“Ra, Mama sama Bunda besok jadi kesini, Kan?” Aira mengangguk sambil makan bakso, sudah dua mangkok yang dia habiskan, tapi katanya masih belum kenyang, dan yang dimakan ini adalah mangkok ketiga. Benar-benar maruk anaknya, persis kayak Rayhan. “Kenapa nggak sekarang aja ya, Ra.” Aira menaruh sendoknya kemudian menelan bakso yang sudah dikunyahnya. “Kalau sekarang ya nggak bisa lah, Kang. Orang lagi ikut resepsi dirumah temennya yang nikah lagi.” “Kan bisa diwakilin Papa sama Mama, atau Bunda sama Ayah gitu. Lagian satu temen kan?” “Ya nggak enak lah, Kang. Orang mereka diundang bareng kok. Lagian kenapa sih kalau besok?” Rayhan menatap istri dan ponsel nya bergantian, seperti menimbang sesuatu. “Kenapa sih, Kang?” “Emm, Ra. Sebenarnya dari kemarin aku mau ngomong sama kamu, tapi n

