Selamat membaca.
"Gimana?" Tanya Raka sambil menyedot jus lemon yang baru saja di sajikan. Yang di tanya hanya diam saja dan memijat keningnya pelan, ia menimbang-nimbang langkah yang akan dia ambil.
"Oke, gue terima." Ucapnya tegas sambil mengulurkan tangannya tanda persetujuan.
"Oke," jawab Raka sambil tersenyum senang, lalu menyambut jabatan tangan Farell. "Tapi Lo tau kan apa konsekuensi nya kalau Lo gagal?" Sambung nya sambil menaikturunkan alis tebal nya.
"Iya, Bangsat." Jawab nya lalu memberikan bogem mentah pada perut sahabat nya.
"Gitu, dong. Itu baru sahabat gue." Kekeh nya senang. Semoga rencana nya ini berjalan lancar. Kasihan tuan Hardinata, dia butuh seorang cucu yang nanti nya akan menggantikan posisi nya di perusahaan.
"Cepat Lo mandi! Nanti bokap Lo marah kalau kita telat." Raka mengingat kan betapa disiplinnya sang Papa.
"Ah shit." Umpat nya kesal. Malam ini Papa nya telah merencanakan makan malam di sebuah restoran ternama bersama keluarga dan beberapa kolega bisnis nya. Beliau akan menceritakan bahwa Farell nya yang dulu anak nakal sekarang sudah besar dan siap menjadi pemimpin perusahaan menggantikan posisi nya yang sudah ingin beristirahat.
Sebenarnya dia sendiri belum seratus persen percaya pada sang anak, mengingat betapa buruk nya perangai Farell saat tiga tahun lalu. Jadi dia masih akan memantau perkembangan perusahaan saat nanti harus di kelola Farell.
Setelah merapikan pakaian serta penampilan nya, Farell dan Raka keluar kamar kemudian turun menghampiri Papa nya yang sudah menunggunya.
"Sudah siap?" Tanya Tuan besar kepada anak laki-laki nya.
"Hem" satu isyarat yang membuat Hardinata hanya menghela nafas sambil menatap miris pada istrinya. Raka yang melihat adegan itu hanya mampu berdiam diri tak bisa berbuat apa-apa.
Mereka pun berangkat menggunakan mobil masing-masing. Tuan dan nyonya Hardinata menaiki mobil mewah keluaran terbaru, sedangkan Farell bersama Raka menggunakan mobil Raka.
20 puluh menit kemudian mereka sudah sampai di restoran yang namanya sudah tersohor di pulau Jawa. Terlihat sudah banyak tamu yang menghadiri acara makan malam penyambutan kedatangan tuan muda.
"Selamat datang Tuan Alexander Hardinata Agung. Silahkan masuk," sambut ramah sang owner resto kepada orang yang telah membooking resto nya full malam ini. Kemudian menunduk mempersilahkan mereka masuk, kemudian berjalan di belakang memastikan seluruh acara berjalan dengan lancar.
Memang benar ungkapan yang mengatakan _ada harga ada kualitas_
Meskipun sudah sering ke tempat ini untuk menjemput kekasihnya, Raka tetap kagum melihat ornament dan arsitektur yang menghiasi penjuru resto. Tidak ada satu bagian pun yang terlewatkan oleh mata coklat nya. Meskipun Ia lahir dari keluarga terpandang, tetap saja melihat pemandangan di hadapan nya membuat nya takjub. Sudah terbayang berapa banyak kocek yang harus Tuan Hardinata keluar kan hanya untuk menyewa resto mewah ini satu malam penuh.
Acara pun dimulai, masing-masing sibuk dengan pembahasan nya. Ada yang membahas istri dan anak nya, ada yang membahas bisnis, juga ada yang membahas tentang kejelekan masalalu. Termasuk Farell dan Raka. Mereka sedang berkumpul bersama sahabat nya yang orang tua nya juga merupakan rekan bisnis Papa nya.
"Eh, Lo inget gak? Dulu kita pernah nabrak bapak-bapak sampai mati." Ucap Rio, seorang teman dekat Farell yang juga berada dalam satu mobil saat kejadian naas itu terjadi. Wajah tampan Farell seketika memerah, terbayang kejadian tiga tahun lalu yang membuat Papa memutuskan untuk menyekolahkan Farell di negeri Paman Sam, Amerika Serikat.
Setelah mengetahui bahwa bapak yang di tabrak Farell meninggal dunia, tuan Hardinata langsung menyuruh nya melanjutkan study di luar negeri. Alasan nya tentu karena nama baik. Ia tidak mau nama yang telah ia bangun dengan susah payah selama ini tercoreng hanya karena kesalahan putra semata wayangnya itu.
"What? the father of the porridge maker died?" Tanya Farell terkejut karena ia tidak mengetahui hal ini, berarti Papa nya menyembunyikan sesuatu dari nya selama ini.
"yes, you really don't know?" Tanya Rio sama terkejutnya dengan Farell, karena dia pikir sahabat nya itu sudah mengetahui hal ini.
"Si*l, berarti ini alasan kenapa dulu bokap maksa gue buat pindah ke AS. Tapi kenapa harus di sembunyikan?" Rutuk nya mengoceh sendiri. Kedua sahabatnya itu hanya bisa diam dan menatap prihatin kepada Farell yang nampak frustasi
"Terus sekarang gimana keluarga nya? Apa Papa memberi jaminan hidup untuk keluarga nya?" Tanya Farell perhatian.
"Yang gue dengar, bokap Lo membiayai kuliah anak bapak yang Lo tabrak." Jelas Raka sambil menyedot anggur dalam gelas kecil nya.
"Oh." Jawabnya singkat. Mereka terdiam tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Dalam keadaan mabuk seperti ini, Farell tidak bisa mengingat kejadian naas yang menimpa penjual bubur itu. Pikiran nya kalut, bagaimana pun ia harus bertanggung jawab dan mencari keluarga bapak itu.
Dalam keadaan yang setengah sadar, tuan Hardinata menarik tangan nya dan mengajak nya pulang. Beliau masih trauma dengan apa yang telah menimpa anak nya saat dulu.
"Ayo kita pulang. Besok kamu sudah harus memulai bisnis Papa dan bertemu dengan klien. Beristirahat lah!" Jelas Hardinata menahan sesak yang memenuhi rongga pernapasan nya. Ia terpaksa mengatakan hal itu karena tidak ingin terulang kesalahan yang sama.
Setelah sampai rumah, mereka berpisah menuju kamar nya masing-masing. Raka pun pamit pulang karena belum ijin menginap kepada ibu nya. Takut ibu nya khawatir mencarinya.
Sebelum pulang, Raka kembali ke restoran tadi untuk menjemput kekasihnya yang bekerja sebagai pelayan. Dia sama sekali tidak merasa malu mempunyai kekasih seorang pelayan, yang terpenting baginya adalah ketulusan dan kebaikan hati perempuan tersebut. Dan kekasih nya juga tidak pernah meminta apa-apa dari nya, tidak seperti perempuan yang lain, haus akan kekayaan.
Karena perempuan itu juga, dia selalu membantah persepsi Farell yang mengatakan semua perempuan sama saja-matre. Perempuan itu juga membuat nya tidak dapat berpaling meskipun banyak wanita sempurna yang selalu mencoba mendekati nya.
"Terimakasih ya, Raka." Ucap perempuan itu saat melihat Raka menunggunya di tempat parkir mobil.
"Kembali kasih," jawab nya sambil tersenyum penuh sayang.
Mereka pun masuk kedalam mobil Raka, tapi sebelum pulang, mereka mampir ke kedai bakso langganan mereka untuk membeli tiga bungkus bakso. Mereka membelikan untuk ibu juga.
"Mang, biasa ya. Yang dua campur, satu bakso sama mie kuning aja. Saus sambal di pisah." Terang Raka mengedipkan sebelah matanya pada pedagang bakso yang telah mengenal nya.
"siap, Dek Raka. Bungkus semua kan?" tanya nya lagi memastikan agar tidak salah membungkus. Setelah selesai mereka segera pulang karena hujan semakin deras.
Bersambung