Pagi ini …
Zara terbangun karena ada sesuatu yang menimpa perutnya. Dan saat matanya terbuka, betapa terkejutnya dia melihat Paul yang sudah tidak mengenakan pakaian berada di sampingnya. Tidak sampai disitu, Zara juga melihat ke arah tubuhnya sendiri dan berkata,”bagaimana ini bisa terjadi?”
Zara bergerak secara perlahan dan memindahkan tangan Paul ke samping. Sayangnya, hal itu tidak bisa dilakukan dengan mudah. Paul kembali meletakkan tangannya di atas tubuh Zara, dan semakin menekan tangan itu hingga tidak mengizinkan Zara untuk pergi dari sana.
“Uhm … Paul, aku ingin pergi ke kamar mandi,” ucap Zara pada akhirnya.
“Baiklah, setelah itu kembali kemari!” ujar Paul.
“Aku ingin membersihkan diri dan bersiap untuk mengikuti audisi,” ujar Zara.
“Tidak, kau tidak diizinkan untuk pergi sebelum aku mengizinkannya,” ujar Paul menekankan.
Zara terlihat terdiam dan tidak lagi berselera untuk pergi ke kamar mandi. Dia memilih untuk tetap menemani Paul di atas ranjang hingga waktu terus berjalan dan entah sampai kapan mereka akan terus berada di sana.
“Paul, aku lapar,” ucap Zara pada akhirnya.
Paul bergerak dan dia kini berdiri di depan Zara. Tubuh polos pria itu membuat Zara menelan ludahnya dengan kasar. Zara meraih bantalan dan menutup wajahnya dengan cepat agar tidak terlalu lama melihat tubuh Paul.
“Ada apa?” tanya Paul terheran.
“Paul, cepatlah masuk ke dalam kamar mandi. Apa kau tidak malu tidak berpakaian di hadapanku?” tanya Zara yang tidak berkaca pada dirinya sendiri.
Paul tersenyum dan berjalan menuju ke kamar mandi. Paul membersihkan diri di dalam sana, hingga beberapa menit berlalu.
Paul keluar dengan mengenakan handuk yang menutup bagian bawahnya. Sedangkan Zara sudah mengenakan sebuah handuk berbentuk kimono. Zara berjalan melewati Paul untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Di dalam sana, Zara masih berpikir apa saja yang sudah dilakukannya dengan Paul semalam. Karena hanya minuman itu saja yang diingat oleh wanita yang kini menjadi istri salah satu pria kaya di Amerika.
“Apakah aku sudah menjual tubuhku sendiri?” gumam Zara.
Tidak ingin berpikir terlalu keras, Zara segera menyelesaikan kegiatannya di dalam kamar mandi. Setelah Zara selesai, dia segera mengenakan pakaian dan bersiap pergi untuk bertemu dengan seseorang.
Saat Zara akan keluar dari kamar itu, dia melihat Paul sedang duduk di sudut ruangan. Dan ada banyak sekali makanan di sana.
“Paul, apa ini?” tanya Zara.
“Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika kau sedang lapar?” tanya Paul memastikan.
“I-iya … aku hanya, lupa.”
Zara pun duduk di samping Paul. Dia dan suaminya menikmati makanan di sana sebelum kembali beraktivitas dengan kegiatan masing-masing.
“Apa kau masih ingin menjadi seorang selebriti?” tanya Paul di tengah kegiatan makan itu.
“Itu adalah salah satu keinginanku sejak lama … aku sudah mempersiapkan diri untuk beberapa audisi, hanya saja … mereka selalu melihat orang-orang yang mengandalkan kekayaan saja untuk bisa mengisi sebuah peran,” ujar Zara.
“Kau sendiri bagaimana?”
“Aku? Aku cukup percaya diri untuk bisa melakukannya, Paul. Aku memiliki kemampuan yang bisa aku andalkan saat mengambil sebuah karakter.”
“Habiskan makananmu, dan kau bisa pergi,” ujar Paul sembari berdiri dan berjalan menjauhi istrinya.
Zara masih terdiam, hingga akhirnya terdengar suara ponsel berdering. Zara meraih ponsel itu dan berbicara melalui telepon.
“Halo?”
“Apa kau yang bernama Zara?”
“Ya, benar.
“Perkenalkan, aku adalah Rosie Benson. Orang yang akan menjadi managermu selama kau melakukan beberapa audisi hingga kau mendapatkan kontrak kerjasama.”
“Terdengar sangat menarik, terima kasih.”
“Apa kita bisa bertemu sekarang?”
“Ya, taoi tunggu. Aku akan menemuimu di café Domino.”
“Baiklah, aku akan ada di sana tepat satu jam dari sekarang.”
Zara terlihat tersenyum, kini dia sangat tidak bisa lagi untuk bersabar. Dia terlihat meraih tas selempang berwarna hitam dan berlari ke luar dari penthouse untuk bertemu dengan wanita bernama Rosie itu.
Suara mobil milik Zara sukup keras, hingga hampir saja membuat gendang telinga orang yang mendnegarkannya pecah. Meski Zara masih terlihat sangat muda, tetapi cara mengemudikan mobilnya sangat mahir , dan terbilang jarang diminati para pengendara.
