08

1890 Kata
Chapter 08   Mark membuka matanya pelan-pelan, mencoba mencerna keadaan dengan kepala yang pusing tujuh keliling. "Ini dimana?" tanya Mark yang baru sadar kalau ruangan ini asing untuknya. Mark jelas belum pernah memasuki ruangan dengan banyak quotes motivasi terpasang di tembok berwarna baby blue ini. Di rumahnya enggak ada ruangan seperti ini, di kantornya juga enggak. Mark melihat kesekeliling ruangan yang sepertinya apartemen ini—karena baunya juga bukan seperti bau rumah sakit, ruangan ini beraroma seperti vanilla.   "Lah Hana?" Mark bingung ketika melihat perempuan yang tertidur di kursi kerjanya, Hana hanya menjadikan kedua lipatan tangannya sebagai alas kepalanya. Mark juga kaget melihat layar komputer Hana yang masih menyala.   Si tengah dari keluarga Nasution itu lantas bangkit dari kasurnya. Sedikit meregangkan ototnya yang kaku, setelahnya dia mengangkat tubuh Hana dan menaruhnya di atas kasur yang tadi dia tiduri.   Tak lupa Mark juga mematikan komputer Hana yang masih menyala, tentu saja sebelumnya dia juga mensave sketch yang Hana kerjakan. Mark lalu duduk disamping Hana, dia mengelus rambut panjang milik mantan kekasihnya yang sedang terlelap itu.   Lelaki itu kemudian tersenyum simpul, dia ga sebodoh itu untuk sadar bahwa Hana yang membawanya kesini. Walaupun Mark sendiri masih bingung, gimana caranya badan kecil Hana ngebawa dia yang lagi mabok kesini.   Toh ga mungkin Hana ngebawa dia kesini, toh Hana mah ngebuka botol aqua aja minta di bukain ke orang lain. Hana enggak sekuat itu seinget Mark mah.   "Makasih Han," ucap Mark pelan, masih dengan senyum manisnya. Mark lalu mengambil ponselnya, banyak pesan khawatir dari orang di rumahnya. Ada juga pesan-pesan menunjukan rasa kekhawatiran dari para simpanannya.   Tapi Mark hanya membalas pesan dari ibunya tersayang, nama kontaknya 'aset berharga Mark❤' menjelaskan bahwa dia enggak diculik alien dan baik-baik saja. Tak lupa Mark memfotokan calon istrinya yang sedang terlelap. Kemudian Mark mengirim pesan pada Julio. Isinya berupa ucapan terimakasih karena telah membuat Hana menjemputnya.   Syukurlah sekarang hari minggu, yang artinya Mark enggak usah ke kantor ataupun menghadiri meeting atau mengurusi berkas. Dia ingin berada lebih lama disini.   Sekali lagi dia melihat wajah Hana yang masih terlelap, padahal sekarang sudah jam 7 pagi. Dari dulu Mark emang suka melihat Hana yang sedang tidur. Bahkan dia punya beberapa foto colongan ketika Hana sedang tertidur di kelasnya.   Jangan tanya bagaimana cara Mark bisa mendapatkannya. Teman Mark itu ada dimana-mana. Jadi bisa lah Mark menyuruh temannya untuk memfoto aktivitas pacarnya, dulu. Sampai sekarang foto-foto itu masih ada di memori cardnya Mark.   Kan Mark belum bisa move on dari Hana. Wajar kalo dia belum ngehapus foto-foto itu. Walaupun setelah putus Mark dengan mudahnya mendapatkan penganti, tapi tetep, Mark sering ngebayangin kalau kekasihnya itu tetep Hana. Bukan Mina, bukan juga Nancy, bukan Yira, bukan Arin, bukan perempuan lain, tapi Hana, hanya Farhana Juan Palaguna.   Terkadang Mark mempunyai niatan mengajak Hana untuk balikan, tapi imagenya terlampau jelek dimata Hana. Habisnya setelah putus, Hana selalu melihat Mark sebagai seorang playboy yang nakal yang suka gunta-ganti cewek tiap 3 bulan sekali. Padahal Mark bukan playboy, Mark hanya mencari perempuan yang pas untuknya saja.   "Hm kayanya gua mesti ngegas lagi. Sebelum Hana diambil Januar," gumam Mark. Tentu saja ini perjodohan ini kesempatan besar untuknya kembali mendapatkan sang pujaan hati. Mark lantas tiduran kembali disampinh tubuh Hana. Tangannya mengelus wajah Hana dengan lembut. "gua ga mau kehilangan elo."   Hana sebenarnya enggak mau bangun dengan cepat, tapi bau ayam ini seolah menggelitik hidung Hana, lalu mengetuk matanya agar Hana bangun dan memakannya. Perempuan itu menerjabkan matanya berulang kali. Sembari memikirkan kenapa dia bisa tertidur di kasur. Padahal setelah menyuruh supir pribadi ayahnya menidurkan Mark di kasurnya, Hana langsung ngerjain komiknya.   Soalnya Hana sendiri enggak berniat tidur sampai dia berhasil mengusir Mark dari apartemennya yang ada di lantai 7 ini. Iya lah, ga tenang kali kalo Hana tidur sementara di apartemennya ada lelaki selain ayah atau kakaknya.   Takutnya di apa-apain.   But sialnya Hana malah ketiduran dan—tadaa—dengan ajaibnya pas Hana bangun dia udah ada diatas kasurnya sendiri. "Kok aneh sih?" kata Hana sembari menggaruk rambutnya yang gatal.   "Lo udah bangun?"  Mata Hana langsung membulat begitu mendengar suara Mark. Kaget dia yorebun, dikirain Mark udah pergi dari sini. Ternyata belum.   Malah Mark baru aja selesai menggunakan kamar mandinya Hana, bahkan handuk birunya Hana juga dipake sama Mark, di lingkarkan di pinggangnya. Hana jelas melotot lah. "WOEY ANJENG! SIAPA YANG NGIJININ ELU MANDI DISINI SETAND?!" raungnya ganas. "Lu ga konsisten amat, tadi bilangnya anjing, sekarang setan. Mau lo apa sih?" sahut Mark, dia lalu menarik handuk yang semula terlilit di pinggangnya. Hana buru-buru membalikan badannya.   Anjir lah! MASA MARK MAU TIBA-TIBA NAKED DIDEPAN HANA?! Istigfar, istigfarr! DASAR MANTAN GA PUNYA AHLAK!   "Jangan ngeres anjir, gua udah pake celana," ujar Mark santai. Setelah itu barulah Hana membalikan badannya.   "SIAPA YANG NGIJININ ELU MAKE CELANA GUA ANJER?!" lagi-lagi Hana ngegas pas tau celana yang Mark pake itu punya dia, tepatnya celana kolor yang modelnya kek celana basket. "JANGAN BILANG LU PAKE SEMPAK GUA JUGA!"   "Ya kaga lah anjir! Gua ga pake sempak makannya burung gua ngelewer-ngelewer ga karuan gini," balas Mark. Lagian mana mungkin Mark pake sempaknya Hana, ga cukup lah. Kalo kolor Hana sih emang agak gede, makannya cukup.   Gadis itu langsung menggosok telinganya. Sumpah, dia menyesal mendengarkan ucapan Mark barusan. 'Anjir balikin 4 detik guaaa!' jerit Hana dalam hatinya.   "Btw lu ga lapar?" tanya Mark. Tumben tu mahluk perhatian, setau Hana Mark itu cuek banget. "ada chicken wings lohh. Lu pan suka."   Dan btw-btw, kenapa Mark jadi kaya SPG KFC gini yaa?   Lagian si Mark tau darimana coba kalo Hana suka chicken wings? Perasaan Hana baru suka Chicken wings sejak ada promonya di Kfc. Seinget Hana juga promonya baru berlaku sekitar 6 bulan yang lalu, dan ketika itu Hana udah putus sama Mark. Jadi, Mark tau darimana Hana suka Chicken Wings?   "Oh, lu ga mau? Yaudah gua makan semua," ujar Mark yang terdengar seperti ancaman. Hana langsung menyibakan selimutnya dan bangun dari tidurnya. Hana menghampiri Mark. Gadis itu bisa melihat 1 ember besar khas KFC di meja makan, dengan 4 bungkus nasi. Mark pun menyodorkan 1 bungkus nasi pada Hana. "Nih, ayo makan. Gua tau lu pasti lapar."   Hana jelas menerimanya dan menaruh bungkus nasi yang diberikan Mark di mejanya. Sebelum akhirnya Hana menarik kursi untuk dia duduk. Tiba-tiba saja Mark menahan tangan Hana, seolah melarang Hana untuk duduk. "Cuci tangan dulu woi."   Oh iya, Hana belum cuci tangan. Hilap. Hana membalikan badannya dan berjalan ke arah wastafel untuk mencuci kedua tangannya sekalian juga membasahi wajahnya dengan air agar lebih segar.   "Pake sabun atuh Han," ujar Mark sembari menumpahkan sabun cair untuk cuci tangan di tangan Hana.   Hana terdiam untuk beberapa detik. Jujur saja sebenarnya sedari tadi Hana pengen ngamok sama Mark. Habisnya Mark kurang ajar banget pake handuk dan celananya ga bilang-bilang.   Dan sekarang Mark malah menggosokan tangannya yang sudah diberi sabun dengan tangan Hana yang basah. Ia mengarahkan tangan Hana ke arah keran yang airnya sudah keluar. Sekali lagi Mark menggosok tangan Hana agar bersih dari sabun.   Hana merasa hina karena tangannya dicuciin sama mantan. Ia lantas mengibaskan tangannya, sehingga tangan Mark tidak lagi bersentuhan dengan tangannya. "Diem anjing, gua bisa sendiri."Hana ga suka Mark membantunya seolah dirinya adalah mahluk Tuhan yang paling lemah—padahal mah iya. Dia juga risih berada di deket Mark, entah kenapa bawaannya pengen ngehujat Mark mulu. "diem sana, gua alergi deket-deket sama mantan." Setelah berkata kejam begitu Hana pun pergi begitu saja dari hadapan Mark.   Mark tersenyum miring mendengarnya. Kesel tapi da gimana. Emang sih, ini bukan pertama kalinya Hana berkata begitu padanya. Menyedihkan, padahal Mark sendiri belum bisa move on dari Hana, tapi Hana malah menghindarinya. Tapi yah, namanya bukan Markana Laksana Nasution kalo pasrah gitu aja. Toh Theo selalu bilang: kejar yang lo mau, kalo lo belum mati berati lo belum boleh nyerah. Mark belum mati dia masih bisa ngehirup oksigen dengan gratis, otomatis dia ga boleh nyerah gitu aja dong?   "Heh, pake nih!" Hana tiba-tiba aja melemparkan kemeja pink pada Mark. Mark kaget tapi tangannya spontan menerima kemeja pink itu. Masalahnya, why kemejanya harus pink? "cuman itu yang ukurannya gede," ucap Hana seolah dia bisa membaca apa yang dipikirkan oleh mantannya itu. "pake cepet. Gua ga suka liat orang gila setengah telanjang."   Sianjir. Iya sih, Mark emang masih setengah telanjang. Tapi kan tadinya Mark bermaksud untuk menggoda Hana dengan menunjukkan abs hasil ngegym tiap sore sama Theo. Lagian cewek mana sih yang ga tergoda sama abs Mark? Walaupun yah belum mateng semua.   Mark ngira Hana bakalan cengo, atau mukanya bakal bener-bener merah karena ngeliat perutnya. Kenyataannya malah enggak, Hana sama sekali ga peduli dan malah memberikan Mark kemeja pink.   Mark lantas memakai kemeja itu, tapi tidak mengancingkan semua kacing kemejanya. Dia lalu duduk disamping Hana. "Ga akan bilang makasih gitu?" sindir Mark karena Hana makan duluan dan ga ngomong makasih samsek sama dia. Padahal udah dibeliin makanan.   "Ngapain? Lu juga belum bilang makasih sama gua. Padahal kemarin udah ngebawa lo kesini," bales Hana yang membuat Mark tertohok. Lah iya juga. "harusnya gua tinggalin lo aja. Biar lo jadi gembel seka—"   "Makasih sayang," potong Mark dengan suara menyebalkannya. Hasrat Hana untuk menampar wajahnya jadi semakin kuat kan?   "Ya setan."   Jahat emang mulutnya si Hana. Perasaan dulu pas masih pacaran ga gitu-gitu amat bahasanya deh. "Lu ga bilang makasih?"   "Makasih."   Tuh kan, sekarang Hana beda. Udah mah mulutnya jadi jahat, cuek lagi. Mark ga ngerti kenapa anak seimut Hana pas masa kuliah dulu, bisa jadi ganas macam cewek pms tiap hari.   Apa karena efek mantanan?   Krubuk. Perut Mark tiba-tiba berbunyi, seolah memberikan kode bahwa Mark harus segera mengakhiri acara berdiskusi dengan otaknya dan segera makan makanan yang dia beli menggunakan jasa gofood.   Mark mengambil nasi miliknya sepotong ayam bagian d**a dari ember kfc itu kemudian memakannya dengan hikmat.   Keadaan sekarang hening sih, Mark juga ga tau mau ngomongin apaan sama calon istrinya yang lagi makan juga itu. Padahal Mark ingin berbicara banyak hal, sayang mulutnya ga berani bersuara, semua terasa begitu awkward.   "Halo Nin, gua pengen ketemu sama elu." Mark menoleh kepalanya pada Hana yang sedang menelpon bestainya itu. Hanin, anak psikologi yang lagi kuliah S2. Mark tau Hanin, soalnya dari SMA juga Hana Hanin itu barengan terus, sampe sering disangka anak kembar padahal mukanya beda. Dan malah Hanin sering menghubungi Mark untuk menanyakan keadaan sahabatnya, ujung-ujungnya sih ngancem. 'Jangan apa-apain sahabat gua, kalo enggak gua colok mata lu pake colokan cilok mang Aceng."   "Geprek bensu jam 11 an ya. Ga pake acara hihah-hihahan atau tolak-tolakan. Oke? Bye." Hana lalu menutup teleponnya, padahal Hanin belum mengiyakan ucapannya. Sialan emang anak ini. "ngapain lo liat-liat?!" tanya Hana ketus begitu mendapati Mark sedang melihat ke arahnya.   T E R C Y D U C K. Mark kaget, dia ngira Hana ga bakal sadar kalo di liatin sama dia, tapi tetep lah Mark stay cool biar ga malu. "Ya mata-mata gua, terserah gua lah." "Cih," Hana membuang muka. "nyesel gua ngebawa lo kesini. Harusnya gua tendang aja orang kaya lo ke got, terus bikin lo ma—"   Hana menghentikan ucapannya begitu jari telunjuk Mark ada didepan mulutnya. Mark menatap Hana dengan tatapan mengintimidasi. "Banyak bacot amat, bibir lo mau gua cipok sampe jontor hah?"   Ancaman itu sebenarnya biasa saja, toh Hana juga udah pernah ciuman sama Mark sebelum putus. Tapi tetep aja, kalo dibilangin gitu Hana kesel. Rasanya pengen banget mukul Mark pake tumpukan buku SBMPTN yang tebelnya udah kaya beban idup. "Jangan ngadi-ngadi elo ya? Udah mending buruan abisin makanan elo terus balik."    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN