Part 20

1143 Kata
Aira melenguh saat ada sesuatu yang berat terasa didadanya, ia mengerjapkan mata perlahan menatap Rayhan yang tengah tertidur pulas, sesaat setelah kesadarannya kembali ia segera berteriak dan mendorong Rayhan hingga terjatuh dari tempat tidur. Lagi-lagi Rayhan harus terbangun dengan cara seperti itu, ia mengerang tertahan sebelum bangkit dan menatap istrinya tajam. Diusapnya punggungnya yang terasa nyeri. “Mau sampai kapan, supaya lo terbiasa, Ra? Kesel gue tiap pagi selalu bangun kayak gini.” Rayhan memotong Aira yang hendak bersuara. Ia sudah tahu, apa yang akan diucapkan istrinya. “Aku udah usahain, Han. Tadinya aku juga nggak terkejut waktu liat kamu, tapi tangan kamu itu lho, nempel nggak semestinya.” Suara Aira menghilang diakhir kata. Membuat Rayhan berdecak sebal. “Bodo! Itu cuma sebagian alasan klise yang lo buat. Kejadian kayak gini nggak seharusnya terulang tiap hari, Ra. Tau gini mending gue tidur di sofa aja.” Aira menunduk, ia merasa sangat bersalah. Lagi-lagi ia membuat Rayhan kecewa. Tanpa menghiraukan Aira yang hampir menangis, Rayhan berlalu meninggalkan istrinya menuju kamar mandi. Rayhan sebenarnya juga tidak bermaksud demikian, tapi ia memang benar-benar kesal dengan tingkah istrinya, ditambah lagi tubuhnya yang masih lelah jadi membuatnya sedikit emosi. Setelah sholat subuh, Rayhan tidak menemukan Aira di kamar, ia jadi merasa bersalah telah berbuat demikian. Beberapa saat setelah membereskan barang-barangnya ia segera membersihkan badan. Tapi saat keluar dari kamar mandi, ia masih belum menemukan Aira dikamarnya, bahkan kamar tidur nya juga sudah rapi, padahal tadi sebelum mandi kamarnya masih berantakan, itu berarti tadi istrinya sempat masuk kedalam saat dia mandi. Rayhan mengecek handphone sebentar, tidak ada notifikasi, ia meletakkan kembali benda pipih itu, kemudian menoleh pada pintu yang terbuka, disana Aira tengah berdiri dengan baju santainya, tidak lagi memakai baju tidur semalam. “Han, sarapan. Udah di tunggu di bawah.” Rayhan mengangguk, kemudian mengambil seragam OB nya di dalam tas. “Ra?” Aira menoleh, menatap Rayhan yang tengah mengancingkan bajunya. “Lo pakai baju siapa?” Aira mengamati dirinya. “Oh, ini punya Nabila. Kemarin dia belanja online kekecilan, jadi dia kasih ke aku, dari pada nganggur katanya.” Rayhan manggut-manggut, pantas saja dia tidak pernah melihatnya. Sebenarnya Nabila tidak enak memberikan baju itu pada Aira, bukan karena tidak ikhlas, tapi baju itu kan pernah di pakainya walau hanya mencoba saja. Tapi tadi pagi melihat Aira yang masih memakai pakaian tidurnya jadi nggak tega, kalau mau beli baju, masih terlalu pagi. Rayhan selesai mengancingkan bajunya, ia mendekati Aira dan menariknya kedalam kamar, lalu mendudukkannya ditepi ranjang. “Ra?” “Hmm?” “Ck, kebiasaan deh kalau di tanya, ham-hem-ham-hem.” Aira memutar bola matanya jengah. “Apa, Han?” “Maafin gue tadi pagi ya, gue nggak bermaksud buat ngebentak lo, ataupun nyinggung perasaan lo. Tau sendiri kan, gue lagi capek, pas bagun tidur dapat kejadian kaya gitu, jadi gue cuma gedek aja tadi pagi, dan nggak sengaja nyinggung lo.” Aira tersenyum, mencoba memahami sikap Rayhan, ini memang sudah jadi resikonya kalau dia menikah dengan berondong, jadi ia harus bisa memahami sifat labil suaminya. “Nggak apa-apa, Han. Aku juga minta maaf, karena—” Rayhan meletakkan jari telunjukknya dibibir Aira. “Udah nggak usah minta maaf, lebaran masih lama. Mending kebawah aja, kasian dedeknya nanti kelaperan.” Rayhan mengusap perut rata istrinya salmbil tersenyum jail, sedangkan Aira langsung memukul kecil tangan suaminya. “Ck. Mulai usilnya, udah ayo turun.” Aira beranjak dari duduknya, yang disusul Rayhan dengan cengirannya. “Ehem! Pengantin baru, manggil makan aja lama bener ya, ngapain aja sih di kamar?” Nabila menyendok nasi kedalam piringnya sambil melirik Aira dan adiknya. “Kepo! Jomblo mah gitu, ada penganten baru sensitif.” Nabila melotot kearah Rayhan. Adiknya itu selalu saja berhasil meledeknya. “Pengumuman kelulusan kapan, Han?” “Belum tahu Pa, belum ada informasi.” “Terus kamu mau nerusin kuliah dimana? Papa harap sih satu kampus sama istri dan Kakak mu, biar nanti juga ada yang ngawasin kamu.” Haris berkata tegas, dibalik sikap humorisnya dia adalah sosok Ayah yang tegas dan berwibawa, apalagi jika itu menyangkut anak-anaknya. “Rayhan bukan anak kecil, Pa. Ngapain di awasin. Malahan Rayhan udah kawin.” “Bohong, Pa. Istrinya masih perawan.” Aira tiba-tiba tersedak mendengar Nabila mengatakan itu. “Sok tahu lo, Kak. Tapi, ntar coba Rayhan pikirkan, Pa.” “Ya terserah kamu sih, Han. Hanya saja kamu sudah beristri kalau bisa jangan jauh-jauh kuliahnya.” Rayhan hanya mengangguk mendengar penjelasan Papanya. “Pa, Rayhan beneran Papa jadikan OB?” Riana yang tengah makan jadi berhenti gara-gara melihat seragam anaknya. “Iya, emang kenapa? Nggak ada yang salah kok, Papa cuma mau buat Rayhan mandiri, Ma, biar dia juga ngrasain susahnya cari uang, jadi nanti kalau dia sukses bisa mikir kalau mau hambur-hamburin uang.” “Ya Allah, kasian banget adik aku.” Nabila menatap Rayhan sambil menggeleng kasian. “Biasa tuh, Kak Bila aja yang suka mendramatisir.” Perkataan Rayhan langsung mendapat lemparan garpu dari Nabila. Untung saja lelaki itu sigap menghindar, jadi tidak sempat mengenai pelipisnya. “Udah, Han. Nanti kamu kena lemparan kursi lho. Nabila juga, jangan dibiasain gitu ke adiknya.” Baik Rayhan maupun Nabila langsung terdiam kalau sudah dinasehati Riana. Setelah selesai sarapan, Aira pun membantu mertuanya mencuci piring lalu setelahnya ia segera menuju kamar untuk menemui suaminya. “Han kita jadi pulang sekarang?” Rayhan mengangguk sambil menyisir rambutnya. “Barang-barang lo udah lo beresin kan? Jangan lupa juga sama jemuran semalem.” “Kalau barang aku udah aku beresin, tapi kalau jemuran semalem, tinggal seprainya aja, soalnya belum kering.” “Ya udah kalau gitu, ntar biar Kak Nabila aja yang ambil. Daleman lo nggak ketinggalan kan? Jangan sampai Kak Nabila juga lho yang ngambil.” Rayhan terkekeh pelan. “Ck, udah aku ambil. Mending juga Nabila yang ngambil dari pada kamu.” Aira mencebik kesal. “Ya mending gue lah, orang gue yang lebih berhak tau semua tentang lo, termasuk seluruh bagian yang lo tutupin.” “Otak kamu emang nggak pernah jauh dari situ ya, Han. m***m tau nggak.” “Biarin. Toh cuma lo yang gue mesumin.” Rayhan mendekati Aira kemudian menarik kerudungnya hingga terlepas, diselipkannya sebagian rambutnya di belakang telinga, kemudian berbisik pelan, didekat telinganya. “Lagian kalau gue sering m***m, semakin dekat pula kita punya anak, ya nggak?” Rayhan mengangkat kedua alisnya. “Ck. Terserah kamu, aku tunggu kamu di bawah, cepetan jangan lama-lama.” Aira menyambar kerudungnya dari tangan Rayhan tapi di tahan. “Lo mau pulang pakai baju gituan? Nggak! Gue nggak ngizinin.” “Kenapa?” Aira mengamati penampilannya. “Eh, lo b**o atau gimana sih, di balik baju lo itu, lo gak pakai celana panjang kan? Di tambah lagi nanti kalau naik motor baju itu akan mencetak tubuh lo, mau lo kayak gitu?” Aira kembali mengamati penampilannya, dan membenarkan perkataan Rayhan. “Ganti baju lo yang kemarin, gue tunggu di bawah, jangan lama-lama.” Rayhan berjalan melewati istrinya, sedangkan Aira mencebik kesal, karena kata-kata nya yang di tiru. Setelah selesai mengganti bajunya, Aira segera menyusul Rayhan kebawah, disana sudah ada Nabila, Riana dan Haris. “Beneran pulang sekarang, Nak?” Riana bertanya setelah menantunya itu mengecup punggung tangannya. “Iya Ma, Aira pamit dulu ya, Ma, maaf udah ngrepotin.” “Apaan sih kamu, Nak. Sejak kapan menantu merepotkan mertuanya?” Aira hanya tersenyum kikuk. “Han, jangan telat lho di kantor, Papa nggak ada toleransi, apalagi kamu pegawai baru.” “Ya Allah, Pa tega bener sama anak sendiri. Rayhan telat juga nganterin menantu Papa, nggak keluyuran apalagi selingkuh.” Perkataan Rayhan sontak langsung mendapat pelototan mata dari sang keluarga. “Hehehe, bercanda, Pa. Jangan serius-serius napa. Ntar Rayhan bikinin cucu.” Rayhan nyengir sambil mengangkat kedua alisnya kearah Aira. “Cucu gundulmu, kuliah dulu yang bener. Kamu sudah punya tanggungan sekarang.” “Iya, Pa. Rayhan hampa, eh? Paham maksudnya. Udah ya, Rayhan pamit ntar makin telat lagi. Ayo, Ra.” Aira mengangguk kemudian bergegas naik keatas motor Suaminya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN