Selamat membaca. "Tidak, jangan." Seketika ku terbangun dari mimpi. Masih terngiang di telinga ku kata-kata Allea tadi siang di rumah sakit. Malam ini ku lalui sebagai malam yang panjang. Aku ingin pagi segera datang dan mengijinkan ku bertemu Allea lagi. "Apa yang harus aku lakukan?" Tanya ku pada diri sendiri. aku tak tahu apa yang harus dilakukan saat ini. Sepanjang malam aku habiskan untuk memikirkan perkataan Allea yang memutuskan untuk mengugurkan kandungan nya, membunuh darah daging kami. Baru saat adzan subuh menggema dari masjid, aku menutup mata. Tapi belum sempat ku melanjutkan mimpi, suara gaduh ketukan pintu terpaksa membangun kan ku lagi. "Farell, ini mama." Dengan malas ku hampiri pintu dan membuka nya. Terlihat wanita yang masih cantik meski usia nya sudah senja. "A

