Makan malam di rumah Hardinata

1129 Kata
Selamat membaca. Beberapa saat kemudian beliau sudah kembali membawa sesuatu yang ku tahu itu adalah buah tangan untuk tuan besar. Isinya lima pasang serabi putih, dan tiga pasang serabi yang di siram dengan air gula Jawa asli, masing-masing pasang dua buah. Tentu semua nya original buatan sendiri. Ibu ku dulu sering berjualan serabi bersama bapak. Dulu biasanya pagi sebelum berangkat sekolah aku mengantarkan dua bungkus nasi goreng untuk ibu dan bapak. Karena mereka berangkat berjualan sebelum matahari terbit, jadi aku yang harus membuatkan sarapan untuk beliau dan mengantarkan nya ke lapak. "Ayo, Nak. Sudah tidak ada yang tertinggal lagi." Ucapnya menepuk pundak ku lembut, lalu naik ke motor tua penuh kenangan ini. Perlahan aku hidup kan kembali motor ini dan melaju kencang meninggalkan rumah dengan penuh rasa bimbang. "Ya Allah, mudah kan lah," pinta ku pada sang pencipta memohon supaya Allah memudahkan jalan pilihan ku, agar bisa melihat Ibu bahagia di masa tua nya nanti. "Kita sudah sampai, Nak." Ucap Ibu saat kami sampai di depan gerbang besar kediaman keluarga Hardinata. Aku sendiri sudah beberapa kali masuk ke istana megah ini, tapi aku tak pernah bosan saat nyonya Renata menyuruh ku menemani anak nya yang masih balita bermain, aku dengan senang hati menemani bujang kecil yang paras nya tampan bak artis Korea ini. "Ibu minta kamu tidak membuat kesalahan di hadapan tuan besar. Jangan kecewakan ibu, Nak. Kamu harapan ibu satu-satunya." Jelas ibu dengan setetes air mata jatuh di pipi tirus nya. Aku pun menghela nafas panjang. "Iya, Buk. Insya Allah Allea akan lakukan apa pun selama itu bisa membuat Ibu merasa bahagia," Jawab ku dengan suara parau, menahan rasa yang jelas tak mampu terungkap kan. Aku pun merangkul tangan ibu dan mengajak nya masuk, karena pasti tuan Hardinata sudah menunggu kedatangan kami. Hati ku berdetak tak karuan. Sebisa mungkin ku atur nafas dan ku netral kan semua rasa yang cukup mengganggu hati ini. "Assalamualaikum," ucap kami kompak saat telah masuk ke dalam rumah mewah Hardinata. Tak ada satu pun yang menjawab salam ku selain nyonya Renata yang rendah hati itu. Tuan besar hanya menunduk, entah apa yang sedang di pikirkan nya saat ini. Apa beliau akan membatalkan perjodohan ku dengan anak nya? Hati ku bimbang dengan diam nya tuan besar. Setelah di sambut hangat oleh nyonya Renata, kami pun di persilahkan untuk masuk dan bergabung di meja makan yang sudah di sediakan. Lalu tuan Hardinata bangkit dan mempersilahkan kami duduk di depan kursi nyonya Renata dan lelaki yang bernama farell itu. Beberapa saat kemudian kami duduk dan betapa terkejutnya aku saat melihat sosok yang akan menjadi suami ku nanti. "Lo? Ngapain lo di sini, hah?" Tanya nya lalu bangkit dan menggebrak meja makan membuat tuan besar menghela nafas panjang. "Sa-sa-saya.. Allea. Saya di undang oleh tuan besar untuk datang makan malam bersama di rumah ini. Apa kami salah?" Tanya ku to the poin melihat kemarahan tuan muda nan tampan tapi menyebalkan itu. "Farell, duduk! Papa yang mengundang mereka untuk makan malem bersama kita. Kamu harus menghormati mereka karena mereka tamu Papa." titah sang tuan besar membuat anak lelaki itu duduk patuh. "Dan ada sesuatu yang akan kami bicarakan, tentang masa depan mu." Lanjut nya dengan wajah sendu. Beliau melirik ku sambil tersenyum kemudian mengangguk. Aku hanya bisa pasrah dengan semua yang akan terjadi. "Tapi, Pah. Mereka ini pembantu dan rakyat miskin, kenapa Papa.." tanya nya dengan raut bingung. "Rakyat miskin ini lah pilihan Papa yang akan menjadi pendamping hidup mu." Jawaban