Rayhan memberhentikan motornya disebuah tempat parkir perusahaan, disana telah terjejer rapi beberapa mobil. Masih dengan menggunakan seragam putih abu-abunya Rayhan berjalan menuju gedung bertingkat itu.
“Maaf, Mbak, Pak Harisnya ada?” Tanya Rayhan pada perempuan yang tengah berkutad dengan komputer. Perempuan itu mengernyit sebentar, memperhatikan Rayhan yang masih memakai saragam SMA dan menenteng tas nya.
“Ada perlu apa ya dek, nemuin Pak Haris?”
“Saya ada janji sama beliau.”
“Sebentar.” Perempuan dengan hijab ungu itu hendak meraih gagang telephon, tetapi berhenti karena perkataan Rayhan.
“Eh, nggak usah, Mbak. Saya langsung keruangannya saja, tadi beliau sms saya.”
“Tap—” Perkataan wanita itu terputus karena Rayhan yang langsung ngacir masuk keruangan Papanya. Memang tidak ada yang tahu kalau Rayhan adalah anak dari pemilik perusahaan, Haris Aditya. Karena Rayhan sangat malas pergi kekantor Papa nya. Lagi pula juga tidak ada kepentingan, jadi ia lebih memilih pergi bersama teman-temannya. Maka dari itulah, tidak heran jika pegawai kantor tidak ada yang mengenal Rayhan.
“Pak, maaf—” Perempuan berhijab ungu tadi segera menuju ruangan atasanya dan meminta maaf karena tindakan Rayhan barusan.
Haris hanya tersenyum dan mengangguk, kemudian menyuruhnya pergi dari ruangannya itu.
“Kamu ini, Han, udah Papa bilang suruh masuk aja, ngapain izin segala.”
“He...he...he... biar terkesan formal gitu Pa, kan nggak ada yang tahu kalau Rayhan anaknya, Papa. Tau nggak, Pa, tadi waktu Rayhan kesini, semuanya pada ngeliatin aku. Pasti mereka mengira anak SMA lagi kesasar, ha...ha...ha...” Rayhan tertawa lebar kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa.
“Oh iya, Pa. Rayhan baru tahu lho, kalau sekretaris, Papa itu berhijab, kirain kayak di pilm-pilm hidayah gitu yang pakai baju seksi.”
“Kebanyakan nonton film kamu, belajar yang bener nggak usah aneh-aneh. Nih seragam kamu, di pakai, mulai hari ini kamu kerja.” Haris memberikan seragam OB pada anaknya.
“Sekarang Pa?”
“Nggak! Nanti, Han, nunggu lebaran monyet. Ya sekarang lah. Udah cepetan di pakai, Papa mau manggil orang dulu.”
Rayhan garuk-garuk kepala sambil sesekali liatin Papanya. Tidak menyangka dia benar-benar jadi OB di kantor Papa nya sendiri.
“Pa, kok tadi Rayhan nggak di tegur ya pas nyelonong masuk kesini, terkecuali sekretarisnya Papa sih.”
“Soalnya tadi Papa sudah ngasih tahu satpam sama resepsionis, kalau ada anak pakai seragam SMA kesini, biarin aja, kalau sekretaris Papa, tadi lupa nggak Papa kasih tahu— Han, nanti kamu jangan manggil Papa, kalau Papa di kantor ya!”
“Lha? Terus manggil apa? Honey? Swetty? Sayang? Adaww sakit Pa!” Rayhan menjerit sambil memegang telinganya yang di jewer sang Papa.
“Siapa yang ngajarin kamu manggil orangtua seperti itu, hmm?!” Haris melotot kearah anaknya, masih dengan tangan yang bertengger di telinga.
“Ampun, Pa, sakit. Jangan aniaya anakmu— Adaww! Iya Pa, iya, nggak lagi Rayhan manggil gitu.”
Rayhan menggosok telinganya yang terasa panas setelah Haris melepaskan jewerannya. Apalagi tadi Haris sempat menambah tarikannya.
“Tega bener sih, Pa, sama anaknya sendiri. Ntar kalau telinga Rayhan kenapa-napa gimana, apa yang bisa Rayhan gadein buat berobat. Aku ini hanya seorang OB, bayaran tidak seberapa—”
“Lebay. Udah nggak usah mendramatisir, tunggu bentar lagi orang suruhan Papa datang. Oh iya, kalau di kantor, kamu manggil Papa Pak ya, Pak Haris ngerti?” Haris menekankan kalimat ‘Pak Haris’ biar anaknya itu paham.
“Ngerti, Pa, nggak usah diperjelas juga kali. Emang kenapa sih Pa harus manggil gitu? Papa malu punya anak kayak Rayhan.”
Haris menghembuskan napasnya pelan, Rayhan masih saja belum mengerti maksudnya.
“Bukan gitu, Han. Papa nggak pernah malu punya anak kayak kamu, walaupun ngeselinnya masyaallah, kamu tetep anak Papa yang Papa banggain, prestasi kamu baik, walau masih bandel, nurut sama orangtua, Papa bangga, Nak. Hanya saja kalau kamu masih manggil Papa seperti biasanya, kamu akan diperlakukan berbeda, Papa mau kamu bisa mandiri, sekarang udah jadi kepala rumah tangga lho. Tapi ada baiknya juga ya, Han, kamu nggak dikenal orang kantor.”
Rayhan mengangguk mengiyakan, entah kenapa ia terharu dengan ucapan Papanya, walaupun ada beberapa yang nylekit seperti ‘prestasi kamu baik walau masih bandel’ tapi ia patut bangga punya Papa seperti Haris.
