“Ra, siap-siap gih.” Rayhan melirik istrinya yang masih saja belum bersiap-siap, padahal dia sudah memberitahu, kalau hari ini ia akan mengajak Aira pergi kerumah orang tuanya.
Aira menatap Rayhan dengan wajah malas, dipandangnya Rayhan yang sudah siap dengan baju santainya, sedangkan dia masih belum ganti baju.
“Han?”
“Apa?”
“Han?”
“Apa, Ra?” Rayhan membalas malas.
“Rayhan?”
“Ngomong sekali lagi, gue cium lo!”
Aira memberenggut kesal dengan ucapan Rayhan, dia kan hanya ingin bertanya memangnya salah. Akhirnya dengan perasaan kesal Aira mengambil baju di lemari dengan asal, kemudian menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Tapi setelah di dalam ternyata ada yang dilupakannya, mau minta tolong sama Rayhan, takutnya dikira minta cium lagi, tapi ia tidak punya pilihan lain selain minta tolong sama suaminya.
“Han aku—”
“Apalagi sih, Ra. Lo beneran pingin gue cium.” Rayhan memotong ucapan Aira dengan kesal.
“Dengerin dulu kenapa. Aku mau minta tolong.”
“Minta tolong apa?” Rayhan menatap pintu kamar mandi yang dibuka sedikit.
“Ambilin jilbab aku di lemari, aku lupa nggak bawa tadi.”
“Ck. Kirain minta tolong apa. Udah buruan keluar! Gue mager, lagian lo nggak pake apa-apa di depan gue juga nggak dosa.”
Pipi Aira bersemu merah mendengar penuturan suaminya. Rayhan itu kalau ngomong emang nggak pernah di filter. Tapi benar juga sih kata Rayhan, kalaupun ia keluar tanpa memakai jilbab tidak akan masalah, toh mereka juga udah halal. Karena permintaanya tidak dihiraukan oleh Rayhan, Aira pun akhirnya keluar, kemudian tanpa sengaja ia menyelipkan sebagian rambutnya dibelakang telinga.
Rayhan menatap Aira yang masih berdiri didepan pintu sambil menunduk, rambut panjangnya tergerai indah, tubuhnya dibalut gamis putih panjang hingga menutupi mata kakinya. Rayhan memandang dari atas sampai bawah, tidak ada yang berubah setelah insiden itu, istrinya masih terlihat imut di matanya, bahkan tidak terlihat tua darinya.
“Kenapa, Han? Aku aneh ya?” Aira mengamati dirinya, kemudian menatap Rayhan yang masih menatapnya. Rayhan malah jadi gelagapan sendiri ditanya seperti itu.
“Mau sampai kapan lo berdiri disitu? Mau jadi penjaga kamar mandi. Buruan siap-siap udah sore!” Rayhan berkata agak judes, sebenarnya untuk menghilangkan rasa gugupnya gara-ara ketahuan menatap Aira lama.
“Aku ganti baju lagi aja ya?” Aira hendak mengambil baju di dalam lemari tapi dicegah oleh Suaminya.
“Eh, nggak usah. Ii..itu— udah sore ntar kemaleman kerumah Papa. Cepetan gih jangan lama-lama kalau dandan.”
“Aku udah dandan, tinggal makai kerudung aja.” Aira pun mengambil kerudung berwarna pink didalam lemari, kemudian berjalan menuju cermin untuk memakainya. Tak lama kemudian ia sudah siap.
“Han, ayo.” Aira mencolek Rayhan yang masih asyik memainkan game.
Rayhan mengangguk, kemudian memasukan hp nya disaku celananya. Di pandangnya sang istri yang telah rapi dengan pakaiannya.
‘Manis’ Batin Rayhan dalam hati, kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruang tamu.
“Yah, Bun pamit ya.” Rayhan mencium punggung tangan kedua mertuanya, disusul oleh Aira yang ada dibelakangnya.
“Hati-hati ya.”
Aira dan Rayhan mengangguk, kemudian beranjak pergi.
Rayhan mengeluarkan motornya yang tadi ia parkir di garasi, menyalakannya kemudian menaikinya.
“Buruan naik, Ra. Udah sore, ntar kemaleman.”
“Han, pakai motor matic aku aja ya, aku nggak biasa naik motor gedhe kayak gitu.”
Rayhan berdecak, ada-ada saja permintaan istrinya itu.
“Gue nggak mau. Cepetan naik!”
“Tapi aku takut, takut—”
“Takut kenapa? Takut jatuh? Pegangan lah, atau perlu gue pegangin. Kalau nggak pernah makanya dibiasain. Cepetan naik!”
