“Astaghfirullahaladzim!” Aira terkejut begitu membuka pintu kamarnya, ia menemukan wajah Rayhan yang menunduk menatapnya, karena tinggi tubuhnya yang tidak sepadan.
“Ngapain lo keluar malem-melam? Mana nggak pekai jilbab lagi.” Rayhan bertanya sinis, sambil menarik tangan istrinya ke dalam kamar.
“Kok kamu bisa bangun sih, Han?”
“Menurut lo, siapa yang nggak bangun coba, kalau ada yang nutup pintu kasar baget.”
“Maaf, Han, aku buru-buru tadi, permisi aku mau ke kamar mandi.” Aira mencoba lewat sebelah kiri Rayhan setelah mengambil sesuatu didalam tasnya, tetapi suaminya itu masih menghalagi langkahnya.
“Jawab dulu pertanyaan gue, baru lo boleh lewat.”
“Aduh, Han, aku nggak tahan, nanti aku jawab, minggir ah!”
“Apa susahnya sih jawab pertanyaan gue? Terus kenapa seprai kasur bisa ada noda darah, lo apain seprai gue sampai berdarah gitu?”
“Han, aku udah nggak kuat!” Aira merengek menyuruh Rayhan minggir, ia mencoba lewat pinggir suaminya tapi tak dihiaraukan.
“Nggak kuat apa, hmm?! Mau boker? Ditangan lo ada apaan? Ngapain di umpetin?” Rayhan mengarahkan dagunya di belakang punggung istrinya.
Aira gemas sendiri dengan tingkah Rayhan. Tanpa minta izin lagi ia segera mendorong suaminya hingga terhuyung, kemudian pergi ke kamar mandi dan menutup pintunya keras.
‘Dia kenapa sih? Keluar malem-malem, nggak pakai kerudung, mana jalannya ngangkang lagi.’
Tak berselang lama Aira kembali membuka pintu kamar mandi dan menyembulkan kepalanya di balik pintu tersebut.
“Han, aku pinjam sarung mu ya?”
Rayhan mengernyit, sedikit melirik istrinya yang mengintip dibalik pintu kamar mandi. “Buat apaan?”
“Ya buat di pakai lah, Han. Celana aku udah gak bisa di pakai lagi, dan aku nggak bawa baju ganti.”
“Lo habis ngapain sih? Aneh banget tahu nggak. Lo nggak lagi sakit kan?”
“Han, cepetan kenapa sih, nanti aku jelasin, tapi please ambilin sarung kamu.” Aira memelas, bahkan hampir menangis menghadapi tingkah suaminya.
Rayhan pun segera membuka lemarinya mencari sarung yang agak kecil, buat istrinya yang mungil.
“Mau pakai sarung yang mana lo? Punya gue gedhe-gedhe, kelonggaran ntar di tubuh lo.”
“Terserah yang penting bisa di pakai.”
“Han.”
Rayhan menoleh ke arah sumber suara. Menampakkan Kakaknya yang membuka pintu sambil membawa rok.
“Ada apa Kak?”
“Aira mana?”
“Noh, dikamar mandi. Nggak tahu kenapa, pakai minjem sarung aku lagi.”
Nabila terkekeh kemudian menyerahkan rok pada adiknya, membuat Rayhan mengangkat sebelah alisnya bingung.
“Buat Aira, tadi ia buru-buru. Udah nggak usah bingung buruan kasih, ntar sekalian anterin dia keluar. Aku balik ya.”
Nabila melenggang pergi meninggalkan adiknya yang garuk-garuk kepala bingung. Ia pun segera menuju ke pintu kamar mandi, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti, bibirnya terangkat membentuk seulas senyum begitu ada ide jahil muncul di otaknya.
“Ra, buka pintunya, nih pakai rok Kak Billa aja.”
Aira membuka pintunya sedikit sambil julurin tangannya keluar, tapi Rayhan malah memegang gagang pintu, sengaja membukanya sedikit, membuat Aira kaget dan segera menahan pintu kamar mandi.
“Kamu mau apa, Han?!” Aira panik.
“Kenapa? Lo takut? Biasa elah, gue suami lo. Gue cuma mau masuk bentar. Mau pipis.”
“Jangan, Han! Jangan sekarang!” Aira menahan pintunya sedikit lebih kuat, agar bisa menahan dorongan Rayhan.
“Kenapa sih? Lo lagi nggak pakai bawahan ya?” Rayhan hanya mencoba menggoda istrinya saja, tapi Aira malah berfikir lain.
“Please, Han, jangan kayak gini.” Mohon Aira hampir menangis membuat Rayhan jadi tidak tega, ia hanya berniat menjahilinya saja bukan untuk membuatnya menangis.
Rayhan tertawa, mencoba mencairkan suasana.
“Ya Allah, Ra. Segitu takutnya ya? Gue nggak beneran kok, nggak usah nangis.”
Entah kenapa Aira malah jengkel dengan perkataan Rayhan, mengatakan nggak usah nangis tapi dia sendiri yang membuatnya hampir menangis. Rayhan menyerahkan rok berwarna hitam kepada istrinya, yang kemudian disambar Aira kasar, ia masih jengkel dengan ulah Rayhan.
Tak berselang lama setelah kejadian tadi, Aira membuka pintu kamar mandi, tanpa menyapa Rayhan ia langsung menarik seprai yang telah kotor dengan noda darahnya, membawanya kekamar mandi untuk direndam bersama celananya, ia tidak perlu repot-repot mencari ember keluar, karena didalam kamar Rayhan sudah ada ember yang muat untuk merendam seprai dan roknya.
Setelah beberapa saat berada di dalam kamar mandi, Aira pun segera keluar lagi, membuka pintu lemari Rayhan mencari seprai baru untuk diganti, tapi ia tidak menemukannya, mau tanya tapi masih marah sama Rayhan.
“Mau cari apa lo?” Rayhan masih mengamati gerak-gerik istrinya itu.
Hening, tidak ada sahutan, Rayhan membiarkannya saja, diamati terus tingkah istrinya itu, sampai kapan bisa bertahan.
“Seprai kamu mana, Han?” Aira menyerah, tidak menemukan apa yang dicarinya.
Rayhan terkekeh, kemudian mendekat kearah Aira, mensejajari tubuhnya yang lebih tinggi dari istrinya.
“Makanya tanya dulu sama yang punya, lo marah ama gue?” Rayhan menyilangkan kedua tangannya didepan d**a, menatap istrinya yang tingginya hanya sebatas d**a.
Aira masih diam, enggan menjawab, dia malah memalingkan pandangannya, ingin menangis tapi ia tahan.
Rayhan berdecak. Pertanyaannya tidak digubris. Akhirnya ia memilih untuk mengambil seprai yang berada di lemari paling atas, menjangkaunya kemudian diserahkan pada sang istri.
“Makanya tumbuh tinggi, biar nyampe kalau ngambil sesuatu. Atau perlu gue belikan yupil biar bisa molor kayak tuh permen.”
Aira berdecak, kemudian menerima seprai dengan ragu lalu berjalan menuju ranjang dan mulai memasangnya.
“Han?” Aira mencoba berdamai dengan hatinya, ia tidak boleh marah pada Rayhan.
“Hemm?”
“Bisa temenin aku keluar nggak?”
Rayhan melirik Aira sekilas yang tengah memilin ujung baju tidurnya.
“Nggak!”
“Ya udah deh.” Aira menghembuskan napas kecewa, tapi ia tidak mau memaksa, siapa juga yang mau menemani malam-malam gini keluar.
“Emang mau kemana?”
“Nggak usah deh, lagian udah malem juga.” Aira sebenarnya agak berat mengatakan ini.
“Nggak sinkron lo, ama pertanyaan gue. Penting nggak? Kalau nggak mendingan nggak usah.”
Aira melirik Rayhan yang asyik memainkan ponselnya, sesekali bibirnya menyunggingkan senyum tipis, entah tengah membalas chat siapa, ia tak begitu peduli, lebih tepatnya bukan urusannya.
“Penting sih, tapi kalau kamu nggak mau nggak— Eh mau kemana?” Aira mengamati Rayhan yang menyambar jaket dan kunci motornya.
“Buruan, katanya mau keluar.”
Aira berbinar mendengar perkataan Rayhan, kemudian segera mengambil kerudungnya lalu menyusul Rayhan yang keluar kamar menuju garasi untuk mengambil motornya.
“Lo cuma pakai gitu doang?” Rayhan mengamati Aira dari atas sampai bawah. Sedangkan yang ditanya hanya mengangguk saja.
“Terserah deh, ayo!”
Aira tersenyum, mereka akhirnya pergi menuju supermarket terdekat untuk membeli kebutuhan Aira. Karena lokasinya yang tidak jauh jadi hanya butuh waktu 10 menit untuk sampai tempat tujuan.
Aira segera turun dari motor suaminya begitu tujuannya sudah sampai.
“Jangan lama-lama ya. Dingin, gue tunggu diluar.”
Aira mengangguk kemudian melenggang memasuki Hadirmaret, supermarket terbaru, karena sudah saat nya masuk biar nggak alfa terus. Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkannya Aira segera menuju ke kasir untuk membayar, tapi ternyata disana ada Rayhan juga.
“Lho, kok nyusul Han?”
Rayhan menunjukkan parfum ditangannya pada Aira sebagai jawaban atas pertanyaan istrinya.
“Oh iya, aku ada yang lupa.” Aira kembali lagi pada jajaran produk kecantikan untuk membeli kebutuhan lainnya yang sudah mau habis.
Setelah sampai di kasir, ia sudah tak menemukan Rayhan disana, mungkin sudah keluar. Setelah selesai membayar, Aira pun segera keluar, tapi gerakan tangannya yang hendak membuka pintu jadi terhenti ketika pandangannya melihat Rayhan yang tengah berbincang dengan perempuan. Mereka terlihat akrab, bahkan gadis itu sesekali tertawa dibarengi dengan Rayhan.
‘Siapa ya?’ Batin Aira, ia menghembuskan napas kemudian melanjutkan membuka pintu dan menghampiri Suaminya.
“Han?”
Rayhan dan gadis yang tengah ikut berbicara dengannya menoleh, mendapati Aira yang berdiri sambil menenteng plastik yang berlogo Hadirmaret.
“Siapanya Rayhan, ya?” Gadis berambut panjang itu bertanya, tentang Aira yang mengenal Rayhan.
Aira tidak menjawab, ia menatap Rayhan, mencoba bertanya pada suaminya, apa boleh ia memberi tahu statusnya. Rayhan hanya menunduk sambil menghembuskan napas, membuat Aira kecewa, ia sudah tahu apa yang dipikirkan suaminya.
***