Allea bersalah

1061 Kata
Selamat membaca. Pagi ini ibu sudah di perbolehkan pulang, tuan Hardinata yang mengurus semuanya, mulai dari administrasi, sewa mobil untuk pulang sampai biaya penyembuhan ibu untuk di rumah. Beliau juga memberikan uang makan untuk ku selama sebulan karena ibu adalah asisten rumah tangga nya. Jadi kata beliau, beliau masih punya tanggung jawab atas ibu. "Ibu, maafin Allea ya, Allea gak bisa jagain ibu kemarin. Ibu jadi sakit gini," sesal ku pada ibu yang sedang memasukkan baju ke dalam tas besar. "Ini bukan salah kamu, nduk. Ini namanya musibah, tidak ada yang menginginkan musibah menimpa kita." Ucapnya lalu duduk mendekati ku. "Yang penting ibu gak kenapa-kenapa kok, ini ibu sudah sehat. Gak usah merasa bersalah gitu." Kekeh nya. "Ibu tahu enggak? Kemarin Raka dan Rio yang menolong Allea melawan preman itu." Seketika wajah nya berubah khawatir. "Terus apa mereka terluka?" "Iya, Buk. Rio tangan nya di sabet cerulit. Raka perutnya robek, di jahit dua belas jahitan." Jelas ku. Sebenarnya aku tidak tahu pasti bagaimana keadaan Raka sekarang, karena aku tidak diperbolehkan masuk ke ruang dimana mereka di rawat. Aku hanya mendengar kabar ini dari Rio yang memang sudah membaik. Dia bilang Raka baru semalam sadar dari pingsan dan langsung tidur setelah makan. Aku yang datang terlalu malam tidak boleh masuk karena pasien sudah istirahat. "Apa kamu sudah menjenguk Raka?" Tanya ibu lagi membuat ku sedih. Aku sebenarnya gak sanggup melihat wajah teduh Raka, terutama setelah kejadian tempo hari saat aku memutuskan hubungan dengan nya. Aku masih belum siap kalau nanti tiba-tiba Raka menanyakan hal itu lagi, aku gak akan bisa menjawab nya. "Belum, Buk. Ya udah ayo kita pulang, nanti keburu siang," jawabku mengalihkan pembicaraan. "Lebih baik kita jenguk Raka dulu, Allea. Setidaknya kamu harus berterimakasih atas pertolongan mereka berdua." Ajak nya membuatku semakin serba salah. Tapi benar yang ibu katakan, aku harus bertemu dengan nya dan berterima kasih, kalau gak ada mereka entah apa jadi nya aku saat itu. "Baiklah, Buk." Ucapku akhirnya pasrah. Aku berdoa pada Allah agar menguatkan hati ini saat berhadapan dengan Raka. Aku gak mau terlihat lemah apalagi sampai menangis, semoga aku bisa mengendalikan emosi ini dengan baik. Langkah demi langkah yang ku lalui terasa sangat berat. Sampai tiba di depan kamar tempat Raka di rawat ku hanya bisa mematung di daun pintu, tak sanggup melihatnya. Tapi ibu tetap menguatkan ku dan menarik tangan ku agar segera masuk kedalam. Saat tiba di dalam, aku berdiri di samping ranjang bersama ibu. Raka membuka matanya saat mendengar ada yang mendekat. "Bagaimana kabarmu nak Raka?" Tanya ibu ramah. "Eh ibu, Allea. Alhamdulillah Raka sudah mendingan," jawabnya sambil menggamit tangan ibu dan mencium nya. "Syukurlah kalau begitu." Ucap ibu sambil tersenyum. "Nak, ibu keluar sebentar ya. Kalian lanjutkan ngobrol nya." Ucap ibu padaku dan langsung aku pelototi. Apa coba maksudnya? Masa aku di tinggal berdua sama Raka, tangan dan seluruh badan ku langsung mengeluarkan keringat dingin. Perasaan canggung dan serba salah menghinggapi hati ini. Kami pernah saling menyayangi hingga akhirnya keadaan memaksa kami untuk menjadi dua orang asing. "Aku ikut ibu, saja." Ku coba mengejar ibu yang sudah menutup pintu dari luar, tapi tiba-tiba Raka menahan tangan ku untuk tidak pergi. "Ehmm.. ehmm. Maaf," ucap ku gugup. Raka melepas pegangan tangan nya dan membetulkan posisi duduk nya menghadap