Part 19

1085 Kata
“Namanya Aira, Lan. Ra, ini Wulan, Wulan ini Aira.” Aira menjabat tangan Wulan sambil tersenyum. Hanya sebatas itu Rayhan mengenalkannya. “Sepupu kamu ya, Han?” Rayhan tidak menjawab, ia hanya tersenyum membalas pertanyaan Wulan. “Kami pamit ya Lan, kamu nggak apa-apakan pulang sendirian?” Aira menatap Rayhan semakin kecewa, gaya bahasanya sangat berbeda saat berbicara dengannya, bahkan ia sebagai istrinya dipangil lo-gue, sedangkan Wulan? Entah siapa gadis itu, sepertinya Rayhan tertarik. “Iya, Han, hati-hati ya.” Rayhan menganggukkan kepala kemudian bergegas meninggalkan supermarket. Dalam perjalanan pulang Aira hanya diam, ia masih teringat perlakuan suaminya tadi. Ia kembali menghembuskan napas, mengapa seperti ini? Harusnya dia bersikap biasa, toh Rayhan maupun dirinya tidak ada perasaan apa-apa, tapi tak dianggap seperti itu mengapa sakit sekali. “Ra, kok lo diam aja sih, kenapa?” Aira hanya menggeleng menjawab pertanyaan Rayhan, walaupun ia sendiri tahu kalau suaminya tidak bisa melihat gelengannya. “Han, berhenti, Han!” Aira menepuk bahu suaminya pelan menyuruhnya berhenti didepan warung kecil. ‘Ck, dikira tukang ojek apa.’ “Mau ngapain sih?” “Kayaknya dingin-dingin gini enaknya makan bakso deh, Han, mampir bentar yuk.” Aira memasang wajah memohon didepan suaminya, berharap keinginannya dipenuhi. “Ck, kalo dingin itu enaknya ngekepin gue di kamar biar anget lo nanti, bukannya makan bakso, cuma anget di tenggorokan doang.” “Ya udah, ntar kamu aku kukus biar awet angetnya. Ayo, Han, aku lagi pingin nih.” Aira menarik-narik jaket Rayhan yang masih aja duduk diatas motor. “Lo lagi ngidam? Kayak orang hamil tau nggak.” Rayhan pun turun dari motornya dan mencari tempat parkir yang enak. “Iya, Han, anak kamu rewel nih pingin makan bakso kayaknya, iya kan, nak?” Aira mengusap perutnya, bertanya seolah-olah ada bayi didalam sana. “Anak, anak. Kapan gue buatnya? Ada juga cacing lo itu yang berkeliaran di dalam perut, emang gue apaan produksi anak cacing.” Aira tidak menghiraukan perkataan Rayhan, dia udah ngacir duluan hendak meninggalkan suaminya. “Ehh! Mau kemana lo?” “Makanlah, emang mau ngapain lagi.” “Bentar.” Aira berdecak sebal, tadi aja katanya nggak mau, sekarang malah suruh nungguin. Aira terkejut begitu Rayhan melepaskan jaketnya dan dipakaikan di tubuhnya. “Nggak usah ke PD-an, gue nggak mau tubuh lo diliatin banyak orang, ya emang sih baju lo nggak tipis-tipis amat, tapi kerudung lo kan nggak gedhe buat nutupin tubuh lo yang cungkring.” Aira memberenggut kesal, padahal hatinya tadi sempat senang diperlakukan demikian, tapi perkataan Rayhan yang terakhir itu membuatnya kesal. Ibarat barang nih ya, dia udah diangkat tinggi-tinggi abis itu dihempasin kasar kebawah. Sakit kan. Tanpa kata lagi mereka pun akhirnya pergi memasuki warung kecil yang jualan bakso itu, tapi begitu masuk, ternyata pembelinya banyak, bahkan ada juga yang lesehan. Aira dan Rayhan mengambil tempat duduk lesehan yang memperlihatkan suasana malam. Rayhan memanggil pelayan yang ada diwarung itu, memesan dua porsi untuk mereka. “Jam segini masih rame ya, Ra.” “Enak mungkin, pembelinya juga banyak, ini kan deket rumah kamu, kok kamu nggak tahu?” “Baru mungkin, kan gue udah tinggal sama lo, jadi nggak tahu kalau ada warung bakso dekat sini.” Aira hanya mengangguk, kemudian mengambil ponsel di saku bajunya, membuka pesan dari Bundanya. ‘Ra, adik kamu besok pulang, liburan. Kangen katanya.’ Aira tersenyum membaca pesan dari Bundanya, tingkah lakunya pun tak luput dari pandangan Rayhan, merasa terabaikan sama istrinya Rayhan pun ikutan menyalakan hp, berharap ada yang nge-chat, eh ternyata benar, dari Wulan sama teman strongnya. “Silahkan Mas, Mbak.” Aira dan Rayhan langsung melihat kearah pelayan yang mengantarkan pesanannya, kedua pasutri itu pun tersenyum ramah, kemudian mengucapkan terima kasih. Aira segera meletakkan ponselnya kemudian menyambar bakso yang tersaji didepannya, setelah memasukkan kedalam mulutnya ternyata rasanya enak. Aira menoleh kearah Rayhan yang masih saja sibuk dengan hp nya. “Di taruh dulu hp nya, Han.” Rayhan menoleh kearah istrinya kemudian meletakkan hanphonenya diatas meja, memakan bakso yang tadi dempat dianggurinnya. “Lo lama amat sih, Ra, makannya.” Aira melirik kearah Rayhan yang ternyata di mangkoknya sudah ludes. ‘Busyet itu mulut apa selepan, cepet banget.’ Aira tidak menggubris perkataan Rayhan, ia masih asyik menikmati baksonya, entah pemikiran dari mana, sebelum baksonya habis ia memfotonya dan mengirimkannya pada sang Bunda untuk dipamerin ke adeknya. “Lebay lo, kayak gitu aja difoto, mending foto gue udah jelas halal, ganteng pula.” “Ke PD-an, bilang aja kamu ngiri sama bakso aku.” “Dih, nggak banget gue ngiri sama tuh bakso, cakepen gue kemana-mana. Lagian lo chatinggan sama siapa sih senyam-senyum nggak jelas gitu.” Aira menatap Rayhan sambil tersenyum yang dipaksakan kemudian menjawab. “Kepo!” sambil meniup wajah Rayhan. “Apaan sih?! Kayak anak kecil. Lo itu nggak boleh memperlakukan suami kayak gitu, dosa! Buruan habisin makanan lo! Kalo lama gue tinggal.” Rayhan kembali fokus pada hp nya. “Yakin mau ninggalin aku, nanti kalau ada yang gondol gimana?” Rayhan tersenyum miring, meremehkan perkataan istrinya. “Siapa yang mau gondol lo? Nggak ada yang doyan, tubuh cungkring gitu.” Aira berdecak kesal, ucapan Rayhan begitu menusuk kalbu, tapi lebih baik ia mengalah, tidak mau membantah, Rayhan itu memang selalu benar, dia tidak pernah menang kalau berdebat dengan Rayhan. lagi pula sudah seharusnya Aira mengalah, karena ia yang lebih tua. “Han, bungkusin buat Mama sama Papa juga dong, sekalian sama Nabila.” Aira teringat orang rumah begitu bakso yang ada dihadapannya telah habis. Rayhan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, berpikir sebentar. “Kayaknya nggak usah deh Ra, ini udah larut, orang rumah pasti udah pada tidur, dari pada nanti mubadzir mending nggak usah, lain kali aja.” Aira mengangguk, kemudian menyambar tas cangklongnya, membukanya dan mencari uang untuk membayar bakso, tapi ternyata uangnya tinggal lima ribu, tadi ia buru-buru dan lupa nggak bawa dompet. “Kenpa, Ra?” Rayhan yang melihat raut bingung istrinya jadi penasaran. “Aku lupa bawa dompet, Han. Gimana Bayarnya nih?” “Lo kayak nggak punya suami aja, gue yang bayarin, udah nggak usah bingung.” Aira menggigit bibirnya, kemudian mengekori Rayhan yang hendak membayar baksonya. “Berapa,Mas?” Aira menatap Rayhan, memperhatikan suaminya yang membayar bakso mereka. Setelah mengucapkan terima kasih, mereka pun beranjak meninggalkan warung bakso. “Ntar aku ganti deh Han.” “Nggak perlu, anggep aja itu nafkah pertama dari gue.” Aira mengangguk kemudian tersenyum kearah Rayhan. Mereka pun segera beranjak menuju rumah untuk mengistirahatkan tubuh yang mulai penat. Sesampainya di rumah, Rayhan langsung merebahkan diri diatas kasur, sedangkan Aira segera mencuci seprai dan celanaya yang tadi terkena noda darah. “Han, jemuran baju dimana?” “Di belakang. Besok aja lah, Ra. Udah malem, mendingan lo istirahat.” Rayhan menjawab tanpa membuka pejaman matanya. Sedangkan Aira langsung melenggang pergi ke belakang untuk menjemur. Aira memang sudah terbiasa mandiri. Hidup di lingkungan pesantren mampu melatih kemandiriannya, tidak memandang ia dari kalangan atas maupun tidak, karena disana semua orang mendapat perlakuan sama tanpa memandang strata. Setelah selesai menjemur, ia pun kembali ke kamar Rayhan dan ikut merebahkan diri disamping suaminya. Dipandanginya wajah rupawan Rayhan, ditelisik dari mata hingga kebibir, ingin sekali ia mengusapnya, tapi takut mengganggu tidur sang suami. Raut lelah juga ketara di wajah Rayhan, ia jadi merasa bersalah karena telah mengajak suaminya keluar malam. Sampai saat pun ini ia masih tidak menyangka kalau dirinya sudah menjadi istri, bahkan umurnya yang lebih tua dari sang suami. Takdir memang tidak pernah bisa disangka, bukan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN