Tertangkap

1127 Kata

63. Tertangkap “Ya, Dhil ... boleh ya?” bujuk Inaya sekali lagi. Fadhil mengangkat jari telunjuk dan mengarahkan ke pipinya. “Ish, kesempatan dalam kesempitan.” ujar Inaya. “Ya udah, gak boleh!” Fadhil menarik selimut dan merebahkan tubuhnya. “Oke ... oke ... oke ... mana pipinya.” Inaya mengalah demi pekerjaan yang akan di lakoninya. Cup! “Fix, besok aku sama ibu akan ke rumah temannya.” Inaya berkata setelah memberikan kecupan singkat untuk Fadhil. Fadhil tersenyum simpul karena itu. “Tapi janji, hanya 2 jam sehari dan pertemuannya tidak boleh lebih dari 3x dalam satu minggu.” pesan Fadhil. “Siap, Fadhil suamiku yang paling baik.” balas Inaya. “Ehm ... Nay, boleh juga, ya?” “Boleh apa?” cicit Inaya. “Bantu Sisil, aku sudah terlanjur berjanji, Nay! boleh, ya?” bujuk Fadhil. “

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN