Rayhan langsung memacu motornya menuju rumah sakit terdekat, kata hati-hati yang disampaikan Nabila hanya dianggukinya semata tanpa ia jalani. Nyatanya setelah mendapat telepon dari Kakaknya, ia langsung membawa motornya dengan kecepatan penuh, untung saja observasinya sudah selesai, jadi ia tidak perlu izin segala dan langsung pergi kerumah sakit. Begitu sampai dirumah sakit ia langsung mencari Kakaknya, untung saja langsung menemukan. “Aira dimana, Kak?” “Didalem, kamu masuk aja.” Rayhan mengangguk kemudian masuk kedalam ruang bersalin, pergerakannya sempat ditahan seorang suster. “Saya suaminya, Sus. Istri saya mau melahirkan, izinkan saya masuk.” Suster itu sempat mengernyit heran, wajah Rayhan tampak lebih muda untuk jadi seorang Ayah, tapi ia tetap membolehkannya. “Ra.” Rayhan