Zara sampai di café tempatnya membuat janji bersama orang bernama Rosie. Dia duduk di salah satu kursi yang berada di atas dan dekat dengan tepian balkon.
“Zara?” sapa Rosie.
“Ya, silakan duduk!”
“Tuan Paul menyarankan padaku untuk menjadi manager, dan dia mengatakan jika kau ini termasuk wanita yang berbakat,” ujar Rosie.
“Terima kasih … aku senang karena memiliki seorang yang bisa aku andalkan dalam hal ini. Dan untuk beberapa hari kedepan, aku harap kau bisa menghandle semua pekerjaan yang akan aku lakukan di dunia artis,” ujar Zara.
“Tentu saja, Nona. Tuan Paul memang tidak pernah salah saat memilih seorang yang berbakat, dan kali ini aku yakin kau bisa melewati semua ujian yang akan dihadapi oleh semua artis baru,” ungkap Rosie.
“Aku juga berharap seperti itu.”
“Beberapa hari kedepan akan ada audisi pemilihan seorang aktris untuk sebuah film yang akan di sutradarai oleh Jerry Bernard. Kau pasti tahu pria itu bukan?” tanya Rosie.
“Ya, dia adalah sutradara muda yang baru-baru ini sedang hangat dibicarakan oleh banyak media,” ujar Zara.
“Dia baru saja memenangkan penghargaan tahun ini, dan jika kau bisa bekerja sama dengan Jerry, aku yakin namamu akan semakin dikenal oleh banyak orang,” ujar Rosie.
Mendengar penjelasan manager barunya, Zara semakin bersemangat untuk bisa bekerja di dunia ke-artisan dan juga modeling. Sejak sang ayah tiada, Zara kini hanya mengandalkan Paul sebagai suaminya. Namun, dalam rumah tangga itu, Zara masih harus berusaha untuk bisa memenangkan hati pria yang terlihat dingin itu.
“Nona, apa selama ini kau melakukan diet?” tanya Rosie.
“Tidak, aku tipikal yang tidak mudah naik untuk berat badan. Aku memiliki alergi dengan beberapa makanan seperti kacang,” ungkap Zara.
“Hmm, baiklah … aku akan mengingat itu, dan aku tidak akan memberikan makanan yang mengandung kacang. Apa ada hal lain yang perlu aku ketahui mengenai makanan yang kau suka dan juga minuman apa yang biasa kau minum?” tanya Rosie.
“Tidak ada yang spesifik, aku suka semua jenis makanan dan minuman. Aku juga bukan orang yang suka memilih sesuatu dengan rumit, aku tidak begitu suka dengan segala sesuatu yang membuatku menjadi penasaran, karena aku akan mencari tahu sampai aku mendapatkannya.”
“Baiklah … sepertinya kau ini orang yang sangat mudah sekali untuk didekati, jadi … aku akan menjadi penjaga yang baik untukmu,” ujar Rosie.
“Terima kasih.”
“Setelah ini, apa ada yang ingin kau lakukan?” tanya Rosie.
“Hum, aku ingin berbelanja. Hanya saja … aku bingung harus memulainya dari mana?”
“Dimana kau tinggal? Ini agar aku mudah untuk menemukanmu jika terjadi sesuatu.”
“Ah … uhm, aku tidak bisa mengatakannya. Untuk saat ini aku akan sering pulang ke rumah orang tuaku di California, dan aku berencana untuk membeli sebuah apartemen, agar aku tidak perlu lagi kembali ke California.”
“Baiklah, beritahu aku jika kau sudah mendapatkan apartemen yang kau inginkan.”
“Ya, segera akan aku beritahu.”
“Apa kau akan makan di sini?” tanya Rosie lagi.
“Ah, maaf … karena asik berbincang, aku lupa untuk memesan makanan. Tunggu sebentar,” ujar Zara sembari memanggil pelayan dengan mengangkat satu tangannya ke atas.
Tidak lama setelah itu, seorang pelayan datang dan memberikan daftar menu. Zara dan Rosie memilih makanan yang ingin mereka makan di sana. Setelah itu, mereka pun menunggu sembari kembali berbincang.
“Zara … berapa usiamu saat ini?” tanya Rosie.
“Seharusnya kau sudah memiliki data mengenai diriku dari Paul. Apa … dia tidak memberikannya padamu?” tanya Zara.
“Itu … ada di email, dan aku belum sempat membacanya.”
“Baiklah, aku rasa kau harus membaca terlebih dahulu.”
“Ya, dan ini adalah alamat rumahku, aku tinggal di Wilshire Boulvard.”
“Baiklah, aku akan menyimpan ini. Jadi … kau sudah menikah atau masih sendiri?” tanya Zara.
“Aku masih sendiri, tetapi aku memiliki seorang kekasih. Dia juga bekerja sebagai manager seorang model pria di New York, dan ya … kami melakukan hubungan jarak jauh,” jelas Rosie.
“Cukup menarik.”
Di antara percakapan itu, akhirnya makanan yang mereka pesan datang. Keduanya terlihat sangat menikmati hidangan dari café itu.