Hening diantara mereka, hanya suara dentingan sendok yang menemani makan malam mereka kala itu. Karena Rayhan melarang istrinya untuk memasak, mereka pun akhirnya delivery order. Aira masih enggan berbicara pada Rayhan, setiap mengingat pemaksaan suaminya itu hatinya terasa sakit. Bahkan saat menyaksikan acara televisi pun mereka hanya saling diam, Rayhan dengan perasaan bersalahnya dan Aira dengan lamunannya. Sebenarnya dia tidak ingin mengingat, tapi tiap kali melihat wajah suaminya, entah mengapa bayangan tadi siang selalu berkelebat, membuat Rayhan terlihat semakin menyebalkan. “Ra, liur lo netes.” Aira gelagapan dan mengusap bibirnya yang kering. Merasa kesal karena dibohongi, ditambah perlakuannya yang ditertawakan suami, membuat Aira reflek melemparkan sandal rumahnya kearah Ray

