5. Pemenang peran utama ...

1364 Kata
Penthouse; pukul 06.30 pm … Zara sedang duduk di kursi yang ada di ruang makan. Di seberangnya ada Paul yang juga sedang menikmati makan malam bersama istrinya. Mereka terlihat masih belum saling menyapa setelah Zara tiba di rumah dan Paul sudah datang terlebih dahulu. Sampai hidangan penutup disajikan, Paul tidak menyentuh makanannya. Dia berdiri dan pergi dari sana menuju ke kamar. Sedangkan Zara masih melanjutkan kegiatannya dengan memakan hidangan penutup. Selesai dengan kegiatannya, Zara kini berjalan menyusul Paul ke kamar. Tanpa mengetuk pintu, dia terlihat masuk dan duduk di sofa yang ada di sudut kamar. Zara tahu jika Paul sedang berada di kamar mandi,l karena itu dia memilih untuk menunggu suaminya selesai dengan aktivitas di dalam sana. Ceklek Tatapan mata Paul tertuju pada Zara, lalu dia kembali berjalan masuk ke dalam lemari pakaian. Paul memilih jas dan sepatu yang mengkilap. “Kau akan pergi?” tanya Zara. “Ya, ada undangan malam ini.” “Itu sebabnya kau tidak memakan hidangan penutup?” “Tidak, aku tidak menyukai hidangan itu,” ujar Paul. “Baiklah, hati-hati dija –“ Brak! Pintu kamar tertutup begitu saja, dan Paul sudah berlalu dari sana tanpa mengatakan apapun pada Zara. Setelah kepergian Paul, Zara terlihat memilih untuk memeriksa ponselnya. Dan di sana dia menemukan ada acara gala yang diadakan di gedung Museum of Art. Di sana, Zara melihat banyak sekali artis papan atas datang, bahkan tidak hanya mereka. Produser, Sutradara, dan masih banyak sekali selebriti yang hadir. “Jadi … dia akan datang ke sana, tanpa aku?” gumam Zara. Baru saja Zara merasa dunia ini tidak adil, lalu dia ingat dengan perjanjian yang sudah ditandatangani bersama Paul. Zara kini mengganti pakaiannya dengan sebuah gaun malam, dia tidak ingin terlalu memikirkan dengan siapa Paul ada di tempat itu. Zara menutup tubuhnya dengan selimut dan mulai memejamkan kedua matanya. *** Keesokan harinya … Zara tidak menemukan Paul di sampingnya. Dia memutuskan untuk melakukan kegiatan pagi seperti biasa, dan bersolek guna mendatangi sebuah audisi untuk peran dalam sebuah film. Ponsel milik Zara terdengar berdering, dia mengacuhkan panggilan yang sudah kesekian kalinya. Hingga setelah Zara selesai dengan kegiatannya, dia melihat ke layar ponsel yang kembali menampilkan nama Rosie. “Ya, Rosie?” “Astaga! Kemana saja kau ini? Aku sudah berada di lokasi audisi, dan kau masih belum terlihat di sini?” omel Rosie. “Maaf, aku akan segera berangkat,” ujar Zara sembari meraih tas selempang berwarna merah miliknya. Zara mengemudikan mobil dengan cepat hingga bisa sampai di depan sebuah gedung perusahaan entertainment milik pria bernama Jason Hartman. Setelah memastikan Rosie berada di dalam sana, Zara masuk dan menemuinya di lobby. Zara tersenyum saat bertemu dengan Rosie, dan dia bertanya mengenai ruangan yang akan digunakan untuk audisi. “Kau ini! Sungguh membuat aku khawatir!” ujar Rosie. “Maafkan aku, aku bangun terlambat.” “Baiklah, aku sudah mendapatkan naskah yang harus kau ucapkan saat audisi. Di sana ada beberapa artis baru yang datang, aku harap kau tidak berkecil hati saat melihat siapa saja yang ada di sana,” jelas Rosie. “Baiklah, Rosie. Terima kasih atas bantuanmu.” Keduanya berdiri di depan pintu lift yang masih tertutup. Dan saat pintu itu terbuka, mereka bertemu dengan Paul  yang sedang bersama sekretarisnya. Paul berjalan begitu saja tanpa menyapa bahkan melirik ke arah Zara. Di dalam lift, Rosie melihat wajah sedih Zara. Dan membuatnya bertanya, apa ada yang tidak baik antara Zara dengan Paul? Saat itu juga Zara mengelak dari pertanyaan yang diajukan Rosie. “Rosie, apakah audisi ini akan memakan waktu lama?” tanya Zara. “Entahlah, kita akan melihatnya nanti. Sekarang kau harus menyiapkan dirimu.” “Ya, tentu saja aku sudah sangat siap, Rosie.” Setelah itu, Zara masuk ke sebuah ruangan yang terdapat banyak sekali wanita. Mereka akan melakukan audisi di sana, dengan berdoa dan yakin akan masuk ke dalam salah satu karakter yang akan muncul di film itu. “Nomor delapan, silakan masuk!” ucap seorang wanita dengan blazer putih. Zara menatap Rosie dan bertanya mengenai nomor urut milik Zara. Rosie dengan berat mengatakan jika Zara mendapatkan nomor urut terakhir. “Baiklah, aku akan duduk.” “Zara, apa kau sudah makan pagi?” “Kau membuat aku meninggalkan makanan di atas meja makan!” “Baiklah, aku akan keluar untuk membeli makanan dan minuman. Apa yang kau inginkan untuk makan pagi?” “Hum … apa ada penjual sandwich dan cappuchino frappe?” tanya Zara. “Tunggu, aku akan mencoba mencarinya di situs terdekat.” Rosie melihat ke layar ponsel dan mencari makanan yang diinginkan Zara pagi ini. Setelah mendapatkan tempat yang menjual makanan dan minuman itu, Rosie bergerak pergi dari sana. Duduk seorang diri, pandangan mata Zara mengedar di seluruh ruangan. Satu persatu dia melihat wajah para gadis yang mengikuti audisi di sana. Hingga ada salah satu dari mereka yang mendekati Zara dan bertanya padanya. “Hai, siapa namamu?” “Zara,” jawabnya. “Kau datang seorang diri?” “Tidak, aku bersama managerku.” “Ah … dimana dia?” “Dia sedang pergi membeli makanan untuk aku.” “Kau sangat beruntung. Aku melihat audisi ini sangat sulit, beruntung aku bisa mendaftar lebih awal,” ujar gadis dihadapan Zara. “Hei, siapa namamu?” tanya Zara. “Natasha.” “Nama yang bagus.” “Zara, ini pesananmu,” ujar Rosie yang baru saja tiba dengan membawa makanan dan minuman pesanan Zara. Rosie duduk di samping Zara, dan ikut menikmati makanan itu bersamanya. Tidak lama kemudian, nomor milik Natasha dipanggil, dan membuatnya harus masuk ke dalam. “Rosie, apa akan langsung ditentukan siapa pemerannya?” tanya Zara. “Ya, kau tidak bisa pergi sebelum mereka mengumumkannya,” jelas Rosie. “Baiklah, aku akan bersabar,” ucap Zara sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Beberapa menit berlalu, gadis bernama Natasha keluar dari ruangan itu. Lalu … dia berjalan mendekati Zara untuk mengatakan betapa tampannya sang sutradara Jerry Bernard. “Kau harus melihatnya, dia sangat tampan. Tidak salah jika banyak orang berkata bahwa dia seorang playboy.” Zara hanya tersenyum menanggapi ucapan Natasha, lalu dia kembali melanjutkan kegiatan makannya. Dan beberapa menit berlalu bergitu cepat hingga nomor urut milik Zara dipanggil. Zara berjalan ke dalam ruangan audisi seorang diri dengan percaya jika dia bisa melakukannya. “Valentina Zara?” tanya seorang pria tampan di hadapannya. “Ya.” “Sudah pelajari naskah yang diberikan Rosie?” “Sudah,” jawab Zara. “Baiklah, sekarang coba kau praktekkan adegan yang sudah kau pelajari itu.” Zara terdiam, dan menarik napas perlahan. “Kau tahu betapa kesalnya aku? Kau pergi tanpa ada kabar, lalu kembali dengan segudang masalah. Apa kau pikir aku akan semudah itu –“ “Cukup!” “Apa?” “Kau bisa mendapatkan peran itu, kau adalah gadis yang ada di dalam sana.” “Aku … aku terpilih untuk berperan sebagai pemeran utama?” “Ya, kenapa? kau tidak setuju?” “Bukan, aku sangat senang hingga tidak bisa berkata.” “Baiklah, persiapkan dirimu. Aku akan mengumumkan setiap peran yang terpilih.” “Baiklah, aku akan keluar.” Zara berjalan dengan tersenyum. Dia berlari kecil menuju kea rah Rosie. “Hei, aku mendapatkan peran utama,” bisik Zara tepat di telinga Rosie. “Kau memang layak mendapatkannya, Zara. Selamat!” ucap Rosie. Tidak lama kemudian, beberapa juri yang memilih sudah keluar. Dan sang sutradara juga memberitahu semua wanita di sana jika Zara lah yang terpilih sebagai pemeran utama wanita dalam film yang akan dibuat. Semua terlihat bersorak dan mengucapkan selamat untuk Zara, ada juga yang terlihat kesal hingga tidak peduli saat mendapatkan peran antagonis. Selesai dengan audisi, mereka kini membuat janji untuk bertemu lagi. Pertemuan berikutnya akan dilakukan di ruang rapat, di sana dijelaskan mengenai kontrak kerjasama yang akan mereka tanda tangani. Rosie dan Zara keluar dari gedung itu, mereka kembali bertemu dengan Paul yang baru saja masuk ke dalam gedung. Masih dengan wajah dingin, Paul bahkan tidak menjawab saat Rosie menyapanya. “Paul selalu terlihat dingin, entah wanita mana yang akan menerima sikap seperti itu,” ujar Rosie. Zara hanya tersenyum ,dan kembali melangkah menuju ke area parkir mobil miliknya. “Rosie, aku kembali dulu. Aku akan menghubungimu untuk masalah meeting besok.” “Ya, sampai jumpa.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN