Selamat membaca.
"Allea, sini sebentar, Nak!" Panggil ibu yang sedang merajut sapu tangan cantik berwarna merah muda di ruang tamu.
"Ada apa, Buk?" Tanya ku sambil memeluk nya dari belakang dan mencium pipi keriput nya. Meskipun demikian, ibu masih terlihat sangat cantik, terlihat dari bentuk rahang dan mata yang masih memancarkan aura kecantikan meski usia nya sudah lebih setengah abad.
"Kapan pacar mu itu akan datang menemui ibu? Maksud ibu, kapan dia melamar mu?" Tanya ibu membuat ku melongo. Kenapa ibu tiba-tiba bertanya seperti itu? Bukan nya beliau tahu bahwa aku tidak ingin buru-buru menikah, aku ingin membahagiakan ibu dulu.
"Nak?" Panggil nya membuat ku tersadar dari lamunan.
"Eh, iya, Buk. Ehmm Allea gak tahu, tapi kenapa ibu bertanya seperti itu?" Tanya ku to the poin
"Sebenarnya, pak Hardinata ingin menjodohkan mu dengan anak nya yang baru pulang dari luar negri," pernyataan itu membuat ku tersedak teh yang sedang ku.
"Ah ibu bisa saja. Mana mungkin Tuan besar ingin menjodohkan anak nya sama Allea. Mereka itu orang kaya raya, kita ini hanya rakyat biasa." Ucap ku sambil menggelengkan kepala dan tertawa kecil.
"Ibu tidak mungkin menolak permintaan Pak Hardinata, Nak. Bagaimana pun beliau telah banyak membantu kita. Pikirkan lah baik-baik sebelum mengambil keputusan." Ucap nya kemudian berlalu meninggalkan ku yang masih melongo tak percaya. Tidak mungkin tuan besar Hardinata melakukan hal bodoh seperti ini.
Sejenak aku merenung, memikirkan bagaimana rasanya menjadi nyonya di istana Hardinata. Ah tidak, tidak mungkin itu terjadi. Aku sangat menyayangi Raka, tidak mungkin aku menerima lamaran lelaki lain selain dirinya.
Apa yang harus aku lakukan?
Aku pun masuk ke kamar dan duduk di tepian ranjang, membuka satu laci yang ada di lemari samping tempat tidur. Mengambil sesuatu yang sangat berharga, foto masa kecil ku bersama ibu dan bapak. Hanya ini saja kenangan bersama bapak yang ku miliki.
"Bapak, kenapa bapak cepat sekali meninggalkan aku dan ibu? Aku rindu bapak," ku peluk dan ku ciumi foto bapak, andai saja hari ini bapak masih ada di sini, mungkin aku tidak akan di hadapkan pada pilihan yang sangat berat seperti ini.
****
Innalillahi wa innailaihi Raji'un.
Ada kecelakaan, ada kecelakaan.
Ayo tolong angkat jenazah nya.
Terdengar keributan di depan sana saat aku hendak mengantar bekal makanan untuk bapak.
"Kenapa tiba-tiba perasaan ku gak tenang, ya?" Lirih ku. Segera ku percepat langkah agar segera sampai di tempat bapak biasa mangkal. Tapi belum juga sampai, aku sudah melihat ada seorang pria tua yang di masukkan ke dalam ambulance, aku menerobos kerumunan massa lalu masuk ke dalam ambulance untuk memastikan siapa yang ada di dalam nya, dan apa yang aku lihat?
Duarr..
Bagai tersambar petir di siang bolong, pria tua yang sudah sebagian rambut nya memutih itu terbaring tak bernyawa di depan ku, refleks aku meremas d**a ku yang terasa sakit. Aku tak kuasa melihat kenyataan yang Tuhan suguhkan padaku.
Bapak...
Teriak ku kencang tanpa memperdulikan siapa saja yang ada di sekeliling. Petugas kesehatan pun membawa ku keluar dari ambulance dan segera melajukan mobil nya secepat kilat. Aku menahan sesak yang memenuhi d**a kemudian semua nya menjadi gelap, aku pingsan.
Saat membuka mata, aku memandang sekeliling ruangan, tercium aroma khas obat-obatan di dalam ruangan yang serba putih ini.
Setelah sadar sepenuhnya, aku mencoba duduk dan mengingat kejadian beberapa saat yang lalu. Aku berada disini karena aku pingsan.
Bapak.
Aku segera bangkit dan berlari menyusuri koridor rumah sakit, membuka setiap ruangan berharap ada bapak di dalam nya.
Satu, dua, tiga, dan beberapa ruangan telah aku lewati tapi tak ku temui bapak di sana. Aku mulai merasa lelah, lalu duduk dengan nafas tersengal. Aku harus bertemu dengan bapak. Aku yakin pasti bapak baik-baik saja.
Aku pun bangkit dan berlari menuju ruang jenazah. Kaki ku seketika lemah melihat ibu dan nyonya Hardinata sedang menangis pilu memeluk seonggok daging yang sudah tak bernyawa. Aku pun berlari ke arah mereka dan membuka penutup jenazah tersebut kemudian aku menjerit histeris melihat wajah bapak yang sudah remuk tak berbentuk.
"Nak, gimana keputusan mu?" Tanya ibu menyadarkan ku dari lamunan. Tak terasa air mata menetes membasahi pipi, mengingat semua kejadian menyakitkan itu. Aku berjanji tidak akan mengampuni siapa pun yang telah membuat bapak meninggal. Tangan ku mengepal kuat, menahan gejolak emosi yang sedang menguasai ku.
"Tidak perlu mengingat masa lalu jika pada akhir nya kamu sendiri yang akan merasa sakit." Ucap ibu mengelus rambut ku lembut, lalu memeluk diri ini dalam kehangatan. Beliau sudah pasti tahu apa yang membuat ku menangis.
"Aku akan mencari orang yang membuat hidup ku seperti ini, aku akan membalaskan semua kesakitan pada orang yang sudah membunuh bapak." Ucap ku masih dengan api yang membara dalam hati.
****
Pagi ini seperti biasanya, aku tengah bersiap untuk pergi ke restoran tempat ku bekerja. Hari ini aku tidak akan menunggu Raka menjemput, aku sudah memesan taxi online dan sebentar lagi akan datang.
Tin tin
Mobil Raka.
Aku segera membalikkan badan dan hendak masuk tapi dia terlebih dulu keluar dari mobil dan mencekal lengan ku pelan.
"Ada apa?" Tanya dengan suara lembut. Aku hanya bisa terdiam dan menunduk merasa bersalah dengan keputusan yang aku pilih.
"Mulai hari ini, aku minta kamu gak usah perduliin aku lagi dan menjauhlah dari hidup ku." Terang ku tegas, tapi sebenarnya aku sedang berusaha menahan sesak di d**a.
"Tapi kenapa? Aku punya salah apa?" Tanya nya membuat ku semakin merasa sakit. Semua demi ibu.
"Taxi online," teriak seseorang bapak yang menunggu di depan jalan.
"Iya, Pak." Jawab ku sambil melepas pegangan tangan nya dan berlari menuju taxi online.
"Tunggu Allea," teriak nya sambil mengejar ku, aku langsung masuk dan menyuruh agar taxi segera jalan.
"Ayo, Pak." Ucapku yang langsung mendapat anggukan kepala dari pak supir.
Aku menangis sesenggukan di dalam mobil, tak kuasa aku menahan air mata yang sudah memenuhi mata sedari tadi saat berhadapan dengan Raka.
Maafin aku, Raka.
"Segala sesuatu yang kita pilih pasti ada konsekuensi nya, Neng." Ucap pak supir sambil tersenyum. Senyum nya mirip bapak.
"Terimakasih, Pak. Saya sudah siap menerima segala resiko dari pilihan saya." Jawab ku menguat kan diri sendiri. Aku pun kembali tersenyum, sekali lagi demi Ibu.
"Sudah sampai, Neng." Ucap nya mengagetkan ku yang sedang melamun memandangi jalanan.
"Terimakasih, Pak." Ucapku sambil memberi uang dan berjalan menuju gerbang restoran. Tapi rasanya ada yang aneh dengan bapak supir tadi. Dari mana beliau tahu kalau aku sedang di hadapkan pada pilihan yang sulit?
Seketika aku menengok lagi ke belakang dan..