“Iya Pak Haris, terima kasih nasehatnya.” Rayhan tersenyum sambil membungkuk dihadapan Papanya, membuat sang Papa ikut tertawa geli melihatnya.
“Anak Papa udah besar ya.” Haris menepuk bahu putranya bangga, dibalas dengan kekehan keduanya.
Tok...tok...tok...
Aktivitas Papa dan anak itu terhenti begitu mendengar pintu yang diketuk.
“Masuk.” Jawab Haris mengintrupsi dengan suaranya yang berwibawa.
“Pemisi, Pak. Bapak manggil saya?” Seorang pria paruh baya dengan seragam OB nya bertanya sopan pada Haris.
“Iya Pak Supri, ini saya mau memberitahu bapak untuk membimbing pegawai baru, dia baru masuk hari ini. Namanya Rayhan, Rayhan ini Pak Supri ketua OB, Pak Supri ini Rayhan.”
“Mohon bantuannya, Pak.” Rayhan berkata sopan dengan menjabat tangan Supri, begitupun sebaliknya, yang dibalas anggukan dan senyuman dari Supri.
“Ya udah sana pergi sama Pak Supri, minta pekerjaan sama dia.” Haris berkata agak judes pada Rayhan, membuat ketua OB itu mengerutkan keningnya, karena tidak biasanya atasanya itu berperilaku demikian, bahkan Haris terkenal ramah.
Sedangkan Rayhan hanya berdecak yang dibalas dengan senggolan dibahunya oleh Supri, dan Rayhan hanya membalas nyengir. ‘Tega benar Papa gue, emang ter the best buat dijadikan tokoh antagonis.’
“Permisi, Pak.” Pamit Supri sopan yang dibalas dengan anggukan oleh bos nya.
Rayhan dan Supri pun pergi meninggalkan ruangan Haris.
“Han, karena kamu masih baru, saya tempatkan kamu dibagian pel ya, nanti kamu pel lantai bagian depan kantor, terus nanti kamu cuci piring sama gelas kotor didapur.”
Rayhan hanya mengangguk dan menerima kain pel pemberian Supri. Ia mulai melangkah kedepan kantor dan mengepel lantainya, setelah selesai ia memasang tanda bahwa lantainya basah, baru kemudian menuju dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.
***
Ditempat lain, Aira sedang harap-harap cemas pada Rayhan. Sudah sore begini tapi belum juga pulang. Tidak biasanya suaminya seperti ini.
“Kamu kenapa Ra, dari tadi mondar-mandir. Pegel Bunda liatin kamu.”
Aira memberenggut, kemudian ikut duduk disamping Bundanya. “Rayhan belum pulang, Bun. Nggak biasanya dia kayak gini.”
“Lagi mancet mungkin, atau dia lagi ada urusan lain terus lupa mau ngabarin kamu.” Aisyah mencoa bersikap tenang untuk menenangkan putrinya, walaupun ia sendiri juga agak cemas dengan menantunya itu.
“Bun, ntar kalau Rayhan ngapa-ngapain gimana?” Aira sedikit ragu untuk bertanya seperti ini.
“Ngapa-ngapain gimana maksud kamu? Udah nggak usah mikirin yang aneh-aneh. Coba kamu telepon mertuamu, mungkin Rayhan lagi ada urusan sama Papa nya.”
Aira mengangguk kemudian mulai mencari kontak Papa mertuanya, setelah tersambung, ia pun mengungkapkan kekhawatirannya.
Tidak lama setelah mengobrol, Aira menghembuskan napas lega begitu mendengar penuturan dari sebrang sana. Ia pun mengucapkan terima kasih kemudian menutup teleponnya.
***
“Han di panggil sama Pak Haris.”
“Untuk apa? Pekerjaan gu... aku belum selesai lho.” Rayhan hampir aja keceplosan pake kata gue-lo. Rayhan memang mencoba merubah kebiasaannya itu, karena disini banyak yang lebih tua darinya, jadi ia harus bisa menghormatinya.
“Nggak tahu, sini biar aku aja yang terusin, kamu pergi dulu sana, ntar Pak Haris marah, di pecat kamu. Pegawai baru kan?”
Rayhan terkekeh, mereka benar-benar tidak tahu tentang Rayhan. Tapi Rayhan masa bodoh, ia pun segera beranjak dari tempatnya.
“Lama banget sih, Han.”
Rayha terkejut begitu melihat Papanya sudah berdiri didepannya, ternyata Papanya nekat nyusul.
“Eh, Pap... Iya, Pak Haris. Maaf, tadi gelasnya lari-lari nggak mau dicuci jadi harus di kejar dulu, susah nangkepnya. Makanya tadi saya beli sunlit kekuatan secuil jeruk nipis.”
Haris melotot kearah putranya, mengintrupsi bahwa ini bukan waktunya bercanda.
“Kamu udah ngasih kabar sama Aira belum?” Tanya haris datar sama sang anak.
Rayhan langsung menepuk jidatnya pelan. “Oh iya, lupa. Pantes dari tadi ada yang janggal, kalau gitu Rayhan ngabarin—”
“Telat, tadi dia udah nelphon, udah Papa kasih tahu. Oh iya, Han, nanti kalau kamu pulang, ajak Aira main ke rumah ya, Mama kangen kamu katanya.”
“Siap Pa.”
“Ya udah balik kerja sana.”
“Siap Bos.” Rayhan menempelkan tangan kanannya dipelipis seperti orang hormat. Kemudian pamit meninggalkan Papanya yang geleng-geleng kepala. Haris tidak tahu bagaimana Aira bisa menghadapi sifat kekanakan Rayhan, ia hanya bisa mendo'akan semoga pernikahan putranya bisa bahagia, langgeng sampai tua bersama istri dan anak-anaknya kelak.
***