12. Minta disentuh
Seharian dihabiskan Inaya dikampusnya. Bolak balik kelas dan bagian sekretariat untuk mengatur ulang jadwal mengajarnya. Sudah tiga bulan usia pernikahannya dengan Fadhil. Inaya mengundurkan diri dari promosi sebagai Dekan 1 karena Inaya mendapat teguran dari pemilik Yayasan. Jika tetap ingin mengambil promosi maka dia diharuskan tiap hari hadir di kampus. Sementara sudah tiga bulan ini dia cuma hadir hanya tiga kali seminggu, itupun hanya di jam masuk kelas saja.
Sewaktu membereskan seluruh berkas-berkas dimeja kerjanya, Siska menghampiri Inaya.
“Jadi lo tetap tiga kali seminggu ngampus?“
“Iya Sis, kalau tiap hari bisa remuk badan gue bolak balik Bandung Jakarta.”
“Promosi lo gimana?” tanya Siska lagi.
“Gue sudah undur diri.” lirih Inaya.
“Untuk mendapatkan sesuatu terkadang kita juga harus mengorbankan sesuatu. Gue yakin, ini sudah yang terbaik untuk hidup lo.” Ucap Sisika menghibur. “Gimana ... Enak kan jadi istri? Apa perlu kita beli lingerie lagi? Ada model yang lebih hot baru launching.” goda Siska.
Spontan Inaya mengehentikan kegiatannya, dia menatap Siska sebentar lalu..
“Gak usah, yang kemaren saja belum terpakai.” Jeda beberapa detik, lalu “Gue belum tersentuh sama sekali.” Jawab Inaya sambil menundukkan kepalanya.
“Lo serius Nay? Gue gak salah dengar kan?“ Siska hampir saja berteriak mendengar ucapan Inaya barusan.
“Dua rius, bahkan ratusan rius gue kasih asalkan lo percaya.”
“But Why?“ tanya Siska sangat penasaran.
“Entahlah, katanya dia tidak tertarik melihat tubuh gue karena udah keseringan lihat pasiennya. Meskipun dengan lingerie yang kita beli kemaren, dia tidak tertarik sama sekali. Dan mungkin, gue dalam keadaan polospun, dia tidak tertarik.”
“Gila, suami lo normal kan? Ups ....” Siska menutup mulutnya dengan telapak tangan, lalu ia melanjutkan, “Maksud gue, jika dia laki-laki normal masa tidak tertarik sedikitpun lihat wanita cantik dan seksi di depan mata. Kucing aja di kasih umpan ikan akan tertarik dan langsung makan.”
“Jadi, menurut lo Fadhil tidak normal, begitu?” Kening Inaya berkerut.
“Ya, bukan begitu Nay. Apa mungkin karena keseringan lihat perempuan dan bahkan sering membantu ibu-ibu melahirkan membuat dia tidak tertarik sama perempuan? Atau karena keseringan lihat jadi udah biasa aja lihat yang begituan? Lalu tidak tertarik untuk menyentuh istri? Apa ada orang seperti itu? Dokter kandungan gue juga laki-laki, dia punya istri dan anak, kenapa suami lo begitu? Kan aneh, Nay!“ Berbagai kemungkinan yang terlintas di otak Siska, langsung saja terucap dari bibirnya tanpa menimbang perasaan Inaya. Inaya hanya mencolos mendengarnya.
“Bagusnya lo tanya baik-baik deh, Nay!, masa ada cewek cantik dikamar dianggurin. Normal gak tuh?“ ujar Siska lagi
“ Hhmm ....” gumam Inaya.
“ Ya udah, gue pulang dulu. Tetap semangat ya ...Bye ....” Siska melambaikan tangan pada Inaya.
“ Bye, gue juga udah ditungguin mang Maman.”
Setelah Siska berlalu dari ruangan mereka, Inaya terfikir lagi dengan kata-kata Siska barusan. Apa benar Fadhil tidak normal sebagai laki-laki? Apakah Fadhil seorang gay?
Selama berumahtangga, tidak pernah sedikitpun terlintas di benak Inaya jika Fadhil adalah seorang yang berkelainan seks. Sikap Fadhil yang tidak romantis, cuek dan sedikit kasar dianggap Inaya sebagai bentuk penolakan yang belum bisa Fadhil terima. Fadhil belum bisa menerima Inaya sebagai istri sebab pernikahan mereka berlangsung karena campur tangan sang ibu.
Meskipun selama tiga bulan menjadi istrinya, mereka tidak pernah berhubungan suami istri, Inaya mengira karena Fadhil belum mencintainya dan Inaya akan bersabar menunggu sampai Fadhil membuka hatinya.
Tetapi apabila yang dikatakan Siska benar, Inaya tidak akan bisa memaafkan ketidak jujuran Fadhil. Inaya paling benci jika dibohongi. “Apa aku harus menanyakan pada Fadhil?” Inaya bertanya-tanya di dalam hatinya sendiri.
“Apa ada sesuatu yang tertinggal di Jakarta Neng?” Maman bertanya. Sejak awal mobil yang dikendarainya meninggalkan Jakarta, Maman memperhatikan Inaya gelisah dalam duduknya.
“Eeehh ... Tidak ada mang.” Jawab Inaya.
“Saya lihat Neng Naya gelisah saja dari tadi, kalau memang ada yang mau diambil gak apa-apa neng. Kita bisa ambil sebelum terlalu jauh.” katanya lagi.
“Tidak mang, tidak ada yang tertinggal. Hanya ada sedikit masalah pekerjaan yang Naya pikirkan.” Ujar Inaya sedikit berbohong.
“Kalau sudah pulang, bagusnya pekerjaan jangan dibawa pulang atuh,neng. Ditinggal saja di Jakarta, biar Neng Naya kalau pulang wajahnya bisa segar.” Maman berkata lagi dengan logat sundanya. “Supaya wajah kita kelihatan lebih presh-begitu kata orang-orang. Trus, Den Fadhil juga makin sayang.” Mang Maman terkekeh di akhir kalimatnya.
“Fresh mang, bukan presh. Pakai F bukan P.” tawa kecil keluar dari mulut Inaya saat ia meluruskan pengucapan kata presh menjadi Fresh.
“Sama saja neng, yang penting segaaar.” Maman kembali tertawa lebar.
“Memangnya Es, segaaar?” jeda beberapa saat, “Kalau sekarang Naya gak fresh ya, mang?” Inaya mengajukan pertanyaan itu pada sopir yang sudah setia dan sabar mengantar dan menunggunya selama ia bolak balik Bandung-Jakarta.
“Yaaa, kurang neng. Neng Naya kan cantik, tapi akhir-akhir ini sepertinya neng Naya banyak pikiran ya? Jadi aura cantik neng tertutupi sama masalah yang neng pikirkan. Makanya, jangan bawa pekerjaan pulang, jadi cantik neng,
“Ah,,mamang bisa aja.”
“Betul neng. Makanya mamang bilang, kalau masalah kerjaan jangan dibawa ke Bandung. Tinggalin aja di Jakarta. Ntar den Fadhil mandang wajah neng, jadi mandang kerjaan.” Mang Maman kembali terkekeh.
Sebenarnya ada benarnya juga yang dibilang Maman. Apa selama ini Inaya terlalu capek bolak balik Jakarta-Bandung jadi terkadang sampai di Bandung sudah capek dan tidak bersemangat lagi?
Baiklah, untuk sementara persepsi Siska akan disingkirkan dulu. Inaya tidak akan sanggup menerima kenyataan jika hal itu benar terjadi.
***
Setelah membersihkan diri dan merasa lebih segar, Inaya duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir teh hijau dan beberapa cemilan. Dia sengaja duduk di teras sambil menunggu Fadhil pulang dari rumah sakit.
“Nay, gak mau makan malam?” Ratna menghampiri Inaya. Dia duduk di kursi rotan di samping Inaya duduk.
“Naya tunggu Fadhil, bu. Makan bareng Fadhil saja.” jawab Inaya.
“Gak usah ditunggu, katanya ada acara di rumah sakit. Mereka pasti pulang larut malam ini.” sanggah Ratna.
“Ibu udah lapar?” Inaya balik bertanya
“Menurut kamu?” Ratna membalas pertanyaan Inaya dengan pertanyaan.
Seakan mengerti dengan maksud mertuanya, Inaya berdiri sambil tersenyum. Digandengnya tangan Ratna, ia kemudian membawa mertuanya itu untuk masuk ke dalam rumah.“Ayo kita makan malam bu.” ajaknya.
Ratna tersenyum senang dengan perlakuan Inaya kepadanya. Sejak Fadhil menikah, dia seperti punya anak perempuan. Baginya Inaya tidak seperti menantu, tetapi seperti anak kandungnya sendiri.
Jam hampir menunjukkan pukul 22.00. Inaya masih membolak balikkan halaman buku yang sedang dibacanya. Perasaannya gelisah, Fadhil tidak pernah menghubunginya jika pulang larut malam.
Diberanikannya mengirim pesan kepada Fadhil. Setelah mengetik beberapa kata, menanyakan keberadaan Fadhil, pesan tersebut langsung terkirim lalu rasa sesal menghampirinya. Harusnya dia tidak bertanya, bukankah ibu tadi sudah bilang kalau Fadhil dan ayahnya akan pulang telat. Bodoh ... dia merutuki dirinya sendiri.
Tidak berapa lama, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Fadhil.
Maaf, ada pasien yang due date. Tidurlah dahulu. Mungkin saya pulang lewat tengah malam
- Fadhil –
Selanjutnya, Inaya menutup ponselnya dan berusaha untuk memejamkan mata.
Inaya terbangun saat dia mendengar suara pintu terbuka. Samar dia melihat sosok Fadhil keluar dari kamar mandi. Tubuhnya hanya dibalut dengan lilitan handuk dipinggangnya. Ingin rasanya Inaya menyentuh tubuh tersebut. Tapi hasrat itu selalu dipendamnya. Kata-kata Fadhil yang menyebut dia bodoh karena mempermalukan diri sendiri beberapa bulan yang lalu masih terngiang di telinganya.
“Kamu lihat apa?” tanya Fadhil.
Inaya tersentak, Fadhil sudah berdiri disamping ranjang. Ditariknya selimut lebih tinggi lagi untuk menutupi rasa gugupnya.
“Sejak kapan terbangun? Aku pulang tadi kamu sepertinya tidur nyenyak.” Fadhil naik ke ranjang, ia menarik sebagian selimut yang menutupi tubuh Inaya lalu menyelimuti dirinya sendiri yang juga sudah berbaring.
“Belum lama.” jeda beberapa detik, kemudian ... “Dhil ....”
“Hmmm ....”
“Apa kamu tidak pernah tertarik padaku?” Akhirnya Inaya memberanikan diri, pertanyaan yang sudah sangat ingin dia tanyakan terucap dari bibirnya malam ini.
Fadhil terdiam cukup lama. Entah apa yang dipikirkannya sampai dia begitu lama menjawab pertanyaan Inaya.
“Kenapa?”
Kenapa?? Apakah harus aku jelaskan dhil? Inaya hanya mampu menjerit didalam hati.
Inaya mendekat, dia hampir tidak memberi jarak antara tubuhnya dengan tubuh Fadhil. Persetan, Inaya sudah tidak peduli lagi Fadhil akan menganggapnya apa setelah ini.
Inaya berjanji, jika Fadhil masih belum mau juga menyentuhnya, Inaya akan berhenti melakukan hal-hal bodoh yang akan mempermalukan dirinya sendiri di depan Fadhil. Malam ini, Inaya butuh kepastian. Dia akan tetap berjuang membuat Fadhil jatuh cinta kepadanya atau dia berhenti dan merelakan keutuhan rumah tangganya hanya akan sampai disini.
Lama mereka saling berhadapan. Keduanya saling menatap. Inaya tidak berniat menjauhkan diri dari posisinya saat ini. Sementara Fadhil berada dalam posisi sangat sulit, dia sama sekali tidak punya ruang untuk bergerak.
Kemudian Fadhil mengangkat satu tangannya, meraih bagian belakang kepala Inaya lalu membawanya semakin mendekat. Kini, Kening mereka saling beradu. Deru nafas mereka terasa lebih cepat dari biasanya, Fadhil memejamkan matanya ketika bibirnya mulai menyentuh bibir Inaya.
***
Horaaiiiii.... Fadhil bisa luluh juga ya??
By the way Busway, readers sudah tap love belum?
Tap love dong, simpan cerita ini di library kalian. Masa jumlah yang baca beda jauuuh sama yang kasih love. Aku kan jadi down lihatnya.