Aira menggeleng, ia tetap takut.
“Lo mau naik sendiri atau gue naikin?!”
Aira masih berdiri di tempatnya, membuat Rayhan semakin sebal. Dengan perasaan kesal Rayhan pun turun dari motornya kemudian berjalan mendekati sang istri.
“Aaaa! Iya-iya aku naik sendiri, lepasin!” Aira spontan berteriak dan memberontak dalam kungkungan Rayhan.
“Makanya nggak usah bawel jadi orang.” Rayhan menurunkan kembali istrinya yang tadi sempat diangkat.
“Ada apa, Ra?” Wahyu yang mendengar teriakan dari putrinya pun segera keluar rumah.
“Nggak apa-apa, Yah. Tadi Aira minta digendong, makanya teriak.”
Aira melotot kearah Rayhan, sambil memukul bahu suaminya, yang dibalas dengan rintihan kesakitan, tega-teganya dia memutar balikkan fakta.
“Ada-ada aja kalian, ya udah cepetan berangkat, ntar kemaleman.”
Aira dan Rayhan pun mengangguk, kemudian menaiki motor lalu melesat pergi meninggalkan rumah Wahyu.
Dalam perjalanan, Aira hanya mencengkeram sebagian baju Rayhan, tanpa berani memeluk apalagi rebahan di punggung yang telah halal itu.
“Pegangan yang bener atuh, Ra, dipeluk juga nggak apa-apa. Katanya takut!” Rayhan sedikit berteriak agar istrinya dapat mendengar suaranya yang tertelan deru kendaraan. Tapi Aira hanya mengeratkan sedikit cengkramannya saja, tanpa berani memeluk. Hal itu malah membuat suaminya menyunggingkan senyum, sekali-kali lah ngerjain istrinya.
Rayhan semakin menambah kecepatan laju motornya, kemudian menormalkan lagi kecepatannya, membuat Aira terhuyung kedepan dan dengan sigap langsung memeluk perut suaminya. Rayhan tertawa keras mendengar istrinya memekik.
“Kira-kira dong, Han!” Aira reflek memukul bahu Rayhan agak keras karena kesal.
“Aduh! Sakit, Ra, bahu terus yang dipukul. Makanya pegangan yang bener!”
Karena tidak mau Rayhan berbuat aneh-aneh lagi, ia pun segera mengeratkan pelukannya diperut suaminya yang lama kelamaan ia sendiri merasa nyaman dan mulai merebahkan kepalanya di punggung Rayhan. Rayhan pun ikut tersenyum mendapat perlakuan begitu.
***
Aira sampai dirumah mertuanya bertepatan dengan adzan magrib. Ia segera turun dari motor suaminya dan melepaskan helm yang melekat di kepalanya, kemudian membenarkan sedikit jilbabnya yang berantakan. Sedangkan Rayhan segera memasukan motornya ke dalam garasi.
“Ayo.” Rayhan berjalan mendahului Aira.
Aira hanya mengangguk kemudian mengikuti suaminya dari belakang.
“Assalamu’alaikum. Pa, Ma! Anak ganteng pulang!”
Aira hanya mengamati tingkah suaminya itu, tanpa mau menegur, ia lebih memilih duduk disofa. Walau bukan sekali saja dia main kerumah orangtua Rayhan, tetap saja ia masih suka mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, apalagi rumah mertuanya ini jauh lebih besar dari rumahnya.
“Apa sih, Han, magrib-magrib kok teriak-teriak, udah sholat belum kamu?”
Haris melangkah mendekati putranya yang cengengesan, kemudian dibalas dengan mencium punggung tangan Papanya, yang disusul dengan Aira.
“Papa apa kabar?” Tanya Aira setelah mencium punggung tangan Papanya.
“Baik, Ra. Kamu udah sholat belum?”
Aira menggeleng sambil tersenyum. Tidak menjelaskan kalau dirinya sedang berhalangan. Papanya kemudian menyuruh untuk segera sholat di mushola kecil yang berada di lantai satu. Haris memang sengaja menyiapkan mushola kecil dirumahnya itu, supaya bisa dibuat sholat berjamaah dengan keluarganya.
Rayhan mengernyitkan dahi melihat istrinya duduk di pintu mushola, ia tidak tahu kalau Aira menunggunya sampai selesai sholat.
“Kenapa nggak duluan, Ra?”
Aira mendongak, menemukan wajah Rayhan yang tengah menatapnya, masih agak lembab karena terkena air wudhlu.
“Canggung. Aku nunggu kamu aja.”
Rayhan tersenyum sambil geleng-geleng kepala “Aneh-aneh aja lo. Biasanya nginep disini juga nggak masalah.”
“Itu kan dulu sebelum nikah sama kamu.”
“Ya udah, ayo ke meja makan gue laper.”
Rayhan berjalan mendahului istrinya yang tertinggal dibelakang, Aira hanya menghembuskan napas kemudian mengikuti langkah Rayhan menuju ruang makan. ‘Tidak ada romantisnya sama sekali’ Batin Aira dalam hati.
Dimeja makan Aira segera melayani Rayhan dengan mengambilkan makanan dan lauk dipiring Suaminya. Hal tersebut tidak luput dari pandangan Nabila dan orangtua nya. Haris tersenyum melihat dua sejoli itu, walau awal pernikahan mereka menolak, tapi ia yakin akan tumbuh cinta diantara keduanya.
“Ehem!” Nabila berdehem agak keras, hingga membuat kegiatan Aira terhenti.
“Kenapa Kak? Keselek garpu ya?”
“Enak ya, ada yang ngambilin makan.” Nabila berkata tanpa memandang adiknya.
“Iyalah, tidur juga ada yang ngelonin lho, Kak. Kakak nggak pingin gitu?”
Perkataan Rayhan dibalas Aira dengan menyenggol bahunya. Rayhan memang tidak pernah lihat situasi kalau ngomong, dia tidak tahu saja kalau pipi Aira sudah merah seperti tomat.
“Maunya sih gitu, Han. Tapi calonnya belum ada.” Nabila memasukkan sesendok nasi setelah menjawab pertanyaan adiknya.
“Anak Papa belum gedhe juga ya, masa masalah ngelonin di bawa-bawa di meja makan.”
Uhuuk!
Aira tersedak begitu mendengar perkataan mertuanya, ia tidak tahu kenapa, tapi yang pasti ada artian lain dari kata yang sebenarnya.
“Iya dong, Pa, Rayhan kan mau pamer, ya nggak, Yang?” Rayhan menatap Aira sambil mengangkat kedua alisnya, meminta pembenaran, tapi Aira malah melotot kesal kearahnya.
“Oh ceritanya mau pamer, kalau di depan Papa nggak ngaruh, Han. Papa kan udah pernah ngerasain duluan dari kamu, buktinya udah ada kamu sama Kakakmu, itu.”
“Pa! Udah ah, kasian Airanya.” Riana menyenggol bahu suaminya untuk tidak menggoda menantunya lagi. Memberi isyarat dengan mengarahkan kepalanya kearah Aira yang tengah menahan malu sambil menggigit bibir dan pipi yang merona, membuat Haris jadi terkikik.
Suasana makan jadi lebih ramai dengan candaan Haris, ia mencoba mencairkan suasana yang membuat menantunya itu malu. Sekarang Aira jadi tahu dari mana asal sifat humoris Rayhan.
Setelah selesai makan malam dan sholat isya’ berjamaah, Aira ikut duduk disamping Nabila yang tengah menonton televisi, sedangkan Rayhan sudah berada di dalam kamarnya.
“Bil, aku ikut tidur sama kamu ya?”
Nabila yang tadinya fokus sama acara televisi langsung menoleh kearah Aira.
“Hah?! Serius?!”
Aira mengangguk.
“Nggak mau ah.” Nabila kembali menatap layar televisi, mencoba untuk fokus kembali.
“Yah, Bil, terus aku tidur dimana dong?”
“Dikamar Rayhan lah, masa dikamar mandi.” Nabila membalas tanpa memandang sahabatnya itu.
“Aku nggak berani masuk kamar Rayhan, canggung, Bil. Please ya bolehin aku.” Aira memasang wajah melas didepan sahabatnya, yang dibalas dengan kekehan Nabila. ‘Masa sih nggak berani masuk?’ Nabila memabatin tidak mau menyuarakan.
“Rayhan siapa yang nemenin nanti, Ra? Ada-ada aja kamu.”
Aira menghembuskan napas kecewa, sedangkan Nabila kembali diam. Sebenarnya ada yang mengganjal dalam pikirannya mau bertanya tapi takut Aira tersinggung, fokusnya pada acara televisi jadi buyar gara-gara rasa penasaran sama perkataan Rayhan tadi. Ah, dari pada penasaran mendingan tanya langsung saja pada orangnya.
“Ra, ada yang mau aku tanyain?” Nabila memutar tubuh menghadap sahabatnya.
“Apa?” Sahut Aira malas.
“Kamu sudah nggak perawan ya?”
***