Bab 84 Selamat membaca. Lagi-lagi Allea di buat kewalahan menghadapi kedua anak nya yang sedang dalam fase aktif--banget. Mengeluarkan semua mainan, memenuhi seisi rumah dengan potongan mainan yang entah dimana bagian lain nya. Setelah seharian berjibaku dengan pekerjaan yang mengharuskan nya menghadapi tingkah laku para murid nya, dia kembali berhadapan dengan pekerjaan rumah yang sudah menjadi kewajiban nya sebagai seorang wanita. Ingin mengeluh, tapi apa daya, dia hanya punya Tuhan tempat satu-satunya untuk ia mencurahkan segala isi hati nya. Pada Anita pun dia hanya bercerita tentang masalalu nya, tak pernah dia tunjukkan pada Anita kalau dia lelah, ataupun capek. Tapi sekuat apapun dia menyembunyikan semuanya, hati nya tak bisa di bohongi, selalu ada air mata yang luruh saat duduk