Tuan Hardinata rupanya hanya di anggap lelucon oleh putra kesayangannya itu. Farell pun tertawa terbahak bahak sampai meneteskan air mata saking lucu nya. "Hahaha, Papa ini. Papa pasti bercanda kan? Papa lagi nge-prank aku kan? Haha.." Jawab nya masih dengan gelak yang memenuhi seisi ruangan. "Tidak, Farell. Papa memutuskan untuk menikah kan mu dengan Allea, gadis baik pilihan Papa." Tegas tuan besar dengan wajah serius. "Tapi, Pa," sanggah farell dengan sejuta tanya di raut wajah nya. "Ucapan Tuan Hardinata adalah pertintah. Dan saya tidak menerima penolakan." Ucap nya tegas sambil berdiri. Di tatap nya lekat-lekat wajah kecewa sang putra, terlihat raut penyesalan yang teramat sangat dari wajah tampan nya yang sudah mulai keriput. Aku dan Ibu hanya bisa diam terpaku menyaksikan ayah dan anak yang sedang adu argumen itu. Kami merasa tidak enak karena kehadiran kami mengundang pertengkaran di dalam keluarga Hardinata ini. "Permisi, Tuan Besar. Kalau begitu kami pamit pulang. Mungkin hal ini bisa di bicarakan lain waktu. Terimakasih atas undangan nya, suatu kehormatan bagi kami bisa makan malam di istana keluarga Hardinata. Permisi." Pamit ku sopan pada tuan besar karena aku sangat tersinggung dengan ucapan anak nya yang sudah menghina dan merendahkan ku tadi. "Ayo, Buk." Ajak ku pada ibu lalu segera menggandeng tangan nya untuk keluar dari rumah yang mulai terasa sempit ini. "Tunggu!" Cegah tuan besar saat kami sampai di bibir pintu keluar. "Tinggallah di sini dan jadilah menantu saya. Temani dan dampingi Farell. Saya mohon maaf atas kelakuan nya tadi yang sudah menyinggung perasaan kalian." Ucapnya sambil menangkupkan kedua tangan nya tanda permohonan. Aku segera melepas kedua tangan nya lalu memeluk nya hangat. "Tuan besar tidak perlu seperti itu, saya sudah berjanji pada ibu untuk memberikan yang terbaik untuk nya. Jika menikah dengan tuan muda membuat ibu bahagia, saya siap terima apapun resiko yang akan terjadi di kemudian hari." Ucap ku lemah "Karena saat ini hanya Ibu yang saya punya. Setelah kepergian bapak, ibu menghidupi saya seorang diri, bersusah payah kerja di bawah telunjuk orang hanya untuk memberi saya makan, atau hanya sekedar membelikan permen kesukaan saya. Jadi sekarang sudah saat nya saya memberikan yang terbaik untuk nya." Jelas ku panjang lebar Ku lihat tuan besar menangis sesenggukan, entah beban apa yang sedang di pikul nya sehingga membuat tuan Hardinata yang selalu di segani dan di hormati semua orang bisa menangis di hadapan anak pembantu seperti ku. Perlahan tuan besar bangkit dan menyeka air mata yang membasahi mata sipit nya lalu berdiri tegak menghadap Ibu "Ya sudah, Nak. Kalau kamu mau pulang, pulang lah! Keburu larut. Hati-hati di jalan." Ucapnya sambil mengusap lembut rambut ku dan berbalik masuk. Aku dan ibu pun pergi meninggalkan rumah mewah bak istana itu dan pulang ke rumah sederhana sejuta kenangan bersama almarhum bapak. Aku bingung dengan apa yang terjadi tadi, sepanjang perjalanan aku memikirkan nya. Ada apa dengan tuan besar? Manusia yang di hormati dan di segani semua orang, sampai menangis sesenggukan di hadapan ku dan ibu. Tin.. Tin.. "Cepat turun!" Ku lihat segerombolan lelaki yang ku tahu itu preman sedang mengejar motor ku dan menghalangi jalan di hadapan ku. Tampang mereka menyeramkan, ada juga yang mengacungkan senjata tajam ke arah ibu yang duduk di belakang. Ku tambah laju kendaraan roda dua yang ku kendalikan ini agar cepat memasuki kawasan penduduk, tapi secepat kilat salah satu preman itu menendang body motor ku hingga kami terjatuh. Ibu...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN