuk kerjaan. Aku hampir tertidur saat sebuah tangan lembut mengusap pipiku. Aku terbeliak.
"Kak Edo"
"Jangan tidur disini, cepat selsaikan mandinya, kita makan bareng setelah itu tidur"
Aku mengangguk, walau perutku kenyang tapi aku tak tega menolaknya untuk makan bersama, ah Rena kamu terlalu lemah, hiks.
Dengan kaos oblong dan celana santai selutut aku keluar kamar dan menuju dapur, dua piring spagetty tersaji cantik di atas meja.
"Kak Edo dari tadi belum makan?" aku melirik jam yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Aku bilang bakal nungguin kamu, apa kamu ga baca pesanku?"
"Hah?" aku merasa kikuk, dari tadi hp aku silent jadi aku ga dengar ada telpon masuk atau pesan masuk.
"Maaf" cuma itu yang bisa aku bilang.
"Makanlah?" kak Edo menyendokkan spagetty ke depan mulutku, aku melahapnya "Enak, kak Edo pintar masak?" kataku memuji.
"Makanlah kalau enak" katanya sambil melahap spagetty di depannya.
"Kakak bisa bocorin aku resepnya, dong! aku bisa membuatnya untuk menu makan siang dikantor" kataku sambil melahap spagetty sampai habis tak tersisa, padahal tadi perutku sudah kenyang tapi karena makanan enak tak kuasa aku tak menghabiskannya hehehe.
"Boleh, asal kamu bisa menyenangkan aku"
"Emang kak Edo ga senang bersamaku?"
Kak Edo memandangi wajahku cukup lama.
"Kamu suka bikin jengkel"
"Apa? kapan?"
"Sering, contohnya hari ini" jawabnya enteng.
Aku menggaruk tengkukku yang tak gatal, kamu tau kak? aku lebih jengkel dari pada kamu. Membayangkan kamu bersama Emillia membuat aku sakit hati tau. Aku memasang wajah masam.