kepada ku, lalu memandang ku dengan tatapan teduh yang selalu ku rindukan darinya. Ku alihkan pandangan ku ke arah lain demi mengindari tatapan nya. "Kamu berhutang banyak penjelasan sama aku, Allea." Ucapnya yang membuat ku melongo, entah apa yang harus ku jelaskan padanya. Tak mungkin aku memberitahu nya bahwa aku akan menikah dengan putera tuan Hardinata yang tak lain dan tak bukan adalah sahabat lengket nya sejak sekolah dasar. "Terimakasih sudah menolong ku saat pembegalan kemarin, dan maaf membuat mu seperti ini," ucapku tulus dengan niat mengalihkan perhatian. "Sudah menjadi kewajiban ku melindungi mu, aku sudah berjanji untuk terus menjaga mu sampai maut memisahkan kita." Jawaban yang mampu membuat ku speechless. Bingung harus menjawab apa. "Rio mana? Apa dia udah pulang?" Tanya ku pura-pura mencari keberadaan Rio, agar tidak di serang mental ku olehnya. Tiba-tiba dia memegang kedua pipiku dan memaksa ku untuk menatap manik coklat nya. Aku yang tak bisa berkutik hanya bisa menatap balik dirinya yang terlihat sangat kecewa. "Jangan mengalihkan perhatian, Allea. Aku butuh jawaban pasti." Ucapnya Karena berada pada posisi yang tidak menguntungkan, aku pun hanya bisa menunduk lemah tanpa bisa berkata apa-apa. Air mata meluruh dengan cepat dari tempat nya, tekad ku untuk tidak menangis di hadapan Raka hancur sudah saat menatap wajah adem nya. Perasaan bersalah menyeruak masuk ke dalam lubuk hati. "Maaf.." kalimat itu terus saja meluncur dari bibir ini, tak mampu mengucapkan apa-apa lagi selain kata maaf. Ruangan ini terasa sangat sempit saat berada di situasi mengharukan seperti ini. Aku ini memang lemah, seharusnya aku lebih kuat dan bisa mengenyampingkan ego ku demi ibu. Tapi kenyataannya malah aku yang rapuh, terbayang-bayang kembali saat-saat kebersamaan ku dengan Raka. Semuanya terasa manis karena Raka adalah lelaki dewasa yang lebih banyak mengalah meskipun aku yang jelas-jelas salah. Seperti saat dulu, saat aku di antar pulang oleh teman pria yang menyukai ku karena menunggu Raka yang tak kunjung datang, sedangkan hari sudah semakin larut. Aku pulang bersama nya dengan motor gede, dan bercengkrama sebentar saat sampai rumah. Rupanya Raka melihat dan mengikuti kami sejak kami keluar dari restoran, dia marah dan merasa cemburu. Tapi karena aku merasa tidak ada salah nya aku di antar teman karena lama menunggu nya menjemput, aku malah balik memarahi nya dan mendiami nya selama satu Minggu hingga akhirnya dia yang meminta maaf duluan kepada ku dan kami kembali berbaikan. Membayangkan hal itu membuat ku meringis, apalagi mengingat ancaman Farell waktu itu membuat ku semakin takut. "Alleandra Alayya Bianca," panggilnya membuatku tersentak kaget. "Eh iya, Ehmm..." Gugupku. "Aku harus pulang, mungkin ibu sudah menungguku di luar." Ceklek Pintu terbuka dan ternyata ibu, beliau masuk dan langsung tersenyum pada Raka. Aku pun segera menghapus jejak air mata yang masih membasahi pipi agar ibu tak melihatnya. "Nak Raka, terimakasih kamu telah menolong Allea kemarin. Lekas sembuh, ya." Ujar ibu sambil tersenyum tulus, "Tapi kami gak bisa berlama-lama karena sudah di tunggu sama mobil yang menjemput, kami ijin pulang," pamit ibu sopan. "Iya, Buk. Silahkan. Hati-hati di jalan nya." Ucap Raka sambil menyambut uluran tangan ibu dan kembali mencium nya. Aku pun menunduk lirih dan segera keluar mendahului ibu, sudah gak kuat rasa nya berlama-lama dekat Raka. "Allea.."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN