kedatangan tuan muda
Selamat membaca.
"Hey, bro. Gue udah sampai bandara, jemput gue, ya." Ucapnya pada seseorang lewat sambungan telepon.
"Oke, gue tunggu." Lanjut nya setelah mendapat jawaban dari seseorang di sebrang sana.
Hari ini adalah hari kepulangan putra bungsu keluarga Hardinata, sekaligus pewaris tunggal PT. Permata Dinata. Perusahaan yang bergerak di bidang tambang emas dan berlian yang sudah tersohor di penjuru negeri. Bahkan cabang nya sudah menyebar di berbagai negara bagian. Seperti Jepang, Inggris dan Belanda.
Setelah menempuh pendidikan di negeri Paman Sam selama tiga tahun, dia memilih untuk kembali ke negeri tempat dia di lahirkan, Indonesia. Lagipula dia sudah sangat rindu pada keluarga nya, Papa, Mama, juga Mbak yang paling memanjakan nya.
Tuan muda sudah datang.
Terdengar suara bariton penjaga gerbang. Yang di susul terbuka nya gerbang besar yang menjulang menampilkan sebuah rumah mewah bak istana yang membuat siapapun yang memandang tidak mampu berkedip.
Selamat datang, Tuan Muda.
Ucapan selamat dari sang penjaga gerbang mampu membuat yang di sambut menurunkan kacamata hitam nya. Lalu kemudian dia menghambur ke dalam pelukan sang penjaga. Hal itu membuat sang penjaga yang tak mengira akan mendapat pelukan sedikit terhuyung ke belakang. Lalu membalas pelukan sang tuan muda hangat. Tanpa sadar, setitik air menetes dari mata tuan muda, dia teringat akan semua kebaikan si penjaga yang sangat menyayangi dirinya saat dulu masih kecil.
"Terimakasih, Pak." hanya itu yang mampu ia ucapkan. Ia pun mengusap air dari balik kaca mata nya agar tidak terlihat oleh orang lain. Lalu menepuk pundak sang penjaga sebelum pergi meninggalkan nya sendiri dalam keharuan.
Tidak banyak yang berubah dari rumah nya. Selain dirinya yang telah berubah menjadi sosok yang lebih dewasa dan berwatak keras. Percis dengan didikan sang ayah yang selalu menginginkan kesempurnaan. Ia lalu menghembuskan nafas panjang. Ada sesuatu yang menghantam ulu hati nya saat melihat sepasang suami-istri berjalan kearah nya sambil merentangkan kedua tangannya.
"Selamat datang Farellio Putera Hardinata. Pewaris tunggal Permata Dinata. Hahaha.. kamu sudah besar, nak. Sudah berapa perempuan kamu tiduri?" Tuan besar Hardinata tertawa terbahak saat melihat anak nya telah berubah.
Dulu, Farell nya adalah anak yang nakal, tidak mau di atur dan tidak suka terikat pada suatu hal. Salah satu nya perempuan. Di selalu berpikir bahwa semua perempuan sama saja, selalu menginginkan harta dan kemewahan.
Farell melepaskan pelukan sang Papa kemudian berjalan menghampiri perempuan yang dulu sangat benci nya. Perempuan yang membuat nya tidak percaya adanya cinta dan kasih sayang. Tidak ada hal manis yang tercipta dalam kehidupan masa kecilnya bersama sang ibu sambung.
"Mama kangen sama kamu, Nak." Ucapnya sambil memeluk erat Farell tulus. Tapi tidak dengan Farell, ia yakin Mama sambung nya hanya berpura-pura baik di depan nya, sama seperti yang selama ini dia pikirkan.
"Jangan bersandiwara lagi, Tante." Ucapnya pelan tapi pasti mampu membuat hancur hati yang mendengar nya. Kemudian dia melepaskan pelukan nyonya Hardinata dan tersenyum kecut.
Wajah yang sebelumnya terlihat senang seketika meredup, merasakan betapa menyedihkannya hati saat di perlakukan seperti itu oleh anaknya sendiri. Ia memaksakan senyum di depan sang suami hanya untuk menutupi kesedihan nya.
"Silahkan kamu istirahat, lalu bersiap!kita akan Dinner, ajak sekalian kawan mu itu." Perintah nya sambil menunjuk pada Raka yang sejak tadi memperhatikan mereka.
"Oke, Pa." singkat. Lalu melempar tas jinjing nya pada sang sahabat yang berada di samping nya.
"Ayo," ajak nya pada Raka yang langsung di balas dengan anggukan.
"Permisi, Om, Tante." Ucapnya sambil menunduk hormat kepada tuan rumah. Kemudian berlalu mengikuti tuan muda yang terus saja memanggil nya.
"Eh, udah baikan Lo sama nyokap?" tanya nya sambil menyubit pinggang Farell kencang.
"Dia bukan nyokap, gue." Ucap nya datar
Raka yang mendengar nya menghela nafas berat.
"Kenapa, sih, Lo gak pernah membuka sedikit hati Lo buat Tante Renata?" tanya nya yang sontak membuat Farell melotot tajam.
"Semua perempuan sama saja. Mereka hanya memikirkan harta, harta, dan harta." Ujar nya dengan suara yang tertahan. Mata nya memerah, tangan nya mengepal erat.
"Tapi gimana Lo bisa tahu Tante Renata itu sama seperti yang lain?" pertanyaan itu, pertanyaan yang tidak ingin dia jawab, karena jawaban nya adalah hal yang menyakitkan.
Merasa suasana yang berubah mencekam, Raka mengalihkan perhatian nya dengan memberikan penawaran menarik untuk Farell.
"Gue punya penawaran menarik," ucapnya membuat Farell melirik tajam.
"Apa?" Tanya Farell tanpa menoleh kan wajahnya.
"Kalau Lo bisa marriage dalam waktu satu bulan, gue kasih Lo satu cabang perusahaan gue, manapun yang Lo mau." Ucapnya sontak membuat Farell terbelalak tak percaya. Satu perusahaan memang tidak ada apa-apa nya di banding kekayaan keluarganya. Tapi setidaknya dia bisa membuktikan kepada sang Papa bahwa dia bisa mengembangkan usaha tanpa di ketahui oleh Papa nya.
"Apa Lo gila? Mana bisa cari istri dalam satu bulan. Lo mau semua harta gue ludes di gondok maling dadakan?" Tanya nya masih menyindir salah satu sifat buruk wanita, tapi bagi Raka tidak semua wanita sama.
"Terserah deh kalau gak mau," ejek nya tersenyum miring.
'semoga cara ini bisa buat Lo sadar' ucap Raka dalam hati. Sebenarnya ia kasihan melihat Farell seperti itu. Mau sampai kapan sahabatnya itu akan berubah?
"Enam bulan, gimana?" Farell mencoba bernegosiasi seperti apa yang selama ini dia pelajari.
"Farell, ini bukan urusan bisnis. Jadi gak ada tawar-menawar," ucap Raka tegas.
"Please," ucap Farell memohon. Hal itu membuat sahabat nya itu mendecak sebal.
"Oke lah, gue kasih waktu tiga bulan. Kalau Lo gak bisa dapat istri dalam tiga bulan, lu gak akan mendapatkan apa-apa dan Lo akan gue cap sebagai CEO gak laku." Ledekan Raka berhasil memancing emosi Farell. Dia jelas tak terima jika harus di cap sebagai pria yang gak laku. Farell lalu menarik kerah baju Raka dan siap melayangkan tinju ke wajah Raka kalau saja tidak terdengar ketukan pintu dari luar.
"Ini bibi, Den." Ucap seseorang di luar sana menunggu pintu di buka.
"Masuk saja, bik!" Perintah nya, lalu terdengar suara pintu terbuka dan menampilkan seorang wanita tua yang membawa nampan berisi minuman dan makanan untuk tuan muda nya.
"Terimakasih, bik. Silahkan keluar!" Titah nya seperti biasa. Asisten rumah tangga yang sudah tahu sifat sang majikan pun segera berlalu keluar dari kamar mewah itu.
"Gimana?" Tanya Raka sambil menyedot jus lemon yang baru saja di sajikan.