“Kamu sudah nggak perawan ya?”
“Hah?!” Aira melongo, kaget mendengar pertanyaan Nabila. Membuat pipinya kembali panas. Ia kembali menormalkan wajahnya yang tadi sempat kaget.
“Tahu dari mana kamu? Nggak usah ngada-ngada deh.”
“Jadi bener ya?”
“Nggak!” Sahut Aira cepat.
“Masa sih, tapi perkataan Rayhan di meja makan tadi—”
“Emang kamu percaya sama perkataan ngawur adikmu itu?” Aira memotong ucapan Sahabatnya dengan nada kesal. Nabila hanya cengengesan.
“Iya juga sih, tapi kan nggak tahu kalau Rayhan bener.”
“Ngawur kamu, Rayhan itu masih SMA, lulus aja belum. Akunya juga mau fokus sama kuliah dulu. Udah ah mending aku kekamar aja.”
Aira bangkit dari duduknya, sedangkan Nabila senyum-senyum sendiri melihat tingkah sahabatnya itu. Tidak berselang lama setelah Aira berjalan, ia kembali membalikkan badan memanggil Nabila.
“Apa lagi, Ra?” Nabila yang gagal fokus sama acara televisinya jadi kesal sendiri.
“Kamar Rayhan dimana?”
Nabila tertawa keras mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu, berjalan terburu-buru karena kesal, ternyata ia tidak tahu letak kamar adiknya.
“Tadi katanya nggak berani, canggung, kok sekarang cariin kamarnya, ha...ha...ha...”
Nabila segera menghentikan tawanya begitu melihat raut kekesalan diwajah sahabatnya itu. “Disebelah kamar aku, deket kok, Ra. Kamu lurus aja kekanan ntar ketemu.”
Tanpa menagatakan sepatah katapun Aira segera meninggalkan Nabila yang masih dilingkupi dengan gelak tawa, ia menuruti arahan Nabila, hingga ia menemukan pintu bercat putih, disamping kamar Nabila yang pintunya sudah dibenarkan.
Aira mengetuk pintu agak ragu, dan setelah menunggu beberapa saat, Rayhan pun keluar dengan baju santainya. Suaminya itu hanya memakai kaos dan celana pendek selutut.
“Inget gue juga lo. Kirain mau tidur sama Kak Nabila. Masuk gih.” Rayhan tahu Aira akan tetap berdiri di depan pintu kalau ia tidak mengatakan masuk. Setelah istrinya menutup pintu, ia kembali merebahkan diri diatas kasur, meraih benda pipih yang tadi ia geletakkan sembarangan, kembali malanjutkan game yang sempat tertunda.
Aira mengedarkan pandangannya diseluruh kamar Rayhan, memindai ruangan yang baru pertama kali ia masuki. Di dinding terdapat beberapa poster yang ia tidak kenali, walaupun begitu, disana tetap ada beberapa potongan-potongan ayat Al-Qur’an berbentuk kaligrafi yang menggantung cantik di dinding bersama dengan bingkainya. Tatapan Aira berhenti pada sebuah foto pernikahannya dengan Rayhan, sederhana memang, mengingat pernikahan mereka yang tidak ada resepsi, disana tergantung dua buah foto, figura pertama dengan ukuran sedang menampakkan fotonya dengan Rayhan, dan figora kedua yang ukurannya agak besar menampakkan fotonya dengan Rayhan beserta dua belah pihak keluarga.
Aira melepaskan hijabnya, membebaskan rambutnya yang tadi diikat, ia tidak perlu menutupinya. Lagi pula Rayhan berhak menikmatinya, toh sudah halal. Aira beranjak menuju kamar mandi, mengganti gamisnya dengan baju tidur yang ia ambil dari dalam tas. Ia sempat heran, bagaimana tasnya bisa berada di kamar Rayhan, tapi ia segera tahu kalau suaminya sendirilah yang membawanya.
Rayhan melirik Aira yang baru saja keluar dari kamar mandi, sempat takjub dengan istrinya, pasalnya ini baru kali pertama Aira berani tampil seperti itu, biasanya bahkan selalu pakai kerudung, sekalipun mau tidur.
“Ra?”
Aira menoleh kearah Rayhan yang memanggilnya. Ia hanya membalas dengan deheman saja, kemudian menggantungkan gamisnya di gantungan baju, ia lupa tidak membawa baju ganti.
“Kalau di panggil itu dateng bukan hanya hem doang, dikira nesa sabyean apa?”
Aira memutar bola matanya jengah, mulai deh sifat nya Rayhan. Tanpa diminta dua kali ia segera berjalan menuju suaminya yang telah duduk di tengah ranjang.
“Apa, Han?”
“Pijitin dong, Ra, badan gue pegel semua nih. Lo nggak keberatan kan?”
Aira mengangguk, menyuruh Rayhan telungkup agar memudahkannya untuk memijit, bertanya kerja apa yang telah dilakukannya hingga mengeluh pegal.
“Gue ngepel kantor Papa, Ra, cuci bekas kopi pegawai, bener-bener tega Papa kalau nyiksa anaknya.”
Aira hanya terkekeh menanggapi, masih melanjutkan kegiatan memijitnya.
“Kencengin dikit dong, Ra, nggak kerasa tahu.”
Aira menuruti permintaan suaminya untuk mengencangkan pijatannya, sesekali Rayhan meringis jika istrinya memijat bahu kanannya, tapi ia masih saja belum kerasa. Akhirnya Rayhan bangkit dari telungkupnya kemudian duduk, mencoba melepas kaos, dan menyisakan kaos dalamnya.
“Eh, Han, kamu mau ngapain?” Aira sontak terkejut dengan perbuatan Rayhan.
“Nggak kerasa, Ra, gue copot aja kaosnya, lo nggak usah mikir macem-mecem.” Rayhan kembali telungkup, meminta Aira meneruskannya.
Aira mengernyit melihat tanda biru di bahu Rayhan.
“Ini kenanapa, Han?” Aira menyentuh memar biru dibahu suaminya, menekannya sedikit.
“Aww, sakit, Ra. Jangan ditekan.”
“Kenapa bisa memar gini?”
“Bisalah orang kamu dorong tiap pagi sampai bentur pinggiran nakas kok.”
Aira mengangkat jemarinya dari luka memar itu, merasa bersalah pada Rayhan. Pantas saja tiap kali ia menyentuh bahu suaminya itu, selalu dibalas dengan ringisan, apalagi tadi dia sempat memukulnya beberapa kali karena kesal.
“Maaf, Han, aku nggak sengaja.” Suara Aira tercekat, ia benar-benar merasa bersalah.
“Nggak apa-apa, lo kan nggak sadar, buruan gih terusin. Jangan coba-coba tidur di sofa ya, tidur disini aja, nggak usah merasa bersalah!”
Aira mengangguk kemudian melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti, Rayhan bahkan mengerti apa yang hendak di pikirkannya.
***
Aira mengerjapkan matanya perlahan, menyesuaikan dengan sinar lampu yang menerobos retinanya, hal pertama yang ia dapati adalah wajah Rayhan yang tertidur dihadapannya dengan badan yang masih telungkup dan terbungkus kaos dalam, mereka ketiduran setelah melakukan kegiatannya tadi.
Aira bangkit dari rebahannya, memijat bahu kirinya yang pegal karena tidur miring. Saat hendak bangun ia merasakan hal yang tidak enak di selangkangannya, tidak nyaman dan lengket. Aira mencoba bangkit dan terkejut begitu melihat noda darah mengotori seprai Rayhan, ia menggigit bibir antara membangunkan Rayhan atau tidak, tapi sebelum itu ia segera mengambil tasnya mencari barang yang ia butuhkan, wajahnya murung seketika, begitu barang yang dicarinya tidak ada. Ia pun segera berlari kekamar Nabila dan menggedornya keras membuat sang empunya kesal, bahkan Aira sampai lupa tidak memakai kerudung.
“Apa sih, Ra, malem-malem berisik banget.” Gerutu Nabila dengan suara serak karena habis bangun tidur.
“Bil, Bil aku tembus Bil.” Aira berkata agak panik.
“Tembus gimana maksud kamu?” Nabila tidak mengerti dengan perkataan sahabatnya.
Tanpa basa-basi lagi Aira segera membalikan badannya menunjukkan bagian celananya yang merah.
“Astaghfirullahaladzim, kamu diapain sama Rayhan, Ra?” Nabila kaget begitu melihat noda darah dibagian belakang celana panjang Aira.
“Nggak diapa-apain, kamu nggak usah mikir yang aneh-aneh, aku minta pembalut kamu dong, lupa nggak bawa soalnya.”
“Ya udah masuk gih, kamu kan nggak pakai kerudung. Tapi aku nggak menjamin ada ya, Ra, soalnya aku juga baru selesai mens, dan belum sempat beli.”
Nabila menggeledah bagian lemari yang menyimpan kebutuhan bulanannya itu, tapi ia hanya menemukan satu.
“Cuma satu, Ra, setelah ganti mendingan kamu ajak Rayhan keluar deh.”
“Sama kamu aja Bil.”
“Ogah, malem-malem gini keluar. Mending kamu ajakin Rayhan, punya suami itu dimanfaatin, Ra.”
“Ya udah deh, makasih ya.” Aira segera beranjak pergi meninggalkan kamar Nabila.
“Astaghfirullahaladzim!”Aira terkejut begitu membuka pintu kamarnya.
***